
Ini belum terlalu larut, tetapi suasana sudah sangat sepi. Jelas, kami kini berada di tengah hutan. Tidak ada yang akan lewat di tempat seperti ini. Kreek...terdengar suara pintu berderit. Jacob datang. Aku tidak bisa memejamkan mataku barang sedetik. Pada suasana sesepi ini aku takut dia berbuat yang tidak baik terhadapku.
"Jadi benar, kamu bukan anak kandungnya?" Tanya Jacob penasaran, dan kali ini dengan nada yang lebih ramah.
"Ya" Jawabku singkat.
"Jadi kamu anak siapa?"
"Aku tidak tahu"
Jacob tersenyum seakan menertawakan jawabanku.
"Jadi kamu lahir dari batu?" Tanya Jacob diselingi tawa geli yang berbunyi seperti suara hewan.
"Saya dipungut sejak masih SD, dan saya tidak tahu siapa orang tua kandung saya. Bisa jadi itu Anda"
Jacob terdiam mendengar jawabanku. Dia menatapku lekat seakan mempertimbangkan ucapanku. Bagaimana jika benar? Siapa yang bisa menjamin bahwa laki-laki kekar di hadapanku bukanlah ayah kandungku.
"Anakku sudah mati, dalam kecelakaan, jadi jangan memperdaya atau mencoba menipu" Katanya lirih.
"Maaf"
Mata Jacob berkaca-kaca. Melihat wajahku pasti ia teringat akan anaknya yang sudah tiada. Jacob berbalik badan dan berdiam diri. Entah apa yang dia lakukan, aku tak bisa melihat dengan jelas.
"Om, saya benar-benar tidak tahu dimana Mama, salah jika Om terus menyekap saya di sini. Saya tidak akan bisa memberikan jawaban yang Om minta. Mama juga tidak akan mencari saya jika menggunakan saya sebagai umpan"
"Tidak....saya tidak akan melakukan itu. Ada yang perlu saya lakukan selain itu"
Aku hanya terdiam menanti apa yang akan ia lakukan.
"Bisnis apa yang sebenarnya kalian jalankan? Sampai harus melibatkanku? Apakah perempuan-perempuan yang dibebaskan itu ada kaitannya?"
Jacob tersenyum sinis. Dia hendak menjawab namun terdengar suara telepon berbunyi dari sakunya. Ia kemudian berdiri dan sedikit menjauh dari posisiku.
"Halo..iya, bagaimana? Oh...sial!!!" Jacob berbicara di telepon.
Jacob kembali ke hadapanku. Ia kembali berjongkok demi dapat menyejajarkan posisi kami.
"Anak buah saya sudah menemukan rumah Arini di Semarang. Tapi dia tidak di sana. Kabarnya dia sudah menikah lagi" Katanya.
Entahlah, remuk rasanya hatiku mendengar kabar itu. Belum hilang kenangan Papa dari mataku, begitu cepat ia mencari yang baru. Rasanya baru kemarin kami tinggal serumah. Rasanya Papa masih di rumah menungguku pulang setiap hari. Begitu cepat Mama menikah lagi. Dengan siapa? Apakah suami barunya kaya? Lebih kaya dari Papa? Lebih baik dari Papa?
"Kamu nanya apa tadi? Perempuan? Yang di rumah Banu maksudnya?" Tanya Jacob yang kemudian ia tertawa geli.
Aku bergidik melihat senyumnya yang mengerikan.
"Mereka adalah bidadari syurga, untuk para pengusaha, pebisnis, pejabat hahaha.....aku hanya menyediakan fasilitas. Maka jangan bermimpi menjebloskan saya ke penjara seperti Banu. Karena pelanggan saya bukan sembarang orang.." Jacob kembali tertawa mengerikan.
Jacob tertawa seperti orang gila sebelum akhirnya kembali berjongkok di hadapanku.
"Dimana keluarga Banu?" Tanya Jacob dengan pelan namun mengancam.
Aku menggeleng. Lidahku serasa kelu seketika sehingga berat untuk mengeluarkan sepatah kata sekalipun.
"Jangan menutupi atau......kamu akan menjadi bagian dari perempuan-perempuan cantik itu...." Katanya sambil mengelus pipiku, namun segera kuacuhkan muka sebagai tanda penolakan.
"Aku tidak tahu...sungguh" Jawabku.
"Baik, jika kamu keras seperti batu, hmmm....sepertinya kamu punya potensi" Kali ini dia justru tersenyum.
Apa yang akan ia lakukan?
"Filipina, Thailand, atau Vietnam? Sepertinya kamu lebih cocok ke...Jepang. hehehe..."
