My Name Is Rose

My Name Is Rose
Perpisahan



Mengingat kata-kata Kak Panji membuatku berpikir ulang. Tetap mempertahankan posisiku atau berbelok arah, pulang ke panti. Aku sudah berjalan sejauh ini. Lima tahun lamanya, bukan hal yang mudah. Masak iya aku harus mengawali lagi pencarianku, sementara aku sudah menemukan Rania dengan jalan Papa. Apakah itu bukan suatu pencapaian?


Sepanjang jalan pikiranku melayang. Apakah aku sudah salah jalan? Aku seperti berada pada labirin yang selalu berujung jalan buntu. Aku tidak tahu jalan mana lagi yang harus kutempuh. Sepertinya saat ini jalanku sudah buntu. Aku justru mempermainkan nyawaku sendiri ditangan Mama. Ya, mungkin Kak Panji benar. Aku memang telah salah jalan. Seharusnya aku kembali ke panti dan memikirkan kembali jalan yang harus kutempuh.


Sampai di depan rumah. Suasana hening. Tak ada suara Mama yang teriak-teriak karena kesal seperti biasanya. Juga tak ada suara Monica yang bernyanyi atau bermain. Mungkin ia sudah tidur. Tapi televisi di ruang tengah masih menyala. Papa masih di rumah sejak kejadian itu. Aku melangkah hati-hati. Jujur saja sejak pengurungan itu aku sedikit takut. Takut jika tiba-tiba Mama muncul dan menyeretku. Mungkin ini yang namanya trauma.


Krek...pintu terbuka dari ruang kerja Papa. Mama keluar dari sana. Ia memandangku kesal, lalu berlalu. Perasaanku sudah tidak enak. Mama pasti beradu pendapat lagi dengan Papa. Mereka pasti bertengkar lagi.


"Ros" Papa muncul setelah Mama. Tepat seperti dugaanku.


"Ya Pa" Jawabku.


"Setelah ujian kenaikan besok, kita pindah ke Jakarta"


Pindah? Jakarta? Rania. Akhirnya kami bisa bertemu. Entah kenapa Papa mengambil keputusan itu. Apakah memang ini sudah saatnya atau karena peristiwa itu? Jadi aku tidak kembali ke panti? Pertanyaan pentingnya adalah, amankah aku di Jakarta nanti? Apakah rumah kami nanti dekat dengan tetangga sehingga aku bisa berteriak jika butuh bantuan? Atau rumah kami punya satpam? Pembantu? Atau kami hanya mengontrak seperti di sini?


"Pindah Ros? Kapan?" Rania antusias begitu kuceritakan kepindahanku ke Jakarta.


"Habis ujian Ran. Aku berdoa semoga Papa menyekolahkan aku di tempat kamu sekolah" Kataku.


"Iya dong, harus dong. Aku tunggu ya"


Aku senang. Akhirnya aku bertemu sahabatku, saudaraku, tujuanku sampai titik ini. Tetapi pindah ke Jakarta tiba-tiba begini, rasanya aku belum siap.


Ujian kenaikan kelas berlangsung selama sepuluh hari. Dan selama sepuluh hari itu aku memeras otakku habis-habisan. Rupanya pengurungan kemarin hanya membuat Mama diam sebentar. Setelah itu Mama kembali membebaniku dengan seabrek pekerjaan rumah tangga. Hanya saja ia tidak menghalangiku berangkat sekolah. Cucian pagi dia sendiri yang mencuci. Aku bersyukur akan hal itu.


"Kalau ujian begini, aku dibawain bekal sama Bunda, biar gak antri di kantin kalo pas istirahat" Sayup-sayup kudengar teman sekelasku sedang mengobrol di samping.


"Kalau aku harus sarapan dulu. Kalau ujian gini dibuatin nasi goreng terus sama Ibu" Jawab yang lain.


"Kalau aku gak, soalnya aku suka ngantuk kalau sarapan dulu, paling ya uang sakunya aja ditambahin" Sahut yang lain.


Jadi begitulah rasanya punya ibu kandung. Memang beda rasanya, ibu kandung dengan ibu asuh. Bagaimana rasanya membawa bekal buatan ibu. Bagaimana rasanya diharuskan sarapan dulu oleh ibu. Bagaimana rasanya mendapat hukuman mengenakkan. Tidur siang misalnya, atau harus menghabiskan makanan satu piring.


