My Name Is Rose

My Name Is Rose
Hitung hitungan



Dari pagi sampai larut malam untuk ukuran perempuan, Mama belum pulang. Sampai pukul sebelas malam. Sampai Monica harus tidur bersamaku. Tapi aku tidak boleh tidur walaupun begitu mengantuk. Sebagai pengganti kepala keluarga, aki harus berjaga sampai Mama pulang. Dunia sekarang ini sedang terbalik. Anak yang menjaga rumah, Ibu yang keluar rumah hingga larut.


Grek..grek..klonteng...suara pagar dibuka. Kuintip dari jendela, benar saja, Mama pulang di jam sebelas malam lebih beberapa menit. Aku segera turun dan menyambutnya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin memberi apresiasi padanya atas usahanya membangkitkan ekonomi keluarga kami. Misalnya dengan menyiapkan air hangat untuk mandi dan secangkir teh panas.


"Mau teh panas, atau aku siapin air hangat buat mandi Ma?" Tanyaku.


Dia tampak terkejut dengan keberadaanku yang ternyata belum tidur di jam segini.


"Kamu kok belum tidur" Komentar Mama.


"Gimana Rosa bisa tidur kalau salah satu anggota keluarga ini belum pulang tanpa memberi kabar" Jawabku cukup berani.


"Kamu mau nyindir Mama? Kerena ke Semarang sampai delapan bulan?"


"Mama mungkin lupa kalau rumah ini punya telepon"


"Hahaha....kamu merasa bangga, karena sudah bantu Mama ngurusin Papa? Atau karena duit kamu yang gak seberapa Mama bawa ke Semarang? Atau kita hitung-hitungan? Berapa uang kami yang kamu sedot habis untuk biaya sekolah kamu yang mahal itu?"


"Apakah Mama cuma bisa ngitung duit? Apa semua yang bisa dihitung cuma duit Ma?" Aku berkaca-kaca ketika mengucapkan ini.


Brakk...Mama menggebrak meja. Tetapi kemudian dia memalingkan muka. mungkin dia menyadari kesalahannya. Kalimat yang kuucapkan benar adanya. Meski demikian jantungku berdegup kencang karena takut. Selama ini aku hampir tidak pernah bertengkar dengan Mama. Aku hanya bisa diam ketika Mama memarahiku, mengumpatku akau mencaci sekalipun. Kini aku berani melawan tetapi jujur, keberanianku hanya noktah kecil diantara semua rasa takutku.


"Mana Monica?" Mama mengalihkan perhatian. Aku tidak ingin membuat situasi menjadi lebih rumit. Kuberitahu dia bahwa Monica ada di kamarku. Kupikir dia akan mengambil Monica dari kamarku. Rupanya tidak. Dia justru masuk ke kamarnya sendiri yang sejak Papa sakit kamarnya berpisah dengan Papa.


Seminggu sudah. Mama selalu pulang larut. Apakah memang pekerjaan model seperti itu, atau Mama yang memang menghendaki begitu. Berapa gajinya jika bekerja dari pagi sampai larut begini. Kasihan Monica, saat pagi Mama berangkat, Monica masih tidur, dan ketika Mama pulang, Monica sudah tidur. Papa juga demikian. Hampir tidak pernah melihat wajah Mama semenjak Mama menjadi model.


***


Suatu pagi, aku sedang mencuci piring, Mama menghampiriku ketika bari saja bangun tidur. Bedaknya semalam belum sempat ia bersihkan. Masih ada sisa-sisa make up di wajahnya.


"Papa bilang kamu kerja, di mana?" Tiba-tiba saja Mama bertanya demikian. Kenapa baru sekarang Mama bertanya hal ini. Padahal dia sudah dua minggu lebih ada di rumah ini.


"Outlet produk susu Ma, part time aja kok" Jawabku dengan tetap mencuci piring.


"Oke, baguslah, jadi kamu tidak terus-terusan jadi beban kami" Setelah mengatakan begitu dia berlalu ke kamar mandi untuk bersih diri. Beban? Dia merasa aku bagian dari bebannya? Okelah, kupikir kepulangannya akan meringankan beban kami, ternyata sebaliknya. Dia hanya memikirkan dirinya dan Monica. Aku dan Papa entahlah masihkah ada di pikirannya atau tidak. Masihkah tercantum dalam daftar anggaran pengeluarannya?


