
Jam sepuluh. Beberapa jam usai makan malam. Aku tidak bisa tidur. Selain karena terbiasa tidur larut, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Bulik Farida. Dia akan segera pergi ke Banyumas. Meski hanya sementara, tapi tentu akan lama. Dan mampukah aku tinggal di sini tanpa dia, di tengah keluarga yang tidak menganggapku ada.
Karena itulah aku menuju kamarnya malam ini dengan maksud mencegahnya pergi. Saat kubuka pintu kamarnya, kulihat Bulik Farida sedang menyisir rambutnya. Dia tersenyum melihatku.
"Masuk sini" Kata Bulik.
Kami duduk berhadapan di atas dipan. Aku melihat wajahnya tanpa riasan. Cantik alami. Tepat di samping meja rias terdapat rak buku yang penuh dengan buku-buku tebal.
"Ini semua milik Bulik?" Tanyaku penasaran.
"Iya, kamu suka baca? Pinjamlah beberapa yang kamu suka" Kata Bulik.
Ada enam sap pada rak ini dan semuanya penuh dengan buku. Aku tertuju pada satu buku dengan cover menarik. Ada gambar perempuan dengan mahkota bunga yabg membawa senjata. Di cover itu tertulis 'Perempuan-perempuan Hebat Penakluk Dunia'. Dari judulnya saja sudah seram. Adakah perempuan yang sehebat itu?
"Ini boleh Bulik?" Kutunjukkan buku itu pada Bulik.
Bulik mengangguk, dan memberikan kode agar aku duduk di sampingnya.
"Kamu punya selera yang tinggi rupanya. Ini buku yang bagus" Komentar Bulik.
"Sebenarnya saya tertarik dengan sampulnya yang cantik Bulik"
"Baca saja. Kamu akan menemukan kekuatan dibalik seorang perempuan. Kelak kamu pun akan menjadi seperti tokoh-tokoh dalam buku ini"
Aku menunduk. Kalimat Bulik membuatku penasaran dengan isi buku ini. Tapi bukan ini tujuan utamaku mendatangi Bulik. Kurasa aku harus cepat mengutarakan maksudku.
"Bulik tahu kenapa kamu datang kesini malam-malam begini. Jam segini seharusnya anak seusiamu sudah tidur" Kata Bulik memecah keheningan.
Aku menunduk lagi. Apakah seperti ini perempuan hebat itu? Bisa menebak sesuatu sebelum diceritakan.
"Tentang rencana Bulik pulang ke Banyumas. Saya tahu kamu kecewa. Saya juga sedih berpisah dengan gadis secerdas kamu. Tapi Bulik perlu kesana. Sebab kandungan Bulik sangat rentan karena belum ada usia tiga bulan. Bulik bisa keguguran kapan saja jika kondisi Bulik masih seperti ini" Jelas Bulik.
"Bulik sakit?" Tanyaku khawatir.
"Tidak, hanya saja kurang tenang"
"Kurang tenang kenapa Bulik? Bukankah di sini menyenangkan. Hawanya sejuk, banyak tanaman hijau, apalagi Kakek dan Nenek sangat menyayangi Bulik"
"Ya ... Itu benar"
"Lalu?"
"Terkadang kasih sayang menuntut kita untuk menjadi sempurna"
"Menjadi sempurna? Maksud Bulik?"
"Kamu tidak dengar tadi Kakek bilang apa di meja makan?"
Aku menggeleng. Aku tidak paham kalimat mana yang dimaksudkan Bulik.
"Kakek sudah menyiapkan nama untuk calon anak Bulik. Nama tokoh kesatria kerajaan Mataram Kuno. Itu artinya Kakek menginginkan cucu laki-laki"
"Ya nggak apa-apa kan Bulik, namanya juga keinginan"
"Bagaimana jika ternyata anak Bulik ini adalah perempuan? Apakah Kakek tidak akan kecewa?"
Aku terdiam. Betul juga, Kakek pasti kecewa dengan itu. Apakah ini yang membuat Bulik tidak betah?
"Rumah ini seperti istana, kita dilayani seperti raja dan ratu, segala kebutuhan kita dipenuhi di sini. Tapi mereka juga menuntut kesempurnaan. Sebagai menantu perempuan, Bulik harus cakap dalam segala hal. Mengatur keuangan, bersikap keibuan, mengatur ruangan, sampai memasak. Semua bisa Bulik lakukan. Satu yang tidak bisa. Menentukan jenis kelamin kandungan Bulik. Itu cukup menguras pikiran. Itulah kenapa Bulik ingin tinggal sementara di Banyumas sampai bayi ini lahir"
"Bulik adalah seorang perempuan, sudah selayaknya perempuan ikut suaminya. Dan sebagai menantu perempuan, sudah berkewajiban mengabdi pada mertua. Beda dengan Mbak Arini. Dia anak perempuan dari keluarga ini, jadi dia ikut dengan Mas Hartono. Karena seorang laki-laki harus menanggung kebutuhan istrinya. Jika tinggal dengan keluarga istrinya, berarti dia yang dicukupi oleh istrinya"
Jadi itulah sebabnya Papa mati-matian mencari kerja agar bisa segera pindah dari sini. Jika dipikir-pikir, keluarga Kakek sangat cukup untuk menghidupi kami semua. Karena adat turun temurun, semua terasa tabu.
