
"Maaf"
"Untuk apa? Karena merebut Alanta dari aku?"
Aku hanya terdiam. Rania kemudian berdiri dan kembali menatap jendela yang terbuka.
"Ketika masih SMP, aku sering jalan sama Alanta. Sekedar mencari buku, makan, atau mencari alat-alat olahraga. Sekarang, dia hampir lupa denganku... " Katanya.
Aku ikut berdiri dan selangkah lebih dekat dengannya.
"Kadang aku iri sama kamu. Begitu mudahnya kamu dapetin Alanta. Bahkan ajakan Mamaku pin dia tolak. Mamaku minta dia buat ke Prom night denganku, tetapi dia bilang ada acara penting yabg gak bisa dia tinggalin. Nyatanya dia kesini sama kamu"
Oh jadi malam itu, Nyonya Hamdani berkata demikian dnegan Alanta.
"Ini hari anniversary kita... Bisakah kita kembali seperti dulu...salih mengasihi, saling memberi dan saling mengalah seperti dulu?"
Aku melihat gadis di depanku ini menangis. Tangisannya pilu seakan tawanan yang akan dihukum mati. Seolah dia meminta sesuatu untuk terakhir kalinya.
"Kenapa Ran? Kenapa baru sekarang? Apakah setelah kamu benar-benar lelah dengan semua ini baru kamu mau kembali kayak dulu?" Tanyaku penuh curiga.
"Terserah kamu menilai bagaimana. Tapi aku tidak peduli lagi orang lain tahu masa laluku. Aku tidak peduli. Aku muak dengan semua ini kau tahu??"
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Apa yang kamu mau?"
"Alanta. Kembalikan dia padaku" Begitu tegas dia menjawab. Begitu mantab tanpa ragu. Dia sama sekali tak canggung meminta Alanta padaku.
"Alanta bukan barang yang bisa diberikan begitu saja" Jawabku singkat.
"Menjauh darinya. Pergi. Pergi ke tempat yang jauh. Ke Malang, Kediri atau Surabaya. Berapapun yang kamu minta aku akan kasih asal kamu mau pergi dari Jakarta" Rania berbicara dengan isak tangis yang menggebu.
Beberapa saat yang lalu dia benar-benar Rania yang hadir di hadapanku. Tetapi sekarang dia kembali menjadi orang yang tak kukenal. Bagaimana bisa dia memaksakan seperti itu. Menurutnya hati bisa dibeli dengan uang?
"Ros aku mohon. Keluargaku sangat berharap aku bisa bersama Alanta. Sejak awal kami diperkenalkan dua keluarga itu sudah menjadi satu. Jadi please kamu mengalah demi masa depan kami semua. Please Ros...." Kali ini Rania berlutut di hadapanku. Kedua tangannya bahkan memeluk erat kedua kakiku.
Aku berjongkok, meraih tangannya demi membuatnya berdiri. Apakah pantas saudara memohon sampai berlutut. Jika itu kubiarkan maka aku adalah saudara yang tak tahu diri.
"Jangan begitu. Semua hal bisa kita bicarakan baik-baik. Tak perlu berlutut begitu" Kataku.
Aku berharap ini awal dari kembalinya Rania yang dulu. Aku berharap dnegan begini kami kembali seperti dulu. Meskipun kami harus menyembunyikan identitas kami, setidaknya kami tidak lagi saling membenci.
" Ros....aku minta maaf atas semuanya yang aku sama temen-temenku lakuin. Aku kepaksa demi menjaga image. Aku gak mau siapapun tahu tentang masa laluku, karena itu akan menghancurkan keluargaku" Rania masih mengucurkan air matanya.
Kupeluk Rania degan erat. Diapun membalas dengan pelukan lebih erat lagi. Aku berharap kali ini benar-benar kembali, bukan pura-pura, bukan pula jebakan. Aku harap kue tart itu lambang bersatunya dua saudara yang telah terpisah sekian tahun.
"Kamu mau kan?" Tanya Rania menegaskan.
"Apa?" Tanyaku.
"Kamu mau meninggalkan Alanta buat aku?"
"Ran...tenang dulu...duduk dulu..." Pintaku.
"Nggak Ros, jawab aku. Kamu mau kan melakukan itu demi aku?"
