
"Kamu bilang ke aku, apa yang mengganjal di pikiranmu?" Aku sedang membujuk Dinda yang selama beberapa hari tidak masuk sekolah.
Dinda belum menjawab apa-apa. Tampak sekali wajahnya lelah oleh sesuatu. Sudah berapa hari dia tidak tidur. Apa yang sebenarnya dia pikirkan. Kupeluk pelan tubuhnya. Kubiarkan kepalanya bersandar di pundakku. Kubiarkan dia mencari kenyamanan di sana.
Seketika dia menangis sesenggukan. Kubiarkan beberapa saat ia menumpahkan segala yang mengganjal di pikirannya. Biarlah dia menguras habis air matanya. Kuharap bebannya ikut mengalir seiring berjalannya air matanya.
"Ros...aku....aku ngerasa...gak sanggup" Katanya untuk pertama kali.
"Gak sanggup apa?"
"Aku selalu ingin menjadi seperti apa yang orang tuaku inginkan. Aku ingin menjadi seperti Papa yang menjalankan bisnis sampai ke luar negeri. Aku ingin seperti Mama yang mengelola bisnis furnitur. Tapi untuk menjadi seperti mereka aku harus mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tapi aku...."
"Ya aku ngerti. Tapi aku ingin tahu dulu, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Sekolah di First Internasional School, atau di SMA Seni seperti yang waktu itu kamu bilang?"
"Aku ingin masuk ke First Ros, aku ingin membuat orang tuaku bangga"
"Yakin?"
Dinda mengangguk. Entahlah aku merasa di membohongi dirinya sendiri. Kemampuannya tidak cukup untuk masuk ke sekolah itu. Tetapi dia sudah membulatkan tekad untuk menjadi siswi SMA First. Seharusnya dia berpikir, betapa sekolah itu sangat bergengsi. Lihat saja bagaimana mereka menjaring siswa dengan dimulai sejak kelas 2 SMP. Waktu yang terlampau panjang. Artinya, sejak kelas 2 SMP dia harus menunjukkan nilai yang stabil.
"Udahlah tenang, aku bantu. Mulai hari ini, aku akan bimbing kamu menyelasaikan soal-soal"
Mendengar ucapanku dia begitu sumringah. Jadi itulah sebenarnya yang ada di benaknya. Ia meragukan kemampuannya tetapi dia punya keinginan kuat untuk bisa terdaftar di First. Apakah dia berpikir jika sudah masuk di sana akankah ada yang membantunya menjalani setiap ujian yang ada. Mengingat aku belum tentu akan sekolah di sana. Dan kemungkinan besar tidak.
Hari ini Dinda belajar soal logis matematis. Soal ini murni menggunakan kecerdasan logika. Tidak ada rumus yang pasti. Ini bagian yang cukup sulit untuk memahamkan orang lain. Tapi usahanya kuacungi jempol. Demi meraih apa yang fia mau, Dinda tidak mengenal ngantuk. Meski aku sendiri merasa lelah.
Selama dua minggu lebih aku membimbing Dinda, dia sudah menunjukkan perkembangan yang luar biasa bagi seorang Dinda. Kemampuan mengerjakan soal matematika sudah cukup bagus. Menurutku, bukan guru pembimbing yang kurang cakap dalam membimbing Dinda, tetapi Dinda yang tidak membuka diri. Kunci dari keberhasilan adalah dirinya sendiri.
Ujian semester gasal tiba. Tes memasuki First Internasional School akan dilaksanakan pada liburan semester gasal ini. Dan nilai ujian semester akan berpengaruh pada kelulusan. Aku melihat Dinda sudah cukup mampu untuk mengikuti ujian tanpa kubantu.
"Udah siap Din?" Tanyaku sewaktu bertemu dengannya di gerbang.
Dinda mengangguk kuat. Tak pernah kulihat dia sepercaya diri hari ini. Dia benar-benar bersemangat kali ini. Inilah sebenarnya yang kuharapkan dari Rania. Mandiri, percaya diri, dan aku siap membantunya. Siapa sangka gadis yang selalu membokong padaku kini menjauh dariku.
