My Name Is Rose

My Name Is Rose
Tamu



Semua terasa hambar sejak dia pergi. Aku berbicara tentang Alanta. Sosok yang datang tiba-tiba, dan menghilang juga tiba-tiba. Hampir tiga tahun aku berteman bahkan bersahabat dengannya, namun belum pernah sekalipun main ke rumahnya. Alanta juga demikian, belum pernah berkunjung ke rumahku. Pertemanan kami hanyalah seputaran sekolah, kebun, taman dan jalanan. Lebih baik demikian. Lebih baik dia tidak berkunjung ke rumahku. Sebab hingga sekarang, Alanta belum tahu masa laluku. Bahwa aku adalah anak angkat di keluargaku, yang diadopsi dari panti asuhan untuk memancing keturunan dari sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak. Bukankah itu masa lalu yang kelam? Seorang anak yang diserahkan ke panti asuhan tanpa diketahui identitas orang tua kandungnya, jelas bukanlah anak yang diinginkan. Sedang Alanta, aku yakin dia anak orang kaya.


Alanta, dimana dia kini. Di Bandung sebelah mana, sedang apa dia, dia sekolah di mana? Ah aku gusar. Sama gusarnya saat kehilangan Rania. Aku rindu. Sama rindunya pada Rania. Dua sahabatku di waktu yang berbeda. Keduanya sama penting, sama-sama berarti, sama-sama kenangan terindah, sama-sama memberi warna di hidupku. Bedanya, saat bersama Rania, aku menjadi pemenang dalam segala hal. Aku yang mendominasi. Tapi dengan Alanta, aku setingkat lebih rendah darinya. Tapi aku tidak iri dengan ini. Aku justru seperti sedang berpegangan pada seutas tali yang perlahan mengangkat tubuhku.


Tit..tit...Papa menjemputku. Oh, sudah dua jam rupanya aku melamun di pos satpam. Sama seperti sebelumnya, tidak ada obrolan diantara kami selama beberapa menit.


"Rosa bisa naik sepeda?" Tanya Papa tiba-tiba.


"Bisa Pa" Jawabku.


Sepeda, aku punya sepeda di panti, warnanya pink tua dengan kombinasi ungu. Entah siapa yang memakainya kini. Dulu aku sering keliling desa sekedar membeli jajan, atau disuruh bunda panti membeli sesuatu di warung. Hampir tiga tahun aku tidak naik sepeda. Jangan-jangan aku lupa caranya naik sepeda. Dasar aki, keenakan naik mobil.


"Mau Papa beliin sepeda?"


Sebentar, Papa menawariku atau memberitahuku. Mimpi apa aku semalam, aku akan punya sepeda baru? Tiga tahun tidak bersepeda. Pasti seru rasanya bersepeda keliling komplek.


"Mau nggak?" Ulang Papa.


"Mau lah Pa, mau mau .." Jawabku bersemangat.


Sebenarnya aneh juga, kemarin Papa seolah akan menjual mobilnya. Seakan-akan kami sedang kesulitan ekonomi. Tapi sekarang, justru mau belikan aku sepeda. Tapi aku bersyukur. Dengan ini, aku yakin Papa sedang baik-baik saja. Ekonomi keluarga kami sedang baik-baik saja. Yah, aku yakin itu.


Sampai di rumah.


Ada tamu di dalam. Terlihat dari beberapa sandal di depan pintu rumah. Ada suara sedikit riuh terdengar dari dalam. Papa berhenti sejenak, menarik nafas seolah mempersiapkan mental. Barulah ia masuk ke dalam rumah. Aku hanya mengekor di belakang Papa.


"Assalamualaikum.." Ucap Papa.


Seluruh orang yang ada di ruang tengah menoleh ke arah kami. Seketika suara riuh berhenti dengan kehadiran kami. Kemudian mereka menyambut Papa dengan gembira. Riuh kembali terdengar di ruangab itu


"Waalaikumsalam Har....selamat ya Le...(panggilan untuk anak laki-laki) " Seorang pria paruh baya, yang sebagian besar rambutnya sudah beruban, memeluk dan menepuk ringan bahu Papa.


"Alhamdulillah ... Bapak Ibu kapan datang, kenapa tidak kasih kabar dulu, jadi saya bisa jemput di stasiun" Kata Papa.


