
Benar saja. Di rumah sedang ramai. Keluarga besar berkumpul di sini. Aku melangkah ragu. Bagaimana aku menghadapi mereka. Marah, kesal, kecewa meliputi seluruh hatiku. Aku kesal dengan mereka yang selalu membela Mama dan menyalahkan Papa atas semua keadaan. Mereka yang terlalu menganggap keluarga mereka adalah yabg paling terhormat. Mereka yang memandang rendah anak-anak malang di panti asuhan.
Aku sengaja pulang untuk mengambil barangku yang masih tersisa. Termasuk uang. Dengan dipenuhi rasa kecewa aku melangkah membuka pagar. Polisi yang menjaga rumah sudah tidak ada. Garis polisi yang sebelumnya terpasang juga sudah tidak ada. Entah bagaimana kelanjutan laporan perampokan yang dibuat oleh keamanan perumahan.
Keluarga besar sedang berkumpul di ruang tengah. Ada banyak bungkus makanan ringan di ruang tamu. Mereka sedang berpesta dengan santainya. Mereka seolah menikmati liburan. Piring dan gelas kotor juga tertumpuk di ruang tamu. Gelas bekas kopi ada beberapa. Apakah mereka tidak tahu yang baru saja terjadi.
"Kaka Rosa!!" Monica menghambur ke arahku. Dia mungkin merindukanku. Bagaimana tidak. Selama Mama sibuk bekerja, Monica akulah yang mengurus. Tidur denganku, makan denganku, mandipun aku yang memandikan. Seiring berjalannya waktu dia menjadi dekat denganku.
Seluruh orang yang hadir di sini memandangku. Nenek memandangku dengan tajam seperti sedang menyimpan pertanyaan besar. Atau seolah menuduhku atas sesuatu. Hanya satu orang yang tersenyum. Tentu saja Bulik Farida. Tetapi betapapun dia menyayangiku, diapun tidak bisa berbuat banyak untukku. Tetaplah aku harus melindungi diriku sendiri.
"Itu dia anaknya, Arini, coba kamu tanya dimana Papanya Monica" Kata Nenek.
Mama menatapku ragu. Seperti sesuatu yang membuatnya takut. Entah kenapa. Itulah kenapa Mama diam ketika Nenek memintanya bertanya sesuatu padaku.
"Rosa... Dimana Om Har?" Tanya Nenek.
"Papa sedang dirawat di rumah sakit" Jawabku berusaha tenang.
"Papa???"
Tentu saja semua orang termasuk Bulik Farida terkejut dengan jawabanku.
"Hari ini akan kutunjukkan kepada kalian semua siapa sebenarnya saya" Kataku.
Kulihat raut muka Mama yang tegang. Tapi aku tidak peduli lagi. Betapapun aku menghormatinya, tidak akan berpengaruh pada penilaiannya padaku.
"Saya, bukan keponakan Pak Hartono dan Bu Arini. Saya tidak punya orang tua. Saya dibesarkan di panti asuhan"
Wajah Nenek semakin terkejut dengan apa yang kukatakan. Yang lain pun sama. Hanya Kakek yang manggut-manggut mendengarkan.
"Suatu hari saya diadopsi oleh sepasang suami istri yang baik hati. Mereka merawatku sebagai pancingan agar segera mendapatkan keturunan. Mereka adalah Pak Hartono dan Bu Arini yang semula baik padaku. Namun setelah lahir Monica, Mama berubah"
"Stop!! Jangan ngarang cerita. Sekarang lebih baik kita ke rumah sakit melihat keadaan Mas Har" Kata Mama mencoba mengalihkan pembahasan.
"Tunggu!!! Biarkan Rosa selesaikan dulu" Kata Nenek yang sudah marah.
Mama semakin panik.
"Bu Arini yang begitu Nenek banggakan, pernah mengurung saya di gudang sampai beberapa hari. Jika itu saya laporkan maka hari ini dia tidak akan berada di sini"
Nenek memandang Mama beberapa saat, namun kembali menatapku.
"Ketika semua menyalahkan Papa karena tidak mampu memberikan nafkah materi yang melimpah pada Mama, lihatlah rumah ini, ini adalah kerja keras Papa. Demi memberikan tempat tinggal yang layak seperti yang Mama mau"
Bibirku bergetar mengatakan ini.
