My Name Is Rose

My Name Is Rose
Pemecatan



"Kamu gak sekolah Ros?" Tanya Papa ketika melihatku tidka berseragam sekolah.


"Tanggal merah Pa" Jawabku sambil terus berdandan.


"Trus ini mau kemana?"


"Kerja Pa. Lumayan buat tambah uang jajan"


Kucium takdzim tangan kirinya, sebab tangan kanannya masih belum normal. Sarapan sudah kusiapkan. Monica masih tidur efek hari libur. Mama pun demikian. Kebiasaannya pulang larut masih belum berubah.


Seperti artikel yang kubaca, banyak orang sukses berawal dari kerja keras di man seakan dua pulih empat jam waktunya untuk bekerja. Ketika kerja kerasnya mulai membuahkan hasil, mereka tak lantas puas dan menikmati jerih payahnya. Mereka justru banting tulang lebih keras lagi sehingga usahanya semakin besar dan besar. Masa dewasanya tinggal menikmati.


Yah, masa laluku yang serba terbatas, akan kuputus mulai dari diriku sendiri. Keturunanku kelak, harus lebih sejahtera daripada aku. Inilah yang sedang kulakukan. Waktu libur tak lantas membawaku ke tempat tongkrongan anak muda. Aku harus menghemat. Hemat uang, hemat waktu.


Aku sampai di outlet tepat waktu. Tepat saat teman-temanku berbenah. Aku segara berganti seragam dan membantu mereka.


"Ros,. Kamu dicariin Pak Deni" Kata salah satu temanku.


Pak Deni? Tumben sekali beliau ke outlet. Jika beliau sampai mengunjungi outlet berarti ada yang penting. Mungkin outlet akan dibooking oleh seseorang, atau mungkin ada produk baru yang mau launching.


"Pagi Pak" Sapaku.


"Silahkan duduk" Jawab Pak Deni.


Pak Deni bukan pemilik outlet ini, beliau hanyalah karyawan sama seperti kami, tetapi dia memiliki hak atas pengaturan outlet, dia juga berhak menerima atau memberhentikan karyawan.


"Sampai detik ini saya masih tidak percaya, tetapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa" Kata Pak Deni.


"Maksud Bapak?"


Pak Deni memberikan sebuah map warna kuning. Aku membukanya setelah Pak Deni mempersilahkan. Kubaca dengan teliti karena Pak Deni tidak mau menjelaskan apa isinya. Doa justru memintaku membacanya sendiri.


Deg. Roboh pertahananku membaca surat itu. Aku lesu. Air mataku tak sanggup kutahan.


"Saya salah apa Pak?" Aku bertanya sambil menahan tangis yang terus menerus menerobos keluar.


"Saya juga tidak tahu. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Direktur langsung yang memerintahkan"


Direktur? Aku bahkan belum pernah melihat langsung wajahnya. Jadi bagaimana mungkin aku berbuat kesalahan dengan beliau. Ya, aku dipecat tanpa keterangan yang pasti. Aku tidak merasa pernah melakukan kesalahan. Bahkan Pak Deni yang berhubungan langsung denganku juga tidak merasa aku melakukan kesalahan. Jadi bagaimana bisa tiba-tiba aku dipecat.


Aku keluar ruangan dengan lesu. Teh Atih, teman kerjaku dari Bandung, segera menghampiriku dengan wajah girang.


"Kumaha neng? Dapat bonus berapa atuh?" Tanya Teh Atih.


Aku menggeleng. Mungkin dia berpikir Pak Deni memanggilku untuk memberikan bonus atas kerja kerasku.


"Teh, Rosa minta maaf ya kalo ada salah" Kataku demi menjawab pertanyaannya.


"Lah, kok ngomong gitu atuh. Naon neng gelis..."


"Mulai hari ini Rosa berhenti kerja"


"Ha? Aya naon neng? Cari kerjaan susah, naha pakek berhenti kerja segala"


Aku tidak bisa lagi menjawab. Kuserahkan surat pemecatanku padanya. Mulutku rasanya terbungkam. Leherku tercekat, seakan aku tak mampu bicara.


Teh Atih melongo tak percaya. Sama sepertiku yabg tak percaya hari ini akan tiba. Aku yakin jika teman-temanku tahu juga pasti bereaksi sama. Kami semua solid. Saling melengkapi, saling mengingatkan, dan saling berupaya bersikap dewasa. Aku tidak punya musuh di tempat kerjaku ini. Jadi tidak mungkin juga ada yang memfitnahku di belakang.


"Pulang cepat Ros?" Tanya Papa.


"Iya Pa, outlet mau direnovasi Pa, jadi sebulan kedepan Rosa libur" Kataku mengawali.


"Oh gitu. Gak papa, biar kamu istirahat Nak" Kata Papa.


