My Name Is Rose

My Name Is Rose
Bik Suliyah



Papa sudah berangkat. Mobilnya sudah tidak ada. Aku harus bergegas. Surat sudah kuletakkan di meja belajar. Persis seperti adegan dalam film. Koper itu tidak terlalu besar tapi cukup berat untuk ukuran remaja sepertiku. Kuseret koper itu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Tunggu, kenapa aku harus takut, di rumah tidak ada siapa-siapa, kenapa aku harus mengendap-endap seperti ini. Ah.


Yah, tenang Ros...kamu toh tidak mencuri. Hanya sedikit uang. Itupun dari dompet Papa. Ah, bukankah itu namanya juga mencuri? Tidak lah. Tanpa kuambil pun Papa akan memberikan padaku sebagai uang saku. Kurasa cukup untuk naik bus ke Kediri. Lokasi panti asuhan yang membesarkanku.Aku mencoba berjalan dengan tenang. Huft. Kutarik nafas panjang. Tidak ada yang perlu kutakuti. Aku hanya perlu cepat meninggalkan rumah ini.


Tiba-tiba saja terdengar suara mobil berhenti. Kuintip sedikit dari jendela. Ya benar. Itu mobil Papa. Koperku, aku segera menyembunyikan koperku. Dimana? Aku menyapu semua ruangan dengan pandanganku. Kuputuskan untuk menyembunyikan koperku di balik lemari besar. Untuk sesaat koperku tidak akan terlihat. Setidaknya dari arah pintu dan sekitarnya.


Krek...pintu terbuka. Papa berdiri di sana. Sedang nafasku terengah-engah setelah berlari menyembunyikan koper. Dia tersenyum padaku seperti biasa.


"Belum mandi?" Tanya Papa.


"Su...sudah"


"Belum pakek seragam?"


Seragam? Seragam apa? Seragam SMP? Buat apa?


"Belum baca brosurnya ya?"


"Brosur apa Pa?"


"Tuh kan, brosur SMP Insan Mulia. Di meja belajarmu"


Brosur? Oh terlalu lama libur aku sampai lupa hari ini hari pertama masuk sekolah.


"Mau sarapan dulu atau ganti baju dulu?"


"Papa tadi keluar cari sarapan? Papa gak ke kantor?" Tanyaku penasaran, bagaimana bisa Papa yang sudah pergi tiba-tiba pulang lagi ke rumah.


"Oh gampang. Posisi Papa kan lumayan bagus. Nanti lah habis antar kamu ke sekolah Papa ke kantor"


Gagal. Papa sudah mendaftarkanku di sebuah SMP swasta di Jakarta. Bagaimana aku bisa melewatkan itu. Teringat bagaimana dia berjuang memasukkanku ke SMP favorit di Semarang. Bagaimana bisa aku menggagalkan usahanya hari ini.


SMP Insan Mulia. Lebih besar dari SMP Cendekia. Pantas Jakarta disebut sebagai kota metropolitan. Semuanya serba bagus. Bangunannya, alat-alatnya, serba modern. Memasuki SMP ini seperti memasuki gerbang istana. Begitu indah dan tertata. Apakah mungkin Rania juga sekolah di sini? Jika tidak, tentu sekolahnya jauh lebih besar dari ini karena dia anak orang kaya. Sebesar apa sekolahnya.


Yah, mungkin aku gagal tentang Rania, tapi setidaknya aku mendapatkan pendidikan yang bagus di sini. Bisa jadi ini adalah awal jalan cita-citaku. Jujur saja aku masih ingin pilang ke panti mengingat bagaimana Mama memperlakukanku di sini. Tapi pendidikan sebagus ini apakah akan kulewatkan begitu saja? Ayolah, kenapa aku menyerah hanya karena Rania menolak berteman denganku lagi. Secepat itukah aku menyerah. Tak ada seujung kuku pun dari usaha Papa yang bukan orang tua kandungku untuk mampu mempertahankanku di sisinya.


***


"Kamu punya pelet apa sampai Papanya Monica rela keluar duit banyak nyekolahin kamu di SMP sebagus itu" Celutuk Mama suatu pagi.


Ah sudah biasa. Dia takut anaknya tidak mendapatkan fasilitas seperti yang kudapatkan. Atau bahkan dia tidak rela disamai. Sabar Rosa....


