
Mobil melaju menggoyangkan pelan tubuhku. Monica, seperti biasa tidur di pangkuanku. Laju mobil membuatnya tertidur pulas. Kami benar-benar berangkat ke Jakarta. Untuk kedua kalinya aku akan bertandang ke tempat di mana Rania berada. Tapi kali ini untuk tetap tinggal. Bukan hanya beberapa hari tapi selamanya. Ya, selama mungkin.
Jakarta yang mengagumkan dengan segala kelebihannya. Dengan gedungnya yang menjulang seolah menembus langit. Dengan jalannya yang bercabang-cabang. Dengan segala kualitas fasilitasnya. Kini aku di Jakarta. Kota dengan segala modernnya. Pendidikan di sini tentu lebih baik dari yang lain. Dan aku akan menempuh pendidikan di sini. Ya. Keputusanku sepertinya benar. Untung saja aku belum memutuskan untuk kembali ke panti. Jika tidak, maka aku akan mengawali lagi perjuanganku.
Kami tinggal di sebuah perumahan. Bukan perumahan elite. Hanya perumahan biasa. Bukan pula gang sempit. Perumahan ini hampir sama seperti yang kani tinggali di Semarang. Hanya saja lebih bersih karena semua jalannya sudah beraspal halus. Arsitektur rumahnya juga lebih modern minimalis. Memang tak sebesar rumah kami di Semarang maupun Malang, tetapi ini milik Papa sendiri. Ah, aku tak bisa membayangkan bagaimana Mama menanggapi ini. Rumah yang lebih sempit dari rumah sebelumnya. Bagaimana dia bisa menerima ini. Dia pasti marah, protes, dan pasti melimpahkan kekesalannya padaku.sekali lagi, padaku.
"Kamar kamu di atas ya Ros, tapi dekat jemuran gak papa ya" Kata Papa.
Aku mengangguk. Dari awal kamarku selalu berada di atas. Papa tahu aku butuh lebih fokus untuk belajar. Kamar di lantai atas akan membuatku jauh dari bising, terutama celotehan Mama.
Kamarku tak sebesar kamar di Semarang. Ada dua jendela kayu yang menembus pada jemuran. Tapi setelah kulihat, tempat jemuran ini bisa multifungsi jadi balkon, semacam rooftop begitu. Tak seburuk yang kusangka.
Oh, aku baru ingat. Aku belum memberitahu Rania bahwa aku sudah ada di Jakarta. Dia pasti senang sekali. Aku pun demikian. Kami akan sering bertemu, sering mengobrol, sering jalan bareng. Kami akan seperti dulu. Saudara meski beda rahim.
Tuut....tuuut.....sudah berulang kali aku menelepon, tapi tidak diangkat. Ah, mungkin dia sudah tidur. Aku tidak terkejut dengan ini. Biasanya memang begini. Dia akan mencari celah agar bisa mengangkat telepon. Sabar saja, sebentar lagi juga diangkat.
"Halo..." Benar dugaanku, tapi suara itu bukan suara Rania. Suaranya lebih tua dan sopan. Itu pasti pembantunya.
"Eh, maaf Bi, Clara ada?" Tanyaku berhati-hati.
"Oh, Non Clara sudah tidur" Jawab suara dari seberang.
"Oh ya sudah, tolong sampaikan kalo temannya nelepon ya Bi" Pintaku.
"Iya Non" Jawabnya.
Sudah tidur? Apa dia sakit? Ini masih jam sembilan malam. Tidak biasanya dia tidur cepat begini. Semoga dia baik-baik saja.
Dua hari kemudian aku menelepon lagi. Sebab tidak ada kabar lagi setelah kemarin aku berpesan pada pembantunya. Namun ternyata sama. Pembantunya yang mengangkat telepon. Dan alasannya juga sama, Clara sudah tidur. Aku semakin curiga. Menurutku Rania sedang sakit. Dia sakit apa? Sejak kapan? Bahaya kah?
***
"Papa masih lembur?" Aku menyelonong masuk kamar kerja Papa yang beberapa hari ini masih menyala hingga larut.
"Eh, Ros, iya ini Papa ada proyek besar ini. Daripada dilembur di kantor, mending di rumah, bisa ngopi, bisa ketemu keluarga, ya kan" Kata Papa sambil terus mantengin laptop.
