
Aku berjalan melewati lorong yang cukup panjang. Lorong menjadi ciri khas dari sekolah dengan gaya klasik. Yang kutahu, ada beberapa lorong di bangunan sekolah ini, salah satunya lorong yang kulewati. Sedikit seram, karena cukup gelap. Aku tak bisa membayangkan jika sore hari melewati lorong ini. Tentu sangat gelap.
Laboratorium bahasa. Tempatnya di ujung belakang sekolah. Di depan laboratorium ini sudah pagar tinggi. Batas antara sekolah dengan pemukiman. Kepala sekolah telah memutuskan untuk memberiku kesempatan memperoleh beasiswa pendidikan. Tentu dengan sebuah tes.
Jantungku berdetak hebat. Aku takut, kalau-kalau aku tidak bisa menyelesaikan soal-soal tes ini. Bagaimana dengan Papa yang sudah berjuang keras sampai aku di titik ini dan sudah sesumbar tentang Olimpiade. Tentu akan sangat malu. Aku takut ia kecewa.
Kubuka pelan-pelan lembaran kertas putih di hadapanku. Dua puluh soal. Tidak terlalu banyak. Empat puluh lima menit durasi waktu yang diberikan. What??? Yang benar saja. Logis matematis, IPA dan pengetahuan umum. Ini sudah menyerupai Olimpiade. Empat puluh lima menit? Aku tahu, mereka ingin menolakku secara halus. Atau bisa jadi, mereka ingin menjajal kemampuanku seperti apa yang sudah dikatakan Papa tentang Olimpiade.
Waktuku tidak banyak. Aku harus sesegera mungkin menyelesaikan soal-soal ini. Papa menunggu di luar, ditemani salah seorang guru yang ditugaskan mendampingi tes ini. Aku tidak mempedulikan kemana Kepala Sekolah saat ini.
Sunyi. Tak ada suara. Hanya ada detak jarum jam dinding yang seolah mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan tanpa henti. Sedikit lengah, kacau semuanya. Empat puluh menit, aku sudah menyelesaikan semuanya. Bahkan sejak lima menit sebelumnya.
"Masih ada 5 menit, yakin mau dikimpulkan? Atau mau dikoreksi dulu?" Tanya seorang guru.
"Tidak Pak, sudah cukup" Jawabku.
Sebagian dari soal-soal itu adalah soal Olimpiade semester lalu tingkat Provinsi Jawa Timur. Aku ingat betul. Ini cukup mempersingkat waktu.
"Baik, saya ke kantor dulu. Ini mau ditunggu atau ditinggal, besok kembali lagi?" Tanya guru itu lagi.
"Oh kami tunggu saja Pak" Papa menjawab.
Kenapa Papa memilih menunggu?kenapa tidak besok saja kembali lagi. Paling tidak aku bisa berdoa barang sehari. Aku duduk di teras perpustakaan. Di depan perpustakaan ada taman dengan air mancur yang mengucur deras. Papa sedang ngobrol dengan petugas perpus. Sembari menunggu, aku melihat-lihat mading sekolah yang tulisannya sudah memudar. Tampaknya sudah lama tidak diganti.
Dua jam sudah kami menunggu, belum juga ada kabar. Banyak guru lalu lalang tapi tak satupun menghampiriku atau Papa. Gugupku sudah mulai hilang.
"Pa, pulang yuk. Besok biar Rosa kesini sendiri lihat hasilnya" Pintaku.
Rosa sudah capek?" Tanya Papa
Aku mengangguk. Aku tidak mengada-ada. Aku memang benar-benar lelah menunggu.
"Ya sudah kalau begitu, ayo" Kata Papa.
Kurasa Papa pun mulai lelah. Hari ini belum ada hasil. Padahal Papa sudah meninggalkan pekerjaannya demi aku. Bagaimana jika hasilnya tak sesuai harapan? Bagaimana Papa menghadapi Mama yang keras? Bagaimana aku bisa mengangkat kepalaku menghadapi orang tua angkatku ini.
Sepanjang jalan langkahku mengambang. Takut. Aku tidak takut gagal masuk SMP ini atau gagal mendapat beasiswa. Aku takut membuat Papa kecewa. Terlalu banyak jasanya untukku semenjak mengangkatku sebagai anak. Betapa malunya dia jika kalimat yang disumbarkan hanyalah omong kosong.
