My Name Is Rose

My Name Is Rose
Telepon



Tuut.....tuuuut...tuuut...masih berdering, namun belum diangkat. Apa dia sudah tidur? Jam segini? Sudah tiga kali, artinya hari ini memang tidak bisa menelepon dia. Ah kucoba sekali lagi, jika tidak diangkat maka fix hari ini tidak bisa. Tak apa. Aku harus mengerti kondisinya saat ini.


Tuu....tuut....tuut....


"Haloo" Ini bukan suara Rania, bukan juga Mbok Atih, pembantunya. Ini suara perempuan dewasa. Mungkinkah Nyonya Hamdani, Mama angkat Rania?


"Haloo, siapa ya" Suara itu mengulangi.


"Eh...iya ..Bu .anu...Tante....Clara nya ada?"


"Ini siapa ya?"


"Rosa Tante, temannya Clara"


"Oh, teman dimana ya?"


"Ehm, teman sekolah Tante"


"Oh, ada perlu apa? Clara baru saja selesai belajar"


"Oh, itu Tante, mau tanya tugas sekolah besok"


"Cla.....!! ada telepon Cla..." Terdengar suara perempuan ini memanggil Clara.


"Ada tugas buat besok?" Tanya perempuan ini pada Rania yang secara tak sengaja terdengar di telepon.


Setelah itu tidak ada suara dalam beberapa waktu, sampai akhirnya Rania berbicara sendiri.


"Halo"


"Hai Ran..." Sapaku.


"Duh, untung aja kita masih bisa ngeles" Kata Rania.


"Itu tadi...Mama kamu bener?"


"Iya...tapi gak papa kok aman"


Huh, lega aku. Tidak bisa kubayangkan seandainya Mamanya curiga, dan Rania di stop telepon jam 9 malam, aku akan kehilangan Rania untuk kedua kalinya.


"Eh gimana itu...Kak Panji" Kata Rania mengawali obrolan.


"Kenapa?"


"Katanya akhir-akhir ini deketin kamu" Kata Rania dengan nada meledek.


"Ya sih, tapi ternyata itu cuma sekedar tugas aja"


Aku membenahi posisi duduk. Aku duduk bersila di samping meja telepon. Kupastikan dulu tak ada yang keluar dari kamarnya. Lebih tepatnya, Mama tidak bangun dari tidurnya.


"Eh aku punya berita bagus loh" lanjutku.


"Apa?"


"Aku sudah resmi jadi tim presentasi lomba KIR besok"


"Loh, bukannya tim belakang layar"


"Jadi tadi tim utama yang bertugas presentasi, kecelakaan cukup parah bahkan operasi juga sehingga gak bisa ikut lomba. Trus aku suruh gantiin"


"Wah, selamat ya. Im so proud of you. Kamu keren dari dulu selalu keren Ros" Puji Rania.


"Thank you"


"Belum, Papa kan juga belum punya rumah sendiri di Jakarta. Nanti kalo udah ada jalan kita semua akan pindah ke sana"


"Bener ya"


"Doakan aja"


Kami berhenti sejenak. Entah apa yang dipikirkan Rania saat ini. Aku sungguh ingin pindah ke Jakarta. Aku ingin bersekolah di tempat Rania sekolah. Aku ingin setiap saat bercengkerama dengannya. Main bareng, belajar bareng, jajan bareng. Semuanya.


"Kamu sendiri gimana? Ada kabar apa?" Tanyaku kemudian. Sepertinya kami masih punya waktu untuk ngobrol. Biasanya kalau sudah sepuluh menit, Rania undur diri.


"Yah, biasa, sekolah, bimbel, les, di rumah masih privat, yah begitulah"


"Apa aja? Semua pelajaran?"


"Nggak sih, ada renang, bahasa inggris, matematika, les vokal, sama komputer"


Wow, les sebanyak itu dia lakoni. Orang tuanya sangat mampu membiayai itu semua. Itu fasilitas menurutku. Bukan beban. Orang tua asuh ya begitu peduli dengan pendidikannya. Lihatlah aku, mau berangkat sekolah saja dihalang-halangi terus. Mau belajar hampir gak ada waktu. Mama bahkan terang-terangan menyatakan tidak begitu bangga dengan anak yang berprestasi. Baginya, prestasi adalah duit duit duit.


"Bagus dong ..." Komentarku.


