
Klonteng...pagar berbunyi, artinya Mama pulang. Malam ini dia tidak terlalu larut sudah pulang. Sekitar pukul sepuluh malam. Aku mengintip dari balik jendela kamarku. Mobil itu lagi. Seseorang mengantar Mama pulang. Tapi kali ini aku cukup terkejut dengan apa yang kulihat. Mama keluar dari mobil diikuti oleh seorang pria. Itu masih biasa. Yang mengejutkan adalah, mereka berciuman tepat di atas pagar. Mama tidak hanya mabuk, tetapi dia juga sudah berselingkuh. Oh Papa, kasihan sekali dia. Istri yang sangat dia cintai ternyata bermain di belakangnya.
Aku sengaja turun ke ruang tamu untuk melihat bagaimana reaksinya jika menyadari aku masih terjaga. Lampu kunyalakan. Aku berpura-pura membereskan barang-barang di meja. Benar dugaanku. Mama terkejut dengan kehadiranku. Heran, padahal hampir setiap malam aku tidur larut dia masih saja kaget melihatku masih belum tidur.
"Sudah berapa kali kubilang jangan nunggu aku pulang" Kata Mama ketus.
"Aku hanya memastikan Mama pulang dengan aman. Rosa lega Mama pulang ada yang antar"
"Oh ya? Aku juga mastiin nih, kalau anak panti di rumah ini tidak ikut campur urusan saya" Katanya dengan menarik lenganku. Harus kuakui tatapan matanya yang tajam membuatku bergidik. Tatapan itu bahkan mampu membuat tubuhku lemas. Apalagi cengkeraman tangannya cukup membuatku meringis.
"Bagaimana kalau Papa tahu?" Tanyaku ragu.
"Dia tidak akan tahu selama tidak ada yang memberitahu" Mama melempar lenganku sampai tubuhku mundur beberapa langkah.
Tidak. Kurasa Papa juga tidak perlu tahu hal ini. Hatinya akan hancur, hidupnya akan berantakan dan apa lagi? Monica pun tidak boleh tahu. Itu tidak baik untuk perkembangannya. Anak sekecil itu tidak boleh mengenal sebuah perselingkuhan.
***
Hari ini aku mendapat shift sore. Mendadak rekan kerjaku menelepon untuk minta pergantian jadwal shift khusus hari ini karena ada kepentingan lain. Aku menerima dengan sukarela. Toh aku free setiap hari. Lumayan lah waktuku sedikit longgar untuk mengurus Papa dan mengantar Monica ke sekolah.
Telepon berdering. Rupanya Dinda yang menelepon.
"Ya Din?"
"Ros, beneran lo gak daftar sekolah bareng gue? Ini hari terakhir loh" Kata Dinda dari seberang sana.
"Ya Din, lo duluan aja, good luck ya"
"Ah Ros, walaupun gak di First gak papa, yang penting sekolah Ros, ntar lo jadi tahu materi pelajarannya"
"Hahaha jadi ada udang di balik batu nih?"
"Ya nggak juga hahaha...ayolah!!"
"Udah lo daftar duluan sana"
Telepon ditutup. Jujur sebenarnya aku pun ingin mendaftar sekolah. Tapi terlalu banyak batu-batu yang menghalangi. Hari ini hari terakhir pendaftaran sekolah. Selanjutnya adalah registrasi. Tentu akan memakan banyak biaya. Uangku belum cukup untuk itu. Lagipula Papa membutuhkan biaya untuk kontrol setiap bulan. Belum obat dan terapinya. Sementara Mama tidak rutin memberikan uang. Entah kemana uang hasil dia bekerja.
"Kamu yakin, tidak mau menuruti kata teman kamu?" Aku terkejut mendengar suara Papa dari belakangku. Rupanya Papa mendengar pembicaraanku dengan Donda di telepon. Aku berjongkok di hadapannya.
"Papa kecewa gak kalau Rosa gak bisa ngelanjutin sekolah? Kalau Rosa menjadi anak yang tidak berpendidikan?"
