
Rambutku tersibak melayang di belakang. Aku berdiri di atas sepedaku yang melaju kencang. Menantang angin yang menerpa tubuhku. Seakan Srikandi yang berperang dengan panahnya. Seperti itulah Alanta mengayuh sepedanya. Bersepeda seperti ini memang seru. Dulu aku hanya berdiri di bagian belakang, sekarang aku mengendarai sendiri. Andai saja dia masih ada di sini. Ia pasti akan menantangku balapan sepeda. Pasti seru. Setelah dia, aku tidak punya sahabat lagi. Kawanku hanya sebatas belajar di kelas, dan jajan di kantin. Tidak ada yang mengajakku menyusuri jalan dengan sepeda, jajan ketan durian di alun-alun Batu, atau mencari apel hijau di kebun agrowisata rumahan. Sekarang dia sudah SMP. Apakah dia juga punya sahabat lain? Apakah dia masih mengingatku seperti aku mengingatnya kini? Atau dia sudah lupa padaku. Apakah semua laki-laki begitu? Huft.
Sssseeeetttt.....aku mengerem sepedaku kuat-kuat. Sebab di depan sana ada turunan tajam yang membuat sepedaku melaju lebih kencang lagi. Dan tepat di ujung turunan ada mobil pick up pengangkut kelapa yang sedang berhenti. Uh, aku terbawa lamunan sampai tidak sadar ada mobil pick up di depanku.
Bruukk.....aku terjatuh. Sepedaku oleng ke kiri. Untung saja olengnya ke kiri. Entah apa yang terjadi jika oleng ke kanan. Akibatnya tentu fatal. Bisa jadi aku tertabrak kendaraan lain yang lalu lalang. Sepedaku nyungsep di semak-semak setelah menabrak bagian belakang mobil terlebih dahulu. Seseorang turun dari mobil karena suara benturan dari belakang.
"Waduh, hati-hati dek, untung saja gak ada yang lecet" Kata orang itu.
Yang dimaksud adalah mobilnya, bukan aku.
"Bapak kenapa berhenti pas di turunan begini" Protesku mencari pembenaran.
"Kok malah nyalahin Bapak, adek yang tidak lihat depan" Kata Bapak itu.
Aku terdiam. Benar atau salah, anak kecil sepertiku tetap akan berada di pihak yang salah. Uh, aku meringis kesakitan karena lutut kiriku berdarah. Bapak itu mengambil sepedaku dan membenarkan posisi setang.
"Nih sepedanya aman, gak ada yang rusak, cuma setangnya sedikit bengkok, tapi sudah Bapak benerin. Sekarang sudah bisa dinaikin" Kata Bapak itu beberapa saat kemudian.
Aku hanya diam mendengarkan.
"Lain kali hati-hati dek" Sambungnya.
Aku bangkit dan hendak menaiki sepedaku.
"Itu lututnya gak papa?" Tanya Bapak itu lagi.
Aku menggeleng.
"Mau Bapak antar pulang?" Bapak itu menawarkan jasa.
"Oh tidak Pak, tidak usah, terima kasih"
Aku segera berlalu. Menjadi tontonan sebagai orang yang terlibat dalam sebuah kecelakaan sungguh tidak mengenakkan. Tentu ada pro dan kontra yang menyertai. Sebagian orang melihatku iba, sebagian lagi menyalahkanku, dan sebagian lagi menyalahkan orang tuaku yang membiarkanku naik sepeda sendiri ke sekolah. Orang tua? Asal mereka tahu, aku tidak punya orang tua.
Sampai di rumah.
Ada motor terparkir di garasi. Motor tanpa plat. Apakah ada tamu? Aku memarkir sepedaku di garasi. Ali tidak bisa berjalan normal karena kakiku terluka. Aku bergegas ke dapur membersihkan lukaku dengan air mengalir, lalu kuteteskan cairan antiseptik, dan mengoleskan balsem. Begitulah cara bunda panti dulu mengobati luka semacam ini. Dijamin kurang dari dua hari lukaku akan kering. Kutiup lukaku pelan-pelan karena efek panas dari balsem. Saat itulah tiba-tiba Papa muncul dan melihatku seperti ini.
"Lututmu kenapa Ros?" Tanya Papa kaget.
"Jatuh Pa, biasa" Kataku setenang mungkin.
