My Name Is Rose

My Name Is Rose
Tuduhan



"Karena......"


"Kenapa???" Alanta tertunduk lesu.


"Dia adalah Rania" ucapku lirih.


Alanta yang semula tertunduk lesu mengangkat kepalanya. Dia terkejut. Aku hanya bisa terdiam memendam segala perasaanku. Seseorang yang selama ini kucari ternyata ada di dekat kami dan berhubungan erat dengan kami. Siapa yang menyangka rahasia sebesar itu jawabannya ada di depan mata.


Api yang berkobar perlahan mampu dipadamkan oleh petugas damkar. Tak ada korban jiwa. Korban luka pun hanya aku dan Rania. Petugas medis menawarkan perawatan untukku tapi aku menolak. Tak ada yang panas selain hatiku saat ini. Panas. Hatiku panas oleh kenyataan saudaraku terluka disaat dia sudah berlutut mengakui semua kesalahannya. Di saat dia ingin merajut kembali hubungan kami. Satu pertanyaan yang masih tersisa. Bagaimana kebakaran itu bisa terjadi?


"Aku perlu jaga kamu di sini?" Tanya Alanta begitu sampai di depan rumahku.


Aku menggeleng. Sepanjang perjalanan mulutku terkunci. Aku sedang tidak ingin mengobrol. Bahkan menjawab pertanyaan sederhana pun aku enggan. Aku memikirkan kondisi Rania. Terakhir kali sebelum petugas membawa tubuhnya, dia seperti tak sadarkan diri. Apakah mungkin luka bakar mampu merenggut nyawa seseorang?


Aku tidak bisa tidur bahkan ketika adzan subuh berkumandang. Aku berharap dapat memejamkan mata dan bangun dengan kondisi berbeda. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, dan ketika aku bangun nanti semua sudah normal kembali.


Alanta sudah kembali ke Malaysia karena ada ujian selama empat hari. Aku berharap dia tidak terganggu dengan peristiwa kebakaran itu. Kini aku sendiri. Orang yang menjadi sandaranku saat aku menumpahkan air mata tidak akan di sisiku lagi selama beberapa hari ke depan.


Sementara itu, berita tentang kebakaran di First sudah beredar di mana-mana. Semua orang membicarakan musibah itu. Rumor yang beredar bahwa ada seseorang yabg sengaja membakar ruangan itu dengan motif yang belum diketahui. Bisa jadi itu adalah upaya pembunuhan. Itu yang kudengar.


Aku kini berada di rumah sakit tempat Rania dirawat. Dia dijaga ketat oleh polisi. Kondisinya yang belum sadarkan diri membuat polisi harus mengamankannya. Sebab dialah saksi kunci peristiwa kebakaran itu. Aku tidak diperbolehkan masuk, hanya diijinkan mengintip dari kaca jendela. Matanya masih tertutup rapat dengan luka di pipinya yang masih merah. Lengan kiri, kaki kiri semuanya masih merah. Dia belum sadarkan diri sejak malam itu. Aku takut. Sungguh.


Tak tok tak tok tak tok.....suara sepatu yang khas.


"Ngapain kamu di sini? Berani banget kamu datang ke sini setelah kamu celakai anak saya!!!!" Teriak Nyonya Hamdani.


Aku tahu Nyonya Hamdani pasti berpikir negatif tentangku tapi aku tak menyangka di berteriak seperti ini. Yang kutahu Nyonya Hamdani selalu bersikap anggun dan tertata. Hari ini dia bersikap seolah bukan dirinya. Dia berteriak histeris setelah melihatku di tempat ini.


"Nyonya...saya cuma..." Belum sempat kuselesaikan ucapanku, Nyonya Hamdani lebih keras lagi berteriak menyuruhku pergi.


"Apa? Kamu yang telah membuat anak saya seperti ini. Kamu kan yang menyulut api di situ, niat banget kamu mau bunuh anak saya. Pak...kenapa anak ini dibiarkan masuk. Suruh dia pergi Pak...dia dalangnya. Dia yang menyebabkan kebakaran itu" Teriaknya.


"Tenang Nyonya...tenang..." Kata salah seorang polwan sambil memegangi bahunya.


"Saudara silahkan pergi dulu sampai keadaan lebih baik" Kata polisi yang lain.


