
"Saya sudah dengar berita seleksi olimpiade di kelas kamu" Kata Bu Sarah.
Sejauh ini masih Bu Sarah yang menurutku bersikap bijak terhadap semua siswa. Entah karena dia tahu aku dekat dengan keponakannya, dan bisa jadi ini permintaan keponakannya itu, atau memang murni dari dalam dirinya.
"Kamu tahu, kamu sudah membuat Bu Yuni malu" Lanjutnya.
Aku terperangah. Apa yang kulakukan sampai membuat guruku malu. Tapi aku tidak menyampaikan apa-apa. Aku hanya bisa diam mendengarkan.
"Pertama, Bu Yuni malu karena tidak teliti dengan kesalahan jawaban....kedua, dia malu karena dikalahkan oleh murid kelas satu" Lanjut Bu Sarah.
Benar. Mungkin caraku salah. Aku benar, jawabanku benar, tapi rupanya itu membuat guruku malu. Jadi aku tetap salah. Bagaimanapun seorang murid tidak bisa mengoreksi kesalahan gurunya dengan cara memalukan seperti itu. Bagaimanapun juga, guru adalah manusia, mereka juga punya kekeliruan. Guru bukan malaikat yang tercipta tanpa melakukan kesalahan. Guru bukan dewa yang serba sempurna.
"Saya minta maaf" Kataku lembut.
"Bagus kalau kamu menyadari itu. Tapi Ibu juga tidak bisa menyalahkan kamu seutuhnya. Itu kesalahan kami yang keliru dalam memberikan jawaban. Kami anak yang cerdas dan kritis. Itu yang bisa Ibu simpulkan"
Aku masih belum paham apa artinya. Baikkah atau burukkah jika aku kritis.
"Tapi Bu Yuni sudah memutuskan bukan kamu pemenangnya. Itu juga tidak boleh dirubah"
Aku tersenyum. Memang seharusnya begitu. Aku memahaminya.
"Tapi kamu masih punya kesempatan" Lanjutnya.
Kembali aku terperangah. Kesempatan apa maksudnya? Kesempatan olimpiade tahun berikutnya? Kesempatan lomba sains lainnya atau apa?
"Minggu depan adalah seleksi paralel. Semua kandidat kelas dikumpulkan untuk berlomba. Dan di sana akan disaksikan semua siswa juga semua guru. Itu kesempatan kamu"
"Apa yang harus saya lakukan Bu?"
"Ikutlah mencari jawaban meski kamu tidak berhak menjawab. Nanti jika ada yang salah, kamu bisa memberi jawaban yang benar, dengan catatan, pembawa acara memberi penonton kesempatan"
"Kenapa ibu yakin sekali? Apa memang ada kesalahan uang disengaja?"
Bu Sarah mengangguk pelan.
"Itu ide ibu? Atau memang setiap olimpiade begitu?"
"Bagaimana saya harus menjawab... Bukankah hiu harus dipancing dengan ikan kecil?"
"Maksud Ibu?"
"Kamu curiga adanya kecurangan bukan?"
Aku tidak memberitahu siapapun mengenai kecurigaanku.bahkan kepada Alanta. Lalu darimana Bu Sarah memiliki pemikiran yang sama denganku.
"Maka harus dipancing dengan adegan yang sama"
Aku mengangguk.
Minggu depan. Akan ada kesempatan bagiku untuk menunjukkan kemampuanku. Aku tidak mengejar olimpiade, tapi aku mengejar kepercayaan sekolah ini untuk tetap memberiku beasiswa. Aku juga tidak berniat menghalangi kesuksesan Clara. Bagiku Clara adalah diriku sendiri. Jika dia malu, akulah yang malu. Jika dia terluka, akulah yang terluka.
Aku keluar dari ruangan dengan hati lega. Masalahku tentang Jessie mungkin belum berakhir. Orang tua Jessie mungkin masih belum terima dengan masalah ini. Tapi paling tidak mereka tahu yang terjadi sesungguhnya. Bukan aku yang memulai. Jika mereka berada di posisiku tentu akan melakukan hal yang sama seperti yang kulalukan.
Di depan ruangan, Alanta berdiri bersandar tembok. Dia menungguku. Dia tersenyum. Aku sempat berburuk sangka bahwa dia mungkin tidak percaya padaku sehingga meninggalkanku begitu saja. Rupanya dia sedang bekerja di balik layar. Dia bekerja dengan caranya sendiri.