"Sebentar Bulik, Monica juga cucu perempuan, tapi Kakek dan Nenek sepertinya juga menyayanginya" Aku menimpali.
"Beda Rosa. Monica itu cucu dari anak perempuan, dan lagi tidak tinggal serumah. Beda dengan anak Bulik yang berasal dari anak laki-laki yang diharapkan menjadi penerus keluarga"
"Bulik, kenapa masih ada tradisi seperti itu, tidak bisakah kita hidup damai, asal cukup, tak peduli kedudukan kita sebagai perempuan atau laki-laki, tak peduli siapa yang menghidupi siapa asal cukup dan ikhlas. Tak peduli bayi laki-laki atau perempuan yang akan lahir, mereka tetaplah keturunan yang harus dijaga dan dididik?" Aku bertanya untuk kesekian kalinya atas rasa ingin tahuku.
"Itulah makanya, orang-orang seperti kamu yang akan mewujudkannya. Kamu baca buku ini, dan buktikan pada dunia. Perempuan juga memiliki kekuatan, perempuan mampu duduk bersama sejajar dengan laki-laki"
Kalimat Bulik sekali lagi membuatku penasaran dengan isi buku ini. Sekaligus belajar banyak darinya. Kurasa dialah wanita hebat itu. Kata-katanya enak didengar, pemikirannya tajam dan mengena namun sikapnya tetap lembut. Ia memegang teguh tradisi sekaligus mempertahankan kedudukan perempuan. Ya, kurasa dialah wanita hebat itu. Kenapa bukan dia Mama angkatku?
Keluar dari kamar Bulik, aku membawa beberapa buku ditangan. Entah kapan aku sempat membacanya. Tapi harus kusempatkan mumpung masih libur. Untuk menuju kamarku, aku melewati kamar Mama. Kata Bulik, kamar itu sebenarnya adalah kamar tamu yang saat ini ditempati Mama. Aku tidak akan berhenti melangkah kalau saja tidak mendengar suara Nenek di dalam. Mereka berbincang rahasia lagi. Kurasa demikian. Jiwaku berontak. Akupun menguping.
"Jangan bandingkan dirimu dengan Farida. Dia berasal dari keluarga ningrat, terpandang. Mengangkat derajat keluarga kita. Puguh pintar cari istri. Kamu? Milih suami saja ndak becus!!" Itu suara Nenek.
"Jangan bahas itu terus Bu, dulu Ibu juga yang membantuku membujuk Bapak supaya mau merestui kami. Dulu Ibu bilang, Mas Har itu pinter. Cumlaude. Berprestasi, sampai diangkat menjadi manajer di sebuah perusahaan. Sekarang Ibu justru menjatuhkannya" Suara Mama.
"Kamu yang terus terusan mendesak Ibu untuk ngomong ke Bapak. Sekarang sudah seperti ini. Bagaimana? Getun? Nyesel kamu nolak Prasetyo, yang sekarang sudah jadi Camat?"
"Bu, kita sedang membahas Monica kenapa sampai Prasetyo segala?"
"Yowes, kuulangi lagi. Perkebunan sawit diberikan ke anaknya Puguh karena kami yakin anaknya itu laki-laki. Laki-laki yang cocok mengelola sawit. Anakmu perempuan. Dia cocok membangun toko atau usaha di lahan kosong yang Ibu berikan waktu itu"
"Tidak bisakah Monica mendapatkan kebun sawit juga?"
"Tidak bisa. Jika adeknya Monica laki-laki dia bisa mendapatkan hak seperti anaknya Puguh. Atau..."
"Apa Bu?"
"Senangkan hati kami. Pisahlah dengan Hartono, kami akan carikan pria yang pantas"
Ada suara langkah kaki. Aku segera bersembunyi di balik kursi kayu di sekitar kamar Mama. Benar saja. Nenek keluar dengan langkah tergesa-gesa. Pinggulnya yang besar membuat goyangan tersendiri saat berjalan. Saat kurasa aman, aku keluar dari persembunyian yang ala kadarnya.
Saat aku berbalik badan, ups. Mama berdiri di belakangku. Tatapan matanya tajam. Mungkin dia tahu aku menguping. Uh, tamatlah aku.
"Ngapain kamu di situ?" Tanya Mama marah.
"Eh..enggak Ma..tadi aku..."
Belum sempat aku menjawab, Mama menjambak rambutku. Duh, sakit, perih.
"Kamu nguping?" Tanya Mama dengan nada tinggi.
"E...enggak Ma"
"Jangan bohong!" Mama menjambak rambutku lebih keras lagi.
"Maaf Ma, nggak sengaja" Aku mencoba membela diri.
"Ini semua karena kamu. Sejak kamu hadir di tengah-tengah kami semua berantakan. Ingat baik-baik. Jika nasibku masih seperti ini, aku akan buang kamu"
Mama mendorongku hingga jatuh dan buku-buku yang kupegang berantakan di lantai. Mama lantas menutup pintunya dengan sedikit keras. Sungguh ini seperti mimpi buruk. Dulu Mama hanya membentakku, sekarang dia main fisik denganku. Menjambak dan mendorong, baru kali ini kualami. Bahkan di panti aku banjir kasih sayang. Di sini seperti di tahanan. Dikurung, disiksa entah apa lagi. Oh, rasanya aku ingin kembali ke panti. Menikmati indahnya rasa cinta, rasa kasih, ketulusan, keikhlasan, semuanya.
***