My Name Is Rose

My Name Is Rose
Ada Apa Dengan Dinda #2



Hari kedua. Dinda masih belum masuk. Kemarin aku mengunjunginya, Mamanya mengatakan dia sedang istirahat dan tampaknya memang sakit ringan. Tapi nyatanya hari inipun dia belum masuk. Apalah dia sakit lagi.


Waktu istirahat aku mencoba meneleponnya..teleponnya nyambung tapi tidak diangkat. Ah dia benar-benar sakit kurasa. Apakah aku harus menjenguknya lagi? Duniaku rasanya kosong tanpa sahabatku itu. Ayolah Dinda setidaknya beri aku kabar.


Jari ketiga. Masih seperti kemarin. Dinda belum masuk. Kuberanikan diri maju menuju guru di depan kelas.


"Bu maaf, apa ada surat keterangan dari Dinda? soalnya ini hari ketiga Dinda tidak masuk" Tanyaku


"Tidak ada, mungkin di biro administrasi" Kata Bu Guru.


Aku tidak mungkin ke biro administrasi sekarang. Tidak mungkin diijinkan juga. Aku hanya bisa duduk diam menunggu kabar datang. Duh, Dinda, kamu kemana?


Hari keempat, sedikit ada titik terang. Aku kembali bertanya pada guru di depan apakah ada surat keterangan dokter atau apapun dari pihak Dinda. Jawabannya mencengangkan.


"Loh di absen sudah tidak ada nama itu" Kata Guru.


Tidak ada? Dinda tidak ada di absen kelasku? Dinda pindah sekolah? Yang benar saja. Untuk bisa masuk ke sini dia sudah mati-matian, mana mungkin keluar begitu saja. Ada apa sebenarnya. Ataukah Dina dikeluarkan karena sudah tiga hari tidak masuk? Bukankah Mamanya kemarin datang kesini. Tidak bisa. Aku harus ke rumahnya nanti.


Aku datang ke rumahnya tetapi masih sama seperti kemarin. Rumahnya tutup, mobilnya tidak ada.


"Gak di rumah Non, sedang keluar sama Ibu" Kata pembantu rumah tangga Dinda setelah kugedor pagar rumahnya.


"Oh keluar ya Mbak, kalo boleh tahu, Dinda masih sakit?"


"Tidak Non"


"Oh oke terima kasih"


Aku mencoba menghubunginya tapi tetap sama, teleponnya nyambung tetapi tidak diangkat. Aku mengirim SMS untuknya bahwa aku ingin bicara, setidaknya aku ingin tahu apakah yang sedang ia alami. SMS itupun tak pernah terjawab hingga dua hari.


Sampai tiba waktunya semua terkuak. Pagi saat semua siswa sedang berangkat. Aku melihat dari kejauhan Dinda masuk ke sekolah melalui gerbang samping yang tersambung dengan parkiran motor. Kuikuti Dinda, dia tampak seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi.


"Din...!!" Panggilku.


Tampaknya suaraku tak terdengar olehnya. Dina menuju tangga ke arah lantai dua tapi bukan kompleks kelasku. Kembali aku memanggilnya namun juga tak ada jawaban. Aku setengah berlari mengejarnya.


Aku melihat dia masuk ke kelas lain. Sama-sama kelas satu tapi beda ruangan denganku. Dia duduk di samping seorang siswa. Apakah karena siswa itu? Apakah dia pacarnya? Kenapa Dinda tidak pernah cerita soal ini.


Aku cukup melihatnya dari kejauhan. Yang jelas, Dinda pindah kelas. Dia tidak lagi satu ruangan denganku. Ada sesuatu yang hilang dari hidupku hanya dengan pindahnya Dinda ke kelas lain. Hari-hariku akan terasa begitu hampa. Pertanyaan terbesar yang ada di benakku adalah, apa masalahnya? Adakah hubungannya denganku?


Sudah kurencanakan, aku akan menemuinya sepulang sekolah. Begitu bel berbunyi, dan guru keluar kelas, aku berlari menuju kelas dimana Dinda pindah. Aku tidak menggunakan lift, terlalu lama, aku menggunakan tangga manual meskipun menguras tenaga tapi lebih cepat dari naik lift. Belum lagi antrinya.


Aku sampai di kelas Dinda tepat waktu. Kelas Dinda masih berdoa. Sambil menahan nafas yang terengah-engah aku menunggu tepat di depan pintu. Guru keluar diikuti oleh para murid. Kulihat Dinda masih membereskan barang-barang ke dalam tas. Kulihat pula dia sedang ngobrol asyik dengan pria di sampingnya. Kurasa benar, pria itu pacarnya.


