
Jam setengah satu malam waktu Jerman, suasana masih sangat ramai. Banyak orang lalu lalang entah untuk apa. Mereka tentunya memiliki kepentingan masing-masing. Aku berjalan sendiri dengan leluasa. Selama berada di Munchen tidak pernah kudapati pemuda iseng seperti di Jakarta. Inilah satu sisi positif negeri ini. Banyak perempuan berjalan sendiri dan semua aman saja. Mungkin karena sebagian besar orang tidak saling mempedulikan. Sehingga enggan juga untuk berbuat iseng atau kriminal.
Panji sudah duduk di kursi tempat menunggu bus sambil sesekali melihat arlojinya. Sepertinya sudah cukup lama ia menungguku. Malam ini kami akan ke Hamburg menemui Miss Rachel. Dia harus menjelaskan apa yang terjadi padaku sekaligus memberikan solusinya.
"Kak Panji" Sapaku.
Dia tampak lega setelah aku datang. Ia lalu berdiri menyambut kedatanganku.
"Akhirnya datang juga. Ayo, kereta sudah datang sepuluh menit yang lalu" Katanya.
Panji mempercepat langkahnya sampai aku setengah berlari demi menyeimbangkan posisi dengannya. Rupanya dia sudah membelikan tiket terlebih dahulu sebelum aku datang. Kami duduk di gerbong paling depan. Dia memberikan kursi dekat jendela untukku. Kulihat sebagian besar penumpang sudah tertidur lelap. Jelas, ini tengah malam, waktunya beristirahat.
"Sebaiknya kita tidur. Kira-kira sampai di Hamburg subuh paling cepat. Atau bisa-bisa jam tujuh pagi baru sampai. Untuk ke alamat kantor itu, kota harus naik bus lagi. Atau minimal taksi lah" Jelas Panji.
Tampaknya aku tak salah pilih. Satu-satunya mahasiswa Indonesia yang kukenal ini benar-benar memahami perjalanan kami. Dia tahu jalan mana yang harus kami tempuh untuk sampai pada tujuan. Dia hampir seperti Alanta. Tipe orang yang solutif, cenderung memikirkan solusi sampai akhir ketimbang menganalisis penyebabnya.
Aku masih belum bisa tidur meski Panji sudah terlelap di sampingku. Pikiranku menerawang ke Hamburg. Apa yang akan kuucapkan pada Miss Rachel? Kalimat pertama apa yang akan kulontarkan. Kira-kira apa jawabannya. Bagaimana reaksinya nanti. Kemungkinan terburuk, andai aku harus membiayai sendiri kuliahkau sudah pasti aku tidak sanggup. Lalu apa yang harus kulakukan setelah ini.
Benar kata Panji, subuh kami sampai di stasiun Mundsburg, kota Hamburg. Lebih cepat dari perkiraan. Karena tidak tersedia tempat untuk sholat, aku meminjam sebuah ruang kecil milik petugas untuk melaksanakan kewajibanku. Tidak butuh waktu lama untuk melaksanakan dua raka'at saja. Lima menit pun mungkin tak ada.
"Kamu dari mana?" Tanya Panji dengan ekspresi sedikit kesal.
Oh aku lupa. Aku tidak memberitahunya terlebih dulu sebelum sholat di ruang sempit itu.
"Aku ..habis sholat Kak" Jawabku sedikit ragu karena takut ia akan marah.
Mendengar jawabanku itu mimik wajahnya berubah. Ia menunduk lalu menoleh ke kanan dan kiri seakan salah tingkah. Entahlah apa yang dipikirkannya. Ia tidak lagi membahas ini. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju alamat yang kupunya, tempat Miss Rachel bekerja.
Kami naik bus kota dengan kaca yang besar. Melalui kaca itu suasana kota yang tertata rapi terlihat jelas. Matahari yang hangat baru saja muncul dari arah timur, memunculkan siluet kuning keemasan yang indah. Aku gugup. Karena bus berhenti di tempat tujuan kami. Kantor Miss Rachel ada di seberang jalan.
