
Papa benar-benar bekerja di perusahaan di Jakarta. Tetapi kami belum pindah ke sana, sebab kontrak kami dengan rumah di Semarang belum habis. Lagipula kami belum punya rumah di Jakarta. Sekolahku juga masih terlalu dini untuk pindah. Akhirnya, Papa memutuskan untuk ngontrak di Jakarta dan pulang ke Semarang seminggu sekali. Itu artinya selama 6 hari dalam seminggu rumahku menjadi neraka. Bagaimana tidak, Mama pasti akan lebih keras menyiksaku selama tidak ada Papa.
Pagi pukul 06.00 wib.
"Mau berangkat sepagi ini?" Tanya Mama.
"Ehm, ada tugas yang harus saya kerjakan Ma"
"Semalam ngapain aja? Sampek belum ngerjain tugas" Kata Mama sembari menyiapkan makan untuk Monica.
"Setrikaannya banyak Ma, trus ketiduran" Jawabku ragu-ragu.
Brak!! Mama menggebrak meja dapur.
"Kamu nyalahin setrikaan menumpuk?? Yang salah setrikaan apa kamu??!! Kamu lah!!! Kamu tidak bisa bagi waktu. Sok sok an sekolah di SMP favorit, ini nih akibatnya. Tugasmu banyak, tugas rumah juga banyak jadi gak bisa atur waktu. Mama gak mau tahu. Selesaikan dulu cuciannya. Baru berangkat sekolah"
Aku tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Hari ini ada rapat koordinasi KIR, minggu lalu aku dimasukkan dalam anggota KIR oleh Kak Panji. Hari ini hari pertamaku mengikuti KIR, tapi belum bisa kupenuhi karena harus mengerjakan tugas rumah. Begini kalau tidak ada Papa. Semua tidak bisa ditawar.
Cepat-cepat aku menuju ruang KIR berharap rapat belum berakhir. Namun ternyata, tidak ada orang sama sekali. Bahkan ruangan sudah tertutup rapat. Yah, aku sudah terlambat. Tentu saja. Lima menit lagi sudah bel masuk. Aku tidak mampu memenuhi syarat menjadi anggota KIR walau sangat ingin.
"Uh!! Kak Panji!" Aku terkejut begitu balik badan sudah ada Kak Panji.
"Sudah bubar Ros" Kak Panji memberitahu.
Aku menunduk. Sungguh aku merasa bersalah. Aku tidak enak dengan Kak Panji. Dia yang merekomendasikanku untuk masuk ke tim Karya ilmiah remaja yang sebentar lagi mengikuti lomba. Tapi nyatanya aku tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik.
"Nanti istirahat aku tunggu di perpus" Kata Kak Panji sambil berlalu.
Aku tahu dia pasti kecewa. Aku juga tidak mungkin membeberkan alasanku sebenarnya. Orang lain tidak akan percaya dengan kondisiku di rumah, begitupun Kak Panji.
Aku menemui Kak Panji di perpustakaan. Dia sedang duduk sendiri membaca buku sembari menulis-nulis sesuatu. Aku menghampirinya dengan langkah ragu. Seakan Kak Panji akan menghukumku, menghujat, atau menghinaku. Ya, aku memang salah. Jarang sekali anak kelas satu bisa masuk tim lomba KIR. Paling banter cuma menjadi anggota biasa. Dengan meyakinkan Kak Panji mencantumkan namaku dalam tim.
"Kak" Sapaku.
"Duduk Ros"
"Aku....minta maaf soal tadi"
"Aku kasih kesempatan untuk menjelaskan, silahkan"
Aku terdiam sejenak. Apa yang harus kujelaskan? Haruskah aku mengatakan bahwa ibu angkatku membebaniku dengan setumpuk pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa?
"Aku...telat bangun Kak...semalam banyak tugas, tidurku larut"
"Itu saja?"
"Aku mengangguk"
"Lomba kita bulan depan. Perlu banyak latihan, eksperimen, latihan lagi latihan lagi, kami menunggu cukup lama. Jadi, aku minta maaf, kamu belum bisa masuk dalam tim presentasi"
Aku mengangguk. Inilah konsekuensinya, aku memang berada di pihak yang salah menurut kacamata Kak Panji. Tapi menurutku aku tidak sepenuhnya salah. Ibu angkatku satu-satunya alasan dibalik keterlambatanku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Meronta pun tak ada gunanya. Hanya buang waktu dan tenaga.
"Maksudnya?"
"Tim presentasi ada 3 orang. Tim di balik layar ada 7 orang. Kamu masuk di dalam tim di balik layar. Tugas kamu adalah ikut berpartisipasi dalam eksperimen dan pembuatan materi dalam lomba. Tetapi kamu tidak ikut mempresentasikan di depan. Tenang aja, namamu juga ikut tercantum kok. Jadi karya itu nanti adalah karya kita semua termasuk kamu" Jelas Kak Panji.