"Belakangan ini Papa lembur terus. Jangan lupa makan Pa, jaga kesehatan" Kataku sungguh khawatir.
Mendengar itu, Papa berbalik badan ke arahku. Sejenak ia melepas kacamatanya.
"Papa minta maaf ya, kita belum bisa liburan. Papa janji setelah urusan Papa selesai, kita sekeluarga liburan, dengan mobil kita yang baru" Kata Papa.
Sekeluarga? Yakin? Ah, Mama pasti akan menolak, tidak memperbolehkan Papa membawaku serta atau sepanjang jalan akan cemberut.
"Papa, ingat gak waktu pertama kita ke Jakarta, menghadiri acaranya direktur perusahaan Papa?" Tanyaku kemudian.
"Waktu itu kan anaknya ulang tahun"
"Hm...trus?"
"Papa tahu gak, dia sekolah dimana?"
"Hm? Ya mana Papa tahu, kenapa emang?"
"Kelihatannya dia pinter, Rosa pengen deh sekolah di sana juga"
"Oh gitu. Ya deh nanti, Papa coba cari tahu ya"
Sebentar, apakah ini aman? Bagaimana jika kemudian ketahuan bahwa aku adalah anak panti yang kemudian berhubungan lagi dengan Rania yang sudah dengan susah payah dipisahkan dari masa lalunya. Apakah tidak berbahaya.
"Ah gak usah deh Pa, ngrepotin Papa" Kataku akhirnya.
"Lah gak papa, memang kita harus cari sekolahan kan. Gaji Papa cukup kok untuk sekolah uang bagus" Papa kemudian tersenyum.
Mau bagaimana lagi. Jika aku sudah sulit menghubungi Rania, maka bersekolah di tempat Rania adalah satu-satunya jalan. Seminggu sudah Rania tidak bisa dihubungi. Alurnya selalu sama. Lama tak diangkat, ketika diangkat katanya sudah tidur. Ada apa sebenarnya dengan Rania. Aku masih menduga bahwa dia sedang sakit. Tapi apakah separah itu sampai mengangkat telepon saja tak sanggup dan harus pembantunya yang menyampaikan itu padaku.
Alu menuju dapur untuk mengambil air minum. Ini sudah jam sebelas malam, suasana rumah sudah hening. Hanya siara jangkrik yang berbunyi dari kejauhan. Mungkin ada di samping rumah.
Jret, sebuah pintu tertutup keras. Mama keluar dari kamarnya. Dia juga ke dapur mengambil minum. Sejak pindah ke Jakarta kami jarang berbicara. Dan aku bersyukur dia juga jarang memarahiku. Mungkin karena ada Papa, atau karena sudah bosan, capek, atau mungkin mulai sadar bahwa mau tak mau dia mengingatkanku di rumah ini. Setidaknya untuk beberes.
"Kamu ngomong apa sama Papa?" Tanya Mama datar sambil meneguk segelas air.
"Ngomong apa Ma?" Aku sungguh tidka paham maksudnya.
"Ngrayu apa lagi sama Papa? Minta sekolah yang mahal?"
Oh, aku mengerti. Mama pasti mendengar pembicaraan kami tadi meski hanya sayup-sayup.
"Enggak Ma, cuma..."
"Dengan kondisi karir Papa yang mulai stabil bukan berarti kamu bisa seenaknya minta apa saja ke Papa. Papa belum benar-benar jadi orang kaya ya, ini masih permulaan. Dia masih harus banyak nabung untuk masa depan Monica. Ingat, masa depan Monica, anak kandungnya"
Seusai berkata demikian, Mama kembali ke kamarnya dan menyisakan gelas kosong yang sidah ia gunakan. Ya, tak perlu ia mengingatkanku siapa diriku. Aku cukup tahu diri posisiku di rumah ini. Aku tidak bisa menahan lagi. Air mataku keluar tetes demi tetes. Dan kubiarkan mereka keluar begitu saja. Pedih rasanya menahan mereka agar tetap berada di dalam mata. Jadi kubiarkan mereka mengalir lancar seperti aliran sungai tanpa bebatuan.
Mama sudah lupa, bagaimana dia hampir membunuhku dengan mengurungku di ruangan tanpa diberi makan. Dia lupa bahwa bisa saja dia dilaporkan ke polisi atas perbuatannya. Dia lupa dan tak peduli dengan itu semua.
***