
"Halo Pa" Sapaku dalam telepon.
"Wuih anak Papa sudah punya hape sendiri, gimana...rapor sudah diterima?" Tanya Papa di seberang sana.
"Itu dia Pa, rapor diterima oleh orang tua. Jadi Papa harus kesini. Kalo nggak bisa, apa Bik Sul saja ya?"
Sengaja aku tidak menyebut nama Mama. Karena aku tahu Mama tidak mungkin sudi.
"Oh nggak Ros, Papa kesana sekarang"
Yes, lega rasanya. Seperti anak-anak yang lain, orang tuaku akan datang menerima raporku. Dahulu saat masih tahun pertama sekolah dasar, aku sempat berdiri mematung menunggu seseorang. Aku cemberut. Aku marah karena bunda dari panti mengambilkan raporku. Menurutku itu adalah perbuatan lancang. Sebab seharusnya orang tuaku datang sendiri mendengarkan perkembangan selama fi sekolah. Sebelum kemudian aku tersadar bahwa aku memang tidak memiliki orang tua. Tak ada satu pun yang memberitahuku dimana orang tuaku berada dan kenapa aku sampai ke panti.
Aku melihat Nyonya Hamdani turun dari mobil bersama putri kesayangannya, Clara. Mereka melihatku sekilas namun tetap berlalu. Terkadang aku iri dengan Rania. Dia begitu beruntung memiliki keluarga yang terbilang sempurna. Siapa sangka jika anak itu bukanlah keturunan kandung dari keluarga Hamdani. Nyaris tak terlihat. Keduanya serasi dan pantas.
Setelah menunggu cukup lama, Papa akhirnya datang juga. Dia tergesa-gesa keluar dari mobil karena memang hampir saja terlambat. Wali kelas sudah memasuki ruangan bahkan sudah memberikan pengantar sebelum rapor dibagikan.
Masing-masing orang tua menghadap wali kelas secara pribadi. Mereka akan menerima pengarahan dan gambaran perkembangan putra putrinya selama di sekolah. Wali kelas juga akan memberikan solusi atas masalah apapun yang terjadi dengan siswa. Papa datang paling akhir, maka dia juga akan mendapatkan giliran paling akhir.
"Rosa, terima kasih ya, nilainya naik pesat" Kata Tante Santi.
Tampak sekali betapa mereka sedang berbahagia. Dinda anak yang tangguh. Dia begitu semangat belajar. Bahkan ketika aku sudah tak sanggup membuka mata, Dinda masih terjaga untuk membaca catatan yang kuberikan. Ngomong-ngomong tentang catatan, apakah Rania mengambil buku catatanku waktu itu atau justru membuangnya? Bagaimana juga dengan rapornya? Apakah nilainya bagus? Apakah itu berkat catatan dariku?
"Tante duluan ya sayang" Kata Tante Santi.
Merek berdua - Tante Santi dan Dinda - berlalu dengan senangnya. Dinda menoleh ke belakang memberikan kode bahwa dia akan meneleponku nanti.
Sekolah sudah sepi. Hanya beberapa yang masih di sekolah yang senasib denganku. Mendapat giliran paling akhir. Namun demikian para guru masih banyak yang di sekolah dengan tugas masing-masing.
"Kita makan siang dulu yuk" Ajak Papa setelah menerima rapor dari wali kelasku.
"Gimana nilaiku Pa?" Tanyaku iseng padahal aku tahu nilaiku tentu berada di tiga besar paling tidak. Tetapi aku tak mau bertinggi hati dulu, siapa tahu ada yang lebih dariku. Dinda misalnya. Sebab dia kunilai jauh lebih siap dari sebelumnya.
"Siapa yang meragukan nilai anak Papa" Komentarnya dengan raut bahagia.
Kami akan menikmati makan siang sebelum Papa mengantarku pulang. Katanya ia akan membawaku ke restoran terkenal yang cocok dengan lidah kami berdua. Dengan makanan nusantara yang kaya akan rasa. Begitulah Papa mengatakannya. Sudah lama kami tidak makan bersama di luar. Bagaimana Mama menilai ini? Akankah dia marah dengan hal sepele ini? Ah aku tidak mau merusak hari bahagiaku ini dengan memikirkan orang-orang yang membenciku.
Musik diputar. Papa menikmatinya dnegan mengangguk angguk kan kepalanya. Aku hanya geleng - geleng melihatnya. Sungguh suasana seperti ini sudah sangat lama tak kurasakan. Terakhir kami menikmati perjalanan dengan musik adalah ketika masih di Malang. Saat masih kelas empat SD. Sebelum Papa mengalami kesulitan finansial.