"Sekolah hanyalah hitam di atas putih nak. Pendidikan bisa ditempuh melalui jalur apa saja. Pernahkah kamu mendengar, bahwa di tempat sampah ada ilmu? Papa sama sekali tidak kecewa. Tapi Papa merasa sangat tidak berguna jika kamu sampai putus sekolah Nak"
Ya, aku pernah mendengar ungkapan itu. Banyak orang sukses meski tidak memakan bangku sekolah. Banyak sarjana pengangguran. Banyak pula yang hanya lulusan SD memiliki bisnis yang maju. Semua tergantung kegigihan pribadinya. Tapi jujur, bagiku sekolah adalah jembatan yang paling pas untuk menuju kata sukses. Sebab bukan soal ilmunya, bukan soal materi, tapi attitude dibentuk di bangku sekolah. Aku sangat ingin sekolah. Sangat. Tapi apa daya.
"Yes, akhirnya kami datang juga, aku dah telat nih, aku pulang ya" Kata Mbak Susi, rekan kerjaku.
Aku mengangguk. Sebenarnya di outlet ini ada beberapa karyawan, tapi Mbak Susi lebih mempercayakan kasir padaku. Menurutnya aku punya tingkat konsentrasi yang tinggi. Tadinya Mbak Susi sudah keluar, tapi kemudian dia kembali lagi.
"Ros aku lupa, ada titipan di laci bawah. Kamu ambil sendiri ya, aku buru-buru nih" Kata Mbak Susi lalu keluar lagi.
Laci bawah. Artinya di bawah laci kasir. Kubuka laci yang berada tepat di bawah laci kasir. Sebuah amplop putih lebar. Kubuka amplop itu, brosur berikut formulirnya. Aku yakin Dinda yang menitipkannya untukku. Dia masih mengharapkan aku untuk daftar di sekolah dimana dia akan bersekolah, First Internasional School. Kubiarkan saja brosur itu di dalam laci.
Tulalit...tulalit....
Itu SMS dari Dinda. Tak berapa lama teleponku berdering.
"Apa?"
"Beneran gak mau daftar? Ada perpanjangan waktu sampai ntar jam 5 sore loh"
"Hehehe...segitunya kamu pengen aku sekolah di sana"
"Ya lo kan tahu aku sulit punya temen baru. Kalo ada lo kan enak adaptasinya"
"Bilang aja enak nyonteknya"
"Hih kamu!"
Puas rasanya meledek Dinda. Dia justru terkekeh mendengar candaanku. Aku tahu kesulitan yang sedang ia hadapi. Tapi bagaimanapun dia harus belajar mandiri. Belajar untuk tidak tergantung pada orang lain.
"By the way makasih yaa, kamu perhatian banget sama aku sampai kirim brosur plus formulirnya segala" Kataku dengan memandangi brosur dalam laci yang masih terbuka.
"Ha? Brosur apa? Formulir apa?"
"Brosur....First School, kamu kan yang nitip ke Mbak Susi tadi?"
"Kagak!! Lo katanya gak mau ya udah gak gue mintain. Kalo mau, baru gue mintain ke kantor. Mau?"
"Eh enggak...enggak. trus siapa yang kasih dong?"
"Tau!!"
Siapa? Clara? Apakah dia juga ingin aku satu sekolah dengannya? Ya, aku yakin pasti dia. Tapi untuk apa? Bukankah dia membenciku? Apakah karena balas budi lagi? Setelah waktu itu aku tidak melakukan apapun untuknya, lalu balas budi apa? Clara, dia memang aneh. Satu sisi dia ingin aku menjauh. Sisi lain dia ingin aku dekat dengannya.
Jam 9 malam. Outlet tutup. Cepat-cepat aku membereskan keuangan harian. Setiap kali shift sore selalu saja aku yang paling akhir. Anak-anak lainnya selalu pulang lebih cepat. Urusan keuangan memang butuh waktu lama. Sebuah motor berhenti di depan outlet. Aku segera keluar untuk memberitahukan bahwa outlet sudah tutup.
"Maaf Mas...sudah tu..." Belum selesai aku bicara segera kuhentikan langkahku. Aku tahu siapa yang datang. Alanta.
"Memang saya nunggu tutup Mbak" Katanya sambil tersenyum.
"Ngapain kamu kesini?"
"Mau jemput teman lama saya, yang sudah kangen berat sama saya Mbak"
Gila, aku mau marah malah senyam senyum dengar omongannya.
"Ya udah tunggu bentar. Tapi langsung pulang. Jangan mampir-mampir, okay?"
"Beli cilok bentar tapi boleh kan?"
"Bawa anak gadis orang malam-malam bisa digrebek bang"
Dia tertawa.
***