My Name Is Rose

My Name Is Rose
Undangan Biru



"Terima kasih lo sudah mau main ke sini, kapan-kapan kesini lagi ya" Kata Mama Dinda.


"Ya Ampun Tante, aku yang terima kasih, Dinda juga Tante baik banget sama aku" Jawabku.


"Ini sedikit oleh-oleh buat orang rumah" Lanjutnya sambil memberikan sebungkus oleh-oleh padaku.


"Ya Ampun Tante, ini banyak banget, ngrepotin"


"Alah Tante gak repot, Tante malah terima kasih banget ada yang mau main kesini" Mama Dinda kemudian merangkul tubuhku sambil mengantarku ke luar.


Tepat di depan teras, sebuah mobil sudah siap mengantarku pulang. Di situlah kemudian Mama Dinda membisikkan sesuatu padaku.


"Tolong ajari Dinda sampai lulus ya, sampai nilainya bagus, rencananya kami akan memasukkan dia ke First Internasional High School, jadi nilainya harus bagus"


Alu tidak tahu apa maksud Mamanya Dinda. Apakah aku harus menyumbang jawaban untuknya atau mengajari dia seperti guru les, atau bagaimana. Aku hanya mengangguk untuk menyenangkannya. Sejujurnya aku sangat peduli dengan Dinda, sama seperti dia yang tulus berteman denganku. Aku senang jika aku bisa membantu Dinda, asal dengan jalan yang benar.


Mobil berhenti di depan gerbang perumahan. Sengaja aku meminta turun di sini. Aku tidak ingin menimbulkan tanda tanya besar di hati Mama, mengingat ini sudah habis maghrib. Dan benar saja, saat aku masuk ke rumah, Mama sudah siap dengan pandangan penuh tanya. Apalagi melihat sekantong oleh-oleh di tanganku.


"Dari mana itu? Siapa yang ngasih? Uang darimana?" Begitu pertanyaan yang dilontarkan padaku.


"Ini ...Mamanya temanku yang kasih Ma....tadi aku..."


Belum selesai aku menjelaskan, Mama langsung menyerobot tas yang kubawa.


"Ini jajanan premium, orang kaya mana yang ngasih ke kamu? Oh jangan-jangan kamu mulai.....ah nggak bener ini. Kamu mulai jalan sama Om Om???"


"Astaghfirulloh Ma....tega sekali Mama bilang begitu" Aku berdalih.


"Ya kali aja, mungkin Ibu kamu dulu seorang.....hahaha...pantes kamu dibuang ke panti. Mungkin bener kata Neneknya Monica. Bisa jadi kamu anak haram yang lahir dari hubungan tidak sah. Atau bahkan tidak jelas siapa ayah kandungmu"


"Seperti apa asal usulku, Mama tidak berhak ngomong seperti itu. Yang jelas, Tuhan menciptakanku tidak begitu saja. Tuhan mengijinkan aku tetap hidup pasti ada tujuannya"


"Hah, tujuan apa yang kamu pikirkan"


"Misalnya, lahirnya Monica"


Mama hendak menjawab komentarku dengan lebih pedas lagi, namun ia urungkan dengan kehadiran Monica yang tiba-tiba.


"Kakak bawa apa?" Tanya Monica yang melihat tas oleh-oleh di tanganku.


Sebelum kujawab, Monica mengambil tas itu dari tanganku. Dan dia terlihat begitu senang dengan isinya.


"Ini enak, aku suka!!" Kata Monica kegirangan


"Yuk kita makan bareng sambil nonton tv" Ajakku.


Monica setuju, dan kami meninggalkan Mama begitu saja.


***


"Hai Ros!!" Dinda menyapaku dari kejauhan.


"Eh kalian, nih undangan untuk kalian" Salah seorang teman kami membagikan sebuah undangan warna biru muda yang sedari tadi membuat kami penasaran.


Clara Britania Putri Hamdani. Itulah nama pertama yang kubaca. Kubaca seterusnya, Clara akan membuka cafe remaja yang diatasnamakan dirinya. Lusa. Itu waktu yang tertera pada undangan. Lusa, Clara alias Rania akan menyelenggarakan grand Opening Cafe miliknya. Semua anak seangkatan dia undang, termasuk aku. Kenapa? Bukankah dia sendiri yang bilang tidak ingin berhubungan apapun denganku. Sekarang dia justru memberiku undangan. Apakah dia ingin membuktikan sekali lagi bahwa kami berbeda sejak awal.


