My Name Is Rose

My Name Is Rose
Terbang



Bandara Soekarno Hatta.


Aku duduk terdiam beberapa saat. Tak pernah kubayangkan hari ini akan tiba. Hari yang menentukan hidupku nanti. Satu sisi, pendidikanku semakin cerah, sisi lain hubungan asmara yang dikorbankan. Sungguh tak ada niatan mengorbankan apapun demi sebuah pendidikan. Tapi ibarat dua persimpangan jalan, aku harus memilih. Dan keputusanku hanya berfokus pada kesembuhan Alanta. Aku bukan ali strategi. Aku tidak bisa berpikir panjang lagi.


Dengan ini saya memberitahukan bahwa untuk sementara say tidak menggunakan sosial media apapun karena fokus kuliah. Don't worry i'm okay. Thanks.


Sudah kukirim di berbagai sosial medi ayang kumiliki. Ini juga bagian dari perjanjian kami. Aku aka pergi menjadi orang yang sama sekali berbeda. Aku akan menghilang, sampai Alanta tidak bisa mencariku lagi, ia tidak bisa lagi melacakku melalui dunia maya. Itu yang Bu Mariana inginkan.


Terakhir kali aku membuka email. Dari Dinda.


Hai Ros, apa kabar?


Aku dengar kamu dapat beasiswa ke Singapore? Wah Congrats ya... Semoga makin sukses. Thanks banget udah selesaikan semuanya tanpa kamu sadari. Dalam waktu dekat aku akan pindah ke Prancis sama keluarga. Papa memulai usaha setelah semua bangkrut secara tiba-tiba. Thanks. See you.


Itu terakhir kalinya aku berkomunikasi dengan orang-orang yang kukenal. Jujur aku merindukan Dinda. Tiga bulan atau bahkan lebih, aku tidak bertemu dengannya. Kami juga tidak bisa berkomunikasi secara bebas. Dan sekarang harus benar-benar berpisah. Apakah Dinda tahu aku tidak benar-benar ke Singapore? Apakah dia tahu bahwa ini adalah akhir hubunganku dengan Alanta?


"Sudah siap?" Miss Rachel menghampiriku.


"Oh iya Miss" Jawabku sambil berdiri dan menenteng tas kecil.


"Masih dua puluh menit lagi, kita akan menemui seseorang" Katanya.


Ia mengajakku ke sebuah lorong besar. Tampaknya dari sinilah orang-orang yang mendarat lewat. Tapi saat ini sedang sepi. Hanya beberapa pramugari yang lalu lalang, tapi tak banyak, hanya beberapa. Di sanalah Bu Mariana berdiri menghadap jendela. Jadi aku akan dipertemukan dengan Bu Mariana untuk terakhir kalinya. Jujur aku takut. Pasalnya akhir-akhir ini hubungan kami tak baik.


"Mrs. Marry" Begitu Miss Rachel memanggil Bu Mariana.


Kemudian Miss Rachel meninggalkan kami berdua. Aku menerka-nerka kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Bu Mariana padaku?


"Kamu beritahu Alanta, kalau kamu berangkat hari ini?" Tanya Bu Mariana pertama kali.


Aku menggeleng.


"Bagus. Dia tahunya kamu berangkat besok" Sekali lagi Bu Mariana membohongi puteranya.


Dia kemudian menatapku dengan lembut, persis seperti tatapan sebelum dia membenciku karena peristiwa yang melibatkan Alanta. Sampai detik ini aku masih tidak percaya, dialah yang menerbangkanku sekaligus menjatuhkanku. Dia yang kukenal begitu baik, namun dia juga yang memisahkan aku dengan satu-satunya pahlawan yang kupunya.


"Aku tidak ingin ku pergi dengan kebencian. Itulah kenapa aku kesini sebelum kamu berangkat"


Ibu. Aku membayangkan seperti itulah sosok seorang ibu. Sesekali kulihat rambutnya yang bergoyang diterpa angin. Dia lembut seperti angin yang menyentuh rambutnya itu. Bola mat yaang bulat indah itu sekan berbicara banyak hal. Kenapa harus dia. Dari sekian banyak orang yang memungkinkan membenciku, kenapa harus dia yang melakukan ini. Lantas bisakah aku membenci perempuan di hadapanku ini?


