
Seluruh siswi perempuan heboh dengan hadirnya siswa baru yang katanya ganteng seperti maxime bouttier. Mendadak kelas ini menjadi salon kecantikan. Make up, parfum sampai catok rambut dibawa ke sekolah. Apa memang seperti ini jika ada anak baru yang ganteng.
"Ros, kagak iku dandan lu?" Tanya Eni.
"Eh, dengerin ya, mau dandan kayak apa juga kalo emang mukanya pasaran ya tetep aja pasaran. Kalo udah cantik mau bangun tidur kek gak mandi sebulan kek tetep aja cantik" Aku mencoba berkelakar mengimbangi sikap mereka yang konyol dan santai.
"Wuahahahaha.... Idih sombong lu" Sahut yang lain.
Melihat mereka yang antusias dengan anak baru, aku pun jadi penasaran. Seperti apa rupanya cowok ganteng versi mereka. Seganteng apa anak baru yang disebut-sebut mirip artis itu.
Teeet....bel berbunyi. Waktunya ganti pelajaran. Anak-anak perempuan bersorak sorai. Sebab akan berganti pelajaran olahraga. Bukan pelajaran di kelasku tetapi pelajaran kelas tiga dimana anak baru itu berada. Mereka bahkan tidak peduli dengan pelajaran di kelasnya sendiri.
"Hoey......Jamkos!!!" Seorang siswa berteriak.
"Ah yang bener lu?" Tanya yang lain.
"Aku lihat tadi Pak Yanto keluar naik sepeda motor boncengan sama Pak Bagus. Pasti mereka rapat"
Kelas ini tambah ramai dengan dua berita yang menyenangkan. Pertama berita jam kosong, kedua berita tentang anak baru itu yang akan mengikuti pelajaran olahraga.
Para siswi berbondong-bondong menuju lapangan belakang sekolah. Dan aku pun ikut serta. Sampai di lapangan, baru kutahu bahwa tidak hanya siswi di kelasku yang mendadak berdandan super cantik. Siswi kelas tiga yang sedang olahraga itu pun juga berdandan secantik mungkin. Oh God, apa apaan ini. Mereka menor sekali make up nya.
Para cewek sudah memenuhi lapangan olahraga. Tetapi kakak kelas tiga yang berolahraga belum juga muncul. Setelah beberapa lama menunggu, mereka muncul juga dengan membawa bola basket. Aku belum hapal masing-masing wajah anak kelas tiga sehingga aku tidak tahu yang mana anak baru itu. Aku hanya melengak lengokkan kepala karena penasaran.
"Huuuuuuu!!!!!! " Para cewek sekolah ini mulai berteriak histeris. Tentu saja si anak baru muncul belakangan.
Aku hanya penasaran saja. Aku maju ke depan agar dapat melihat dengan jelas. Aku melihatnya memainkan bola basket. Putih tinggi postur tubuhnya ideal, rambut sedikit ikal. Ya Allah apa yang kulihat ini?
"Alanta!!"
Beberapa cewek di sampingku memandangku begitu aku menyebut nama itu.
"Kamu kenal Ros?" Tanya salah seorang.
Aku mundur. Ah aku pasti sudah gila. Bayangan Alanta pasti sudah menghantuiku sampai aku mengira orang lain adalah Alanta. Aku mundur, kembali ke kelas. Aku duduk dengan lesu di saat anak-anak cowok sedang mengisi jam kosong dengan bermain gitar. Jantungku berdegup kencang menyaksikan seorang anak yang wajahnya mirip dengan Alanta.
Semenjak pindah, aku tidak lagi menerima telepon dari Alanta. Memang kesannya aku menghindar darinya. Itu adalah permintaan Bu Sarah. Sebab jika Alanta tahu aku pindah sekolah, dia pasti akan memprotes kebijakan sekolah. Karena Alanta anak yang kritis. Aku pun sependapat. Sudah saatnya aku mengandalkan kemampuanku sendiri. Namun, semakin aku menjauh, semakin aku merindukan sosok pria penyayang itu. Lihat saja, orang lain kukira Alanta hanya karena postur tubuhnya hampir sama.
***
Pulang sekolah.
