My Name Is Rose

My Name Is Rose
Mengemudi



"Hai..." Dinda melambaikan tangan di depan sana.


Tumben sekali dia datang ke sekolahku. Bukankah waktunya padat dengan berbagai ekstra yang dia ikuti, belum lagi bimbel yang terjadwal tanpa jeda.


"Hai...." Sapaku kembali.


Saat itu aku bersama Alanta. Seperti biasa Alanta akan mengantarku ke tempat kerja. Kami berdua menemui Dinda yang berada di seberang jalan.


"Kok lo tumben tumbenan ke sini?" Tanyaku.


"Mumpung bimbel lagi libur..makan yuk, ntar gue anterin deh ke resto" Ajak Dinda.


Aku melirik Alanta yang berdiri di sampingku. Sebab kani akan pulang bersama. Duh, diantara pacar dan sahabat, bagaimana aku harus memilih di antara mereka.


"Udah gak papa, jalan aja sama Dinda" Kata Alanta yang seolah paham isi otakku.


"Oh ya udah, aku duluan ya" Kataku.


"Din...nitip cewek gue ya...jangan ada yang lecet" Canda Alanta.


"Siap bos!!"


Dinda kemudian duduk di posisi sopir. Wow, akhirnya dia diperbolehkan membawa mobil sendiri. Oh, aku tahu dia datang ke sini untuk pamer bahwa mulai sekarang dia sudah membawa mobil sendiri. Artinya dia bisa kemana saja tanpa harus menunggu sopir. Beruntungnya Dinda, lahir di keluarga kaya yabg begitu menyayanginya.


"Wuih...sudah bisa bawa sendiri?" Komentarku.


"Iya dong...makanya hari ini mu pamer nih. Kasih tepuk tangan dong" Kata Dinda.


Sontak aku bertepuk tangan sesuai permintaannya.


"Jadi, gue bisa bebas kemana aja. Ntar kita sering-sering ya weekend bareng" Usul Dinda.


"Boleh...asal boleh bawa Alanta juga" Candaku.


"Hmm, gue melongo dong"


Mobil melaju pelan sebab sopirnya juga baru saja lulus kursus mengemudi.


"Lo udah denger, olimpiade Sains yang diadain oleh organisasi pemerhati pemuda?" Tanya Dinda sambil fokus ke depan.


"Iya, gue ikutan kok"


"Harus....sama Alanta juga?"


"Nggak, dia kan kelas tiga jadi ada batasan usia"


"Yah...kirain sama Alanta...pasti seru...soalnya dari First si Clara yang maju"


"Clara maju lagi?"


"Iya lah siapa lagi. Sebego apapun si Clara itu pasti akan tetp kepilih, nyokabnya anggota komite"


Benar. Dia akan selalu menang jika di belakangnya ada Nyonya Hamdani yang begitu berkuasa di mana saja. Itulah yang menyebabkan sekolah itu tidak jujur. Aku khawatir jika sistem seperti itu belum berhenti, akan melahirkan generasi-generasi yang pintarnya bohongan. Akhirnya yang ada kualitasnya menurun. Hanya biayanya yang terkenal mahal.


Pada akhirnya aku akan berhadapan langsung dengan Clara. Kami akan beradu kemampuan. Aku sedikit lega karena lomba ini diadakan oleh pihak luar. Tidak ada hubungannya dengan First atau dengan Nyonya Hamdani. Maka jelas akan jujur dan fair. Aku gugup. Beberapa bulan aku tidak bertemu dengan Clara. Bisa jadi perkembangannya begitu pesat selama beberapa bulan ini. Atau dia les privat langsung dari Bu Yuni, atau kepada ahli yang lebih bagus dari sekedar bimbingan Alanta.


Ciiittttt......mobil direm mendadak. Badanku terguncang ke depan. Setir dibanting ke arah kiri dan brakkk...mobil menabrak sebuah pot di pinggir jalan.


"Oh my God!! Oh...oh..."


Dinda keluar dari mobil, akupun mengekor. Asap mengepul di bagian depan mobil.


"Aduuh...nabrak lagi" Keluh Dinda sambil berkacak pinggang.


"Coba dibuka dulu....." Kataku.


Begitu kap mobil dibuka, asap menerobos keluar menimbulkan bau terbakar. Dinda mengayun-ayunkan tangannya mengusir kumpulan asap.


"Aduh gimana dong"


"Eh...jangan..jangan..."


"Kenapa?"


"Bisa berabe..."


"Ya kenapa?"


"Sebenernya aku belum boleh bawa mobil"


"What??..gila lo Din....."


