
Mama sedang menerima telepon waktu aku membuka pintu. Raut wajahnya tampak begitu lelah. Kusempatkan menengok Papa sebelum ke kamar. Papa sedang tidur pulas. Monica pun tertidur di sampingnya. Alu tak ingin membangunkannya. Biarlah mereka menikmati waktu istirahatnya.
"Ros" Papa membuka matanya, mungkin ia mendengar pintu berderit sehingga terbangun.
"Ya Pa"
"Sudah pulang?"
Aku duduk di tepi ranjang. Kupindahkan kaki Monica yang menumpang pada tubuh Papa.
"Bagaimana sekolahnya, sudah daftar ulang?"
Papa menanyakan daftar ulang? Dia masih memikirkanku. Dia masih memikirkan biaya pendidikanku dengan kondisinya yang tak berdaya seperti ini.
"Sudah Pa, Mama yang beresin" Aku berbohong.
"Baguslah. Tahun depan Monica audah sekolah, apakah Papa sanggup biayain Monica?" Tanya Papa tiba-tiba.
Tak biasanya Papa pesimis seperti ini.
"Kuat Pa, nanti Rosa juga akan kerja part time biar bisa bantu Papa"
"Anakku harus kerja buat nyekolahin adiknya huhuhu" Papa tiba-tiba menangis seperti anak kecil. Aku terkejut apakah aku salah ngomong hingga menyakiti perasaannya.
"Papa, jangan ngomong yang aneh-aneh Pa. Kita pasti bisa bangkit lagi Pa. Papa jangan pesimis begitu Pa"
Sungguh hatiku remuk menyaksikan seorang ayah yang selama ini perkasa jatuh tersungkur tak berdaya dan hanya bisa terbaring di atas ranjang. Aku keluar dari kamar Papa setelah Papa tertidur kembali. Saat aku sudah berada di anak tangga kedua menuju kamarku, Mama memanggilku.
"Rosa, sini ada yang mau Mama omongin" Dan baru kali ini Mama mengajakku bicara untuk hal yang kurasa serius.
Kami duduk bersanding. Mata mama sembab karena terlalu banyak menangis. Bicarapun suaranya serak.
"Ini, kamu baca sendiri" Mama memberikan amplop cokelat besar padaku.
Di sampul amplop tertera sebuah nama perusahaan ' The Grand Luxury'. Itu adalah perusahaan tempat Papa bekerja. Ada beberapa lembar surat yang aku tidak paham isinya. Namun diantara beberapa lembar itu, ada satu amplop cokelat kecil. Di situ tertulis jelas 'surat pemberhentian kerja' berikut dengan selembar cek dengan nominal uang puluhan juta. Kukira itu adalah kompensasi atas pemberhentian kerja.
"Papa ...diberhentikan Ma?"
Mama tidak menjawab. Hanya mengangguk ringan sambil menangis. Perusahaan mana yang akan menerima karyawan yang lumpuh. Setidaknya dalam waktu beberapa bulan ke depan bahkan mungkin tahunan, Papa akan duduk di kursi roda. Kedua kakinya patah sehingga harus menjalani operasi beberapa kali.
"Sekarang mau bagaimana lagi? Uang yang dikasih dari perusahaan maupun asuransi, akan bertahan berapa lama" Kata Mama sambil terus menangis.
Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Aku hanya duduk sambil mengelus bahunya dengan maksud menenangkan.
"Monica sebentar lagi sekolah" Lanjutnya.
Aku paham maksudnya. Monica harus mendapatkan pendidikan yang bagu, yang setara denganku bahkan harus lebih bagus lagi. Tidak adil rasanya jika anak angkat mendapatkan fasilitas yang terbaik, sedang anak kandung hanya seadanya. Aku tidak boleh berpangku tangan. Tapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengangkat kembali keluarga ini.
"Sebentar Ma" Aku meninggalkan Mama dan segera menuju kamarku. Kuambil amplop tebal pemberian Tante Santi. Kuputuskan untuk memberikan honorku pada Mama. Aku masih punya sedikit simpanan dari hasil bimbingan belajar Dinda.
"Darimana uang ini?"
"Mama percaya sama Rosa Ma, Rosa kerja Ma, Rosa dapat tawaran bimbingan belajar Ma"
"Bimbingan belajar? Dengan uang sebanyak ini?" Mama masih belum percaya. Aku juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang tawaran itu.