"Eh, kalo diajak ngomong jangan diam saja!!" Mama mengulangi.


"Eh...maksud...Mama?"


"Guna-guna!!! Orang kampung biasa pakek guna-guna, ya kan??"


Guna-guna?pelet? Kupikir orang semodern dia tidak percaya dengan hal semacam itu.


Biar saja dia ngomel seperti itu. Ini bukan kali pertama. Seharusnya aku sudah kebal meski hatiku tercabik-cabik. Tapi hari ini aku masih meneteskan air mata meski hanya beberapa tetes. Kalimatnya selalu pedas seperti itu. Seharusnya aku sudah terbiasa. Ah.


"Assalamualaikum..." Suara seorang perempuan dari luar.


Aku segera menuju pintu dan membukanya. Karena tidak mungkin Mama melakukannya sendiri. Seorang perempuan setengah tua. Hampir seumuran Nenek menurutku, lebih muda sedikit lah. Rambutnya digelung, memakai daster panjang dan membawa koper beserta tas besar. Apakah dia saudara Nenek atau mungkin keluarga besar Papa? Ah jangan-jangan ini Ibunya Papa.


"Bu Arini .....ini benar rumahnya Bu Arini? Pak Hari?" Tanya perempuan itu.


"Oh iya benar Bu" Jawabku.


Aku baru saja akan memberitahu Mama, tetapi Mama terlebih dulu sampai di ruang tamu.


"Siapa ya?" Tanya Mama


"Suliyah Bu, saya pembantu baru"


"Pembantu? Maaf saya tidak pesan asisten rumah tangga" Jawab Mama dengan nada ketusnya.


"Anu Bu, Pak Har yang pesan Bu" Jawab perempuan itu.


Pembantu? Papa memesan pembantu? Akhirnya, aku bisa sedikit lega. Ada yang bisa membantuku beres-beres rumah. Setidaknya aku bisa berbagi tugas dengannya.


"Mas Har? Oh iya, masuk Bi" Kata Mama kemudian.


Aku mengantar perempuan itu menuju kamarnya, sedangkan Mama sedang sibuk menelepon Papa. Dan seperti biasa, mereka bertengkar di telepon. Aku tahu, Mama menolak keras menyewa jasa pembantu karena menurutnya di rumah ini sudah ada pembantu. Siapa lagi kalau bukan aku.


"Kamarnya di sini Bik" Kataku.


"Matur nuwun ya Non, eh...namanya...."


"Rosa Bik"


"Iya...matur nuwun Non Rosa"


Kami masih mengobrol ringan, tiba-tiba saja Mama sudah berada di depan pintu kamar.


"Tugas kamu masak, jam 6 pagi harus sudah siap. Sore ganti menu. Habis itu ngepel lantai. Minimal 3 hari sekali harus di pel, kamar mandi seminggu sekali di kuras, lalu nyuci baju, jemuran di atas ya Bik. Nyetrika baju malam hari saja. Jangan bikin kopi pagi hari. Suami saya punya maag. Susu dan sereal wajib disediakan pagi hari. Jangan masak nasi goreng pagi hari. Bikin ngantuk" Ketika mengucapkan kata 'ngantuk', Mama melirikku. Karena itu adalah kebiasaanku tiap pagi. Karena memang hanya itu yang bisa kumasak dengan cepat.


"Oh njih Buk, siap" Jawab perempuan itu sumringah.


"Rosa, hanya karena kita sudah punya asisten rumah tangga, bukan berarti kamu bebas ya. Kamu masih punya kewajiban bantu Bibi, dan jagain Monica" Kata Mama.


Aku mengangguk. Tak masalah. Tugasku sudah banyak berkurang dengan kehadiran Bik Suliyah. Tahukah kamu Bik, mulai sekarang kaulah pahlawanku. Kau akan membereskan pekerjaan yang tak bisa kulakukan selama ini. Dan mulai hari ini aku kembali menjadi seorang anak remaja yang tugasnya hanya belajar dan belajar. Terima kasih Bik. Oh, aku sampai lupa dengan laki-laki gagah yang menopangku selama ini. Papa. You are my hero....forever.


Tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi setelah Papa pulang dari kantor. Akankah pertengkaran meledak lagi di rumah ini? Hanya karena Papa menghadirkan seorang pembantu untuk meringankan tugasku? Atau karena uang mereka tak pernah cukup untuk apapun?


***