Aku memperlihatkan muka biasa saja agar Papa tidak khawatir. Alasan sebenarnya adalah, agar aku tetap diperbolehkan naik sepeda. Jujur saja naik sepeda ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer atau bahkan lebih, dikalikan dua pulang dan pergi, setiap hari pula, tentu melelahkan. Tapi jika sepedaku dicabut, aku tidak lagi bisa mengelilingi kompleks setiap Minggu.
"Masih sakit? Sudah diobati?" Tanya Papa sambil meniup lukaku.
"Sudah Pa, tenang saja besok juga kering lukanya" Jawabku.
"Sepedanya gimana? Ada yang rusak?" Tanya Papa lagi.
Belum sempat aku menjawab Papa berlalu memeriksa kondisi sepeda di garasi. Dan saat itulah Mama muncul di hadapanku sambil menggendong Monica yang tertidur.
"Kamu jatuh?" Tanya Mama datar.
"I..iya Ma" Jawabku ragu-ragu. Sejak kelahiran Monica hubungan kami seperti polisi dan tahanan. Seperti ratu dan dayang. Dayang akan selalu berhati-hati dalam bicara karena takut menyinggung sang ratu sehingga memberikan hukuman baginya.
"Sepedamu?"
"Bengkok sedikit, tapi sudah dibenerin kok Ma"
"Lain kali hati-hati, sepeda itu masih baru, kalaupun dijual tidak akan laku separuhnya"
Setelah itu Mama berlalu begitu saja. Bagaimana bisa ia lebih mementingkan harga jual sebuah sepeda ketimbang keselamatanku. Apakah hanya segitu nilaiku dimatanya. Aku tidak meminta diadopsi, dia yang membawaku kesini. Lantas aku diperlakukan seperti ini adilkah?
Tunggu sebentar, ini masih jam satu siang, kenapa Papa sudah pulang? Tak biasanya. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari kapan dia pulang cepat. Ini bukan hari libur. Lali mana mobilnya? Kenapa tidak tampak di garasi. Rusakkah? Lalu motor itu punya siapa?
Mbak Yanti mengambilkanku sepiring nasi. Mungkin ia melihat bagaimana Mama berkomentar atas kecelakaan yang kualami.
"Sabar Non, jangan diambil hati, Nyonya dari tadi ngurusin Monica sendirian. Agak rewel anaknya" Kata Mbak Yanti.
Aku berharap dia jujur, bukan karena menghiburku. Apapun itu aku tetap berterima kasih. Setidaknya ada yang peduli selain Papa.
"Itu motor siapa di garasi Mbak?" Tanyaku.
Sengaja kualihkan pikiranku sendiri. Aku tak mau membahas hal yang menyakitkan itu, setidaknya untuk saat ini.
"Punya Tuan lah Non" Jawab Mbak Yanti sambil menyodorkan segelas air putih untukku.
"Punya Papa? Baru?"
"Ya iya dong. Syukur lah Non, Mbak bisa belanja naik motor, gak jalan kaki lagi, gitu kata Tuan Non" Mbak Yanti begitu senang dengan motor baru itu.
Apa memang motor itu untuk memudahkan pekerjaan Mbak Yanti sehingga lebih cepat, apalagi sekarang ada Monica, tentu keperluan semakin banyak.
Ah, aku hanyalah anak kecil, hanya gadis 12 tahun yang tidak tahu apa-apa. Hanya saja otakku tidak berhenti berpikir tentang sesuatu yang mengganjal. Mobil itu, kenapa tidak ada di sini. Aku berharap tidak ada hal yang buruk. Jika saja sesuatu yang buruk terjadi di rumah ini, tentu aku akan dituding menjadi penyebabnya. Image anak panti masih begitu buruk di mata sebagian orang termasuk keluarga besar Mama.
Anak haram. Begitu sebagian orang memberi label. Semua anak panti adalah hasil hubungan gelap. Anak tidak diinginkan. Anak buangan. Semua memiliki predikat yang sama. Itu menurut mereka. Padahal tidak semua dari kami tanpa ayah dan ibu. Ada sebagian dari kami yang berasal dari keluarga miskin yang yang orang tuanya masih hidup, namun karena tidak mampu membiayai hidup anaknya, sehingga harus dititipkan di panti. Sebulan sekali mereka diperbolehkan pulang menjenguk orangtuanya. Apakah mereka tidak tahu akan hal ini. Sempit sekali pengetahuan mereka.
Pikiranku menerawang, angan-anganku terbang jauh ke panti. Kadang kupikir jauh lebih baik tinggal di panti ketimbang hidup di sini, bersama orang yang tidak sepenuhnya menerimaku.