
Berbicara tentang cara Tuhan bekerja memang tidak bisa terpikirkan oleh akal kerdil manusia. Dia selalu punya cara yang unik untuk mengatur hambaNya. Aku sendiri merasakan hal itu. Sebelumnya bekerja sebagai waiters sungguh menguras tenagaku, sebab harus bolak balik ke dapur dan ke depan, belum lagi meja lain minta dilayani. Sekarang tugasku hanya duduk dan mengisikan data. Lalu jam tujuh malam merekap data. Begitu saja.
Dua bulan aku bekerja di perusahaan finansial milik keluarga Alanta. Suasana yang santai di antara para pekerjanya kurasa aku akan bertahan lama di sini. Sebagian besar karyawan di sini adalah para pelajar dan mahasiswa. Mereka berbagi waktu antara bekerja dan belajar.
"Rosa, sudah makan?" Afrizal bertanya padaku suatu sore.
"Oh gampang Mas" Jawabku.
"Berarti belum? Barengan ya" Katanya lagi.
Ini bukan yang pertama kali. Kira-kira ada enam atau tujuh kalinya dalam dua bulan aku bekerja di sini. Pertama dan kedua kupikir kebetulan saja, tetapi makin kesini aku makin merasa tidak enak. Mungkin dia bermaksud mengistimewakan aku karena aku dekat dengan keluarga Bu Mariana. Bagaimana jika yang lain merasa iri atau dianak tirikan?
"Aku....mi goreng aja" Jawabku ketika Afrizal bertanya.
"Gak makan nasi? Diet?" Tanya Afrizal.
"Gak lah, udah mau malam, kurang enak aja" Jawabku ngasal.
Kami berada di tempat makan tak jauh dari kantor tempat kami bekerja. Selain kami ada beberapa karyawan yang juga makan di sini tapi tidak satu meja. Semua tampak baik-baik saja, dan seakan pemandangan yang biasa jika aku satu meja dengan Afrizal. Yah, semoga saja begitu.
"Sekolah kamu gimana? Gak keganggu kan kalo sambil kerja" Katanya begitu makanan tersaji di antara kami.
"Udah biasa Mas"
"By the way, emang beneran kamu pacaran sama...Alanta"
Mengucapkan nama sepupunya sendiri entah kenapa sepertinya begitu ragu.
"Hm" Aku mengangguk malu.
"Emmm oke ....kalo boleh tahu, apa sih yang kamu suka dari Alanta?"
"Oh hehehe...kok tiba-tiba nanya gitu sih Mas"
"Oh...ya gak papa, cuma nanya aja"
Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan yang tak pernah kusangkaka ada.
"Hmm, saya rasa kalo orang cinta itu nggak perlu ada alasan deh. Kalo cinta ya cinta aja. Gak perlu karena apa-apa kan....menurutku sih..."
Mendengar itu Afrizal tertawa ringan seakan ada yang tidak pas dengan jawabanku.
"Ya aneh aja sih. Misal ya, ini misal lo, kalo aku suka kamu, karena kamu anaknya supel, rajin dan gak neko-neko. Mustahil kalo kamu cinta seseorang tanpa adanya alasan" Tukas Afrizal.
Aku menunduk dengan senyum. Dia memang benar. Kebanyakan manusia memang memiliki pemikiran seperti itu.
"Jadi...kalo aku mendadak gak rajin lagi, kamu juga gak suka dong"
Sejenak Afrizal berpikir sebelum ia melanjutkan bicara.
"Yaa nggak gitu...yaa begitu...ehm...ya gitu lah pokoknya"
"Kalo aku, apapun yang terjadi pada Alanta, nggak akan menyurutkan cintaku ke dia. Aku yakin dia juga begitu"
"Wah"
"Kenapa?"
"Boleh nggak kalo aku bilang kalian itu...lebay?"
"Terserah aja sih, kan nggak ngaruh juga di hubungan kami?"
"Waw....hehehe...yups. kalian memang beda dengan pasangan kebanyakan"
***
Masih tentang Afrizal. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Dia sedikit aneh. Terkadang dia baik padaku, tapi sejam kemudian dia berubah tegas dan sedikit galak menurutku. Contohnya sore ini. Aku melihat Juwi, rekan kantor yang sudah lama bekerja di sini, dari SMA sampai sudah menjadi mahasiswa, ia sedang menaruh sesuatu di meja Afrizal. Kurasa itu bukan berkas. Aku tidak begitu jelas melihat karena kantong plastiknya berwarna hitam.
