
Rebecca masih di ruang ICU, meskipun operasi selesai, kondisinya masih belum stabil sehingga harus diperiksa secara intensif. Ada luka robek bagian perut dan tusukan bagian dada. Pantas saja darahnya begitu banyak yang keluar.
Untuk sementara aku tinggal di rumah sakit. Di base camp tempat para nak magang menginap jika kemalaman selesai bekerja. Hal ini agar polisi mudah mencariku jika dimintai keterangan. Sedang apartemenku masih dalam penjagaan polisi.
"Rose, ada tamu" Kata saah satu temanku.
Tampaknya aku harus membiasakan diri menemui banyak orang. Setiap hari sellau ada yang mencariku. Polisi, wartawan, teman kuliah yang tidak magang, sampai pada hari ini, kedutaan ingin bertemu denganku.
"Di sini hanya kita berdua. Tolong jawab yang jujur. Agar kami mudah untuk memutuskan. Apa benar kamu yang melakukannya?" Tanya Pak Handy salah seorang staf kedutaan.
"Sumpah demi Allah Pak bukan saya pelakunya. Saat kejadian saya masih di luar. Saat kembali Rebecca sudah tergeletak" Aku membela diri.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan Rose" Pak Handy tampak sedikit emosi.
"Bapak dapat pemikiran itu dari mana Pak?"
"Kamu tidak lihat berita? Mereka menyebutkan ada dugaan teman sekamarnya melakukan itu karena perbedaan pendapat"
"Apa?"
"Ibu angkat wanita itu juga memberikan keterangan begitu"
Ibu angkat? Dia tidak ada saat kejadian itu bagaimana bisa dia mengambil kesimpulan semacam itu.
"Sumpah Pak. Saya sudah meminta polisi untuk mengecek kamera cctv di apartemen. Dari situ pasti kelihatan"
"Kamera cctv mengalami kerusakan sejak tiga hari sebelum kejadian"
Oh Gusti. Kok bisa pas banget. Di saat seperti ini secara kebetulan kamera tidak berfungsi. Atau sengaja tidak difungsikan alias dirusak. Siapa? Kevin? Nama itu yang paling memungkinkan.
"Maaf, jika terbukti Anda terlibat, beasiswa Anda dari manapun akan dicabut dan akan diboikot dari Jerman" Kata beliau.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Okelah. Cabut saja besiswaku dan pulangkan saja aku ke tanah air. Begitu lebih aman. Setidaknya aku masih bisa bergerak di negeri sendiri. Aku masih bisa cari makan, numpang tidur dan bertahan hidup.
***
Memang benar kata pihak kedutaan bahwa berita tentang mahasiswa asal Indonesia terlibat dalam upaya pembunuhan seorang biarawati sudah tersebar dimana-mana. Bahkan fotoku pun tersebar di berbagai media televisi. Masih untung fotoku tidak begitu jelas, hanya foto-foto amatir saja.
"Iya Kak...tolong ya" Aku berbicara di telepon dengan Panji.
Panji sudah mendengar berita heboh di media. Mungkin juga berita ini sampai ke tanah air. Dia mencoba menenangkanku dan sedang mencari bukti bahwa aku tidak terlibat dalam insiden itu. Satu-satunya kunci adalah Rebecca itu sendiri. Aku berharap dia segera sadar dan memberikan keterangan yang benar.
"Ada aja ya Allah... Tolonglah hamba. Kenapa selalu saja ada rintangan yang menyulitkan. Kenapa ya Allah?" Aku menangis sesenggukan seorang diri. Aku protes. Ya, siapapun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku. Aku protes atas perjalanan hidupku uang penuh dengan batuan terjal. Meski demikian aku percaya, untuk mendaki puncak sebuah gunung memang harus melalu jalan yang tak rata, kecuali jika memang puas hanya di bawah saja.
"Tenang...biar aku bantu ngomong langsing sama Tuhan" Seseorang berbicara di balik kelambu di sampingku.
Aku menoleh. Siapa yang berbicara. Suaranya serak seperti sedang marah. Kelambu itu dibuka pelan dan tampak jelas siapa di balik kelambu.
"Clare??" Aku terkejut.
