
Sambil menunggu Dinda, aku mencoba mencari buku kesehatan. Entah kenapa aku tertarik dengan dunia kesehatan. Mungkin karena cita-citaku adalah menjadi dokter. Ah, terlalu tinggi. Aku suka dengan dunia kesehatan, sudah itu saja.
"Bagaimana? Ditinggal oleh orang-orang yang kamu sayang? Aku, Dinda lalu Alanta? Terbukti kan, mereka semua muak sama kamu. Dekat dengan kamu adalah hal paling disesalkan bukan?" Tiba-tiba saja Clara muncul di hadapanku.
"Aku rasa seluruh dunia tahu, mereka bukan meninggalkanku, tetapi dipaksa meninggalkanku" Jawabku dengan berani.
"Jika mereka tidak meninggalkan kamu, maka harus dipaksa melakukan itu" Kata Clara dengan senyumnya yang penuh rahasia.
Senyum itu mengatakan, dialah dalang di balik semua ini. Atau jangan-jangan Dinda pun menjadi salah satu rencananya.
"Jangan bilang Dinda pindah kelas juga karena kamu"
"That's right. Oh, bukan aku. Tapi kamu. Kamu yang terlalu ikut campur dalam urusanku"
Aku tak habis pikir. Bagaimana ia bisa berubah sedrastis itu hingga aku tak mampu mengenalinya lagi.
"Sampai kapan kamu akan menyakitiku? Tidak adakah sedikit saja rasa rindumu pada saudara kecilmu? Di masa dulu, pernahkah aku nyakitin kamu? Siapa yang selalu bela kamu kalau kamu sedang dibully senior-senior kita?"
"Jangan coba ingatkan aku tentang masa lalu. Aku akan berhenti sampai kamu keluar dari sekolah ini"
Aku geleng-geleng kepala. Begitu piciknya sahabat masa kecilku. Rania benar-benar sudah mati. Selepas itu dia berlalu dengan menyisakan berbagai kesedihan. Hampir saja kukucurkan air mata jika saja Dinda tidak datang.
"Ros, ngomong apa dia ke kamu?" Tanya Dinda yang geram dengan kehadiran Clara.
"Nggak, cuma pamer aja"
"Pamer apa? Pamer kalo dia tadi berangkat bareng Alanta?"
Berangkat bareng? Jadi dia berhasil dekati Alanta. Ada rasa cemburu yang membuat dadaku memanas. Tapi buru-buru kutepis karena aku dan Alanta selama ini hanyalah seorang sahabat. Tak lebih.
"Oh ya?"
"Iya aku lihat sendiri. Kalian udah putus?"
"Putus apaan, pacaran aja enggak"
"Lama juga sih Alanta nembaknya"
"Apaan?"
"Kurang sat set si Alanta itu"
Aku tidak terlalu mendengarkan. Aku berpura-pura memilih buku di rak, walaupun dadaku masih panas, leherku tercekat, dan lidahku serasa kelu.
"Ya udah kamu mau apa nyuruh aku ke sini?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, aku mau minta tolong" Dinda memberikan map warna merah.
Kubuka isinya. Beberapa lukisan alam. Kali ini bukan anime. Ini lukisan terhidup yang pernah kulihat. Begitu nyata, melukiskan kehidupan di pegunungan yang serba alami. Ada seorang nenek uang memanggul kayu bakar sedang menaiki tanjakan. Ada pula seorang remaja berangkat sekolah dengan sepeda. Indah sekali.
"Aku mau kamu serahkan ini ke Silvi. Ada lomba lukis, dan aku mau ikut" Kata Dinda.
Di bawah lukisan itu tertulis sebuah nama.
"Kok Putri Senja?" Tanyaku.
"Itu nama penaku. Dengan begitu Mama gak akan ngerti kalau itu lukisanku"
"Kamu masih mau ngelukis, padahal Mama kamu melarang keras?"
"Siapa yang ajarin aku untuk tidak menyerah?"
Aku tersenyum. Seandainya dia tahu bahwa kepindahannya adalah ilang seorang Clara, entah bagaimana marahnya dia. Tidak, aku tidak akan merusak semangatnya dengan berita-berita tidak penting. Tenanglah Din, aku akan perjuangkan lukisanmu sampai meraih juara.
***
"Makanya itu identitasnya Dinda jangan sampek bocor ya" Pintaku.