Pulang sekolah aku menuju pangkalan ojek si Abang setelah terlebih dulu pulang untuk makan.


"Bang anterin ke outlet dong" Pintaku.


"Lah Emak lu kan udah pulang, denger-denger udah kerja juga. Ngapain lu ikutan kerja. Udah lu belajar aja kagak usah mikir kerjaan" Kata si Abang.


Seketika Abang tukang ojek tertawa terkekeh dan segera menyalakan mesin motornya. Sepanjang jalan Abang tukang ojek bercerita tentang perjalanan keluarganya yang dulu kaya raya sekarang harus bekerja banting tulang demi kebutuhan. Tapi aku tidak begitu mendengarkan. Pikiranku tidak fokus. Banyak yang menancap di otakku.


Sebelumnya aku begitu menginginkan Mama kembali. Karena kupikir Mama sudah berubah. Disadari atau tidak, aku dan Papa membutuhkannya. Apalagi dia membawa seluruh tabunganku ketika pergi ke Semarang. Kupikir dia akan mendapatkan sejumlah uang dari keluarga besarnya demi pengobatan Papa. Tetapi ternyata dia justru tak menyisakan sedikitpun untuk kami. Dan sekarang dia kembali seolah memulai semuanya dari awal. Dia bekerja. Gajinya mungkin cukup banyak. Tapi tidak untukku. Untuk Papa mungkin iya, tapi untukku kurasa tidak ada. Maka benar jalan yang kupilih untuk bekerja.


Saat aku sampai di outlet tempatku bekerja, kulihat rekan kerjaku menutup outlet. Tumben ditutup. Apakah dia mengira ku tidak datang hari ini. Mustahil. Aku sangat membutuhkan biaya, tidak mungkin aku menyia-nyiakan waktu untuk tidak masuk kerja.


"Kok tutup Mbak?" Tanyaku penasaran sambil memberi kode pada Abang tukang ojek untuk tidak pulang dulu.


"Kamu aku telpon gak diangkat. Barang habis. Di pusat juga masih kehabisan stok" Jawab rekan kerjaku.


"Wah tumben. Laris banget ya hari ini?" Aku penasaran.


"Ada yang borong. Lagi ultah katanya. Dia belikan teman satu kelasnya"


"Berarti yang borong anak sekolahan dong Mbak?"


"Iya..."


"Cewek apa cowok?" Jujur aku takut jika Rania uang membelinya. Aku lebih takut lagi jika dia tahu aku kerja di sini dan dengan terpaksa melakukan hal yang bisa merugikanku. Bukan dia, Mamanya.


"Cowok"


Huft, aku lega.


"Orang mana? Maksudku sekolah di mana?" Aku masih penasaran.


"Tahu!! Yang jelas sekolah yang bagus, seragamnya aja keren kayak di drakor gitu. Orangnya ganteng pisan. Udah ah, bantuin. Jangan tanya terus" Kata rekan kerjaku yang berasal dari tanah Sunda.


Aku segera membantu rekan kerjaku menutup outlet. Ada beberapa bagian yang berat jika ditutup sehingga minimal butuh dua orang untuk menutupnya. Abang tukang ojek masih menungguku sambil menyulut rokok di atas motornya.


Produk habis bahkan sebelum aku memulai kerja hari ini. Semoga saja aku masih digaji karena memang kehabisan barang. Bukan karena aku yang malas. Aku kembali pulang bersama Abang tukang ojek yang setia menungguku tadi.


Di tengah jalan aku berpikir. Aku tidak ingin pulang cepat. Aku tidak ingin merasakan pikiran yang galau selama di rumah. Tapi aku juga harus ingat, ada Papa yang membutuhkan bantuanku. Lagipula, Mama juga pasti masih kerja di jam segini. Ah, aku memutuskan pergi ke rumah Dinda dahulu. Dia pasti senang dengan kedatanganku. Setidaknya aku bisa melepas penatku selama berhadapan dengan Mama. Mungkin juga dia sedang membutuhkan bimbinganku hari ini.


Motor melaku menuju ke arah barat. Tempat di mana rumah Dinda berada.


***