
Setelah dua minggu lebih akhirnya Papa diperbolehkan pulang. Namun ia akan menjalani operasi sekali lagi setelah kondisinya membaik. Di rumah, kami akan bergantian merawat Papa. Setidaknya kami tidak perlu bolak-balik rumah sakit karena tentu akan membuang waktu di perjalanan.
"Rosa, kamu jaga Papa, Mama istirahat dulu" Kata Mama.
Entah malaikat mana yang meniupkan kalimat itu pada Mama. Mama mengakui jika dia membutuhkanku, paling tidak untuk membantu merawat Papa. Aku mengangguk. Aku senang Mama meminta bantuanku. Artinya, keberadaanku diakuinya.
Aku duduk di tepi ranjang Papa. Kupandangi wajahnya yang tertidur. Begitu teduh raut wajahnya. Terbersit rasa ketidakadilan di benakku. Tidak adil, kenapa orang sebaik dia mengalami hal seperti ini. Bukankah seharusnya kebaikannya menolongnya dari mara bahaya.
"Ros, belum ti...dur?" Papa tiba-tiba membuka matanya.
"Belum bisa Pa. Gimana, apa yang Papa rasain sekarang?" Tanyaku.
"Papa sudah jauh lebih baik sekarang. Apalagi setelah pulang ke rumah. Rasanya nyaman, adem, pikiran tenang"
"Syukurlah Pa"
"Jangan khawatir. Papa sudah tidak sakit lagi"
Mendengar itu aku lega. Tapi aku tahu dia berbohong. Dia masih merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Meski begitu dia berusaha tersenyum.
Kriieeeek pintu terbuka, Monica berdiri di sana. Papa memberikan gestur agar Monica masuk. Monica menghambur ke pelukan Papa. Saat itulah kulihat Papa menitikkan air mata. Rasa rindu seorang ayah dengan anaknya. Rasa nelangsa dengan keadaan ini, campur aduk jadi satu. Aku bisa merasakan betapa Monica juga sangat merindukan ayahnya. Selama dua minggu lebih mereka tak bertemu. Monica sudah cukup besar untuk paham kondisi ayahnya.
Pintu terbuka lagi menimbulkan suara derit yang memekakkan telinga. Bik Sul yang membukanya.
"Ada tamu Non" Kata Bik Sul.
Mama sedang istirahat, maka mau tak mau harus aku yang menemui. Dua orang berjaz biru dan dasi merah. Aku tidak tahu mereka siapa. Bik Sul sudah menyuguhkan secangkir teh hangat untuk tamu itu. Mereka membawa berjas dalam stopmap. Aku sendiri bingung apa yang harus kami bicarakan.
"Kami dari asuransi dek, Mamanya ada?" Tanya salah satunya.
"Oh ada, tapi maaf Mama....."
"Siapa Ros?" Mama tiba-tiba saja ada di belakangku. Bukankah dia bilang mau istirahat sehingga Bik Sul harus memanggilku ketika ada tamu.
"Kami dari asuransi yang menangani kasus tabrak lari Pak Hari Bu"
Mama manggut-manggut. Aku segera undur diri karena ini bukan ranahku. Mereka pasti sedang membicarakan uang asuransi atau semacamnya. Itu masalah penting, dan anak remaja seusiaku tidak digunakan dalam hal ini.
Mereka cukup lama di sini. Ada beberapa berkas yang harus Mama tandatangani. Sekitar satu jam lamanya mereka pun pulang. Saat itulah kulihat raut wajah Mama seperti sedang terbebas dari hutang. Lega, ingin menangis atau semacamnya.
"Ros, uang asuransi Papa sudah cair, tapi uang itu tidak ada sisa. Hanya cukup untuk operasi Papa minggu depan" Kata Mama.
Mama berubah. Dia mau membagikan perkara penting ini denganku. Dai sedang mencurahkan kegelisahan hatinya padaku. Dan disaat seperti ini aku justru tak banyak membantu. Aku memang tak bisa berbuat apa-apa. Aku duduk di sampingnya. Mendengarkan apapun yang dia keluhkan.
"Sumbangan dari perusahaan pun sudah ludes. Biaya Papa berobat sudah tembus ratusan juta. Belum operasi minggu depan" Mama membenamkan wajahnya di kedua lututnya.
