
Semalaman aku terjaga. Berat rasanya mataku untuk terpejam. Kepalaku sudah puyeng tapi aku tak bisa tidur. Peristiwa yang terjadi tadi di rumah makan membuatku takut. Dilema kurasakan, bagaimana tidak, dua saudara berantem gara-gara aku. Hubungan dua saudara retak karena kehadiranku. Bukankah layak jika aku disebut pembawa sial?
Dua saudara saling pukul di hadapanku. Yang satu bahkan sekantor denganku. Setiap hari kami akan bertemu dengan perasaan tak karuan. Yang satu lagi pacarku, setiap hari kami berbincang lewat telepon. Setelah kejadian ini, akankah semua akan berjalan normal?
Senin. Tak kusangka Senin tetap datang meski aku sedang galau parah. Semalaman tidak tertidur membuat penampilanku kusut. Pantas jika teman-temanku berkomentar, katanya aku terlalu banyak bekerja. Aku benar-benar ngantuk.
Aku tidak kuat lagi. Mataku terpejam beberapa saat. Aku kini berada di kegelapan. Tempat dimana aku tidak kenal apapun. Tempat yang gelap, namun tangan seseorang menuntunku. Aku berjalan mengikuti kemana tangan itu membawaku. Perlahan menjadi terang dan terang. Sebuah tempat kumuh yang yak pernah kusangka ada di kehidupan nyata. Rumah kontrakanku sudah sangat sederhana menurutku, namun ternyata ada yang lebih sederhana lagi.
Dari rumah-rumah yang berjajar ini terbuka salah satunya. Dari sana muncullah seorang perempuan berambut panjang yang cantik. Tapi aku tidak begitu jelas wajahnya. Yang pasti, rambutnya mengombak, dan dia sedang menggendong seorang bayi.
"Rosa ..silahkan masuk" Katanya.
Aku hanya bengong tak menjawab, sebab aku tidak mengenal orang itu.
"Rosa...ayo...Rosa!!!!"
Suara yang lembut berubah lebih besar. Mataku terbelalak, rupanya Pak Yogi yang sedang mengajar. Aku tertidur di dalam kelas saat jam pelajaran.
"Silahkan cuci muka" Kata Pak Yogi dengan sabar, sebab ia tahu, selelah-lelahnya aku akan tetap berusaha serius dalam belajar. Ini kali pertama aku tertidur di dalam kelas.
Hapeku berdering bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah. Nomor baru. Apakah Afrizal? Aku ragu-ragu mengangkatnya. Bagaimana jika benar Afrizal? Apa yang akan dia bicarakan? Lalu bagaimana jika bukan? Maka aku telah mengecewakan seseorang dengan tidak mengangkat telepnnya.
Aku duduk di bawah pohon karsen depan kelas demi mengangkat telepon.
"Halo..." Sapaku ragu.
"Hei....Rosa...aku dengar kamu mengirim surat pengunduran diri? Kenapa?" Rupanya itu Juwi.
"Oh jadi sudah dibaca sama pihak kantor?"
"Iya kenapa? "
"Aku mau fokus dulu sekolah, aku udah kelas tiga, bentar lagi ujian" Jawabku.
"Bohong, mana mungkin bisa fokus kalo gak ada penghasilan. Mau bayar sekolah darimana?" Kata Juwi.
"Aku belum bisa cerita Juwi, ntar kalo situasinya sudah agak mendingan, aku bakal cerita"
Baru saja telepon Juwi ditutup, seseorang memberitahuku bahwa ada ibu-ibu modern mencariku. Benar dugaanku. Itu Bu Mariana.
"Bu" Panggilku.
Perempuan itu berbalik badan menunjukkan keanggunannya dalam busana formal dengan rambut terurai rapi.
"Kita makan siang ya, ada waktu?" Tanya Bu Mariana.
Aku tak pernah mampu menolak setiap ajakan beliau. Sikapnya yang lembut dan keibuan sangat tidak pantas menerima penolakan dalam bentuk apapun. Kami hanya berdua, sejenak aku bertanya dalam hati, kemana Alanta. Bukankah fia mengatakan akan menjelaskan sesuatu esok hari yang berarti hari ini.
"Kamu sehat, Rosa?" Tanya Bu Nariana mengawali.