Yah, dasar Dinda. Ternyata dia nyolong-nyolong bawa mobil sementara sopir sedang tidur pulas. Dia memang kursus mengemudi tetapi untuk mampu mengemudikan mobil haris berlatih di tempat yang sepi dahulu, dan untuk ke tempat yang ramai orang harus di dampingi oleh ahli. Huft.


"Thanks ya Alan...aduh gak tau lagi deh kalo lo gak cepet dateng" Kata Dinda setelah Alanta membawa mobilnya ke bengkel dengan mobil derek.


"Its okay... Tapi Rosa biar gue yang anter ke resto ya" Jawab Alanta.


"Ya deh...makasih banget pokoknya ya"


"Tapi Din, menurut gue lo ngomong jujur deh ke Tante Santi. Karena lo salah. Gue yakin kok dia gak bakalan marah" Kataku.


"Gampang mah itu. Eh itu jemputan gue udah datang, gue duluan ya" Kata Dinda.


Selepas Dinda pergi, Alanta menggenggam tanganku kuat-kuat. Seakan tidak membiarkanku lepas barang sebentar. Aku pun tidak ingin melepaskan genggaman itu. Aku tahu dia khawatir. Tapi kami juga tidak bisa menyalahkan Dinda atas kecerobohannya. Tuhan maha baik masih menyelamatkan kami, jika tidak, kami mungkin sudah tidak di dunia lagi.


***


"Kamu dah siap??" Tanya Alanta.


Aku menarik nafas panjang dan menghempaskannya kuat-kuat. Aku gugup. Demi memaksimalkan penampilan kami, Alanta memberikan jaz almamater untuk kami bertiga. Dengan merogoh dompet pribadi dia begitu niat membimbing kami. Meski ia tahu lomba ini bukan lomba resmi dari dinas pendidikan, tetapi dia begitu totalitas memikirkan lomba ini.


"Selamat datang seluruh peserta olimpiade sains Forgebang Indonesia!!" Kata pembawa acara membuka acara lomba ini.


Ada sekitar dua puluh sekolah yang ikut dalam lomba ini. Aku melihat Clara tepat di depanku namun terpisah dua kelompok. Dia tahu aku ada di lomba ini. Dia tampak tenang berbeda dengan biasanya. Dulu dia pasti memandangku dengan kebencian yang menyala seterang api. Namun hari ini dai tampak sangat siap mengikuti lomba ini. Membuatku gugup lebih parah.


Pertama-tama kami mengerjakan soal tertulis secara kelompok. Ada lima soal yang harus kami jawab dengan waktu 15 menit saja.


"Gile ...soalnya rumit bener" Komentar Bella.


"Bell, lo siap-siap ngitung. Rizal, lo kerjakan soal paling terakhir. Oke?" Tanyaku


Keduanya mengangguk kuat. Kami bertempur tidak hanya dengan soal tapi juga dengan waktu. Lima belas menit sudah berakhir. Semua dikumpulkan. Dari sini akan dipilih separuh kelompok, yaitu 10 kelompok.


"Baik yang dipanggil silahkan menempati meja yang telah disediakan" Kata pembawa acara.


"Yes!!" Bella berjingkrak kegirangan padahal masih masuk 10 besar. Kami harus bersaing lagi lebih dalam. Sama seperti babak sebelumnya, kami mendapatkan soal dan harus menyelesaikan dalam waktu 15 menit kembali. Namun yang diberikan adalah 3 soal saja dengan kerumitan yang lebih dari sebelumnya.


"Gue kayak ya gak sanggup deh" Kata Rizal.


"Zal lo apa apaan sih jangan bilang gitu dong. Ayo semangat" Kata Bella.


Aku hanya menepuk pundak Rizal beberapa kali untuk memberinya semangat. Sama seperti sebelumnya, Bella bertugas menghitung. Sedang aku dan Rizal mencoba mengingat rumusnya.


"Tet...waktu habis" Kata Pembawa acara.


"Gue gak yakin deh sama jawaban kita tadi" Kata Rizal


"Zal lo gak usah ngomong kayak gitu bisa gak sih" Kata Bella dengan kesalnya.


Aku tidak bisa menyalahkan Rizal sama seperti yang dilakukan Bella, sebab aku tahu mengikuti lomba olimpiade seperti ini memang menguras tenaga. Dibandingkan dengan kondisi Bintang Harapan, sungguh hal yang sangat berat.


Sebentar lagi pengumuman. Aku hanya bisa menunduk dan menenangkan diri.


***