"Jadi....Silvi itu ide kamu?" Tanyaku.
"Silvi itu juga yang memuat berita tentang aku di mading?"
Alanta tersenyum. Harus bagaimana aku membalas semua yang dia lakukan padaku. Apa yang bisa kuberikan untuknya.
Kami berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Di ujung jalan ada Silvi yang tampaknya sedang menungguku keluar. Aku dan Alanta menghampirinya.
"Terima kasih ya...Silvi" Ucapku.
Silvi tersenyum.
"Malam minggu besok bisa? Nongkrong gitu" Katanya.
"Boleh"
"Ajak Dinda juga ya"
"Oke"
Pada hari yang ditentukan. Aku sudah ijin kerja hari ini. Memenuhi permintaan Silvi adalah kewajiban menurutku. Sebab dia sudah membantuku hari ini. Masalahku belum selesai. Jessie mungkin akan semakin dendam denganku, orang tuanya mungkin juga masih mencari cara untuk menghukumku. Bagaimanapun mereka bagian dari pondasi sekolah ini. Mereka bisa berbuat apa saja.
Meski masalahku belum selesai betul, setidaknya aku bisa bernafas lega setelah mereka tahu bukan aku yang memulai pertengkaran. Setidaknya itu mempu memperingan hukumanku kelak. Dan itu berkat Silvi yang berani bersuara.
Sebuah cafe yang unik. Banyak tempat yang cocok untuk mengambil gambar. Kami bertiga, Aku, Dinda dan Silvi menikmati musik band remaja yang ditampilkan di cafe outdoor ini. Banyak remaja yang nongkrong di sini. Harga menunya juga cocok untuk kantong remaja.
"Lo sering ya nongkrong di sini sama temen-temen lo?" Tanya Dinda.
"Enggak. Gue gak punya temen" Jawab Silvi santai
"Ha? Masak sih?" Aku menyahut.
"Temen-temen gue anak jurnalistik semua, sekali ngumpul, gali ide, bikin artikel, cari berita, udah" Lanjut Silvi.
"Makanya lo ngajakin kita nongkrong biar punya temen?" Tanyaku.
"That's right. Malam mingguan sama teman kayak gini rasanya. Seneng"
Ya, aku juga baru kali ini merasakan lepas begini. Rasanya setiap beban di pundakku kabur begitu saja.
Terdengar bunyi telepon di hape Silvi. Silvi mengangkatnya. Dia terlihat sangat senang dengan si penelepon. Wajahnya berbinar-binar. Senyumnya merekah. Siapa gerangan yang menelepon.
"Bokap gue..dia ada meeting di sekitar sini. Trus dia ngajakin ketemu" Kata Silvi berbunga-bunga.
"Oh ya udah kita bisa cabut gak papa kok" Kata Dinda.
"Eh gak usah. Cuma bentar kok. Bokap gue itu sibuk banget kerja. Makanya kalo dia ngajakin ketemu kayak gini, harus gue sikat. Jarang banget ketemu soalnya" Kata Silvi.
"Wah persis nih kayak gue. Bokap gue kerja di luar negeri. Jarang pulang. Makanya pas pulang gue mesti nodong dia buat jalan" Sahut Dinda.
Bokap. Mereka begitu banga dengan ayahnya masing-masing. Aku oun punya ayah yang kubanggakan. Namun dia bukan ayah kandungku. Dan sangat jarang bisa kuajak serta. Ah, ide bagus. Sepertinya aku harus sering mengajak Papa keluar. Kurasa dengan sering refreshing, kondisi Papa akan cepat membaik.
"Nah itu dia. Papi!!!!" Silvi memanggil seseorang.
Aku pun menoleh ke arah yang dituju Silvi. Orang itu berjalan cepat menuju tempat kami. Orang yang kulihat waktu itu di gerbang sekolah. Orang uang sangat kutakuti. Orang yang tempo hari menghampiriku di outlet dan dengan terang-terangan menunjukkan niat jahatnya pada keluargaku, terutama Mama. Om Banu. Jadi Om Banu adalah Ayah kandung Silvi? Kenapa ya Tuhan. Kenapa dia harus menjadi ayah kandung dari orang yang menyelamatkanku kemarin. Kenapa anak sebaik Silvi memiliki ayah seperti dia? Dan malam ini kami bertemu dengan situasi seperti ini. Kenapa ya Tuhan? Kenapa?
***