Sebenarnya aku tidak terlalu peduli apa isi kantong hitam itu, kalau saja Afrizal tidak memberikannya padaku.
"Sudah makan?" Tanya Afrizal.
"Ini mau ke warung" Jawabku
"Nggak usah ke warung, makan ini saja" Katanya.
Itu adalah benda yang diletakkan oleh Juwi tadi. Ternyata isinya nasi kotak satu buah. Oh, mungkin Afrizal memang memesan itu pada Juwi. Tapi kenapa hanya satu, itupun diberikan untukku.
"Bawa pulang aja gak papa" Lanjutnya.
"Oh iya Mas" Jawabku
Aku meletakkannya di mejaku dan meneruskan pekerjaanku. Yang tadinya aku akan keluar ke warung, terurungkan dengan nasi kotak ini.
Satu jam kemudian.
"Semuanya, tolong perhatikan sebentar, kita sudah berada di akhir bulan, semua laporan harus sudah siap besok lusa. Bagaimana? Apa ada kendala?" Tanya Afrizal sebagai seorang pimpinan.
"Siap Mas ..nggak ada Mas .." Jawab seorang karyawan.
"Tolong jangan sampai ada yang belum siap ya, apalagi Rosa, ingat kamu pegang data nasabah yang mengajukan pinjaman, itu cukup rumit karena ada survey lapangan yang harus dimasukkan. Makanya kalau kerja jangan sambil makan, kamu harus fokus. Contoh karyawan lain yang sudah lama kerja di sini. Ngerti ya!"
Lah, bukannya kotak itu tadi dari dia. Aku juga gak akan makan sambil kerja kalo gak dia yang suruh. Kapan aku pernah begitu. Sumpah, dia galak banget saat ini. Berbeda seratus persen dari sejam yang lalu.
Aku mencoba untuk sportif. Bagaimanapun aku adalah seorang karyawan yang harus siap menerima kritikan apapun demi kemajuan. Aku hanya mengangguk pasrah meskipun aku merasa tidak bersalah.
Setelah karyawan bubar, semua kembali ke meja masing-masing. Sebagian berkerumun di satu meja. Mereka pasti sedang membicarakan Afrizal yang marah-marah secara tiba-tiba sore ini. Juwi kemudian menghampiri aku. Dia memanjangkan lehernya demi melihat nasi kotak di mejaku.
"Sorry, itu tadi...Mas Rizal yang....." Kataku.
"Ya, ngerti kok, aku lihat tadi" Katanya datar.
Juwi kemudian meninggalkanku yang penuh tanda tanya. Sepertinya Juwi hanya penasaran kenapa kotak itu ada di mejaku. Tapi kenapa dia tidak berkomentar apa-apa. Kenapa dia tidak marah atau kecewa. Atau komentar lain yang positif. Keduanya aneh. Juwi dan Afrizal aneh.
Masih tentang sore yang aneh. Jam tujuh malam kami bersiap pulang. Semua karyawan satu per satu pulang. Kantor menjadi sepi dengan kepulangan mereka. Aku pun sudah siap untuk pulang saat Afrizal menghampiriku. Jujur aku takut dia mendatangiku. Aku takut dia marah-marah seperti tadi. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang.
"Rosa" Panggilnya.
"Ya Mas?"
"Saya antar pulang ya"
Ini kali pertama dia mau mengantarku pulang. Kenapa tiba-tiba begini. Apa dia lupa sudah mempermalukan aku di depan karyawan yang lain.
"Maaf Mas, aku naik ojek aja" Jawabku hati-hati.
"Nggak papa, sekalian aku mau ke Apotik searah dengan rumah kamu" Katanya.
Apotik sekitar sini banyak kenapa harus Apotik yang searah dengan rumahku.
"Anh Mas....aku..." Aku hendak menolak tetapi Afrizal sudah kepalang membukakan pintu mobil. Jadi mau gak mau aku pun masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan kami hanya terdiam. Aku sengaja tidak membuka obrolan karena aku masih takut dengannya yang tiba-tiba marah seperti tadi. Semua berjalan dengan diam. Tanpa ada obrolan. Hanya deru mobil yang terdengar sepanjang jalan.