My Name Is Rose

My Name Is Rose
Keumalahayati



Bulik benar-benar berangkat ke Banyumas. Hari ini Bulik berangkat. Mobil yang akan membawa Bulik ke Banyumas sedang dipanasi. Bulik sedang bersiap-siap. Beberapa tas besar sedang diangkat oleh para pembantu. Aku dengan setia menunggu di depan pintu.


"Bulik pamit ya Ros" Kata Bulik begitu melihatku.


Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku memeluknya erat. Aku mulai nyaman tinggal di sini, dan sekarang harus membiasakan diri dengan situasi yang berbeda. Oh Bulik, kenapa harus secepat ini.


"Kalau kamu butuh buku yang lain, ambil saja di kamar Bulik, tapi kamu harus ditemani salah satu mbok ya, jika tidak kamu akan disangka mencuri" Pesan Bulik.


Aku tak mampu menjawab. Aku hanya mengangguk. Setelah berbagai sesi perpisahan yang cukup panjang, Bulik pun berangkat. Kami semua mengantar hingga gerbang. Kulirik Mama yang sedang menggendong Monica. Raut wajahnya tampak datar saja. Tapi aku tahu, dia mungkin lega karena tak ada saingan di sini. Sejak saat itu aku mulai paham. Kebencian Mama pada Bulik Farida adalah atas dasar kecemburuan sosial.


Malam begitu cepat tiba. Tak seperti kemarin, hari ini Papa di rumah saja. Biasanya Papa akan keluar rumah untuk urusan pekerjaan, entahlah bekerja atau masih mencari kerja. Yang kuyakini, Papa sedang berusaha keras untuk kami.


Malam yang sepi.


Ada suara jangkrik dari luar. Sesekali terdengar suara burung hantu dari kejauhan. Dulu aku mengira burung hantu adalah benar-benar hantu, sehingga anak-anak seusiaku tidak berani keluar malam. Malam ini cukup dingin karena angin berhembus cukup kencang. Ini bukan musim hujan, ini adalah musim kemarau namun posisi bumi jauh dari matahari sehingga udara menjadi sangat dingin. Aku menghabiskan waktu membaca buku dari Bulik. Dengan posisi tengkurap dan berselimut, membuatku betah semalaman di kamar.


Keumalahayati. Salah satu tokoh dalam buku yang kubaca. Adalah seorang perempuan hebat jaman sejarah di Indonesia yang berasal dari Aceh. Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah, Kakeknya adalah Laksamana Muhammad Said Syah. Keumalahayati belajar tentang kelautan dari kedua beliau. Jangan katakan kehebatannya hanya menumpang pada leluhurnya. Anak orang kaya jika tak mau bekerja juga tak akan sukses, anak guru tanpa belajar juga tak pandai.


Keumalahayati menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di Ma'had Baitul Maqdis. Disanalah ia bertemu dengan perwira senior yang kemudian menjadi suaminya. Jadi jauh sebelum RA Kartini mendengungkan emansipasi wanita, Keumalahayati sudah melaksanakan emansipasi wanita itu sendiri.


Suaminya, Laksamana Zainal Abidin gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Tapi itu tidak mengendurkan mentalnya. Ia justru mengumpulkan Inong Balee, para janda prajurit Aceh yang gugur di medan perang. Mereka dibekali dengan segala macam keahlian perang untuk kemudian dikerahkan dalam pertempuran. Sebagai pemimpin pasukan Inong Balee, Keumalahayati mendapat gelar Laksamana. Gelar yang seharusnya diberikan untuk kaum laki-laki.


Tidak mungkin seorang pemimpin hanya mengandalkan otot dalam melaksanakan tugasnya. Strategi, pemikiran dan ide-idenya adalah kunci utama. Jadi diperlukan pendidikan untuk mampu menduduki pangkat itu. Ya, pendidikan. Itulah yang akan tercatat di benakku. Menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Entah masih menjadi anak asuh atau tidak, pendidikan akan menjadi prioritas.


Prang....


Ada suara benda jatuh. Suara yang sama kudengar waktu masih di Malang. Kurasa mereka bertengkar lagi. Apa mereka tidak malu bertengkar di rumah orang tua. Rasa penasaranku memenuhi kepala. Aku bangkit dan bergegas keluar kamar mencari tahu apa yang terjadi. Kamarku dengan kamar Mama tersekat oleh pembatas ruangan. Ruangan kami terpisah oleh dua kamar kosong. Jika ada suara keras akan terdengar dari kamarku meskipun lirih.


