
"Steak satu, dimsum udang tiga, americano empat, noodle tofu tiga dan fried rice sosis satu" Kataku mengulangi pesanan.
"Oke" Jawab customer.
Aku segera memberikan pesanan itu pada koki di dapur. Dan segera menyiapkan piring saji. Menu malam hari berbeda dengan siang hari. Jika siang lebih ke arah yang segar-segar, maka menu malam lebih ke arah yang panas-panas. Apalagi musim penghujan begini.
Aku duduk sebentar melepas lelah. Anganku melayang pada kenangan siang tadi. Rasanya semangat hidupku menyala kembali. Lebih terang dan lebih membara dari sebelumnya. Jika kemarin tujuan hidupku mencari Rania, kemudian berubah untuk bertahan hidup, kini berubah lagi untuk membangun masa depan Alanta.
Mulai hari ini aku punya pacar. Meski masih harus sembunyi-sembunyi. Sebab Alanta masih terikat janji dengan Bundanya. Aku dengar waktu itu mereka bicara di klinik milik First. Aku bersedia menunggunya yabg tinggal setahun lagi lepas dari janji itu. Meski aku yakin sebenarnya Bundanya tahu dia menyukaiku sejak awal.
Aku teringat saat di pantai siang tadi. Segala beban yang ada di pundakku serasa diturunkan sementara. Hidupku serasa enteng seketika. Berlari, melawan ombak, bergandengan tangan, sesekali saling berpelukan ringan, ah aku ingin mengulangi itu setiap hari.
"Ros....Rosa!!" Kata teman kerjaku.
"Eh, iya"
"Tuh pesanan sudah ready" Katanya.
Oh, aku melamun sejak tadi, semoga saja customer tidak komplain. Aku segera membawa ke meja tamu di depan. Salah satu teman kerjaku memberitahuku bahwa ada tamu yang ingin kulayani. Siapa dia? Alanta? Ah baru saja berpisah sudah nyamperin. Kurasa bukan. Nyonya Hamdani? Apakah dia akan membuatku dipecat lagi?
Aku menemui tamu itu dengan langkah bimbang. Antara senang dan takut. Dan ternyata berbeda. Bukan Alanta, tetapi Ibunya, Bu Mariana. Beliau pasti membicarakan kepindahan Alanta karena mengikutiku.
"Bu Mariana" Panggilku.
"Oh silahkan duduk" Kata Beliau.
Aku menurut.
"Saya pesan capucino panas, gulanya sedikit saja" Katanya.
"Ada lagi Bu?"
"Sudah"
Aku kembali ke dapur menyerahkan pesanan pada koki. Segala perasaan campur aduk di pikiranku. Aku takut, sungguh. Aku takut dia menyalahkanku atas pindahnya Alanta, aku takut dia seperti Nyonya Hamdani yang berkuasa atas hidupku, sampai mampu membuatku keluar dari sekolah dan dipecat dari kerjaanku. Aku baru saja menjalin hubungan dengan putranya, tetapi sudah mendapatkan kode keras dari Ibunya.
Capucino panas kuhidangkan di meja. Aku duduk sesuai permintaannya. Raut wajahnya data, tetapi menyimpan rasa kesal luar biasa. Dengan menghadap ke meja, Bu Mariana mengaduk capucino dan mencicipinya sesendok dua sendok.
"Bagaimana sekolahmu yang baru?" Tanya Bu Mariana.
"Baik Bu"
"Kerasan?"
"Alhamdulillah"
"Sebagus apa sekolah itu sampai anak saya ingin pindah ke sana"
Akhirnya beliau membahas ini. Aku diam saja. Kurasa pertanyaan itu tidak perlu kujawab karena memnag tidak membutuhkan jawaban.
"Tadi pagi saya ke Bintang Harapan untuk mengurus berkas Alanta. Ternyata dia tidak masuk. Padahal dia berangkat pagi sekali. Dan ternyata kamu juga tidak masuk. Kamu tahu dia kemana?"
Deg. Bu Mariana ke sekolah tadi pagi tepat disaat kami membolos untuk pertama kalinya dalam hidup kami. Yah, Tuhan sedang menegur kami.
"Kalian pergi bersama?" Bu Mariana mengulangi.
"Tidak Bu. Saya tidak masuk karena ada kepentingan mendesak. Saya tidak tahu jika Alanta juga tidak masuk" Jawabku tegas meskipun dalam dadaku bergemuruh hebat.
"Oya?" Bu Mariana menyangsikan jawabanku. Sesaat dia melirikku namun kembali pada capucinonya.
