My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kehilangan Lentera



Afrizal berjalan setengah berlari ke arahku. Ia sampai di pintu lebih cepat dari dugaanku. Untunglah. Cukup lama aku meneleponnya namun tak terangkat.


"Pak, biarkan dia masuk, saya yang undang" Kata Afrizal pada satpam.


"Sudah bilang ke Bu Mariana Mas?" Tanya satpam meyakinkan.


"Sudah itu urusan saya" Jawab Afrizal mantab.


Dan karena itulah aku diperbolehkan masuk. Dengan apa aku harus membalas bantuannya ini. Rasanya aku malu atas peristiwa lalu. Pemukulan yang membuatnya berpindah tempat sementara waktu. Di sepupu Alanta, sebelumnya hubungan mereka renggang karena aku. Semoga dengan jalan ini hubungan mereka kembali membaik.


"Kamu tunggu sini. Aku lihat situasinya dulu" Kata Afrizal.


Aku menuruti perkataannya. Aku sadar betul bahwa kehadiranku tidak diinginkan oleh siapapun di sini. Jadi untuk menghadirkanku butuh strategi yang matang. Aku berhenti di ujung lorong. Sementara Afrizal melihat situasi di kamar Alanta. Cukup lama aku menunggu akhirnya Afrizal datang juga.


"Tante Mariana pulang mengambil perlengkapan. Ingat waktumu gak banyak. Jangan terlalu lama" Kata Afrizal mengingatkan.


Aku mengangguk kuat. Sampai di kamar, kulihat Alanta tidak sendiri. Ada Om Ibra yang menemani. Sedangkan Alanta masih menutup mata. Bukankah statusnya sudah sadar? Kenapa dia tidak membuka matanya.


Afrizal membuka pintu pelan-pelan. Aku masih ragu untuk masuk. Pasalnya, kemarin Om ibra pun memintaku untuk tidak berkunjung sementara waktu. Jika hari ini aku muncul, bagaimana reaksi Om Ibra?


"Siang Om" Sapaku.


Om Ibra menoleh dan syukurlah dia tidak tampak terkejut.


"Ayok sini. Lihatlah Alanta. Ayok...support dia" Katanya.


Sungguh aku seperti mendapat air segar di tengah-tengah gurun pasir. Aku duduk tepat di samping Alanta. Sedang Om Ibra dan Afrizal menyingkir sementara. Teringat kata Afrizal, bahwa waktuku tidak banyak. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang sedikit ini.


Pertama-tama kupegang tangannya. Dia merespon dengan menggerakkan jarinya. Perlahan dia membuka mata namun hanya sedikit. Aku tahu dia masih lemas.


"Lan....ini aku..." Kataku berbisik.


Mungkin karena mendengar suaraku ia berusaha membuka matanya lebih lebar. Aku tersenyum.


"Hay...apa kabar?" Aku berusaha memancing.


Alanta tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku lebih erat dari sebelumnya. Ia berusaha menatap wajahku. Tapi aku tahu ia masih sangat lemas. Aku menenangkannya dengan tepukan ringan.


Alanta kemudian menggerakkan tubuhnya. Hal itu membuat Om Ibra dan Afrizal mendekat. Om Ibra mendekatkan telinga pada bibir Alanta dan kemudian mengangkat ranjang agar posisi tubuh Alanta setengah duduk. Akhirnya kami bisa bertatap muka satu sama lain dengan lebih dekat.


"Makasih" Kata Alanta lirih.


Om Ibra terlihat puas karena Alanta sudah mampu berbicara meski lirih.


"Sabar ya, yang kuat. Sebentar lagi sembuh, kita bisa bareng-bareng lagi" Kataku dengan menahan air mata. Hampir saja aku menjatuhkannya di depan Alanta. Tapi kemudian aku sadar, menangis di depan Alanta bukanlah sikap yang bijak. Itu justru membuatnya semakin terpuruk.


"Ros..." Kata Afrizal dengan menunjuk jam di tangannya. Ia sedang mengingatkanku bahwa waktuku terbatas. Aku mengerti.


"Alan..aku harus balik kerja. Nanti pulang kerja aku kesini lagi ya" Kataku.


Alanta menggenggam tanganku lebih kuat lagi, seakan ia tak mau kutinggal. Percayalah Alan, seandainya waktuku tidak dibatasi aku akan menjagamu disini sepanjang waktu.


"Ntar aku balik lagi" Bujukku.