Aku tidak menangis. Hanya batinku menjerit. Kerinduan pada seorang ibu sudah terlalu dalam menusuk jantungku. Sampai rasanya kebas, tak terasa sakitnya lagi. Sudah terlalu lama. Rasanya tidak mungkin lagi kutemukan keberadaannya. Ibu. Tidakkah dia mencariku seperti aku mencarinya. Atau rindukah di sepertiku saat ini?


***


Koper-koper itu sudah berjajar bersama kardus-kardus besar. Semua sudah siap. Mendadak rumah ini terasa sepi tanpa barang-barang ini. Suara kami pun menjadi gaung. Kami bersiap pindah ke Jakarta. Monica akan memulai sekolah taman kanak-kanak di Jakarta nanti. Dan aku akan berpindah sekolah di sana. Aku berharap bisa satu sekolah dengan Rania alias Clara. Tapi bagaimana aku mengatakannya pada Papa. Bukankah kami harus menjaga rahasia tentang kami? Karena ini menyangkut posisi Papa di kantor.


"Besok pagi kita berangkat. Surat pindah dan rapor akan Papa urus nanti. Yang penting kita harus sampai Jakarta secepat mungkin" Jelas Papa.


"Pa, hari ini aku mau main ke sekolah ya Pa. Mau pamitan" Kataku.


Papa mengangguk.


"Mau diantar?"


Hari ini sengaja aku tidak sekolah untuk membereskan barang-barang. Lagipula tidak ada absen setelah ujian berakhir. Hari ini aku akan menemui seseorang. Kak Panji. Sebenarnya kepindahanku tidak terlalu penting baginya, tapi setidaknya ia tahu, aku sudah tidak di sekolah Cendekia. Dia tak perlu mencariku sampai ke kelas.


Sampai di gerbang sekolah, aku berhenti di samping sebuah gerobak bakso. Aku enggan masuk ke dalam, tentu saja karena tidak memakai seragam. Aku akan menunggunya di sini sambil memikirkan kalimat apa yang tepat untuk menyampaikan padanya. Siang ini sedikit mendung, alu mencari tempat yang teduh. Jika sewaktu-waktu turun hujan, minimal bajuku tidak terlalu basah.


Kurang lebih satu jam, Kak Panji muncul dari gerbang. Aku segera berdiri menyambutnya.


"Kak!!" Panggilku.


Dia tampak terkejut melihat keberadaanku. Dia lantas menghampiriku dengan wajah penuh tanya.


"Kamu...gak masuk?"


"Kakak gak nyari aku ke klas lagi?"


Dia tersenyum kecil. Sambil menggaruk rambutnya, dan tangan satunya berkacak pinggang, ia menatapku. Kami duduk di batuan besar tak jauh dari sekolah. Batuan itu biasa digunakan para siswa yang menunggu angkutan datang. Saat ini sepi, sebab setelah ujian banyak siswa yang tidak masuk sekolah, termasuk aku. Kegiatan di sekolah hanya bekisar antara mengoreksi kertas ujian, sampai menerima nilai sementara. Selebihnya hanya mengobrol.


"Kapan?" Tanya Kak Panji.


"Besok"


"Kenapa mendadak banget?"


"Nggak juga. Kami memang perlu waktu untuk menyesuaikan diri"


"Kurasa itu keputusan yang baik. Papa kamu bisa mantau. Minimal kejadian tempo hari tidak akan terjadi lagi"


Aku menghela nafas. Saat kuhembuskan, seolah beban-beban di pundakku keluar dan menghilang bersama nafas yang kubuang.


"Kamu bakal kangen sama aku?" Tanya Kak Panji tiba-tiba.


Aku terbelalak. Kangen? Kami masih sangat kecil untuk mengatakan itu dengan lawan jenis. Aku hanya tersenyum cengengesan.


"Kita...jalan-jalan yuk!" Ajak Kak Panji.


"Jalan-jalan?"


"Ya, hari perpisahan kita"


"Oh...eh...anu.....aku ijin Papa dulu ya"


Aku menelepon Papa di wartel dekat sekolah. Wartel ini pula biasa digunakan para siswa menelepon keluarganya meminta jemput. Papa memperbolehkan aku pulang malam. Sebenarnya aku belum tahu sampai jam berapa aku keluar dengan Kak Panji. Belum tentu juga sampai malam. Tapi ya sudahlah. Fillingku mengatakan perpisahan ini bakal lama. Perpisahan. Kenapa duku aku tak punya kesempatan perpisahan seperti ini dengan Alanta. Dia begitu jahat membiarkanku terdiam dalam pertanyaan besar. Membiarkanku kehilangannya secara tiba-tiba.


***