Claire tersenyum dengan senyuman yang berbeda. Ia membuka kelambu sepenuhnya dan kami duduk berhadapan.
"Kamu anak yang baik Rose...aku yakin Tuhan menunggumu, dia ingin memelukmu" Segera setelah mengatakan itu ia mengacungkan pisau kecil yang sudah berdarah namun darah itu sudah kering. Ia hendak menusukku. Tentu saja aku berlari.
Ruangan base camp mahasiswa magang berada di ujung dan terpisah dengan area perawatan pasien. Jadi ketika aku keluar dengan berlari, yang tampak di hadapanku adalah halaman luas yang sudah sepi. Ini sudah tengah malam, banyak petugas sudah tertidur. Meski aku berteriak tak satupun yang mendengarku.
Aku berlari menuju ruang satpam. Tidak ada orang. Aku berlari lagi menuju pintu gerbang rumah sakit. Di jalan pasti ada orang. Tapi malam ini tidak ada yang lalu lawang di sekitarku. Ada mobil yang melaju namun tak berhenti ketika aku melambaikan tangan. Aku berlari kembali sambil berteriak minta tolong.
Sekian jauh berlari akhirnya kau sampai pada jalan yang cukup ramai. Aku meminta tolong pada gerombolan pemuda yang sedang nongkrong.
"Tolong ... Seseorang sedang mencoba membunuh saya" Aku meminta tolong.
Gerombolan pemuda itu menanggapiku. Mereka berdiri dan mencari siapa yang kumaksud. Pas sekali momennya. Claire berdiri tak jauh dari kami.
"Itu...itu dia orangnya. Tolong telepon polisi" Aku mengulangi meminta tolong.
Claire tersenyum dan maju pelan-pelan.
"Maaf, adik saya sudah mengganggu. Dia sedang sakit" Kata Claire dengan tenang.
Bagaimana bisa dia setenang itu. Berbeda ketika dia mengancamku tadi di rumah sakit. Dan para pemuda itu melihatku dengan curiga.
"Tidak, aku tidak sakit. Itu...di sakunya ada pisau. Pisau itu sudah melukai teman saya. Tolong saya" Kataku.
Kemudian Claire berbicara dengan bahasa Jerman yang rumit sehingga aku tidak tahu artinya. Mungkin itu bahasa suku atau bahasa daerah. Tapi dia bisa begitu berbeda dari sebelumnya.
Para pemuda otu kemudian menggenggam tanganku dengan paksa dan membawaku pada Claire. Claire pun meraih tanganku kuat-kuat dan mulai menyeretku.
"Danke (terima kasih)" Kata Claire.
Claire berjalan tenang sambil menggelandang tanganku, sedang aku berjalan terseok-seok di sampingnya.
"Lepaskan Claire. Aku mohon. Apa salahku. Kenapa kamu begini padaku!!" Aku mengiba.
Claire tidak menjawab. Ia membawaku pada gang sempit. Di sinilah mungkin ia akan membunuhku. Oh aku tidak bisa membayangkan.
"Jangan sok baik. Laki-laki itu tidak menyukaimu. Kamu tidak pantas untuknya" Katanya lirih namun tajam.
"Si....siapa?"
"Laki-laki dokter itu"
"Pa...Panji"
"Hahahaha...lihat betapa takutnya kamu menyebut nama itu. Laki-laki yang malang. Gadis yang tidak tahu diri"
Kembali ia akan menusukku dengan pisau di sakunya. Namun aku segera menghindari dan menjatuhkan tumpukan kardus sehingga sedikit mengganggu perjalanannya.
Aku berlari lagi dan mencari tempat berlindung. Alu bersembunyi di bawah tumpukan kayu yang tertutup. Aku menahan nafas sekuat tenaga. Claire berjalan di dekatku dan aku bertahan kuat-kuat. Dia melewatiku. Begitu dia samp agak jauh aku segera berlari kembali. Ah, dia menyadari aku berlari. Dia pun mulai mengejarku.
Aku masuk ke sebuah hotel. Di sanalah seorang resepsionis meresponku.
"Boleh saya pinjam telepon?" Tanyaku.
Dia melihatku ragu. Namun akhirnya memperbolehkan. Aku menelepon 112.
***