My Name Is Rose

My Name Is Rose
Jangan Bicara Takdir



Ucapan Mama kala itu seringkali mendengung di telingaku. Terkadang pula merusak konsentrasiku. Tidakkah mereka merasa, harga diriku jatuh jika kembali ke panti. Seakan aku tidak diperlukan lagi. Seakan aku melakukan kesalahan yang fatal sehingga orang tua asuhku tak sanggup mengasuhku.


Tapi aku tidak mau terkungkung dalam perasaan ini. Hari ini Ujian Nasional dengan nilai standar 6 untuk masing-masing mata pelajaran. Aku harus fokus menghadapi ujian. Biar saja mereka mengembalikan ku ke panti. Aku akan cari jalan lain mencari Rania meskipun aku belum terpikirkan caranya. Tapi yang pasti, nilai UN ku harus bagus, suatu ketika pasti berguna.


Dua puluh anak di ruangan ini bersaing untuk mendapatkan nilai yang baik. Kedua puluh anak ini adalah siswa-siswa berprestasi akademik. Mereka anak yang ditakuti semua kelas. Sudah kukatakan bahwa kelasku, kelas 6A adalah kelas unggulan yang dihuni oleh siswa-siswa terbaik di sekolah. Kini kami di sini berjuang untuk nasib kami masing-masing.


Tiga hari sudah kujalani Ujian setelah sebelumnya mengikuti serentetan ujian yang mengelilingi Ujian Nasional. Tinggal menunggu hasil. Dan sementara itu, anak kelas 6 diliburkan hingga hasil Ujian Nasional keluar.


Aku menikmati libur dengan bermain bersama Monica yang sudah mulai berbicara. Ia sudah bisa memanggilku kakak. Aku senang. Dia yang mengalihkan perhatianku dari ucapan Mama kala itu. Dia yang menghibur kesedihanku. Lucunya, imutnya, semuanya membuatku tak bisa jauh darinya.


Dan sejak Mama mengungkapkan rencananya padaku kala itu, ia memperbolehkanku bermain dengan Monica. Mungkin ia sedang memberiku kesempatan bersama adikku, sebelum kami berpisah beberapa bulan lagi. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang hanya sebentar ini.


Semua terasa baik-baik saja, sampai suatu ketika, Papa pulang entah darimana. Aku tidak bisa menyebutnya pulang dari kantor. Karena kata Mama, Papa sudah tidak bekerja. Lalu setiap hari ia keluar, kemana? Mencari kerja kah?


"Halo Monica...." Sapa Papa sambil menggendong Monica.


Papa menciumi Monica beberapa kali. Adakah yang mencium pipiku seperti itu dulu saat aku masih bayi?


"Rosa, Papa sudah menemui kepala sekolahmu, Ijazahmu beserta hasil kelulisan belum keluar. Nanti jika sudah keluar akan dikirim ke kita. Sebab, kita akan segera pindah" Kata Papa.


"Pindah? Kemana Pa?" Tanyaku penasaran sambil berdoa dalam hati, semoga kami pindah ke Jakarta. Ups, aku lupa. Bukankah aku akan kembali ke panti?


"Kita akan ke....Jakarta!! Papa dapat panggilan interview di sana. Kalau sudah interview kemungkinan besar Papa diterima kerja" Kata Papa dengan nada memberi kejutan.


Aku diam. Aku sadar diri. Aku hanya tersenyum.


"Kok gak seneng...ayo dong peluk Papa"


"Apa... Rosa juga ikut Pa?"


"Ya iya dong, masak kamu mau tinggal di rumah ini sendirian?"


Apa Papa belum tahu tentang rencana Mama mengembalikanku ke panti?


"Katanya mau cari Rania?"


Mendengar nama itu, jantungku berdegup keras. Benarkah yang kudengar ini? Papa memenuhi janjinya. Aku berhamburan ke pelukan Papa. Akhirnya, ada jalan untukku mencari saudaraku. Tapi bagaimana dengan ucapan Mama kala itu.


***


Aku merapikan baju-bajuku dan manatanya di koper seperti perintah Papa. Sebab esok hari kami akan pindah ke Jakarta. Sampai di sini aku masih bertanya-tanya, bagaimana dengan ucapan Mama waktu itu, yang mengatakan bahwa aku akan dikembalikan ke panti. Tapi hingga kini belum ada kelanjutan tentang itu. Ah semoga tidak jadi.