Aku mengangguk pelan. Jujur aku gugup berdua dengan Bu Mariana tanpa Alanta. Aku menerka-nerka, apa yang akan beliau bahas kali ini. Aku sudah bisa menebak pasti tentang Afrizal dan Alanta. Tapi kira-kira bagaimana anggapan Bu Mariana tentang aku.
"Saya sudah baca email kamu tentang pengunduran diri kamu" Kata Beliau.
Aku menunduk menunggu komentar selanjutnya.
Aku masih mencerna makna dari niat Bu Mariana itu.
"Kondisinya akan lebih berantakan jika kamu masih di sana" Lanjutnya.
"Saya....saya minta maaf atas kejadian kemarin Bu. Alanta dan Afrizal berantem karena saya" Kataku ragu.
"Oh tidak...tidak...bukan salah kamu jika kamu memiliki sesuatu yang menarik yang jadi rebutan dua anak saya. Pasti berat bagi kamu melihat mereka seperti itu"
Aku kembali menunduk. Hanya menyeruput jus alpukat dingin di depanku.
"Alanta dan Afrizal itu, adalah teman sejak kecil. Mereka selalu bersama. Tapi sayangnya saya dan Ayahnya Alanta harus memisahkan mereka sementara waktu, karena kondisi keluarga kami yang tidak baik"
Bu Mariana menyeruput capuccino panasnya sebelum ia kembali bercerita.
"Alanta dan Afrizal itu berbanding terbalik. Afrizal orangnya tertata, sikapnya elegan, tapi dia memiliki sifat semacam...iri dengan Alanta. Berbeda dengan Alanta yang sering bersikap sembrono, tapi dia cuek dengan apapun yang dimiliki Afrizal"
Seorang pelayan datang membawakan pesanan kami. Sementara itu obrolan berhenti sejenak.
"Jika bukan karena Alanta, Afrizal sudah di Lombok dengan keluarganya. Alanta begitu rindu dengan abang sepupunya itu, sehingga Ayahnya Alanta merawatnya dan memberikan kantor itu untuk ia pimpin"
Bu Mariana kemudian memegang tanganku dengan lembut.
"Rosa, kamu nggak sedih kan karena kembali kehilangan pekerjaan?" Tanya Beliau.
"Itu keputusan saya sendiri Bu, saya tidak menyesalinya"
"Baik, untuk sementara, fokuslah sekolah. Raih nilai yang bagus, agar bisa masuk perguruan tinggi yang bagus, demi masa depan kamu. Setelah ujian, carilah kerjaan baru, Alanta pasti bersedia membantu"
Aku mengangguk. Apa yang dikatakan Bu Mariana memang sudah kurencanakan sejak memutuskan mundur dari kantor itu.
"Oh ya, Alanta kuminta balik ke Malaysia pagi tadi. Meskipun dia masih punya waktu dua hari lagi. Ini demi menghindari konflik lebih dalam. Dan Afrizal sementara ini off dari kantor yaa semingguan lah. Dia juga harus merenungi kesalahannya"
"Saya...jadi tidak enak dengan Afrizal Bu, dia mesti menerima hukuman karena saya" Kataku.
"Oh, itu konsekuensi. Lagipula saya tidak memecatnya bukan?"
Sesaat setelah kami selesai makan, sebuh mobil putih berhenti di depan kami. Secara kebetulan kami memilih area liar sehingga bisa melihat mobil uang keluar masuk parkir. Dari mobil putih itu keluarlah sahabatku, Dinda. Dinda berlari ke arahku. Tampaknya dia sudah tahu keberadaanku sebelumnya.
"Rosa!!" Dinda memelukku. Setelah aku bekerja di kantor Om Ibra, kami jarang sekali bertemu.
Di belakang Dinda, seorang laki-laki remaja sepertiku. Kupikir dia adalah pacar Dinda. Tapi sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu.
"Rosa, ada hal yang harus kamu tahu. Dan itu akan dibantu dengan Rico. Kamu kenal bukan? Teman sekelasnya Alanta" Kata Bu Mariana.
Oh pantas saja aku seperti pernah melihatnya.
"Kamu akan ditemani oleh Rico ke suatu tempat. Demi kenyamanan, kami sertakan Dinda untuk temani kamu" Kata Bu Mariana lagi.
Aku masih belum paham maksudnya. Tapi aku mencoba untuk tidak membantah lagi. Mobil melaju meninggalkan Bu Mariana yang masih di rumah makan entah kenapa.
***