Memang kurang puas jika hanya sebagai tim di balik layar. Wajahku tidak akan tampak di depan, hanya ada namaku yang tertoreh dalam sampul, dan bukan menjadi prioritas. Tak apa. Inilah rejekiku. Tim di balik layar.
Pulang sekolah aku membantu tim utama mencari referensi. Kami akan meneliti pengaruh air cucian beras bagi tanaman. Perlu mengkaji dari segi pengetahuan. Untuk itulah kami sibuk di perpus setiap pulang sekolah. Seminggu empat kali.
***
Beberapa hari ini aku pulang agak sore sebab harus mencari materi di perpustakaan. Materi kami masih sangat mentah sehingga perlu pengkajian lebih dalam lagi. Dan aku sudah tahu konsekuensinya. Mama akan murka setiap hari. Makin hari makin benci.
"Jam berapa ini Ros?" Tanya Mama sewaktu aku pulang sekolah.
"Maaf Ma, tugas sekolah belum kelar tadi" Jawabku takut.
"Kami sekolah apa klayapan??" Suara Mama meninggi.
Aku hanya bisa berdiri terpaku menunggu perintah selanjutnya. Sebab jika kondisi seperti ini, bernapaspun akan mendapat hukuman.
"Jemuran sudah kuangkat, setrika sana" Perintah Mama.
Aku segera berlari hendak menuju ruang cuci. Namun masih beberapa langkah Mama melanjutkan ucapannya.
"Kamu belum boleh makan sampai setrika selesai" Lanjut Mama.
Ah sudah biasa. Makan bagi Mama adalah sebuah kunci hukuman. Seringkali aku tidak dapat makan hanya karena kesalahan kecil. Tapi aku juga tidak bodoh. Aku bisa masak sendiri, bisa beli makan di luar atau membawa snack dari sekolah untuk berjaga-jaga. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Padahal aku terakhir makan jam 2 siang tadi. Aku lapar tentu saja. Aku ingat punya snack di tas. Aku segera mengambilnya di kamarku. Jam segini Mama sudah tidur bersama Monica. Jadi kupastikan langkahku aman.
Snack sudah ditangan. Lumayan lah untuk mengganjal perut. Sambil menggosok baju-baju sekeluarga, aku menikmati roti cream yang kubawa dari sekolah. Dengan begini aku kuat melaksanakan tugasku.
Kreekk.... Suara pintu berderit secara tiba-tiba.
"Sudah selesai?"
Oh tidak. Mama berdiri di pintu menyaksikan aku yang sedang mencekut roti cream. Raut wajah Mama yang tadinya datar sekarang menjadi garang. Dia marah pasti. Setrika belum selesai tapi ku sudah makan roti. Melihatku dengan kondisi seperti ini, Mama menghampiriku dan menatapku dengan tajam.
"Oh jadi gini ya caranya biar gak kena hukuman?" Kata Mama dengan nada yang sangat tidak enak.
Prakk. Dia menamparku. Beberapa kali aku kena tampar seperti ini. Pipiku terasa panas. Dan aku hanya bisa menunduk dan menahan tangis. Aku tidak mau menangis. Paling tidak jangan di depan Mama. Aku tidak mau dia menganggapku lemah. Aku juga tidak mau dia tertawa dengan kemenangannya jika aku menangis.
"Pantas ya kamu tidak pernah jera melanggar aturan, ternyata gini ya!! Dasar anak tidak tahu diri!! Masih untung kamu tidak kubuang!! Masih untung tidak kujual!!" Mama memarahiku habis-habisan sambil menjambak rambutku.
Terakhir, Mama mengambil tongkat dan memukulku beberapa kali. Satu pukulan di bagian lengan kiri dan dua pukulan di punggung. Tongkat yang dipakai Mama terbilang kecil, tapi cukup panas kurasakan. Aku tidak boleh melawan karena akan semakin runyam urusannya.
Puas memarahiku, Mama berlalu meningalkanku. Di situlah aku mulai menangis. Sekuat-kuatnya aku, aku hanyalah anak berusia 13 tahun yang masih lemah. Aku menangis. Sendiri. Di depan tumpukan baju yang sudah kusetrika dengan susah payah. Aku masih tetap bersalah meski semua sudah kulakukan. Hidupku adalah sebuah kesalahan. Aku salah hidup di dunia ini. Aku salah berada di keluarga ini. Aku salah telah lahir ke dunia. Aku menunduk. Menikmati sakit di tubuhku. Sendiri.
***