My Name Is Rose

My Name Is Rose
Adit



Aku dipindahkan kerja. Dari outlet kecil di pinggir jalan yang hanya berupa gerobak kecil, sekarang aku ditempatkan di outlet yang lebih besar, dan beragam kuliner yang


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu? Silahkan cek di katalog ya kaka" Kataku menyapa pelanggan sambil mengelap beberapa peralatan.


"Ehm ehm..." Suara pelanggan.


Aku menoleh dan ternyata sahabatku, Dinda. Dia ke sini bersama Mamanya. Surprise aku dibuatnya. Kami berpelukan lama seolah sudah tahunan tak ketemu.


"Nih makan siang...sebenarnya mau aku ajakin makan di luar tapi pasti elo nya nggak bisa" Sindi Dinda.


Aku tersipu.


"Terima kasih ya Din, Tante, sudah repot-repot bawakan makanan" Ucapku.


Kami duduk bertiga. Kuberikan kode pada rekan kerjaku agar aku menemani tamuku selama beberapa saat. Dan rekan kerjaku memberikan gestur mengijinkan.


"Ros, ini hadiah dari Papanya Dinda. Dia seneng banget waktu denger Dinda terbaik kedua di sekolah" Kata Tante Santi.


Kubuka hadiah itu, isinya sepatu sekolah. Sepatu yang bermerk. Tentu harganya mahal. Aku tersenyum. Sudah berapa kali Papanya Dinda memberikanku barang branded seperti ini. Bahkan dia memberikanku persis dengan apa yang ia berikan pada putri semata wayangnya. Sekali lagi terima kasih Tuhan, dibalik derita yang selama ini kurasakan, ada saja orang yang kau kirim untuk memadamkan kobaran api di dadaku.


"Terima kasih Tante. Duh, saya sampai sungkan ini Tante. Papanya Dinda perhatian banget sama saya" Kataku sambil mengelus sepatu cantik itu.


"Oalah Ros, tidak sebanding dengan apa yang sudah Dinda capai sampai detik ini. Sepatu itu bawa hoki lo. Ntar kamu pakek sekolah ya" Kata Tante Santi.


Aku menunduk. Sedih rasanya mendengar itu. Mungkin Tante Santi belum tahu, atau memang Dinda belum memberitahunya, bahwa aku berniat untuk tidak melanjutkan sekolah. Dinda dan Mamanya saling pandang sampai akhirnya Mamanya membelokkan pembahasan.


"Eh....Ros...nanti masih mau kan kasih privat ke Dinda?" Tanya Tante Santi kemudian.


"Walah, Tante nggak percayaan amat sama kemampuan putrinya. Hehehe....dia aja bisa jadi siswa terbaik kedua loh" Kataku terkekeh.


"Eh, tapi beneran ya...otu hasil dia sendiri, bukan kamu contekin?" Tante Santi masih penasaran.


"Ih Mama!" Dinda mencubit ringan lengan Mamanya.


"Hahaha bukan Tante. Itu murni hasil Dinda sendiri Tante. Lagian kalau Dinda nyontek Rosa, maka nilai Rosa lebih dong dari Dinda"


Lalu terjadilah candaan dan tawaan ringan di situ. Hal yang sangat jarang terjadi padaku. Siapa yang akan tertawa seperti itu jika aku di rumah. Bahkan Monica pun sering murung mendengar pertengkaran orang tuanya. Jika bukan karena Dinda sahabatku ini, hal seperti ini mungkin tak kan pernah terjadi.


"Aduh, Papanya Dinda telepon. Sebentar ya, Tante angkat dulu" Kata Tante Santi sambil meninggalkan tempat.


Tinggallah kami berdua di meja itu. Saat itulah Dinda mendekatkan wajahnya padaku dengan tatapan serius.


"Ros, kemarin gue ketemu sama Bu Ana. Ingat?" Tanya Dinda mengawali.


"Iya, yang administrasi itu kan?"


"Lah betul. Dia nanya ke gue. Kenapa elu gak ngumpulin rapor"


"Hah? Gue ngumpulin kok!"


"Ke siapa?"


"Adit, ketua kelas kita"


"Oh Adit?" Dinda seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa Din?"


"Gue gak bisa mikir lagi dah. Kalo rapor elu gak ngumpul maka seolah kamu tidak ngumpulin nilai dari kelas dua"


"Tapi aku ngumpulin"


"Itu masalahnya. Kemana rapot elu? Gini aja deh. Kita ke rumah Adit, kita tanya ke dia. Kemana dia ngumpulin rapor elu"


Jadi raporku tidak sampai ke kantor. Itulah kenapa namaku tidak ada di daftar siswa berprestasi bahkan di sepuluh besar. Ada kesalahan di kantor. Atau memang sebuah kesengajaan.


Pada hari yang ditentukan, aku dan Dinda menuju rumah Adit. Dinda yang tahu persis rumah Adit. Rumah Adit di perumahan biasa dengan tipe rumah minimalis. Cukup sulit untuk menemukan rumahnya karena model rumah hampir sama satu dengan lainnya.


