
Hari ini Rebecca yang paling sibuk dengan tas dan koperku. Biarawati itu rupanya terampil dalam beberes. Barang-barangku yang banyak bisa muat dengan rapi berkat tangan ajaibnya.
"Kamu sungguh mau pulang?" Tanya Rebecca dengan nada kecewa.
"Iya. Makasih ya untuk semuanya" Jawabku.
"Apa karena dia?"
Aku menoleh ke arahnya.
"Laki-laki itu. Pacarmu. Kamu merindukannya? Dan tidak bisa jarak jauh? Kamu pulang karena itu?" Tanya Rebecca lagi.
"No, Rebecca. Ini bukan soal itu. Kontrak beasiswaku sudah selesai dan aku tidak punya biaya untuk hidup di sini. So, aku memutuskan untuk pulang" Kataku menjelaskan.
Rebecca tampak lesu. Ia telah kehilangan Alice sebagai temannya dan berganti denganku. Ketika sudah cocok, aku pun pergi meninggalkannya. Harus kuakui, meski berbeda keyakinan, toleransinya begitu kuat. Ia bahkan menyimak saat aku mengaji tanpa berkomentar atau mencoba menunjukkan agamanya. Terkadang aku lupa jika kami berbeda keyakinan, sebab seakan kami sama. Sama-sama tidak menyukai gaya hidup terlalu bebas. Sama-sama sendiri di kota ini. Ya, aku baru tahu kalau dia juga pendatang dari kota lain.
Rebecca belum tahu banyak alasanku pulang ke tanah air. Alu belum sempat cerita banyak. Rasanya aku tak berani mengatakan apa yang sejujurnya terjadi padaku. Batinku tak kuat menceritakan itu. Aku serasa dibuang, ditipu, termakan tipu daya atau apalah namanya. Telepon berdering di antara obrolan kami.
"Ya Kak?"
Panji meminta bertemu. Penting katanya. Tak apa. Jadwal terbang ku masih nanti sore. Masih ada waktu untuk bertemu dengannya, sekalian aku akan mengucapkan terima kasih untuk semua batuannya selama setahun ini.
Jembatan yang sama, saat pertama kali kami jalan bareng. Dia tidak pernah mau berkunjung ke kamarku. Tahu kenapa? Image. Baginya datang ke rumah orang atau ke kamar kos orang adalah hal yang serius. Okelah, aku cukup menyetujui prinsipnya itu. apalagi asrama yang kutempati sebagian besar dihuni oleh perempuan.
"Rose, bisa ikut saya ke komunitas? Kamu sudah ditunggu. Ini oenting banget" Kata Panji tanpa basa-basi.
"Maaf Kak, Kakak kan tahu nanti sore aku sidah harus di bandara. Kayaknya gak bisa deh Kak" Kataku.
Sebenarnya aku juga penasaran apa yang akan dibahas oleh mereka. Menurutku ini terlambat. Jika ingin membahas masalah beasiswa ku yang janggal, seharusnya dari kemarin-kemarin. Ini sudah mepet waktunya mereka baru memanggilku. Ya, aku yakin tentang itu.
"Oke oke. Pertemuan ini mungkin saja akan mengubah keputusan kamu. Maka dari itu, cobalah sekali saja bertemu mereka. Jika pertemuan ini pun menurut kamu nihil, gak papa. Aku gak maksa" Jelas Panji.
Komunitas itu tidak memiliki kantor. Namun memiliki satu ruang kecil di kedutaan. Ruangan itu tidak setiap saat dipakai. Para anggotanya lebih sering bertemu di tempat lain. Di perpustakaan, taman, atau aula. Dan saat ini kami bertemu di perpustakaan kampus tempatku menuntut ilmu.
"Kami tahu menuntut hak mu mungkin tidak akan berhasil. Meski komunitas kita ini cukup besar, tapi belum cukup kuat untuk menuntut masalah itu" Kata salah seorang anggota yang sepertinya senior di komunitas ini
"Karena itu kami memilih solusi lain sambil tetap mengusahakan hak kamu" Sambung lainnya
"Ini" seseorang menyodorkan semacam formulir padaku.
"Apa ini Kak?" Tanyaku.