Ada suara berderit keras dari belakang. Saat aku menoleh, sebuah mobil jip melaju kencang mendadak mengerem di belakangku, tetapi tidak tertolong. Mobil jip warna merah hitam itu menabrak pojok mobil sebelah kanan. Terjadi benturan yang sangat keras. Mobil yang kutumpangi berputar dengan sangat cepat. Pintu mobil terbuka dan aku terlempar keluar. Untung saja tidak ada kendaraan yang melintas. Jika tidak maka aku akan terlindas. Keningku membentur aspal. Darah keluar dari sana. Aku melihat mobil yang dikendalikan Papa terbalik. Untung tidak terjadi ledakan.
Tak jauh dari mobil Papa yang terbalik, sebuah mobil jip warna merah hitam terparkir di tepi. Tampak sopirnya turun memeriksa, lalu masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan kami. Sesaat kemudian orang-orang berdatangan menolong kami. Aku lemas. Aku menutup mataku.
***
Saat aku membuka mata aku melihat langit-langit. Ini bukan langit-langit kamarku. Aku melihat sekeliling. Kudapati banyak ranjang lengkap dengan penyangga infus. Ya, aku ingat, aku mengalami kecelakaan bersama Papa.
"Oh sudah bangun? Masih pusing? Jangan khawatir, kamu hanya mengalami luka bagian kening, robek sedikit, cuma dijahit dua jahitan saja kok" Kata seorang perawat menghampiriku.
"Papa....Papa dimana Sus?" Tanyaku lirih.
"Masih dirawat, nanti kalau kamu sudah kuat, boleh mengunjungi Papanya ya" Jawab perawat.
"Non!!" Bik Sul tergopoh-gopoh berlari ke arahku.
"Ya Allah Non, kok bisa kayak gini Non..." Bik Sul tampak khawatir. Ia mengelus-elus seluruh badanku memeriksa apakah ada luka yang serius.
"Pa..Papa..." Aku bertanya pada Bik Sul dimanakah Papa.
"Papa....sedang...operasi Non" Akta Bik Sul terbata-bata.
Jika sampai operasi, berarti kondisi Papa cukup parah. Separah apa? Aku tidak bisa tenang sebelum melihat langsung kondisi Papa.
"Bik, aku mau lihat Papa" Kataku
Bik Sul tampak menoleh sana dan sini mencari sesuatu. Kemudian dia menemukan kursi roda di pojokan ruangan. Tanpa bertanya pada siapa-siapa, Bik Sul mengambil kursi roda itu untukku.
"Ayok Non" Kata Bik Sul.
Aku menuju tempat Papa ditangani dengan menggunakan kursi roda. Cukup jauh juga dari ruanganku. Aku bersyukur ada Bik Sul. Tanpa dia aku tidak mungkin mengunjungi Papa.
Di ruangan ICCU, Papa tergeletak di sana. Kata Bik Sul, Papa baru saja menjalani operasi di beberapa bagian tubuhnya. Di leher, kepala dan kaki sebelah kirinya. Miris sekali mendengar itu. Pahlawanku tergeletak di sana dan aku tidak diperbolehkan masuk. Ruangan itu steril. Tidak sembarang orang boleh masuk. Apalagi aku sama-sama pasien, sangat rentan akan segala penyakit.
Aku hanya bisa melihat dari kaca jendela, memandangi tubuhnya yang terbujur. Melihat matanya yang tertutup rapat. Perban di kepala, selang di tubuhnya, gips di kakinya. Dia begitu tersiksa. Papa, bukalah matamu.
"Sampai kapan Papa akan di situ Bik?" Tanyaku mengiba
"Sampai Bapak bisa melewati masa kritisnya Non"
"Berapa lama lagi Bik?"
"Ya ndak tahu Non, doakan saja"
Tidak adil, kenapa Papa sebegitu parahnya sementara aku hanya cedera di satu bagian saja. Kenapa tidak aku saja yang berada di posisi itu.
"Heh...ngapain kamu di situ??" Tiba-tiba saja Mama datang dari suatu arah.
"Mama..."
"Puas kamu...melihat suami saya nggak sadar seperti itu? Sadar kamu sekarang, kalau keberadaanmu hanya membawa petaka dalam kehidupan kami???"
Mama mendorong kepalaku. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Ingin menyangkal, tapi begitulah kenyataannya. Papa mengalami kecelakaan sewaktu menjemputku. Ini memang disebabkan olehku.
"Kamu juga Bik, ngapain kamu kesini? Bukannya jagain Monica malah nungguin anak bawa sial ini. Mau dipecat kamu???"
"Ee..e..enggak Buk"
"Pulang sana, kasihan Monica sendirian di rumah"
Tergopoh-gopoh Bik Sul mendorong kursi rodaku dan membawaku kembali ke ruanganku sebelum dia pamit untuk pulang.
***