Buku-buku, baju, peralatan sekolah, semua barang sudah masuk di koper dan kardus. Papa sudah melakban semua kardus itu. Hanya tersisa baju dan peralatan yang akan kupakai besok sebelum berangkat. Aku ke dapur untuk mengambil minum. Disitulah kulihat Mbak Yanti sedang berbicara dengan Papa.


Begitu melihatku, Mbak Yanti berlari ke arahku dan memelukku. Tentu saja sambil sesenggukan. Wajar lah, hari ini Mbak Yanti akan berhenti kerja. Kami tidak mungkin membawanya ke Jakarta. Lagipula, uang Papa belum cukup untuk menggaji pembantu.


"Terima kasih ya Mbak Yanti" Ucapku sambil menahan air mata. Aku sedih, karena dialah yang sering menguatkan ku saat mendapat perlakuan yang tidak enak dari Mama. Dia juga yang mengurus kebutuhanku termasuk saat sakit. Dia salah satu tameng dalam hidupku. Kini tameng itu akan berpisah denganku. Siapa yang akan mengurusku lagi setelah ini.


Mbak Yanti meninggalkan rumah dengan dua tas besar ditangannya. Rumahnya tidak jauh dari sini. Hanya beda kecamatan. Dia seorang janda memiliki dua anak. Kedua anaknya hidup bersama neneknya. Mungkin ketika melihatku, ia membayangkan kedua anaknya. Dia tahu bagaimana perasaan seorang anak yang butuh kasih sayang.


"Rosa...Papa mau bicara" Kata Papa dengan menggenggam kedua lenganku.


Deg. Kira-kira apa yang akan Papa bahas. Apakah tentang pengembalianku ke panti.


"Kita....sementara pindah ke Semarang" Lanjutnya.


Semarang? Bukan Jakarta? Kenapa bisa begitu?


"Di Jakarta kami tidak punya tempat tinggal, jadi lebih baik ke Semarang, rumah orang tuaku" Sahut Mama yang tiba-tiba saja muncul.


"Gak papa kan sayang? Nanti Papa carikan SMP yang bagus di Semarang"


"Mas, jadi Rosa tetap ikut?" Sela Mama.


"Ya iya lah Ma, dia kan anak kita juga"


"Mas, kan aku sudah bilang tadi malam, kamu belum kerja, kita juga tinggal di rumah Ibu, bagaimana kalau...."


"Ah sudahlah Ma, masalah itu nanti Papa yang atur"


"Jangan belagu kamu jadi orang Mas, duit darimana mau ngasuh anak orang...buat hidup sendiri saja susah!! Pokoknya kita kembalikan Rosa ke panti, titik!!" Mama mulai teriak


"Tidak bisa Ma, di surat adopsi tertulis bahwa Papa janji akan mengasuh dia dengan sebaik-baiknya seperti anak kandung saya sendiri" Papa pun meninggikan suara.


"Terserah. Itu urusanmu. Itu perjanjianmu dengan pihak panti. Bukan urusanku"


Seusai berbicara, Mama pergi meninggalkan kami. Saat itulah Papa tertunduk lemas. Satu sisi dia harus menyelamatkan rumah tangganya, satu sisi ada aku yang menjadi tanggung jawabnya saat ini. Dan aku berada ditengah-tengah antara memikirkan nasib Papa dan nasibku sendiri.


Aku tertegun, masih berdiri kaku di depan Papa. Dia duduk di sofa dengan pandangan nanar. Mungkin dia kecewa, seharusnya istrinya selalu berada di pihaknya, bukan justru membalakanginya. Salahkah aku jika menganggap diriku yang paling bersalah atas semua ini. Apakah semua karena keegoisanku demi mencari Rania. Demi bertemu saudaraku aku tetap bertahan di tengah keluarga ini. Aku tidak akan mundur sampai mereka menyerah dengan keadaan. Apakah aku egois akan hal ini?


Oh Tuhan. Aku hanya anak kecil. Tak bolehkah aku menangisi nasibku. Jangan bicara takdir padaku. Aku masih terlalu kecil untuk memahami itu. Jangan bicara rencana Tuhan padaku, karena anak sepolos diriku hanya butuh sesuatu yang membahagiakan, bukan sebaliknya.


Oh Tuhan.


***