Semua siswa berhambur keluar untuk pulang. Tidak ada kegiatan ekstrakulikuler di sekolah ini selain pramuka. PMR pun hanya sebatas ruangan dan nama, tidak ada kegiatan meskipun struktur organisasi terpasang rapi di ruang UKS. Setidaknya itu yang kutahu dari teman-teman di kelas. Kenapa demikian? Karena rata-rata anak-anak di sini adalah pekerja sama seperti orang tuanya. Jadi mereka ingin segera pulang ikut bekerja dengan orang tua masing-masing.
Aku melihat seseorang di pintu gerbang dekat dengan parkir. Seseorang yang sangat familiar, lengkap dengan motornya. Alanta. Benarkah itu Alanta? Tidak mungkin. Dia orang lain. Anak baru pindahan yang mirip dengan Alanta. Postur tubuhnya mirip, mukanya mirip, bahkan motornya pun mirip. Bagaimana bisa ada orang semirip itu. Aku berjalan lurus melewatinya. Aku tak ingin melihatnya. Melihatnya mengingatkanku pada Alanta. Itulah kenapa aku memilih berlalu saja.
"Rosa!!Ros!!" Suara Alanta.
Bagaimana bisa dia mengenal namaku. Padahal aku tidka berkenalan tadi. Aku menoleh. Pria itu tersenyum. Aku memicingkan mata untuk memperjelas sosok yang kulihat ini.
"Kenapa? Kayak lihat artis aja" Komentarnya.
"Ya?"
"Alanta!!"
"Apa!!"
"Ini beneran kamu?"
"Ya iyalah"
"Ngapain kamu di sini?"
"Sekolah lah"
"Jangan gila deh, gak mungkin kan kamu pindah kesini?"
"Kenapa nggak mungkin?"
"Jangan bercanda deh"
"Iya beneran aku pindah kesini"
Aku menarik tangannya ke tempat yang lebih strategis untyk mengobrol.
"Alan, jangan main-main deh. Ini bukan guyonan. Ngapain kamu pakek pindah ke sini? Gimana dengan masa depan kamu!!"
"Aku nggak main-main, aku memang sedang menjajal kemampuan aku, gimana kalau aku jadi murid biasa, bukan anak ketua yayasan"
"Dengan pindah ke sekolah yang jauh berbeda dengan First?"
"Ya, aku pikir itu wajar"
"Alan please. Jangan jadi gila. Kamu gak perlu buntutin aku sampek ke sini. Oke kalo kamu buntutin aku gak masalah, karena kamu khawatir sama aku. Tapi dengan kamu pindah sekolah padahal kamu sudah kelas tiga, aku rasa itu keterlaluan. Kamu berlebihan Alan. Gimana dengan Bu Mariana, bagaimana dengan keluarga kanu. Dan masih banyak yang harus kamu pertimbangkan sebelum kamu pindah kesini"
Aku berbalik badan dan hendak meninggalkannya. Tentu saja Alanta tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Dia menarik tanganku dan membuat tubuhku berbalik berhadapan dengannya.
"Rosa, please. Dengerin penjelasan aku dulu. Aku bertindak bukan tanpa alasan dan bukan semata-mata menuruti egoku. Banyak yang aku pertimbangkan, dan aku sudah bicarakan baik-baik dengan Bunda maupun Tante Sarah. Memang aku belum resmi pindah. Berkas-berkasku masih di First. Tapi setidaknya aku sudah menunjukkan konsistensi aku"
Aku memandangnya nanar. Sungguh aku tidak mengerti jalan pikirannya. Dia mengorbankan masa depannya demi seorang gadis yang sama sekali tak penting. Apa yang ada di pikirannya. Seharusnya dia bersyukur memiliki kesempatan bersekolah di tempat sebagus itu. Kenapa dia justru pindah ke sekolah kecil ini.
"Terserah" Aku lemas dan berlalu.
Di saat yang bersamaan sebuah bus mini berhenti. Aku segera naik ke dalam bus. Bus berjalan maju meninggalkan Alanta yang memandangku terus. Dia terpaku. Jujur saja aku merasa kasihan dengannya. Pengorbanannya tidak kuhargai. Setidaknya mungkin itu yang dia rasakan. Tetapi sebenarnya aku tidak ingin dia jatuh sepertiku. Masa depannya menjadi suram karena aku. Setidaknya, jika aku sudah jatuh, dia jangan.
Aku menangis dibalik jaketku. Kuhadapkan wajahku pada kaca agar tidak ada yang melihat. Aku sedih. Aku telah menyeret seseorang dalam masalahku.
***