Kenapa mendadak seperti ini. Sungguh aku tidak tahu apa makna dari semua ini.


"Kamu anak yang baik, aku sadar betul. Aku menyukai segala hal yang ada padamu. Tapi aku harus memisahkan kalian. Karena itu adalah tugasku. Tugas seorang Ibu. Kelak kamu akan tahu jika sudah menjadi seorang ibu"


Tugas seorang ibu memisahkan anaknya dengan orang yang dicintainya? Apakah ada tugas seperti itu bagi seorang ibu? Apakah juga tugas bagi ibuku ketika membuangku ke panti asuhan? Apakah bisa itu disebut tugas?


"Aku bisa saja membuangmu ke Papua atau Kalimantan. Tapi aku ingin kamu memperoleh masa depan yang jauh lebih baik. Karena kamu mampu meraih itu. Kamu pantas mendapatkan itu. Belajarlah yang tekun. Semoga kelak kamu bertemu....seseorang yang jauh lebih baik" Lanjutnya.


Tak segampang itu. Hatiku bukan sekedar emas yang bisa digadaikan. Tak semudah itu mencari sosok seperti puteramu Bu. Andai aku bisa dengan jelas mengatakan itu. Sudah begitu jelas bahwa mulai sekarang cinta kami tidak direstuinya. Restu itu sudah dicabut olehnya.


Aku berjalan melewati lorong diantara ratusan orang yang lalu lalang. Diantara banyak orang yang tak sabar naik pesawat dan tak sabar sampai di tujuan. Diantara mereka yang tersenyum karena akan melihat awan secara langsung. Diantara mereka yang punya kehidupan secerah langit hari ini. Diantara mereka yang bersenda gurau dengan keluarganya yang hangat. Aku berada di antara mereka semua.


Alanta.


Apakah kamu merasakan ada yang aneh dengan perjalananku? Apakah kamu merasa aku berpura-pura beberapa minggu terakhir ini. Apakah kamu merasa sedang dibohongi? Atau, apakah kamu merasa akulah yang menipumu? Apakah kamu akan mencari tahu apa yang terjadi? Atau kamu akan mengikuti air mengalir?


Alanta.


Jerman bukan sekedar Jakarta - Bandung, atau Jakarta - Kediri. Aku tidak bisa menjangkaunya meski aku mengerahkan sekuat tenagaku sampai habis sekalipun. Aku tak punya sayap sepertimu. Aku berangkat dengan sayap orang lain. Orang yang memisahkan kita atas nama tugas orang tua. Akankah kmu merasa aku pergi lebih jauh dari yang kau kira.


Alanta.


Ini masih beberapa mil dari kota, tapi aku sudah merasakan rindunya. Begitu berat. Begitu sesak rasanya. Entah berapa lama aku sanggup menahan ini. Rasanya jauh berbeda dari saat kamu di Malaysia. Tahukah kamu, betapa aku ingin kembali fi sisimu. Aku tak berdaya Alanta, aku tidak punya cara lain. Hidupmu saat itu yang paling penting bagiku. Tapi aku harus membayar dengan ini. Jerman.


Ada titik-titik air yang jatuh begitu saja di pipiku. Kubiarkan mereka kelua sebebas-bebasnya. Tak sedikitpun ada yang kuseka. Biarkan mereka terjun bersama sisa-sisa hatiku yang patah. Biar semua beban ikut keluar bersama derasnya air mata. Andai aku seorang diri akan kukeluarkan semuanya. Kalau perlu aku akan berteriak sekencang-kencangnya. Biar terhempas semua yang kurasakan. Biar hilang semua beban di pundakku. Konon, katarsis mampu menjernihkan pikiran.


Burung besi menembus gerombolan awan menyebabkan pesawat sedikit bergoncang. Gerakannya membuyarkan lamunanku. Kuseka air mataku sebelum menjadi pusat perhatian. Aku segera sadar diri dan membenahi posisi dudukku. Untunglah wanita tua di sampingku sedang tertidur pulas. Ia tidak akan menyadari perempuan belia di sampingnya sedang tidak baik-baik saja.


Aku teringat ucapan Bu Mariana sebelum aku berangkat.


"Jika kamu pulang dan Alan masih sendiri, jika memang itu yang terbaik, tugasku hanyalah memberi dukungan"


Apakah kira-kira aku masih punya harapan?


***