"Dinda" Panggilku tepat saat Dinda keluar kelas. Dinda tampak terkejut dengan kehadiranku.


Kami duduk di bawah pohon damar di taman sekolah. Sekolah masih ramai sebab banyak siswa yang ikut organisasi, keterampilan maupun bimbingan. Sekolah ini sudah menerapkan full day school. Jika mengikuti banyak kegiatan ekstra bisa-bisa jam 7 malam baru pulang.


Kami duduk berdua. Sambil sesekali menyeruput es jeruk manis, kulihat Dinda menunduk. Ada sesuatu yang jelas terganjal di hatinya, aku tahu itu.


"Baru empat hari ini" Jawabnya.


"Kenapa?"


"Ini keputusan Mama"


"Iya tapi apa alasannya?"


Dinda masih menunduk belum menjawab, dan aku harus bersabar dengan itu.


"Mama melarang aku berhubungan dengan kamu" Jawaban yang mengejutkan.


Bagaimana bisa, bukankah Tante Santi sangat menyukaiku, bahkan dia sudah menganggapku sebagai putrinya sendiri. Lupakah dia bahwa akulah yang menyebabkan Dinda busa masuk ke First, sekolah uang diidam-idamkan Mamanya. Kenapa jadi begini?


"Salahku apa Din?" Aku penasaran.


"Bukan kamu yang salah, tapi aku"


"Ha?"


"Aku yang terlalu semangat mengejar cita-citaku, Mama tahu aku mengikuti komunitas seni rupa, Mama kemudian memindahkanku ke kelas lain, karena dia menganggap kamulah uang membuatku begitu semangat menggambar" Dinda menjelaskan dengan menitikkan air mata. Aku tahu dia terpaksa. Aku tahu ini bukan keinginannya.


Aku memeluknya. Dia menangis sesenggukan di pundakku. Kenapa setiap persahabatanku berakhir di tangan orang tua. Dia menangis karena dua hal. Karena gagal menekuni bakatnya, dan karena berpisah denganku. Aku tahu betapa sulitnya dia untuk memperoleh teman baru.


"Aku gak bisa gambar lagi Ros!! Semua alat-alat lukisku sudah disingkirkan semua!!" Katanya.


Aku hanya bisa mengelus pundaknya. Toh aku juga tidak punya solusi untuknya.


"Pelan-pelan ya Din, nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu akan bisa menentukan jalanmu sendiri. Tidak akan ada yang bisa mengendalikan keinginanmu lagi. Tinggal selangkah lagi, kamu pasti bisa. Untuk sekarang lebih baik kamu ikuti dulu orang tua kamu. Jangan ngelawan. Khawatir itu justru akan membuat jalanmu jadi buntu"


Dinda manggut-manggut dengan masih sesenggukan.


"Kamu jangan sedih. Meski kita beda kelas, kita masih bisa berteman bukan?" Tanyaku.


"Asal tidak ketahuan Mama"


Aku mengangguk. Angin berhembus menjatuhkan daun-daun kering. Hawa terasa hangat menerpa tubuh. Suara sesenggukan Dinda masih terdengar meski lirih. Satu lagi sahabatku akan menjauh dariku. Bagaimana aku bisa menjalaninya.


Kami berpisah. Begitu berat rasanya dia melepasku. Aku tahu dia begitu banyak bergantung padaku. Dan sekarang dia harus sendiri. Kuharap ini awal yang baik untukku juga untuknya. Memang seharusnya dia mampu berdiri sendiri tanpa aku. Setidaknya aku tahu dia masih menganggapku teman, tidak seperti pengalamanku bersama Rania yang berkahir dalam kebencian. Meski raga kami berpisah jauh, setidaknya kami masih berteman.


Dinda, rasanya begitu berharga dia setelah kami berpisah. Tanpa dia aku tidak tahu dengan siapa aku beradaptasi dengan sekolah ini. Tanpa Dinda, aku seakan tak berguna. Dia uang membuatku menjadi manusia yang bermanfaat. Dinda, kapan lagi aku bisa bersama seperti hari ini. Mulai esok kami harus menjaga jarak meski hati kami saling terpaut.


Dinda, kuharap kau tidak melupakanku, tidak membenciku, tidak menghilangkanku dalam ingatanmu.


***