Kantor belum buka. Hanya ada satpam yang menjaga di sebuah ruangan. Tampak Panji mengobrol dengan satpam itu. Obrolannya tampak serius. Samar-samar kudengar mereka menyebut nama Miss Rachel dan Indonesia. Aku berharap ada kabar baik. Aku sengaja tidak mendekat, aku gugup. Sungguh. Panji kembali padaku tanpa ekspresi. Aku berdiri untuk menyambutnya.
"Miss Rachel tidak di kantor ini" Kalimat pertama yang diucapkan Panji padaku.
"Gak ada gimana maksudnya? Kita salah tempat? Trus dimana? Jauh nggak dari saini? Kita bisa tempuh?" Aku mulai panik.
"Nggak gitu Rose....sudah sejak tiga bulan lebih Miss Rachel kembali ke Indonesia dan belum kembali lagi" Katanya.
"Kita akan hubungi kampus kamu" Kata Panji.
"Percuma. Aku tidak punya nomernya. Dan tidak diperbolehkan menghubungi siapapun di Indonesia" Kataku lirih
"What?? Aturan dari mana itu? Gak ada aturan seperti itu. Di kampusku juga gak kayak gitu. Kita ini manusia bukan obyek. Seenaknya saja membuat aturan seperti itu" Panji kelihatan emosi sekali saat ini.
Dia tidak tahu apa yang terjadi padaku. Wajar jika dia bersikap begitu. Andai aku menjadi dia pun aku akan geram seperti yang ia rasakan. Kuakui aku terjebak dalam permainan yang tak kusadari. Aku dijebak oleh orang yang tak kusangka akan melakukan itu.
"Ceritanya panjang. Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Apa ada alternatif lainnya?" Aku berharap banyak.
Tak ada jawaban.
***
Pagi itu, matahari cukup hangat, setelah beberapa hari hanya tertutup awan. Bayanganku pun tampak tajam tak seperti beberapa hari sebelumnya. Aku berdiri di samping jembatan kecil sungai Isar. Tempat kami biasa bertemu. Hanya menunggu beberapa menit, Panji sudah muncul. Ia tampak setengah berlari ke arahku. Kali ini ia memakai kaos tipis sampai dada bidangnya terlihat. Lengan kekarnya pun tampak jelas. Pria gagah. Itulah sebutan yang pas untuknya.
"Aku punya ide. Aku sudah laporkan ini ke komunitas. Kita akan dibantu melaporkan ini ke kedutaan sampai kedutaan menjembatani kamu dengan kampus. Sekarang kita ke komunitas. Mereka menunggu kita. Yuk" Ajak Panji dengan antusias.
"Terima kasih sudah membantu. Saya sudah memutuskan...."
Panji melihatku penasaran. Sebenarnya lidahku kelu menjelaskan ini. Tapi kurasa inilah yang terbaik. Aku masih punya tujuan jika mengambil keputusan ini. Semua demi keselamatanku sendiri. Cita-citaku akan kukejar setelah keputusanku ini.
"Aku mau pulang" Akhirnya aku mengucapkan kalimat itu.
Tentu saja Panji terkejut dengan ucapanku. Tampak dari sorot matanya yang melirik kanan kiri tidak jelas.
"Waktuku cuma dua bulan Kak. Aku tidak mungkin menyelesaikan ini sesingkat itu. Kalaupun aku bekerja di sini, tidak mungkin cukup juga. Jadi, aku memutuskan pulang. Aku bisa kuliah dimana saja, asal di negeri sendiri"
Panji tak bergeming. Ia hanya menatap mataku dalam-dalam. Seakan dia tak percaya semua ini. Mungkin aku terlalu menyepelekan usahanya hari-hari ini. Dia sudah mengusahakan sedemikian rupa namun aku justru memilih pulang.
Semua sudah kupertimbangkan dalam-dalam. Andai nanti aku pulang, aku akan bertolak ke Kediri atau ke Malang. Aku akan mencari tempat tinggal di sana dan tidak akan kembali ke Jakarta. Meski berat, aku tidka akan menampakkan diri di depan Alanta dan keluarganya. Sesai janjiku dulu.
***