"Saya juga kaget Alanta pindah ke Bintang Harapan yang jauh berbeda dengan First" Lanjutku.
Bu Mariana tersenyum sebentar.
"Saya rasa kamu tahu sebabnya. Ada yang indah di sekolah itu" Komentarnya.
Aku tersenyum saat menunduk. Aku tersanjung, sungguh.
"Ambil kembaliannya jika ada" Bu Mariana memberikan selembar uang seratus ribuan kemudian dia berdiri.
Bu Mariana hendak meninggalkan tempat, tetapi berbalik dan berkata.
Aku mengangguk.
***
Alanta sudah menunggu di depan gerbang dekat parkiran. Tempat dia biasa menungguku pulang. Sambil nangkring di atas motor, dia memainkan hapenya. Melihat kehadiranku, dia berdiri dan mempersiapkan motornya.
"Mau kemana nona?" Tanya Alanta.
"Ya ke resto lah"
"Ini masih jam segini lo, masih ada waktu dua jam. Makan dulu yuk" Ajak Alanta.
Benar juga. Beda sekali dengan First. Di First aku pulang hampir jam empat sore lalu langsung menuju resto untuk kerja sampai jam sembilan malam. Setelah itu barulah aku bisa belajar. Di sini, ada jeda waktu dua jam sebelum ke resto. Waktu itu bisa kugunakan untuk belajar sedikit sedikit.
"Oke"
"Itung-itung kencan pertama" Katanya lagi.
Aku tersenyum.
"Hmm gitu yaa" Ledekku sambil mengenakan helm.
Kami tidak jauh. Hanya ke sebuah area jogging dekat danau dan tak jauh dari resto. Banyak penjual yang menjajakan makanan di sana. Banyak meja kursi yang tertata rapi untuk sekedar berbincang. Aku tidak menyia nyiakan waktu yang sedikit ini. Kusempatkan waktu untuk membaca beberapa lembar saja.
"Serius amat. Nih, alpukat kan" Kata Alanta memberiku jus alpukat.
"Makasih"
"Sayangnya mana?"
"Apa?"
"Makasih sayang, gitu dong"
"Hehehe dasar bucin!"
Alanta bukan tipe orang yang meminta perhatian khusus. Melihatku membaca buku, tidak lantas membuatnya berpikir bahwa aku kurang memperhatikan dia. Sebaliknya, dia memberiku kebebasan untuk mengurus diriku sendiri, termasuk mengurus belajarku. Dia tahu betapa aku kekurangan waktu untuk belajar karena aku harus bekerja sampai malam.
Hapeku berbunyi. Sebuah nomer baru.
"Ya halo.." Sapaku.
"Non Rosa?"
"Iya benar, siapa ya"
"Anu Non...itu..Non Dinda...keracunan...tolong Non!" Kata seseorang yang menurutku adalah pembantu rumah tangga di rumah Dinda.
"Mamanya mana?"
"Itu...ke luar kota Non..saya bingung Non"
"Ya udah, Mbak tunggu ya sambil coba minta tolong ke tetangga. Saya kesana sekarang"
Aku menghabiskan jus alpukatku yang masih tersisa sambil berdiri.
"Ada apa?" Tanya Alanta bingung.
"Alan...anterin aku ke rumah Dinda ya. Dia keracunan. Di rumah cuma ada pembantunya. Mamanya ke luar kota" Kataku dengan buru-buru.
Tanpa ba bi bu Alanta segera menyiapkan motornya. Sepanjang jalan aku membayangkan busa keluar dari mulutnya dan matanya terbelalak. Ah tidak tidak, todak boleh, itu tidak boleh terjadi. Dinda pasti baik-baik saja. Dia paling cuma muntah dan pusing.
Sampai di rumah Dinda. Ada beberapa tetangga yang berdatangan. Sebelum berangkat tadi, Alanta sempat menelepon ambulan. Sesaat setelah aku datang, ambulan lun datang. Dinda sudah muntah banyak dan sekarang kondisinya sangat lemah.
Dengan hadirnya ambulan, Dinda segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Sayang sekali Mamanya tidak bisa dihubungi. Tetapi aku meminta pembantunya untuk tetap menghubungi Tante Santi sampai berhasil.
Dinda ditangani di ruang IGD. Semoga saja aku tidak terlambat. Semoga Dinda masih bisa diselamatkan. Alanta masih mendampingiku tanpa bertanya apapun. Dia tahu, Dinda satu-satunya sahabatku dari SMP.
***