
Foto Rania bersama ibu angkatnya terpajang di salah satu sudut ruangan di sebelah ruanganku. Memang benar Luxurious nantinya akan jatuh kepadanya. Bukan hanya Luxurious, tapi juga perusahaan ini akan menjadi miliknya kelak. Dia memang beruntung. Dia benar-benar menjadi seorang cinderella. Siapa yang akan menyangka gadis cilik penakut yang suka bersembunyi di balik punggungku itu kini menjadi seorang putri.
Kreek...terdengar pintu berderit. Elsa berdiri di sana.
"Kamu serius ngajukan proposal ke Bu Hamdani?"
Aku mengangguk.
"Yah pantes..."
"Kenapa?"
"Nih"
Sebuah amplop lebar bertali. Semacam berkas. Setelah kubaca isinya ternyata tugas survey. Kubaca lebih teliti lagi, ternyata tindak lanjut dari emailku tentang pengajuan online shop di lantai dua. Perusahaan menugaskanku ke Pekalongan untuk mencari partner kerjasama online shop. Menurut mereka aku yang harus menjelaskan maksud dari proposal yang diajukan itu. Lebih tepatnya mereka ingin aku mengurus sendiri, sedang mereka tinggal memetik hasilnya.
"Mobil plus sopirnya udah disiapin. Besok pagi jam 7" Lanjut Elsa.
Aku berharap esok hari tidak ada kabar apa-apa dari kampus. Gawat jika tenyata kampus mengumpulkan mahasiswa baru secara dadakan. Meskipun demikian aku tidak menyesal mengajukan pemanfaatan lantai dua Luxurious. Entah kenapa, rasanya seperti sedang mengerjakan tugas sekolah. Meski mengeluarkan banyak tenaga bahkan materi, asal mendapat nilai memuaskan di mata guru. Begitupun kali ini. Asal dinilai baik oleh atasan, aku rela melibatkan diri dalam urusan seperti ini.
Aku baru saja sampai rumah saat Alanta menelepon. Sebelum kuliahku masuk, aku bekerja dari pagi. Tapi ketika kuliahku masuk nanti aku hanya akan bekerja malam hari selepas pulang kuliah.
"Pulang? Kok mendadak banget" Aku terkejut karena Alanta tiba-tiba pulang hari ini.
"Kamu gak inget ini tanggal berapa?" Alanta balik bertanya.
"Tanggal berapa? Kenapa?"
"Yaaah...."
"Oh iya iya ingat...."
Aku hampir melupakan momen penting. Besok adalah anniversary hubunganku dengan Alanta. Tapi aku tidak berharap sama sekali untuk merayakannya secara khusus. Kurasa tidak perlu ngoyo untuk merayakan itu. Cukup dengan meningkatkan kualitas hubungan kami bukan?
"Aku sudah perjalanan dari bandara ke rumah. Besok aku jemput ya, aku sudah booking tempat. Kamu pasti suka" Katanya.
"Aduh sayang jangan besok ya, aku ada kerjaan penting besok"
"Kerjaan apaan?"
"Ada tugas ke Pekalongan untuk ketemu dengan partner perusahaan di sana"
"Oh ya udah, biar aku antar kesana, kita bisa cari tempat yang keren di sana" Alanta terdengar begitu semangat.
Menurutku itu ide yang bagus. Kami bisa pergi bersama ke tempat yang belum pernah kami kunjungi.
"Jam berapa memangnya?" Tanya Alanta.
"Sebenernya jam tujuh aku sudah dijemput di rumah"
"Jam tujuh? Pagi banget. Agak siang dikit gimana?"
"Gak bisa Alan, aku ngejar waktu"
"Oke sayang jam tujuh aku jemput ya"
Jauh lebih nyaman jika Alanta yang mengantarku. Karena aku tahu dia akan sellau melindungiku. Aaah, rasanya gugup bertemu dengannya setelah sekian lama. Apalagi di momen yang spesial seperti ini. Aku mulai membuka almari dan mencari busana yang pas untuk besok. Busana kerja yang santai dan terlihat cantik. Rasanya taj sabar menunggu pagi. Anniversary ke dua. Sudah dua tahun rupanya. Namun rasanya sudah lebih dari itu. Sangat dekat. Sangat rekat.