Alu mengangguk. Aku harus cari kerja lain untuk menyambung hidup. Aku masih penasaran kenapa aku dipecat. Siapa yang merekomendasikan itu pada atasanku. Uang pesangon yang kuterima rasanya cukup untuk bertahan selama satu bulan ke depan. Huft. Aku menghela nafas panjang.


Di sekolah. Aku kembali berhadapan dengannya, Clara. Dia tersenyum sinis menyambut kehadiranku. Berikut ketiga temannya. Aku tak ingin mempedulikan. Aku lantas masuk ke dalam kelas sampai mereka menghentikanku.


"Masih gak percaya dengan apa yang nisa keluarga gue lakuin?" Kata Clara.


Dengan kalimat itu aku langsung berhenti. Inikah serangan balasan dari Clara? Aku berbalik badan dan menatapnya.


"Itu balasan buat orang yang berani ngelawan keluarga gue" Lanjutnya.


Aku semakin mendekat dengannya. Masih tak percaya bahwa mereka melakukan sejauh ini. Ya, Nyonya Hamdani yang membuatku dipecat dari pekerjaanku. Begitu besar pengaruh keluarga mereka sampai mampu membuat seseorang kehilangan pekerjaan.


"Gak tahu malu, gue satu orang dikeroyok empat orang, plus nyokap lo. Segitu kecilnya ya nyali lo, gak berani ngelawan gue seorang diri. Pengecut!!" Aku meluapkan kekesalanku.


"Apa lo bilang?" Clara hampir mencekik leherku tetapi teman-temannya mencegah.


"Udah udah Cla... Lo udah ditunggu Bu Yuni. Ntar lo telat" Kata Stella.


Clara memandangku dengan sinis. Akupun membalas dengan pandangan tajam. Dia marah, aku juga marah. Mereka berlalu meninggalkanku dengan kemarahan yang tersisa.


Hari ini adalah pelaksanaan olimpiade tingkat Kota. Clara sudah bersiap menggunakan jaz almamater. Bagaimana ini, aku sudah berjanji dengan Alanta akan datang di acara itu untuknya. Tapi bisakah aku memberinya semangat sementara pertahananku sendiri sudah rapuh. Aku sudah roboh dengan segala hal yang kualami hari-hari ini.


Hari sudah siang. Kupikir acara sudah hampir selesai. Aku berniat untuk tidak datang. Rasanya benar, seharusnya aku tidak terlalu dekat dengan Alanta. Inilah yang menyebabkan keluarga Clara menyerangku habis-habisan. Aku memang harus menjauh dari Alanta.


Aku akan pulang. Aku melihat Silvi berlari dari luar sekolah. Dia berhenti sejenak menghampiriku.


"Ros, gak lihat olimpiade?" Tanya Silvi.


"Nggak, lagi buru-buru pulang" Jawabku.


"Kesana yuk, sama aku. Bentar aku ambil kamera dulu di loker"


Tanpa mendengar jawabanku Silvi berlari mengambil kameranya. Dia cepat datang dan menggelandang tanganku menuju mobilnya. Aku bersyukur sopirnya yang mengemudikan mobil, bukan Papanya. Sampai detik ini aku tidak bercerita tentang perselingkuhan Papanya dengan Mamaku.


Suasana di gedung ramai dengan sorak sorai para supporter. Tampaknya memang belum berakhir. Silvi mengambil tempat tengah karena memang berniat mengambil sejumlah gambar untuk keperluan artikelnya. Aku mengambil posisi paling belakang. Aku tidak ingin terlihat mencolok oleh Alanta maupun Clara. Aku ingin mendukung diam-diam. Karena ku sudah bertekad untuk menjauh dari Alanta.


Perlombaan dilanjutkan. Tim dari First Internasional School berhasil masuk ke babak final. Alanta dan Firman terus menerus menjawab soal. Ada yang tepat dan ada yang salah. Mereka begitu semangat. Alanta masih belum menyadari kehadiranku. Sampai akhirnya di pertanyaan terakhir.


Suasana mendadak hening. Para finalis sedang sibuk menghitung. Soal itu persis dengan soal yang kami bahas sebulan lalu. Hanya berbeda angka. Aku menunggu Alanta menjawab. Aku ikut gugup meski tidak ikut menjadi peserta.


"Minus tiga" Alanta menjawab.


Pembawa acara masih melihat kunci jawaban.


"Benar" Katanya kemudian.


Lantas seluruh supporter berdiri memberi tepuk tangan, ada yang bahkan melompat, ada pula yang bersiul. Teman-teman Alanta menghambur memeluknya. Disitulah ia melihatku. Dia menyadari kehadiranku. Aku segara keluar dari gedung. Sudah cukup. Sudah cukup kuberikan dukungan, meski dengan diam.


***