"Walah ndak papa, ada Kakangmu yang bisa antar kami kesini, lagipula kerjaan kamu sedang sibuk-sibuknya kan?" Kata pria paruh baya itu.


Dari kalimat itu aku menyangka, mereka pasti keluarga kakek dan nenek.


"Sana, sungkem sama Ibu" Kata pria itu.


Papa segera membungkukkan badan menuju seorang wanita tua berkacamata yang sedang menggendong Monica.


"Selamat ya Har, rumah tangga itu kalau sudah ada keturunan, akan membawa berkah, membawa kebahagiaan, menambah rejeki" Kata wanita tua itu.


"Eh, Bu...ini Rosa. Keponakannya Mas Har, untuk sementara waktu dia dititipkan di sini karena orang tuanya sedang merantau ke Malaysia" Kata Mama buru-burub sebelum wanita itu bertanya.


Sejenak wanita itu melihatku dari atas ke bawah lalu keatas lagi dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan.


"Tapi orangtuanya mbeneh (pengertian) kan?" Tanya wanita itu.


"Iya Bu, tiap bulan pasti kirim uang untuk keperluan Rosa" Jawab Mama.


Wanita itu melihatku lagi. Aku buru-buru menunduk. Dari bentuk wajahnya, tampaknya dia seorang wanita yang judes, serem dan pemarah.


"Rosa, sungkem sama nenek!" Perintah Mama


Aku segera membungkuk seperti yang Papa lakukan. Aku belum pernah mencium tangan nenek-nenek sebelumnya. Orang yang paling tua di panti adalah ibu kepala panti, itupun tidak setua nenek ini. Dan, tidak seserem ini.


"Rosa, ganti baju dulu" Kata Mama.


Aki ke dapur mengambil minum sebelum ganti baju. Kamarku ada di lantai atas. Tangganya ada di sebelah pintu dapur. Jadi kusempatkan mengambil minum sebelum naik ke atas.


"Kenapa kamu bilang begitu tadi!!" Suara Papa dengan nada agak jengkel.


Aku menggeser sedikit badanku ke arah kiri untuk mengetahui apa yang terjadi. Kulihat Papa dan Mama berbicara dengan posisi berhadapan di bawah tangga yang berada di sebelah pintu dapur.


"Ssst ..jangan keras-keras Pa, Papa ingat, Bapak Ibuku melarang keras kita untuk adopsi anak dari panti karena tidak jelas asal usulnya. Ingat kan?" Kata Mama.


Papa terdiam dengan jawaban itu. Kenapa? Apa panti begitu buruk sampai mereka begitu anti dengan panti. Mereka tidak tahu bagaimana anak-anak seperti kami diurus dengan sangat baik di panti. Kami mendapat pendidikan yang baik di sana. Jika bukan karena mencari Rania, aku tidak mau diadopsi siapapun.


"Tapi bagaimana dengan perasaan Rosa Ma, kasihan dia" Kilah Papa.


Sebelum menjawab, Mama melihatku. Ia menyadari bahwa mungkin saja aku mendengar pembicaraan mereka. Mama mendekatiku dan memegang kedua pundakku.


"Rosa, ini hanya beberapa hari selama nenek di sini. Tolong bantu Mama ya, jangan membuat kekacauan di depan nenek" Kata Mama melembut.


Mama kemudian menyelipkan sesuatu di sakuku saat aku mengangguk memenuhi permintaannya. Kurasa itu uang. Sesaat setelah Mama pergi, giliran Papa mendekatiku dan duduk di kursi sebelahku, padahal aku sedang berdiri.


"Maaf ya Nak, ini hanya beberapa hari. Sabar ya" Pinta Papa.


"Tenang saja Pa, nih" Aku mengambil sesuatu dari saku yang diselipkan oleh Mama. Benar ternyata. Uang dua puluh ribu rupiah. Uang yang cukup banyak untuk anak SD sepertiku.


"Lumayan buat beli cilok" Lanjutku.


Papa tersenyum mendengar jawabanku. Terima kasih Pa, telah memikirkan perasaanku yang bagi sebagian orang tidak begitu penting. Dia sudah begitu baik padaku. Dia benar-benar bertanggung jawab terhadap diriku. Dia memenuhi janjinya saat mengadopsiku. Dia mengurusku dengan baik. Terima kasih. Sekali lagi terima kasih.