Saat itulah kulihat Mama yang benar-benar terpuruk. Kudengar pula isak tangisnya yang lirih. Dan kusesali karena aku belum bisa membantu. Apa yang harus kulakukan.
***
"Ros, gimana bokap lo?" Tanya Dinda begitu bertemu denganku.
"Sudah dibawa pulang kok" Jawabku.
"Syukur deh"
Melihat wajah Dinda seakan mengingatkanku pada kecurangan yang kulakukan. Apakah Dinda tahu akan hal itu? Dia tidak membahas itu sama sekali denganku. Membuatku penuh dengan tanya.
Bu Guru datang membuyarkan lamunanku. Beliau mengabsen kami satu persatu. Namun dari dua puluh anak yang disebutkan, tak ada namaku.
"Bu, maaf bu, saya belum dipanggil" Kataku mengacungkan tangan.
"Oh, iya nanti coba tanyakan ke bidang administrasi ya. Mungkin kamu belum melakukan her registrasi" Jelas Bu Guru.
Sesuai yang disarankan, aku menuju ke staf administrasi. Aku membaca pengumuman yang tertempel di pintu masuk staf administrasi. Di sana tertulis, melakukan her registrasi dengan mengisi formulir yang di tandatangani orang tua dan sejumlah biaya. Oh, jadi karena ini namaku tidak tercantum pada absensi.
Aku mengerti sekarang. Aku hendak berbalik dan meninggalkan ruangan itu namun seseorang menghentikanku.
"Rosa Nirwasita?" Tanya seseorang.
"Oh iya Bu, saya" Jawabku.
"Silahkan masuk"
Tadinya aku akan kembali setelah membaca pengumuman itu. Tapi seseorang justru menyuruhku masuk.
"Seharusnya kamu melakukan registrasi beberapa hari yang lalu. Tapi karena prestasimu di semester satu kemarin, saya memberikan keringanan waktu" Katanya sambil menyodorkan berkas yang harus kupelajari.
"Iya Bu, maaf. Ayah saya mengalami kecelakaan jadi tidak tahu dengan aturan ini"
"Oh im sorry to hear that"
"Jadi, kapan batas akhirnya Bu?" Tanyaku.
"Tiga hari dari sekarang"
Tiga hari. Bagaimana aku akan meminta tanda tangan Papa, sementara kondisinya masih seperti itu. Apakah Mama mau menandatangani? Apalagi dengan sejumlah uang yang harus kami bayarkan. Mama tidak mungkin setuju.
Aku berjalan gontai dari tempat berhenti bus sampai jalan perumahan menuju rumahku. Pikiranku benar-benar tak karuan. Bagaimana aku akan meminta tanda tangan Mama. Dia sudah berubah sekarang ini, jangan sampai dia kembali seperti sebelumnya. Lalu uang itu. Darimana aku bis memperoleh uang.
Tiba-tiba saja aku teringat uang yang diberikan Tante Santi atas usahaku menjadi joki dari tes yang seharusnya dilakukan oleh Dinda. Yah, uang itu mungkin bisa digunakan membayar registrasi. Tapi operasi Papa? Dia juga membutuhkan uang itu. Huft.
Angin menyapa tubuhku lembut. Seakan mengelus rambutku dan memintaku untuk tenang. Terbersit keinginan di benakku. Rasanya aku ingin mengundurkan diri saja dari Insan Mulia. Di sana terlalu mahal. Aku rasanya tidak sanggup membiayai pendidikanku sendiri. Selama ini Papa yang menopang pendidikanku. Tetapi sekarang ini dia sedang terbaring lemah di ranjang. Tak mampu melakukan apa-apa. Pantas saja jika Mama sampai terlihat begitu terpuruk. Tonggak keluarga ini adalah Papa. Hanya dia yang bekerja selama ini. Dengan kondisi ya yang seperti itu. Akankah kami bisa bertahan hidup?
Aku berjalan gontai, di tengah teriknya matahari yang mulai condong ke barat. Merasakan pedihku sendiri.encercap sakit sendiri. Berharap menemukan solusi begitu pintu rumah kubuka.
***