Apa maksudnya? Apakah ia akan menjualku seperti Om Banu dulu?
"Katakan dimana istrinya Banu??? Jika tidak, malam ini juga kamu akan saya kirim!!!!"
"Aaakhhhh....." Aku tidak menjawab, hanya mengerang kesakitan.
"Darto!!!!" Jacob memanggil anak buahnya.
Tak berapa lama anak buahnya datang memenuhi panggilannya.
"Siapkan mobil, saya akan bawa cewek ini ke pelabuhan" Katanya dengan geram.
"Om mau bawa saya kemana? Jangan Om....please!!" Aku mengiba.
"Terserah kamu. Ini adalah pilihan yang kamu pilih sendiri"
"Tidak Om. Saya benar-benar tidak tahu mereka ada di mana" Aku masih mencoba meyakinkan Jacob.
Jacob tidak mendengarkanku. Ia sibuk memainkan hapenya. Apapun yang kukatakan tidak mengubah rencananya. Seakan aku tidak mengatakan apa-apa. Seolah puas mendengar keluhanku.
"Mobil sudah siap" Kata anak buah Jacob.
"Kalimantan. Mereka pindah ke Kalimantan" Kataku akhirnya
Jacob berhenti bergerak. Sejenak ia menatapku, berpikir, lalu kembali bergerak.
"Halo...coba lacak Kalimantan" Kata Jacob berbicara di telepon memberi perintah entah kepada siapa.
Selesai menutup telepon Jacob tetap membawaku ke dalam mobil. Sial. Aku salah telah menjawab seperti itu. Seharusnya aku tidak pernah mengatakan apa-apa. Setelah kuberi jawaban ia tetap akan menjualku.
Mereka memasukkanku ke dalam mobil jip. Aku diapit oleh dua pria kekar yang jarang tersenyum, sekali tertawa tawanya lebih keras dari buto ijo. Mereka memastikan aku tidak bisa bergerak. Mobil melaju menembus pekatnya suasana hutan malam hari. Bahkan lampu mobil seakan membentuk garis tajam dan lurus ke depan.
Setelah menembus jalanan hutan, mobil kini sampai di jalan raya. Namun jalanan ini sepi. Sepertinya bukan jalan yang sering dilewati kendaraan roda empat. Kali ini Jacob sendiri yang menyetir. Duh Gusti, bagaimana nasibku setelah ini. Apakah alu bisa kabur? Jika benar ke pelabuhan, maka seharusnya aku kabur di sana. Atau aku harus menceburkan diri ke laut, ah aku tidak bisa berenang. Atau aku harus berteriak minta tolong nanti? Tapi bagaimana jika itu bukan pelabuhan umum? Maksudku, bagaimana jika mereka membuat pelabuhan sendiri untuk menyelundupkan segala sesuatu dengan mudah, dan memiliki kapal sendiri?
Disaat pikiranku melayang jauh, mobil berhenti disertai asap mengepul bagian depan.
"Sial!!" Umpat Jacob.
Seketika lamunanku buyar. Dua pria kekar di sampingku terbatuk-batuk oleh asap itu.
"Periksa!" Perintah Jacob.
Dengan perintah itu, semua orang turun dari mobil. Tak berapa lama Jacob pun turun dan tampak menelepon. Mataku menyapu sekeliling. Nah, ada bongkahan kayu di pinggir jalan. Di saat mereka tidak menyadari keberadaanku, aku memukul mereka satu persatu. Kukerahkan segala kekuatanku untuk memukul tengkuk mereka. Tentu saja mereka berteriak kesakitan. Kecuali Jacob. Ia yang sedari tadi menelepon terkejut dengan teriakan anak buahnya. Lebih terkejut lagi ketika melihatku berusaha lari.
Aku berlari sekencang-kencangnya menembuh kegelapan malam. Kurapalkan doa-doa yang kubisa. Tuhan, tolonglah aku, kirimkan seseorang untuk lewat di sekitar sini, agar aku bisa minta bantuan. Aku terus berlari meski tanpa tujuan. Jacob tentu saja tidak tinggal diam. Ia menyalakan mobil yang penuh asap untuk mengejarku.
Selagi masih jauh aku terus berlari. Tetapi tentu saja langkah kakiku kalah dengan kecepatan mesin jip. Aku terus berlari dan tak peduli meski nafasku serasa sudah habis. Satu yang kupikirkan. Jika dia bisa menangkapku, maka habislah hidupku. Sebab kemarahannya akan beratus kali lipat dari sebelumnya. Ia pasti akan menghabisiku.
***