Aku mengamati formulir itu. Banyak yang harus diisi. Terlepas dari itu, aku salut dengan komunitas ini. Dulu komunitas ini membiayai kursus bahasa Jerman yang kujalani. Sekarang ia menjembataniku untuk mendapatkan beasiswa setelah beasiswaku dari First terputus.
"Namanya beasiswa tentu saja ada syaratnya. Ini" Lembaran kertas yang lain disodorkan padaku.
Di lembaran itu tertera bahwa dengan menerima beasiswa dari kampus lain, maka harus bersedia terlepas sari kampus yang lama. Wajar. Tak apa. Kamus First juga pasti bermaksud untuk membuangku. Syarat berikutnya adalah bahwa beasiswa berlaku semala dua tahun, namun bisa diperpanjang dengan pengajuan, asalkan nilai memenuhi kriteria penerima beasiswa. Dan syarat terakhir adalah, bersedia mengabdi selama lima tahun di rumah sakit yang sudah ditentukan setelah lulus nanti.
"Bagaimana?" Tanya salah seorang.
"Tunggu, saya juga perlu tahu, apa saja yang dibiayai oleh beasiswa ini" Kataku.
Mereka tersenyum.
"Silahkan baca lebih lanjut" Katanya.
Ya, aku mengerti sekarang. Tapi aku tetap ingin pulang. Sepertinya aku tidak cocok hidup di negeri ini. Aku merindukan kampung halamanku. Aku rindu orang-orang ras Jawa di sana. Atau orang-orang sunda yang selalu halus dalam bertutur kata. Atau tetangga yang main catur sampai larut demi menjaga keamanan sekitar. Aku rindu semuanya. Meski terkesan kumuh, miskin, tak teratur, tapi semuanya menyenangkan.
Aku menunduk. Dalam otakku sedang berperang, antara mau dan tidak, antara Jerman dan Indonesia, antara bertahan dan menyerah. Aku sudah senang karena bisa pulang meski harus membuka tabunganku. Jika aku bertahan setahun lagi katakanlah, apakah aku yakin bisa pulang? Ini tabungan terakhirku. Maka aku harus mengambil keputusan yang paling tepat sebelum aku kehilangan semuanya.
"Rose .." Panji mengingatkan.
"Maaf Kak, sepertinya saya akan tetap pulang. Saya akan terbang nanti sore ..saya..."
"Rose..." Panji menghentikan.
Terlihat sekali dia kecewa dengan keputusanku. Wajar. Dia tidak tahu apa yabg terjadi sebelumnya padaku. Terlepas dari itu, bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa akulah nanti yang akan memutuskan. Bukankah seharusnya dia menyerahkan keputusan bulat padaku?
"Rose, saya tidak tahu apa yang terjadi sampai kanu mengalami ini. Pengalaman kamu selama setahun di sini, jika diuangkan tidak akan cukup untuk membeli Semarang beserta isinya. Sangat berarti. Jadi sayang banget jika itu kamu hentikan begitu saja" Jelas Panji.
Ya, dia benar. Tapi hatiku sudah bertekad bulat dan tidka bisa diganggu gugat.
"Kamu ingat, selalu ada jalan selama kita mau. Bukan selama kita mampu. Tapi selama kita mau" Lanjutnya.
Aku masih menunduk. Aku berpikir. Aku menimbang ulang keputusan yang kubuat. Tapi rasanya masih terlalu berat.
"Orang yang membuatku seperti ini mungkin memang sangat menginginkan kamu begini. Dan dia akan tertawa terbahak-bahak melihatmu begini. Dia akan puas. Dia telah berhasil membuatmu hancur seperti ini. Maka satu-satunya cara untuk balas dendam adalah dengan kesuksesan. Dengan menunjukkan bahwa jebakan, atau apapun itu justru keberuntungan untuk kamu" Panji masih berbicara.
Aku melihat satu persatu wajah mereka. Orang-orang yang selalu berkecukupan. Mereka tidak pernah merasakan terbuang sepertiku. Jika sesuatu terjadi pada mereka, banyak pihak yang akan berlari ke arahnya demi menopang agar mereka tidak jatuh. Namun jika sesuatu terjadi padaku, maka aku akan menghadapinya sendiri. Ya, sendiri. Maka keputusanku kali ini harus benar. Harus tepat. Harus matang.
***