"Sip. Tapi ntar kalo ini menang aku boleh bikin artikel ya"
"Sepanjang tidak membongkar identitas Dinda"
"Yes"
Di saat yang bersamaan kulihat Alanta sedang berjalan dengan Clara menuju parkiran. Mereka tampak sedang mengobrol asyik. Mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku berbalik badan agar mereka tidak melihat. Benar kata Dinda, tadi pagi mereka berangkat bersama. Dan sekarang pulang bersama.
Kulihat Clara duduk di belakang Alanta. Posisi itu adalah tempatku kemarin-kemarin. Helm yang dia pakai adalah yang selalu kupakai ketika berboncengan dengan Alanta. Begitu mudahnya posisi itu digantikan. Begitu mudahnya Alanta memberikan posisi itu pada orang lain.
Tetapi setidaknya, sejak aku menjauh dari Alanta dan sejak mereka sering bersama, Clara menjadi jarang menyerangku. Bahkan terkesan tidak mempedulikan keberadaanku. Hal ini menguntungkanku. Setidaknya aku bisa belajar dengan tenang. Apalagi ujian kenaikan kelas sebentar lagi. Fokus, fokus, fokus.
"Ros, Papa kok tidak pernah ketemu teman kamu lagi ya" Kata Papa suatu malam saat aku belajar.
"Yang mana Pa?"
"Yang cowok, yang sering anter kamu"
Alanta. Papa menanyakan Alanta. Sejenak dadaku berdesir mendengar nama itu. Begini rasanya merindukan lawa jenis. Aku merindukan Rania, namun tak seperti ini. Aku merindukan orang tua kandungku, namun juga tidak seperti ini.
"Ya Pa, lagi sibuk" Jawabku sekenanya.
"Kalian tidak lagi berantem kan?" Tanya Papa lagi.
"Oh nggak Pa"
"Kalau gitu, sekali-kali suruh main ke rumah, ngobrol sama Papa. Bilang Papa kangen"
Bagaimana aku harus menjawab. Sedang hal itu rasanya tidak mungkin. Meminta Alanta datang ke rumah sama halnya dengan menjilat ludahku sendiri. Aku yang meminta menjauh, mana mungkin aku memintanya datang kembali.
Ujian kenaikan kelas benar-benar menguras tenaga. Jika sekolah SMA pada umumnya dilaksanakan selama seminggu, maka SMA First Internasional School dilaksanakan selama dua minggu dengan mata pelajaran tambahan. Bedanya lagi adalah, sebagian soal diberikan dalam bahasa inggris. Sebagai sekolah bertaraf internasional, tentu bahasa pengantar yang digunakan sehari-hari adalah bahasa inggris meski bahasa Indonesia tetap selalu ada.
Dua minggu penuh otak ini hanya berisi rumus-rumus dan kisi-kisi soal. Jarang sekali aku melihat Alanta. Clara lun berbeda ruangan denganku. Jadi selama dua minggu benar-benar hanya fokus pada ujian.
Hujan mengguyur Jakarta sesaat sebelum bel pulang berbunyi. Dengan demikian otomatis menahan semua siswa untuk pulang. Sebagian besar siswa menunggu di teras sekolah, ada pula yang menunggu hujan reda sambil menikmati gorengan di kantin.
Aku lebih memilih menunggu di teras. Sesekali kujulurkan tanganku merasakan dinginnya air hujan. Teringat waktu kecil saat masih di panti asuhan. Momen hujan menjadi pesta rakyat anak-anak panti. Kami semua bermain hujan dengan riangnya. Rania adalah salah satu anak yang tidak suka hujan pada awalnya. Aku memaksanya untuk menikmati hujan bersama. Siapa sangka jika setelah itu dia justru sakit berhari-hari. Namun itu awal mula Rania berani bermain hujan.
"Hujannya deras ya" Seseorang berdiri di sampingku. Alanta.
Aku terkejut dengan kehadirannya. Aku melihat sekeliling jangan sampai Clara atau temannya melihat ini.
"Jangan takut, aku sudah tahu" Kata Alanta tiba-tiba.
Aku terkejut sekali lagi.
"Cewek itu Clara bukan?"
Darimana Alanta tahu padahal sepatah kata bahkan sehuruf pun aku tidak menyebut namanya.
"Aku tidak akan membuat dia lebih membenci dari sebelumnya"
Aku menunduk.
"Aku paham sekarang"
***