My Name Is Rose

My Name Is Rose
Jam Tangan Ungu



SMP Insan Mulia


Aku belum pernah melihat satu siswa pun mengendarai sepeda. Yang mengendarai sepeda motor pun bisa dihitung dengan jari. Sudah pasti hanya orang berduit yang sekolah di sini. Aku? Yah, Papaku saat ini tergolong 'orang berduit'. Tak hentinya aku bersyukur dalam hati. Berterima kasih pada Tuhanku, lalu pada Papaku.


Aku berharap, Rania juga bersekolah di sini. Meskipun kami tidak bisa menyapa, setidaknya aku bisa melihatnya. Meski dari kejauhan. Aku sedang berkhayal. Aku pasti sedang mengkhayal terlalu tinggi. Tidak mungkin aku bisa sejajar dengannya. Rania pasti bersekolah di tempat yang jauh lebih bagus. International school misalnya. Banyak sekolah bagus di ibukota. Tidak mungkin dia sekolah di sini.


Teeet........teeet .....


Bel masuk. Aku bergegas menuju kelas yang sudah ditentukan. Aku sekarang kelas dua SMP. Sebagai siswa pindahan tentu aku butuh menyesuaikan diri. Aku tidak bisa terlambat masuk ke kelasku. Aku haris segera menemukan seorang teman. Setidaknya yang bisa kumintai tolong jika diperlukan.


Aku duduk di bangku paling belakang. Karena hanya ini yang kosong. Terlihat jelas siswa di sekolah ini memiliki antusias yang luar biasa terhadap belajar. Biasanya pelajar menyukai bangku paling belakang karena paling bebas. Tapi di sini semua berebut bangku terdepan. Tersisa paling belakang. Tak apa.


"Hey, anak baru?" Tanya seorang siswi.


Aku mengangguk. Dia kemudian duduk di deretan samping.


"Pindahan dari mana?" Dia bertanya lagi.


"Semarang" Jawabku.


"Oh"


Segera setelah bel berbunyi, seorang guru masuk ke kelas. Benar-benar tepat waktu.


"Saya dengar ada anak baru di sini?" Bu Guru itu bertanya di depan kelas.


Segera aku berdiri untuk mengenalkan diri. Aku berharap bisa diterima dengan baik. Persis seperti sinetron di televisi. Semua mata memandang ke arahku. Pandangan mereka seolah berkata 'oh ini anak barunya? Ih sehebat apa dia'.


"Baik, silahkan menyesuaikan diri. Semua aturan berlaku mulai hari ini. Jadi segera adaptasi" Kata guru itu.


Ketika pelajaran di mulai, para siswa mengeluarkan buku paket tebal. Ya, ini pelajaran IPA. Wow, mata pelajaran IPA berada di hari Senin, jam pertama pula. Layar LCD dinyalakan. Kami melihat video animasi rangka manusia. Menarik. Lebih menarik lagi karena tak satupun dari siswa di kelas ini yang berisik. Semua serius.


"Baik, silahkan membuat rangkuman tentang video tersebut" Kata guru.


Wow, materi belum dijelaskan sidah langsung membuat rangkuman. aku tidak mengeluh. Ini sungguh menantang. Segera setelah guru memberi tugas, terdengar suara musik klasik dengan instrument piano dan seruling. Serasa seperti di alam pedesaan.


"Ssst...." Aku memanggil seorang siswi di deretan sampingku.


Dia menoleh.


"Darimana kamu dapat buku itu?" Tanyaku.


Dia melihat sekilas buku tebal di tangannya kemudian menjawab pertanyaanku.


"Oh ini? Kamu bisa pinjam di perpus atau beli ke toko buku sekolah. Udah pernah ke sana?"


Aku menggeleng. Toko buku sekolah menjual buku paket? Biasanya toko di sekolah hanya menjual alat tulis sehari-hari.


Aku mengangguk. Yes, akhirnya aku punya teman, meskipun masih satu. Gadis berambut pendek dengan badan sedikit berisi.


"Dinda" gadis itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.


"Rosa" Kujabat tangannya


Dinda tersenyum dan kembali bergelut dengan bukunya.


Toko buku sekolah yang dimaksud bukan sekedar kantin sekolah atau koperasi sekolah, tapi benar-benar seperti toko buku di luaran. Bukan hanya buku pelajaran yang tersedia, tapi juga buku pengetahuan umum, novel, komik, bahkan majalah fashion.