"Bagus apanya....gimana bisa nyantol di otak coba. Banyak banget yang harus aku pelajari"


Seandainya dulu aku tidak pura-pura nakal, dan aku jadi diadopsi mereka, semua itu akan kulahap habis.


"Hahah resiko jadi anak orang kaya Ran... Tapi kamu harus bersyukur...tidak semua anak seberuntung kamu. Yakin deh, semua yang kamu jalani hari ini, akan berguna untuk hari esok" Kataku menenangkan.


"Ros, seandainya dulu kamu jadi diadopsi sama keluarga ini, kamu pasti menikmati kegiatanku dengan senang hati, karena semua kegiatanku ini kan hobi kamu" Kata Rania tiba-tiba.


Kenapa dia berkata demikian. Seolah dia tahu yang kukatakan dalam hati. Apakah dia mulai merasa bersalah atas peristiwa dulu. Atau dia bersalah telah mengkhianati janji kami berdua.


"Alah ..gak lah, kamu kenapa sih bahas itu, ini semua takdir. Tuhan tahu dimana harus menempatkan kamu, dan dimana seharusnya aku berada. Yang penting, kita menikmati, mensyukuri, ya kan"


Terdengar suara tawa ringan Rania. Aku tidak ingin merubah keberuntungannya menjadi rasa bersalah. Aku juga tak mau mengubah takdirnya, dan tentunya aku tak mau dia semakin bersalah karena tahu kehidupanku berbanding terbalik dengannya seratus delapan puluh derajat. Biarlah ia tahu aku bahagia seperti dia. Biarlah dia tahu hidupku berjalan lancar sepertinya.


***


"Baik, semua sudah siap, presentasi kalian cukup bagus, ditambah dengan bukti-bukti yang menarik dan akurat. Saya yakin kalian pasti maju ke Propinsi" Kata Bu Ratih, pembina KIR didampingi oleh Bu Susi, wali kelasku.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Aku harus segera pulang agar tidak terjadi masalah. Aku berharap Papa pulang lagi agar ada yang membelaku. Aku berharap Papa pulang menyambut kedatanganku dan melepas keberangkatanku ke Kota.


"Ros!!" Kak Panji memanggilku dari kejauhan.


Duh, please, biarkan aku pulang. Kenapa dia memanggilku lagi.


"Ya Kak"


"Gak papa, cuma mau ngucapin, selamat istirahat, jaga kesehatan, cepat tidur. Jangan lupa besok jam 7 tepat ya" Kata Kak Panji.


Aku tersenyum sekaligus mengangguk. Apakah dia juga mengatakan seperti itu pada anggota yang lain? Atau hanya aku? Kenapa? Apakah itu tanda kalau dia menyukaiku? Ah, ngomong apa aku ini. Aku masih terlalu anak-anak untuk mengenal perasaan itu. Lagipula aku tak secantik teman-temannya kelas dua. Bahkan aku tak ada seujung kukunya dengan Rania.


Kukayuh sepedaku cepat-cepat. Aku tahu masalah sudah siap menerkamku di rumah. Perjalananku membutuhkan waktu hampir satu jam. Jemuran pasti belum diangkat. Semoga saja hari ini tidak hujan. Aku tidak bisa membayangkan jemuran basah kuyup dan malam hari aku harus mencuci ulang semua pakaian itu.


Tepat pukul setengah lima aku sampai di rumah. Segera kuangkat jemuran di halaman. Aku beruntung karena Mama tidak keluar menyambut dengan omelan dan tatapan matanya yang lebih menyeramkan dari sundel bolong.


Saat aku masuk ke rumah lewat pintu belakang, barulah aku tahu ada tamu di dalam. Tetangga yang sedang ngerumpi dengan Mama. Huft aku selamat karena para tetangga itu. Mama melihatku datar ketika aku sedang membawa setumpuk jemuran. Aku yakin dia sedang menahan amarah karena sedang ada tamu.


Aku segera makan sebelum Mama melarangku makan dengan alasan yang dibuat-buat. Syukurlah Mama sedang asyik mengobrol, apalagi Monica bermain dengan anak-anak mereka, jadi aku punya waktu untuk makan. Cepat-cepat kubereskan piringku seusai makan dan segera mandi.


Sungguh aku harus berpacu dengan waktu, seperti maling yang mencuri sejumlah benda. Karena jika ketahuan, bukan hanya radio rusak yang membuat telinga panas, tapi juga gagang sapu, tongkat, atau apalah akan melayang ke tubuhku.


***