Jam tujuh, sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah. Itu pasti Alanta. Mobilnya berbeda dari biasanya. Apakah mobil baru? Seseorang keluar dari mobil, berkacamata, dan bertopi. Tapi itu bukan Alanta.
"Oh begitu? Maaf saya tidak terima laporan apa-apa" Kata pria itu.
Setelah itu hapeku berdering. Dari Alanta.
Oma masuk rumah sakit, kita tunda anniversary nya ya. Ntar malam aku telepon.
Neneknya Alanta masuk rumah sakit. Aku bisa maklumi itu.
"E ..Pak...gak jadi. Saya diantar bapak saja" Kataku tepat ketika pria itu menyalakan mobil untuk kembali pulang. Untung sopir itu masih di sini. Dan syukurlah laporanku tidak sampai ke kantor. Jika tidak, maka aku akan kebingungan mencari kendaraan ke Pekalongan.
Iseng-iseng aku membuka email untuk mengecek email dari kantor maupun dari partner di Pekalongan. Mungkin Tuhan sengaja membawa tanganku untuk membuka email. Sebab ada satu email yang tenggelam oleh email-email yang lain. Email yang sangat penting. Dari Dinda.
Jantungku berdegup kencang saat membuka surat itu. Ini kali pertama Dinda menghubungiku setelah rumahnya terbakar.
Ros, kamu okay? Aku juga okay.
Aku cuma mau ngingetin. Jangan bermain api. Hati-hati dengan mereka. Kekuasaannya mampu menghancurkan siapa saja, termasuk keluargaku.
Sorry, aku bersembunyi buka karena takut, aku hanya menjaga keluargaku. Aku di sini, masih di sini. Jadi please jangan khawatir. Kamu juga jangan cari aku. Setelah ini aku akan hapus surat ini. Yang jelas aku baik baik saja....
Oh Dinda tidak pindah dari Jakarta. Dia masih di sini. Dia sengaja menghilang untuk melindungi keluarganya. Siapa yang dimaksud dengan kata 'mereka' ?. Apakah mungkin yang dimaksud adalah orang yang sudah membakar rumahnya? Kenapa kau harus hati-hati. Apakah ada hubungannya denganku? Oh tidak. Nyonya Hamdani?
Mobil berdiri di suatu tempat yang sepi. Aku terkejut karena mobil berhenti tidak di tempat semestinya. Aku khawatir jika mobil mengalami kerusakan.
"Saya ke toilet dulu Bu" Kata Sopir.
Aku mengiyakan. Aku tidak terlalu peduli dengan sopir itu. Pikiranku menerawang jauh. Aku sedang merenungkan email dari Dinda. Dia bilang aku harus berhati-hati dengan mereka yang sudah membakar rumahnya dan kupikir itu pasti keluarga Hamdani. Karena hanya dia satu-satunya yang punya alasan kuat untuk melakukannya.
Sopir sudah kembali. Dan mobil pun berjalan lagi. Alanta mengirim gambar Neneknya yang terbaring di rumah sakit.
Bagaimana Oma?
Sudah membaik, cuma butuh perawatan intensif.
Syukurlah
Kabari aku kalo sudah sampai
Oke
Perjalanan masih sangat jauh. Aku berniat untuk tidur sejenak di dalam kendaraan. Iseng-iseng aku membuka google map, untuk memeriksa apakah masih jauh dan butuh berapa jam. Mataku terbelalak saat memperhatikan google map. Ruteku justru menjauhi Pekalongan. Kurasa sopir ini hanya bisa menyetir, tetapi kurang pengetahuan tentang maps.
"Pak maaf kayaknya kita salah jalur deh..." Aku mengingatkan.
Sopir itu tidak menjawab. Hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Pak....ini ada jalan balik....kita nggak ke situ aja? Pak??"
Lagi-lagi dia tidak menjawab. Disitulah aku menyadari sesuatu yang berbeda. Warna topinya, juga baju dalamnya. Tadi sopir memakai topi hijau, sekarang ganti merah. Baju dalamnya aku ingat betul berwarna putih. Ini berwarna hitam. Jaketnya sekalipun sama-sama hitam, tetapi ada yang berbeda. Ini jelas beda orang.
"Pak...kayak ya bapak salah masuk mobil deh"
Dan lagi-lagi tak menjawab.
***