
Benar saja. Aku adaah kelinci kecil yang nyasar di kandang macan. Ketika Alanta ditarik ke depan oleh Nyonya Hamdani, Stella dan kawan-kawan datang menghampiriku. Aku sudah menduga akan hal ini. Tapi aku sudah siap.
"Lo ngapain kesini?" Tanya Jessie.
"Apa kayak gitu yang diajarkan Clara pada kalian panitia acaranya, ke tamu yang diundang?" Aku balik bertanya.
"Tamu? Lo siapa gua nanya, lo itu gak diundang!!" Stella menyahut.
Aku gak kurang akal. Kukeluarkan undangan milik Alanta.
"Nih, lo baca sendiri ya, membawa pasangan. Siapa nih yabg bikin, tuan rumah sendiri kan?"
Mereka kemudian meneliti undangan itu dan mereka saling pandang. Mereka kalah telak.
"Gue diajak sama Alanta, mau gimana lagi, cowok gue yang minta" Congkaknya aku malam ini.
"Wah...udah jadian rupanya....yakin bisa bertahan lama? Saingan lo kelewat berat!!" Tukas Hana.
"Mau bertahan lama atau enggak, bukan tergantung saingannya, tapi tergantung Alanta sendiri. Sorry ya, Alanta kelewat cinta berat sama gue" Kataku.
Selepas menyemprot mereka dengan kalimat nyelekit itu, aku berlalu dan mencari tempat yang lebih ramai agar mereka tidak berani macam-macam kecuali jika mereka tidak malu dengan tamu yang lain. Kuambil minuman dan snack di meja lalu duduk bersama tamu lainnya.
"Baik semuanya, tamu kehormatan kita sudah hadir di tengah-tengah kita..." Kata Nyonya Hamdani.
Dan benar saja bahwa yang dimaksud tamu kehormatan adalah Alanta. Apa maksudnya, padahal Alanta sendiri tidak tahu kalau dia adalah tamu kehormatan.
"Pada acara ulang tahun pemilik kafe ini, putri saya, Clara Britania Puteri, telah hadir tamu istimewa kita Alanta Samudera"
Semua hadirin bertepuk tangan. Dengan situasi seperti itu mau tidak mau Alanta harus pasang wajah senyum yang hangat.
"Dan Alanta ini... Adalah putera dari sahabat saya, Ibu Mariana Hartanti, Ketua Yayasan First Internasional School"
Semakin keraslah tepuk tangan hadirin.
"Waduh ..sudah kecium bau-bau besanan ya" Komentar salah seorang tamu dewasa.
"Aduh itu masih jauh ah" Nyonya Hamdani tersipu malu.
Ya, memang kami berencana begitu. Jadi teman-teman semua. Saya dan Bu Maria sidah sepakat akan menjalin keluarga lebih dekat dengan melalui Alanta dan Clara. Untuk itulah kami turut mengundang Alanta malam ini" Lanjutnya.
Alanta terlihat risih dan sepertinya ingin segera berpindah tempat.
"Gimana Clara, kita mulai sekarang?" Tanya Nyonya Hamdani.
"Kita tunggu Papa bentar lagi Ma" Kata Clara.
Musik kembali diputar dan semua tamu kembali bergoyang. Tak tanggung-tanggung, Clara mengundang band papan atas untuk memeriahkan acara ini.
Alanta hendak kembali ke sisiku, tetapi Nyonya Hamdani terus mengajaknya ngobrol. Saat itulah Clara menghampiriku.
"Lancang banget lo ya datang kesini?" Kata Clara.
"Kenapa? Lo kalah saing?" Aku berbalik bertanya.
"Ini pesta ulang tahunku, bisa gak sih kamu gak ngerusak acaraku?"
"Yang ngerusak acara kamu tuh kamu sendiri. Bisa gak kamu bersikap wajar gak temperamen kayak gitu, jadi pusat perhatian tahu gak" Jawabku berani.
"Kurang ajar ya, dasar yatim piatu!!"
Dia lupa siapa dia dulu, beraninya dia berkata begitu.
"Jangan ganggu gue atau gue bakal beberin bukti upaya pembunuhan seorang Clara pada Rosa Nirwasita, teman sekolahnya di bumi perkemahan Bogor" Ancamku.
"Jangan ngada-ngada deh. Mana ada seperti itu"
"Oh mau denger rekamannya? Boleh!"