Dia masih sangat muda tetapi sudah memiliki ladang uang, tentu saja pemberian orang tuanya. Bukankah seharusnya itu jadi milikku? Kalau saja waktu itu aku tidak pura-pura nakal. Huft aku tersadar dari lamunanku saat bel berbunyi.


Sepanjang hari ini semua anak disibukkan dengan rencana acara besok malam. Mereka sibuk memikirkan busana yang akan mereka pakai nanti. Sebagian juga sibuk mencari teman untuk datang ke pesta besok malam. Dan sebagian lagi sibuk menentukan kado ucapan selamat. Kado? Ini bukan ulang tahun, haruskah kami membawa sesuatu nanti?


Sampai bel pulang pun semua anak masih membicarakan pesta besok malam. Terlihatlah betapa populernya Clara di sekolah ini. Jujur aku iri. Aku merasa hidup sungguh tidak adil. Bagaimana bisa anak seperti Rania, yang dulu menjadi cecunguk kecil yang bersembunyi di balik punggungku, sekarang berubah menjadi tuan puteri yang sangat berbeda. Sedang aku yang selama ini melindunginya, justru terbuang sia-sia seperti ini. Tetap menjadi anak panti yang tak memiliki kuasa apapun. Haisy....aku terlalu pesimis saat ini.


Sebuah mobil berhenti telat di depanku saat aku menunggu bus di halte depan sekolah. Seorang perempuan turun di dalamnya. Perempuan yang sama menemuiku waktu itu. Nyonya Hamdani.


"Hai Sita...belum dijemput?" Aku hampir lupa bahwa aku mengenalkan namaku dengan nama Sita.


"Oh, iya..belum Tante"


"Oke ... Mau barengan sama Clara?"


Alu melihat sekeliling, tampaknya Clara memang belum keluar dari sekolah. Yah, dia mungkin sedang sibuk mempersiapkan pestanya besok malam bersama teman-temannya.


"Oh tidak Tante, jemputanku sudah di jalan"


"Oke, oh ya kamu sudah dapat undangan buat besok malam?"


Aku tahu yang dimaksud. Undangan pesta Grand Opening Cafe Clara. Aku baru saja akan menjawab tapi kemudian Nyonya Hamdani menyodorkan sebuah undangan tetapi dengan warna berbeda.


"Ini, yang ini undangan spesial. Undangan yang diterima teman-teman kamu itu undangan umum. Dengan undangan ini kamu punya kesempatan mendapat doorprise. Datang ya" Jelas Nyonya Hamdani.


Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku sudah menerima undangan yang sama dengan teman-teman yang lain. Tapi melihat perbedaan keduanya, baiklah, aku ingin lihat keuntungan apa yang kudapatkan dari ini.


"Oh ya...em..Sita...apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya wajah kami familiar bagi saya"


Deg, apakah dia mengingat sesuatu? Kami memang pernah berjumpa, saat ulang tahun Clara. Dan saat itu pula aku akhirnya bertemu saudaraku, Rania. Atau dia mencurigaiku sebagai Rosa? Diriku yang asli.


"Oh ya ... Emmm saya lupa Tante" Jawabku sekenanya.


Nyonya Hamdani tampak kecewa krena tak menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Ia kemudian kembali ke dalam mobilnya dan mobil itu masuk ke dalam gerbang sekolah. Dan saat itulah Dinda berjalan ke arahku. Semoga saja ia tidak tahu pertemuanku dengan Mamanya Clara. Aku segera menyembunyikan undangan spesial dari Mamanya Clara. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kami.


"Ya ampun Ros aku cariin kau tadi, ikut aku yuk" Ajaknya.


"Kemana?"


"Shoping"


"Ha? Tumben tumbenan kamu ngajakin shoping"


"Ya dong, kita harus mempersiapkan penampilan yang oke dong buat besok malam" Katanya sembari menggelandang tanganku menuju mobilnya yang sudah siap membawa kami.


***