"Sayangnya, ditengah kesuksesan yang Papa raih, dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Dan siapa yang merawat Papa? Anak malang dari panti yang katanya membawa sial. Bukan yang lain. Saya yang merawat Papa. Bahkan Mama membawa seluruh uang kami yang kami butuhkan untuk berobat. Mama bawa ke Semarang sampai berbulan-bulan Mama tidak pulang" Aku mulai menangis.
Mama menunduk.
"Mama mengambil surat rumah ini dan terlibat pertengkaran dengan Papa sampai Papa terguling dan sekarang dirawat di rumah sakit. Di mana Mama saat itu? Mama ke Semarang? Meninggalkan Papa yang terjatuh sendirian?"
Nenek kembali memandang Mama. Pandangan itu berubah. Ada rasa kecewa yang terpancar dari sorot matanya.
Aku tidak kuat lagi. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Jika kalian tidak percaya silahkan datang ke kantor polisi biar mereka ceritakan apa yang terjadi pada saya dua hari lalu. Tapi Mama tenang saja, sampai sejauh ini saya tidak menyebutkan sedikitpun tentang keterlibatan Mama"
"Jangan ngawur kamu. Mana buktinya kalau aku terlibat, Hah??"
"Bukti? Apa perlu Ros tunjukkan tentang Om Banu?"
"Siapa Banu?" Tanya Nenek.
"Siapa Ma? Mama kenal dari mana?"
Mama terdiam.
"Biar saya bantu jawab Ma. Om Banu itu selingkuhan Mama bukan. Dan ternyata dia mengkhianati Mama juga? Mama punya banyak hutang dengannya atau ke siapa? Sampai Mama harus membawa surat rumah"
"Kurang ajar kamu ya... Beraninya kamu ngomong seperti itu!!"
"Lalu Jacob? Mama punya hutang apa sama dia?" Tanyaku dengan berani.
"Kurang ajar!!!" Mama mencoba memukulku .
"Berhenti Arini!!" Kata Kakek.
Jika Kakek sudah berbicara, semua diam tidak ada yang berani melawan.
"Nduk ..Rosa" Panggil Kakek.
Aku menunduk mengiyakan.
"Tidak seorangpun yang bisa mempermalukan keluarga saya. Jika ada yang mencoba mengotori nama keluarga, harus berurusan dengan saya. Maka, tutup mulutmu rapat-rapat jika kamu mau selamat"
Tak kuduga jawabannya akan seperti ini. Orang sepuh yang kupikir selalu bijak dalam bertindak, berbeda jauh dengan Nenek yang cenderung tidak mau diungguli, nyatanya berbicara sekeras itu. Kakek melindungi Mama. Tak bisa kupercaya dengan kesalahan yang sudah kubongkar Kakek tetap melindungi Mama.
Aku kembali ke rumah sakit dengan membawa barang-barangku yang masih tersisa. Masih terpikirkan ucapan Kakek yang begitu tajam. Kupikir setelah aku membongkar semuanya setidaknya mampu membersihkan nama Papa. Juga mampu mengubah pandangan mereka terhadapku. Ternyata semua diluar dugaan.
"Alan...aku minta tolong bisa?" Aku menelepon Alanta. Hanya dia satu-satunya yang bisa kumintai tolong saat ini.
Aku berpindah tempat. Aku tak lagi tinggal di rumah Papa. Aku butuh tempat tinggal sekarang. Bagaimana bisa aku tinggal di rumah Papa sementara keluarga besar Mama menguasai tempat itu sekarang. Mereka berprinsip bahwa rumah itu nantinya adalah milik Monica.
"Maaf ya, tempatnya kecil. Cuma ini yang aku dapat soalnya" Kata Alanta.
"Makasih ya Alan, aku gak tahu lagi mesti ngomong apa"
"Makanya jangan pernah mencoba jauh dari aku. Jangan memutuskan sesuatu yang gila. Ngerti?"
Aku mengangguk. Tempat ini rumah kontrak minimalis. Tempat yang jauh dari hingar bingar kota. Berbeda jauh dari perumahan Papa, tempat ini memang hanya gang kecil dan tidak terlalu ramai. Justru itu yang bagus untuk Papa. Tenang, damai, sepi, sunyi, akan membuat pikiran kami tenang.
***