"Kamu lupa, jam tangan yang gue pakek ini adalah buatan prancis, yang bisa merekam suara di sekitarnya"
Mendengar itu Clara pun terkejut. Ia terlihat panik meskipun berusaha tenang. Ia berusaha melepas jam tanganku tapi aku dengan sigap menampiknya.
"Nggak sopan tahu main serobot barang orang" Kataku.
Clara tidak peduli, ia terus memaksaku melepas jam tangan ungu yang kembaran dengan Dinda. Terjadilah saling serang antara kami dan byur...Clara menendangku hingga tercebur ke dalam kolam renang. Aku gelagapan. Aku tidak bisa berenang, aku bukan orang kaya yang mengikuti les renang. Aku kuga bukan orang pegunungan yang biasa renang di kali. Aku berteriak minta tolong. Kuangkat kedua tanganku ke atas agar ada yang tahu aku tercebur di kolam. Semua hadirin berteriak histeris melihatku tercebur di acara bergengsi ini.
Di saat aku gelagapan, ada dua tangan mengangkat pinggangku. Kemudian tangan itu dijepitkan diantara kedua ketiakku dan dibawanya tubuhku menuju tepi kolam. Tepat seperti dugaanku, itu Alanta. Aku terbatuk-batuk sampai keluar sedikit cairan yang menurutku air kolam yang terminum olehku.
Alanta menutupi tubuhku dengan jaz yang ia pakai. Ia kemudian memelukku untuk menghangatkan.
"Ada apa ini?" Tanya Nyonya Hamdani yang baru saja datang.
Tidak ada yang menjawab. Aku kedinginan, Clara marah. Semua tamu hanya melongo. Alanta memang sengaja tidak menjawab.
"Kamu lagi? Gimana kamu bisa masuk ke sini...Satpam!!"
"Stop Tante. Pertama, Rosa saya yang ajak. Kedua Rosa tidak bersalah" Kata Alanta tegas.
"Alanta!!"
"Saya benar-benar kecewa dengan peristiwa ini. Kafe ini tidak bisa memberikan perlindungan pada semua tamunya. Lihat pacar saya sampai basah kuyup malam-malam begini"
"Pacar?" Clara dan Nyonya Hamdani terkejut bersamaan.
"Alanta kamu sadar apa yang kamu katakan?" Tanya Nyonya Hamdani.
"Rosa pacar saya, siapapun yang menyakiti Rosa akan berhadapan dengan saya"
"Alan, kayaknya Tante mesti ngomong deh sama Bunda kamu"
"Oke silahkan, diijinkan dengan terbuka. Oh ya, silahkan Tante cek cctv di kafe ini, ada kan? Tante bakal tahu siapa yang cari gara-gara"
Alanta membawaku pergi meski mereka ngomel-ngomel gak karuan. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan Clara. Maaf Rania, aku merusak acaramu bahkan sebelum kamu tiup lilin. Di depan gerbang kami bertemu dengan Papa Clara, Tuan Hamdani. Ia tampak terkejut melihat salah satu tamunya basah kuyup. Tapi kami tak peduli, kami terus melangkah keluar gerbang.
Sampai di mobil, Alanta memberiku handuk kecil untuk mengeringkan tubuhku sebisa mungkin.
"Maaf sekali lagi" Katanya.
"Apa?"
"Lagi-lagi aku terlambat melindungi kamu" Katanya memelas.
"Nggak tahu kenapa ya sayang, aku puas banget" Kataku.
"Puas kenapa?"
"Memang kelihatannya malang kali nasibku, tercebur ke kolam ditonton banyak orang. Tapi dengan pembelaan kamu, secara nggak langsung kita telah memukul Clara di depan banyak orang pula"
"So?"
"So, aku puas banget, sekali-sekali aku harus berani sama mereka, lihat mereka nyengir kayak gitu rasanya semua kesal yang kurasakan sudah kulampiaskan malam ini"
Alanta meraih tanganku. Dikecupnya lembut punggung tanganku. Lalu tangannya berpindah ke ubun-ubunku. Dielusnya pula rambutku dengan lembut. Dia tersenyum.
"Tapi sayang, kamu gak papa kalo Nyonya Hamdani pada akhirnya membahas ini dengan Bunda kamu?" Tanyaku tiba-tiba.
"Sebenarnya agak khawatir sih, tapi aku mah masa bodoh aja. Kita lihat saja nanti" Jawabnya.
Aku puas malam ini. Memang jalannya harus begini, jatuh dulu baru diangkat lebih tinggi.
***