"Iya bener kayaknya ini rumahnya" Kata Dinda.


Rumah Adit cukup luas dibanding rumah lainnya. Dan jika dipikir-pikir, rumah Adit ini lebih mewah dari rumah para tetangganya. Ya mungkin memang Adit orang terkaya sekompleks ini. Kami berdua mencoba mengetuk pintu. Seorang ibu keluar dari sana.


"Maaf cari siapa?" Tanya Ibu itu.


"Aditnya ada Bu?" Dinda yang bertanya.


"Oh, Adit keluar"


"Wah Tante juga gak tahu. Punya nomer hapenya? Coba ditelepon"


Dinda menggeleng. Sayangnya kami berdua tidak punya nomer Adit. Kami menyerah. Mungkin hari ini kami gagal. Tapi kami akan mencobanya esok hari. Semoga saja esok kami berhasil.


Kami naik motor milik Dinda. Pada saat akan menyalakan motor, Dinda melihat ke atas dengan serius. Aku menepuk bahunya mengingatkan untuk segera menyalakan motor. Tidak enak dengan Ibunya Adit yang masih di depan rumah melepas kami pergi.


"Ada apa sih? Ayo!!" Kataku.


"Oh iya"


Motor melaju keluar kompleks. Tapi kami tidak lantas pulang. Dinda menghentikan motornya di samping gerbang kompleks.


"Kenapa berhenti di sini Din?" Tanyaku khawatir. Kupikir ada sesuatu yang terjadi pada motornya Dinda.


"Gue curiga deh... Soalnya tadi di lantai dua ada yang ngintip" Kata Dinda.


"Hantu??"


"Bukan lah...gue gak yakin sih. Tapi kayaknya itu Adit deh"


"Jadi menurut lo, Ibunya Adit bohong?"


"Bisa jadi. Atau Adit yang ngumpet"


"Ngapain di ngumpet coba? Emangnya dia tahu kita kesini mau apa?"


"Menurut lo?"


Aku berpikir. Mungkin dia sembunyi karena tak ingin bertemu denganku atau Dinda. Mungkin juga dia tau apa yang hendak kami bahas. Kenapa? Apakah dia menyembunyikan sesuatu sehingga tidak berani bertemu dengan kami?


Kami memutuskan untuk menunggu di situ. Siapa tahu Adit keluar dari kompleks. Sejam, dua jam, kami menunggu sambil minum teh botol. Tapi tak juga nampak batang hidungnya. Aku sudah putus asa. Dinda juga sepertinya begitu.


"Udah sore nih, besok lagi aja gimana?" Usul Dinda.


Aku mengangguk karena memang sangat melelahkan menunggu seseorang. Kami hampir saja meluncur pergi saat tiba-tiba Adit muncul dari belakang. Dinda langsung mematikan motornya. Tapi rupanya Adit tahu kami masih di sini. Aditpun mengayuh sepedanya kuat-kuat. Dinda tak mau kalah. Ia mengegas motornya mengikuti kayuhan sepeda Adit. Aku yang dibonceng serasa ikut mengegas.


Sampailah kami di samping sepeda Adit. Adit cukup kuat mengayuh sepeda. Hampir saja kami kehilangan dia kalau saja aku tidak menendang sepedanya hingga ia jatuh. Motor berhenti. Dinda segera menangkap Adit dengan kedua tangannya. Tak kusangka Dinda punya kekuatan sebesar itu.


"Kalian mau apa sih?" Teriak Adit.


"Eh lo jangan nyolot ya!! Yang harusnya nyolot tuh kita, bukan elu!!" Jawab Dinda


"Dit, kita cuma mau ngobrol kok, kita gak bakalan nuntut lo kok" Kataku.


"Ros!!" Dinda memprotes apa yang kukatakan tadi. Segera aku memberikan mimik menenangkannya. Sebab jika kami gegabah, kami tidak akan mendapatkan apa-apa.


"Dit, gue yakin lo paham kenapa kami cari elo..."


"Apaan sih" Adit masih mengelak.


"Udah lo gak usah ngelak. Kalo lo gak tahu apa-apa, pasti lo gak kabur kayak gini"


Mendengar ucapanku itu Adit akhirnya menunduk. Dia bahkan duduk berjongkok seolah narapidana yang terbukti bersalah.


"Gue udah kumpulin rapor gue ke lo, kenapa lo gak kumpulin ke Bu Ana?"


Adit menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia bahkan tampak gelisah dengan pertanyaanku.


"Itu bukan mau gue!!" Adit seperti sedang menyerah.


Aku dan Dinda saling pandang.


"Gue diancam!!" Lanjut Adit.


"Siapa?"


"Gue gak bisa kasih tahu"


"Gue akan jaga rahasia ini, gue gak akan nyeret lo ke masalah gue"


"Stella"


Stella adalah teman satu genk dengan Clara. Apakah itu kemauan Stella sendiri ataukah Clara yang menyuruhnya. Atau ada pihak lain yang terlibat?


***