Aku sampai di perbatasan ruangan, kudengar suara Papa dan Mama sedang beradu pendapat. Entah apa kali ini yang diperdebatkan aku tak begitu jelas. Aku hampir saja maju u tuk menguping kalau saja tak kulihat seseorang berdiri di ujung sana. Aku terkejut, sungguh. Dia melihatku dan menempelkan jari telunjukpada bibir. Sebuah kode agar aku diam. Orang itu adalah Nenek.


***


Fajar.


Para pembantu sedang sibuk di dapur menyiapkan segala menu yang dipesan oleh majikan. Oleh karenanya muncul asap mengepul dari dapur. Dapur rumah ini terpisah dari rumah utama. Kamar pembantu ada di sekelilingnya. Ada beberapa bagian di rumah ini yang masih menggunakan bahan tradisional. Ada pawonan, sejenis kompor yabg terbuat dari batu bata. Tampaknya tempat inilah yang menimbulkan asap itu. Dinding dapur juga terbuat dari kayu yang kuat.


Aku ke dapur untuk mengambil air minum. Sebenarnya di rumah utama ada air galon, tapi aku menemukan air yang lebih segar di dapur. Air kendi. Entah kenapa air kendi jauh lebih segar dibanding air yang ditampung di teko kaca atau plastik. Mungkin karena bahan dasar nya adalah tanah liat.


Kembali dari dapur aku melihat Papa di teras samping. Papa sedang berlutut. Tapi pada siapa? Kepalanya menunduk lesu. Aku menggeser sedikit posisiku agar bisa melihat siapa yang sedang berbicara dengan Papa. Di sana kulihat seseorang sedang duduk di kursi menjalin. Dan Papa berada di depannya sekita 4 meter jaraknya. Orang itu adalah Nenek. Deg, itu pasti tentang pertengkaran semalam. Tamatlah Papa. Nenek pasti memarahinya habis-habisan karena dianggap tidak becus memimpin keluarga. Sayang sekali aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Yang pasti Papa sedang tidak baik-baik saja.


Aku segera kembali ke kamarku sebelum ketahuan. Tadi malam jantungku hampir copot karena ketahuan Nenek akan menguping. Tidak akan kuulangi lagi. Aku tidak ingin ketahuan lagi. Aku segera mengambil handuk untuk mandi. Kamar mandi rumah ini ada beberapa. Ada yang di dalam rumah dekat dengan tempat sholat, ada yang dekat dapur, ada pula yang di luar. Aku lebih suka yang di luar. Sebab airnya lebih segar karena langsung dari sumber yang dialirkan lewat paralon. Airnya lebih dingin dan segar walaupun kadang-kadang tidak jernih.


Handuk sudah di pundak. Saat aku hendak ke kamar mandi, Papa menghentikan langkahku. Kami duduk di tangga belakang yang menghubungkan rumah utama dengan area kebun. Jika Papa sampai menghentikanku begini, artinya ada sesuatu yang akan ia bicarakan.


"Maaf ya Ros, Papa belum bisa mewujudkan keinginan kamu" Kata Papa mengawali.


"Papa tidak diterima?"


"Posisi itu sudah ditempati orang lain. Jadi kita belum bisa ke Jakarta"


Sudah kuduga. Pertengkaran antara Papa dan Mama tidak ada yang lain selain masalah keuangan. Mungkin itu pulalah yang membuat Papa tunduk berlutut di depan Nenek tadi.


"Nggak papa kok Pa. Rosa ngerti. Papa jangan terlalu memaksakan. Rosa nggak enakjadi beban buat Papa"


Tanpa menjawab apapun, Papa mengelus rambutku. Oh Papa, apa yang bisa kuperbuat untuknya. Dia selalu memikirkan kebahagiaanku sampai kadang memberatkan dirinya sendiri. Terkadang aku ingin membuktikan bahwa aku sekuat Keuamalahayati yang bisa mencari Rania sendiri tanpa harus membebani Papa. Tapi apa yang bisa kulakukan. Bagaimana caranya.


***