Kulihat seseorang di balik rak buku. Seorang siswi dengan jam tangan yang familiar. Aku pernah melihat jam tangan itu sebelumnya. Aku sudah mencoba mengingatnya namun gagal. Tapi yang jelas, aku pernah melihat jam tangan itu. Jam tangan remaja warna ungu. Aku hendak menghampirinya untuk mencari tahu, tapi tiba-tiba saja tangan Dinda menarikku.


"Ayo...sudah bel masuk" Kata Dinda.


***


Semua murid berhamburan keluar kelas pada jam pulang. Aku melihatnya lagi dari kejauhan. Seorang gadis dengan jam tangan ungu. Aku berusaha mengikuti ya, memastikan pandanganku tak lepas darinya. Dia begitu mirip. Atau memang itu dia. Rania. Aku melihat Rania. Aku yakin itu dia. Aku akan mendekatinya meskipun tidak saling menyapa. Aku berusaha mengejarnya.


Brukk. Aku menabrak seseorang karena tidak melihat jalan.


"Maaf..maaf...gak sengaja"


"Jalan pakek mata!!" Teriaknya.


Dan aku kehilangan jejaknya. Pintu gerbang. Semua orang sedang menuju pintu gerbang untuk pulang. Dia juga pasti kesana. Aku mempercepat langkahku untuk segera sampai di pintu gerbang. Saat aku sampai di tujuan, aku tak melihatnya lagi. Bagaimana dia bisa begitu cepat hilang. Pandanganku menyapu ke segala arah.


Disaat aku sudah putus asa, berdirilah seorang gadis di sebelahku. Gadis dengan jam tangan ungu. Aku yakin gadis itu yang kulihat di toko buku sekolah. Rania. Itu pasti dia. Dan.....


Dia tersenyum. Gadis yang berbeda. Bagaimana jam tangannya bisa persis. Ah, pasti banyak jam seperti itu dijual di toko. Jadi gadis yang kulihat di toko buku sekolah dan yang kulihat dari kejauhan adalah gadis ini, bukan Rania. Yah, aku begitu kangen dengan saudaraku sampai mengira orang lain adalah dia.


Aku kembali ke dalam. Aku menuju toilet untuk sekedar cuci muka. Aku pasti sudah ngelantur. Bayangan Rania selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Rasanya setiap gadis yang kutemui adalah Rania. Tahukah dia begitu hebatnya rinduku padanya. Dia bukan sekedar teman semasa kecil. Dia lebih dari saudara kembarku.


Bruk....aku kembali menabrak seseorang karena kurang fokus. Aku membungkukkan badan untuk meminta maaf. Aku menyadari itu adalah kesalahanku. Aku tidak melihat jalan, ditambah lagi pikiranku melantur kemana-mana.


"Sorry, aku gak sengaja" Kataku.


Mata kami bertatapan. Kami berdua sama-sama terkejut. Untuk sesaat kami hanya saling pandang dan mematung. Tak ada suara, hanya suara angin yang berdesir menerobos sela-sela tembok toilet.


Gadis itu berdiri terpaku di hadapanku. Jam tangan ungu. Sama persis seperti yang kulihat di sela-sela rak di toko buku sekolah. Jam tangan yang juga persis digunakan oleh gadis di pintu gerbang tadi. Dia memakai jam tangan yang sama. Dia melihatku setengah terkejut setengah takut. Entah apa yang ia takuti. Akankah ia takut bertemu manusia kotor sepertiku? Atau takut tersaingi. Atau mungkin ia takut rahasianya terbongkar.


"Cla....ato, Mama kamu udah nungguin" Teriak seorang siswi padanya.


Siswi itu datang dan menggandeng tangan gadis di hadapanku. Lalu mereka pergi bersama. Tak sekalipun ia menoleh padaku. Dia benar-benar ada di sini. Rania. Dia bersekolah di atap yang sama denganku. Ya Tuhan, permainan apa ini. Hidupku berputar-putra penuh dengan hal mengejutkan seperti ini. Pertama tiba-tiba aku bertemu Rania pada sebuah pesta yang melibatkan orang tua angkatku. Kedua, tiba-tiba saja Rania memutuskan untuk tidak berhubungan denganku lagi. Dan sekarang, dengan tiba-tiba dia muncul di hadapanku sebagai teman sekolah seangkatan.


***