"Ini masalah hati Rania. Kalaupun aku pergi jauh, belum tentu Alanta buka hatinya buat kamu. Kamu lihat kan. Dia di Malaysia tapi hatinya di sini, hatinya bersamaku. Bagaimana kamu bisa menjalani hidup dengan cara seperti itu ...." Aku mencoba menjelaskan.
"BISA!!!! aku hanya mau kamu jauh sejauh-jauhnya maka Alanta akan dengan mudah aku dapatkan. Kenapa kamu begitu egois Rosa. Aku lebih dulu mengenal dia. Kami lebih dulu dipertemukan ketimbang kamu!!" Kali ini Rania berteriak sehingga membuatku terkejut.
"Kamu salah. Aku yang lebih dulu mengenal di. Kami bertemu sejak SD di Malang. Dan Bu Mariana sudah memberikan lamu hijau untuk kami. Mintalah yang lain maka akan aku turuti tapi jangan yang itu...." Kataku.
"Enggak!!! Aku mau Alanta. Hanya dia yang aku dan keluargaku inginkan. Kamu lihat sendiri kan aku ngerokok?? Apa itu kurang cukup buat bukti bahwa aku sedang stress!!!"
Ya, sikapnya memang tak sewajarnya. Dia sedang stress. Dia sedang banyak pikiran.
"Rania...."
"Stop!!! Buat apa aku berlutut seperti tadi, buat apa aku minta maaf kayak tadi kalau ujung-ujungnya kamu tetap egois!!" Teriak Rania.
Siapa yang egois? Aku? Atau dia yang meminta pacarku tanpa memikirkan perasaanku?
"Jawab pertanyaanku....kamu mau mundur atau tidak?" Tanya Rania serius.
"Ran...." Aku masih mencoba membujuk.
"Jawab saja!!"
"Tidak" Jawabku lirih namun tegas.
"Tidak??? Hahahaha .." Rania tertawa seperti sedang kesurupan. Tubuhnya membungkuk dan menepuk-nepuk pahanya seperti sedang menonton lawakan super lucu.
"Seperti yang kubilang bahwa Alanta bukanlah barang" Kataku.
"Oke. Kalau tidak bisa diperingatkan dengan cara yang lembut, maka akan kurebut dengan cara yang kasar" Katanya.
"Terserah. Kupikir aku sia-sia saja datang kesini kalau hanya untuk mendiskusikan hal yang tidak penting"
Aku pergi meninggalkannya. Rania alias Clara berteriak menghentikanku seperti orang gila. Bahkan kudengar ada suara kursi ambruk. Ah, biarkan saja. Sebentar lagi teman-temannya pasti akan datang menjemputnya. Tidak mungkin ia dibiarkan sendirian. Atau bisa jadi, mereka sedang menjebakku. Sebelum teman-temannya datang, aku harus segera pergi.
Kulihat hapeku. Ah, mati. Baterai habis karena aku lupa mengisi daya. Alanta pasti sedang bingung mencariku. Aku segera mencari posisi Alanta. Saat aku berada di ujung tangga paling bawah di lantai satu, saat itulah teman-teman Clara hendak naik tangga. Mereka bingung melihatku ada di acara ini. Yah, sejak masuk aku tidak bertemu mereka. Bisa jadi mereka baru datang.
"Eh lo? Kok ada di sini?" Tanya Jessie.
"Mantan murid datang ke acara prom night? Wow...harus kusebut apa ya? Terlalu berani, terlalu pede, atau tidak tahu malu?" Tukas Stella.
"Sorry, gue gak mungkin bisa masuk tanpa kartu masuk. Jadi pasti dong gue punya undangannya" Cibirku sambil terus berjalan.
Aku tidak mempedulikan mereka, fokusku saat ini adalah mencari Alanta. Dia pasti sedang mengelilingi sekolah ini mencari keberadaanku. Saat itulah ada asap yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Beberapa orang terbatuk-batuk karena asap itu. Semakin lama asap semakin tebal. Tentu saja semua orang lalu lalang mencari keselamatan sendiri-sendiri. Darimana datangnya asap itu. Satpam mondar mandir berusaha menjaga keamanan para siswa. Akupun ikut berlari menyelamatkan diri.
***