"Ini sudah lama Ma. Yang Rosa bimbing anak orang kaya. Dia juga sempat jenguk Papa waktu di rumah sakit. Mama percaya Rosa Ma. Uang ini Rosa dapat dari bekerja Ma. Sebagian sudah Rosa ambil untuk registrasi semester dua Ma"
"Kamu masih sekolah di SMP mahal itu?"
"Rosa sudah pindah-pindah tempat selama ini. Rosa tidak mungkin pindah lagi Ma. Rosa bisa kerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mama tidak perlu khawatir. Bahkan kebutuhan Monica nanti, Rosa akan bantu Ma"
Kulihat Mama mulai memikirkan perkataanku. Segera kuserahkan formulir dari sekolah untuk Mama tandatangani.
"Rosa hanya perlu ijin Mama untuk melanjutkan sekolah"
"Kamu yakin?"
"Yakin Ma. Aku janji tidak akan memberatkan Mama. Aku akan mengurus apa yang menjadi kebutuhanku. Aku hanya perlu ijin dari Mama"
Aku berusaha meyakinkan Mama. Tetapi apa yang kukatakan bukan hanya isapan jempol semata. Aku sungguh akan berusaha membangkitkan keluarga ini. Keluarga yang sudah memberikan banyak hal untukku. Pahit dan getir yang kualami karena perbuatan Mama, kurasa menjadi pelajaran yang begitu bermakna untukku.
"Mana?"
Mama akhirnya menandatangani formulir itu. Keadaan ini memaksanya untuk berpihak padaku. Memang seharusnya kami saling menguatkan, saling bersatu dan saling memberi.
"Operasi Papa diajukan besok pagi. Kamu mau ikut?"
Mama benar-benar berubah. Dia menawariku sesuatu yang sangat penting seperti ini. Aku mengangguk kuat. Aku ingin mendampingi Papa disaat dia membutuhkan dukungan. Aku ingin ada di sisinya untuk saat-saat yang genting seperti ini. Besok pagi. Padahal operasi Papa dijadwalkan minggu depan. Tetapi maju menjadi besok pagi. Kami harus bersiap.
Aku masuk ke kamar Papa dan kulihat Papa sesenggukan lagi. Sementara Monica sudah bangun dan bersiap mandi dengan Bik Sul. Aku duduk di sampingnya dan mencoba menggenggam tangannya yang mulai keluar keringat dingin.
"Pa..." Panggilku.
"Maaf....maafkan Papa yang tidak bisa mengurus anak-anak Papa...huhuhu....kamu, Monica kalian harus tetap sekolah" Kata Papa sesenggukan.
"Papa jangan khawatir. Mama sudah mengurus biaya semester genapku. Biaya untuk sekolah Monica tahun ajaran baru juga sudah siap. Papa jangan pikirkan itu. Apa Mama sudah memberitahu Papa?"
"Memberitahu apa?"
"Operasi kaki Papa diajukan besok pagi. Papa harus siap-siap. Setelah operasi itu nanti, hanya tinggal menunggu waktu Papa untuk pulih kembali. Tinggal perawatan saja Pa. Ya Pa. Ayo kita siap-siap"
Aku begitu bersemangat. Aku yakin operasi ini akan menentukan masa depan kami. Karena masa depan kami tergantung dengan Papa. Kukemasi barang-barang Papa ke dalam koper kecil. Obat-obatan yang selama ini diminum Papa kujadikan satu. Selimut, handuk dan peralatan lainnya kukemas dengan rapi dalam sebuah tas yang berbeda. Besok Papa akan menjalani operasi dan semoga menjadi tindakan terakhir.
Esok aku akan menemani Papa ke rumah sakit. Artinya aku harus ijin sekolah. Lagipula masih awal masuk belum begitu tertib. Tapi bagaimana dengan daftar ulang uang harus kubayar? Bisakah ditunda lusa? Ah gampang. Aku akan meminta keringanan lagi seperti tempo hari. Oh iya Dinda. Aku harus meminta bantuannya untuk membuatkanku surat ijin. Minimal di absensi namaku bersih. Aku mengiris SMS pada Dinda dan segera menata berkas registrasi semester genap. Semua harus beres sebelum kutinggal ke rumah sakit.
***