Alanta mengacungkan jari kelingking memintaku mengaitkan jari kelingking kami. Ia memintaku berjanji. Bagaimana aku bisa berjanji, sementara aku belum tentu bisa. Kuturuti permintaannya agar ia tenang. Semoga Tuhan memberi jalan agar aku bisa memenuhi janjiku.


Afrizal mengantarku ke depan. Saat pintu kamar terbuka, aku seakan tersengat listrik dengan daya lebih dari 1500 Volt. Bagaimana tidak, Bu Mariana sudah berdiri di depan pintu. Aku terlambat beberapa menit. Ia menatapku dengan murka. Setelah beberapa kali memperingatkanku, aku justru lebih berani masuk ke ruangan Alanta.


Bu Mariana lantas menoleh ke arah Afrizal.


"Zal??" Tanya Bu Mariana dengan tatapan menuduh.


"Maaf Tante, saya yang ngabarin Rosa


...." Kata Afrizal terbata-bata.


"Mulai besok kamu nggak usah datang kesini lagi" Kata Bu Mariana dengan berlalu.


Afrizal menunduk sejenak, tetapi kemudian ia berlapang dada dengan keputusan Bu Mariana. U justru yang tidak enak. Karena aku kurang pandai dalam mengatur durasi, Afrizal kena getahnya. Ia dilarang menemui Alanta sama denganku. Aku memandangnya dan dia mengangguk menenangkanku.


Hari-hari berikutnya aku hanya melihat Alanta dar kejauhan. Setiap hari Alanta mengalami perkembangan yang baik. Aku selalu berusaha untuk mengintip meski diam-diam. Sampai aku hafal rutinitasnya. Pagi ia berjemur di halaman, siang terapi, sore menatap jendela, malam istirahat. Dan disela-sela itu ada jadwal konsultasi dokter namun jadwalnya tak menentu.


Melihatnya dari bawah saja sudah membuatku senang. Aku nyaman seperti ini meski hanya melihat tanpa menyentuh atau mengobrol. Aku seperti pencuri yang mengendap-endap untuk melihatnya, dan bersembunyi ketika Bu Mariana datang. Biarlah kulakoni sementara ini.


"Hai"


Aku dikejutkan oleh seseorang yang menghampiriku. Jantungku berdegup kencang saat ia mengejutkanku. Aku takut ketahuan. Vania. Ia masih mengingatku.


"Sabar ya..." Katanya pertama kali.


Aku mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tiba-tiba menemukanku. Selama ini aku tidak pernah melihatnya di rumah sakit. Padahal Alanta sudah dirawat sebulan lebih. Tiba-tiba saja dia muncul di sampingku.


"Alan....sering nanyain kamu" Katanya lirih.


Mataku nanar menatapnya. Hatiku berbunga ketika dia mengatakan itu. Alanta menanyakanku, dia merindukanku. Itu saja sudah cukup. Tinggal menunggu dia pulih. Dia pasti akan mendatangiku.


"Setiap detik...setiap saat, sampai akhirnya dia tahu, kamu ....meninggalkannya" Katanya lirih.


Baru saja aku melayang tinggi ke langit, sekarang aku remuk mendengar kalimat selanjutnya. Aku tidak berniat meninggalkannya. Sama sekali aku tak ingin. Seandainya ia tahu aku berusaha keras agar bisa menemuinya.


"Van...Alanta...berpikir bahwa aku meninggalkannya karena dia sakit?" Aku bertanya.


"Ya ..sepertinya...ia menganggap kamu ingkar janji" Katanya.


"Van...bisakah kamu sampaikan ke dia...bahwa aku selalu berada di sekitarnya...aku selalu menunggu...."


Ah, jika Vania mengatakan itu, maka Alanta akan berpikir bahwa aku tidak mau menemuinya. Lebih lanjut ia akan menanyakan alasannya. Dan itu akan membuatnya semakin terpuruk.


"Ah tidak Van... Tolong hibur dia. Katakan bahwa aku akan datang setelah pekerjaanku selesai"


"Dia tidak mau makan" Kata Vania lagi.


Kalimat ini membuatku tercengang.


"Tidak mau makan?" Tanyaku memastikan


"Hm, terapi pun sepertinya ogah-ogahan. Dia seperti kehilangan cahaya. Pandangannya sering kosong. Entahlah" Lanjutnya


Apa yang sebenarnya Alanta pikirkan. Selama ini aku mengenalnya sebagai pria yang pantang menyerah. Pria yang kuat yang selalu melindungiku dengan caranya sendiri. Kali ini ia seperti kehilangan lentera. Berjalan di tengah kegelapan tanpa ada cahaya.


Lelakiku tengah berjuang, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.


***