Pintu gerbang sudah di depan mata kami. Tinggal selangkah lagi kami keluar dari gedung ini. Aku berencana tidak akan kembali ke sekolah ini beberapa waktu. Biarlah hasilnya disimpan dahulu. Sudahlah. Memenuhi atau tidak hasilnya, aku tetap akan ditolak dengan berbagai alasan. Atau bisa juga aku menyuruh orang untuk melihatkan hasil tesku, yang jelas bukan Papa. Ah pikiranku kemana-mana.
"Dek....dek ...atas nama Rosa bukan?" Seorang tukang kebun menghentikan langkah kami.
"Ya Pak" Jawabku.
"Dipanggil ke kantor dek" Katanya.
Aku dan Papa saling pandang. Apakah mungkin hasilnya sudah keluar? Artinya kami akan menerima keputusan final. Bagaimana jika nilainya kurang, otomatis aku tidak diterima? Bagaimana jika mereka mengawali dengan statement yang kurang mengenakkan atau bahkan justru menyakitkan? Bagaimana dengan Papa? Pikiranku berkecamuk. Segala pikiran buruk menumpuk di otakku.
Bukan Kepala Sekolah yang menemui kami. Juga bukan guru yang ditugaskan mendampingi tesku beberapa jam yang lalu, melainkan guru lain. Perempuan.
"Apakah sebelumnya Rosa sudah pernah ikut Olimpiade?" Tanya guru perempuan itu.
Aku mengangguk dan saat itu juga guru perempuan itu tersenyum.
"Pantas saja soal-soal ini bisa terjawab dengan mudah" Kata guru itu.
"Artinya Bu?" Papa menyela.
"Itu soal Olimpiade yang paling sulit, putri Bapak mampu menjawabnya dengan tepat. Sekalipun jika soal itu bocor dan sudah dipelajari beberapa hari sebelumnya, belum tentu anak seusia Rosa bisa menjawabnya" Jelas guru itu.
"Jadi..." Aku mencoba menerka.
"Ya, kamu diterima. Tetapi Rosa harus bisa mempertahankan prestasi sampai kelas 3 nanti. Besok senin Ospek, silahkan datang lebih awal"
"Alhamdulillah...terima kasih Bu" Ucap Papa.
Kulihat raut wajah Papa yang begitu leg. Sama persis dengan perasaanku saat ini. Takut, gelisah, gugup dan gemetar yang sedari tadi menggerogoti pikiranku, sekarang memudar, berganti bahagia yang luar biasa.
"Rosa, saya Bu Susi, yang nantinya akan menjadi wali kelas kamu" Kata guru itu
Aku tersenyum. Aku bersyukur, wali kelasku sebaik ini, selembut ini, bukan semenyeramkan Ibu Kepala Sekolah.
Aku lega. Bukan hanya karena diterima di SMP terbaik di Semarang tanpa biaya, tapi juga karena Papa. Aku lega Papa mampu membuktikan ucapannya pada Ibu Kepala Sekolah. Laki-laki bertubuh tegap berdada bidang di sampingku ini sangat berjasa padaku, meski aku bukan anak kandungnya. Aku anak orang lain yang dipungutnya untuk diberikan kebahagiaan. Dalam batinku, aku bertekad akan berlaku seperti putri kandung yang selalu berupaya membahagiakan ayahnya. Berupaya membuatnya bangga. Yang akan berkorban apapun itu demi senyumnya.
Papa, Pak Hartono. Laki-laki berbadan tegap yang dikirim Tuhan untuk menjadi jembatanku. Jembatan menuju apa yang kucita-citakan. Jembatan yang akan membawaku pada saudaraku, Rania. Rania, dimana dia kini. Masihkah di adi Jakarta? Masihkah dia mengingatku. Empat tahun lamanya, tak usah ditanyakan bagaimana perasaanku setiap jali mengingat dia. Rindu.
Aku melewati mading dengan tulisan yang hampir memudar. Nanti saat aku sudah berseragam biru putih, memakai dasi biru panjang dan tertera namaku di atas saku, aku akan mengisi mading ini dengan tulisan-tulisanku. Sayang sekali, mading selebar ini jarang diganti. Lihat saja. Tulisanku akan memenuhi mading ini. Juga mading di lorong sempit menuju kantor kepala sekolah.
SMP Cendekia. Kami keluar gerbang dengan dada membusung. Seolah berkata pada dunia. Lihat, anak cerdas yang mendapat beasiswa penuh sedang lewat. Minggir semua!!