Sungguh hatiku remuk dengan perlakuan ini. Sebenarnya bukan masalah perlakuannya, aku sudah biasa menerima hal seperti itu, dari Mama, dari Nyonya Hamdani juga. Tapi aku tidak bisa melihat Rania lebih dekat, itu membuatku tersiksa.


Aku menangis sesenggukan di suatu sudut lorong toilet. Aku takut jika nyawanya tak tertolong. Terlalu banyak luka bakar di tubuhnya. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Aku tidak akan mampu memaafkan diriku sendiri. Aku telah gagal menyelamatkan saudaraku. Asal dia selamat saja aku sudah lega.


***


Di salah satu ruangan.


Ada sekitar sebelas atau dua belas orang yang berkumpul di ruangan gedung First ini. Meski ada gedung yang terbakar tapi masih banyak gedung yang masih utuh dikarenakan begitu luasnya area First Internasional School.


Aku sendiri tidak tahu kenapa aku dijemput oleh utusan Bu Sarah. Lama tak bertemu dengannya membuatku kangen. Tebakanku adalah terkait kebakaran malam itu. Mereka pasti ingin meminta keterangan ku terkait peristiwa itu. Sebab aku mengalami sendiri musibah itu.


"Rosa, bagaimana kamu tahu kalau Clara ada di ruangan itu?" Tanya Bu Mariana.


Selain Bu Mariana dan Bu Sarah, Stella dan kawan-kawannya juga ada di ruangan itu. Ditambah lagi masing-masing orang tuanya. Entah apa urusan mereka di ruangan ini.


"Ngobrol? Padahal prom night lokasinya di bawah" Kata Bu Mariana.


Bu Mariana menarik nafas berat seakan ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.


"Stella, ceritakan yang kamu mau" Perintah Beliau.


"Jadi, malam itu saya dan teman-teman mau naik ke atas ambil aksesoris kita yang ada di kelas. Pas mau naik, eh Rosa turun dari lantai atas. Gak lama setelah itu asap mulai muncul, lalu kamu gak berani lagi naik ke atas" Tukas Stella.


"Benar begitu Rosa?"


"Benar Bu"


Sebelum Bu Mariana melanjutkan, pintu terbuka oleh seseorang. Dia berdiri dengan terengah-engah mungkin karena terburu-buru.


"Maaf saya terlambat. Bagaimana Bu Mariana? Apakah anak itu mengakui perbuatannya?" Tanya beliau, Nyonya Hamdani yang tengah berdiri di pintu.


"Silahkan duduk dan atur nafas Ibu" Jawab Bu Mariana tenang.


"Selain kamu, apa ada orang lain di lantai tiga?" Tanya Bu Sarah.


"Setahu saya tidak Bu" Jawabku.


"Jelas kan Bu. Dia yang terakhir turun. Pasti dia pelakunya" Sahut Jessie dengan kesal.


Aku masih kirang paham apa maksud mereka dengan kata 'pelaku'. Apa yang kulakukan?


"Rosa, kebakaran terjadi tepat setelah kamu turun dari lantai tiga. Kamu bisa jelaskan?"


Aku menoleh ke kanan dan kiri karena memang aku tidak tahu kenapa harus menjelaskan peristiwa yang tidak aku mengerti.


"Saya turun dari lantai tiga dan sedang mencari Alanta. Tiba-tiba saja asap tebal muncul dan ternyata dari lantai tiga. Aku teringat Clara. Aku naik ke atas untuk memeriksa apakah Clara masih di sana. Ternyata benar"


"Waw, hebat sekali ya bisa tahu anak saya masih di atas" Sahut Nyonya Hamdani.


"Sudah saya jelaskan bahwa sebelumnya memang saya ngobrol dengan Clara di sana Bu" aku sedang membela diri.


"Ngobrol apa?" Tanya Nyonya Hamdani.


"Gak penting....cuma mengenang masa lalu" Jawabku.


"Biar kutebak. Kalian berantem lalu kamu membakar ruangan itu dengan maksud membunuh anak saya begitukah?" Tanya Nyonya Hamdani dengan berteriak.


"Bu Hamdani...tenang dulu, jangan emosi" Cegah Bu Mariana.


Pikiran macam apa itu? Bukankah seharusnya dia berterima kasih karena jika bukan aku yang menolongnya, anak angkatnya itu sudah hangus menjadi abu. Andai aku bisa berkata demikian dengan berani. Aku justru tertunduk lesu.


***