Aku satu ruangan dengan Dinda. Ini wajar karena kami sekelas, mungkin hanya beda deret. Yang mengejutkan adalah kami juga satu ruang dengan Clara. Dia menatapku saat menuju kursinya..dia berada tak jauh di depanku. Aku bisa melihat gerak geriknya berjam jam selama ujian. Aku bahagia. Sungguh. Meski hanya melihatnya dari belakang. Seperti seorang gadis bertemu idolanya. Senang, bahagia, hatinya bergetar. Seperti itulah kira-kira.
Sesekali kulirik Dinda. Dia tampak serius mengerjakan soal. Kurasa dia benar-benar siap menghadapi ujian. Syukurlah. Usahaku berhasil. Sesi pertama hampir usai. Banyak siswa yang sudah mengumpulkan lembar jawaban. Kulihat Dinda masih berpikir disaat aku sudah siap mengumpulkan lembar jawaban seperti yang lain.
Beberapa saat kemudian kulihat Dinda mulai kebingungan. Kucoba membiarkan dulu karena aku ingin dia benar-benar mampu tanpa bantuanku. Aku menunggunya selesai sembari memeriksa jawabanku sebelum kukumpulkan. Beberapa kali kilihat raut wajahnya tampak bingung. Ah, aku sidah membekalinya selama lebih dari dua minggu. Itu sudah cukup. Dia harus berusaha sendiri.
"Lima menit" Kata Pengawas mengingatkan bahwa waktu sudah hampir habis.
Kulihat Dinda. Benar saja, dia menoleh kesana kemari. Aku tahu dia bingung. Aku berdiri mengumpulkan lembar jawabanku. Tapi kemudian seorang siswa menabrakku dari belakang sehingga kertas yang dibawanya berserakan. Alih-alih membantu siswa itu mengumpulkan kertas, aku melirik ke arah Dinda agar dia bersiap menerima bantuanku. Dengan cepat kuletakkan gulungan kertas berisi jawaban di kursi dekat dengan kursinya. Dengan cepat pula Dinda meraihnya. Selesai.
Aku sudah hampir meja guru saat kemudian kulihat lembar jawaban milik Clara yang masih kosong beberapa. Beberapa detik mata kami beradu. Seolah dia berkata, 'aku belum selesai'. Kukumpulkan lembar jawabanku di meja guru. Aku kembali menoleh ke belakang dan kulihat Clara masih melihatku. Biarlah. Bukankah dia tak mau berhubungan apapun denganku.
"Lembar soalnya dikumpulkan atau...." Tanyaku pada guru.
"Dikumpulkan" Jawabnya.
Aku kembali untuk mengambil lembar soal yang masih tertinggal di meja. Secara otomatis aku kembali melewati bangku Clara. Saat itulah kujatuhkan gulungan kertas berisi seluruh jawabanku di mejanya. Saat aku berlalu dia menolehku dengan tatapan campur aduk. Antara terima kasih dan tidak perlu.
Begitulah. Aku membantu dua orang uang amat penting bagiku. Satu sahabatku sekarang ini, satu lagi saudariku di masa lalu.
Ujian selesai untuk hari ini. Aku melihat Clara duduk sendiri di kantin. Tanpa teman-temannya. Di saat seperti ini, kemana sahabat-sahabatnya. Atau memang Clara ingin sendirian. Aku yakin dia memikirkan peristiwa tadi di ruang ujian. Dia pasti tak menyangka aku akan mengulurkan bantuan.
Clara tampak sedang membaca buku paket. Ya, itu adalah buku pelajaran yang akan diujikan esok hari. Aku menghampirinya. Aku berani karena taj ada sahabat-sahabatnya kali ini. Jika meraka turut hadiri di sini, aku tak akan seberani ini.
"Ini, kamu bisa pakek buku catatanku biar lebih mudah hafal" Kataku menyodorkan sebuah buku.
Clara berdiri menatapku dengan tatapan sejuta tanya. Aku sungguh tak mengerti arti dari tatapan matanya itu.
"Kamu bisa menyimpannya rapat-rapat tanpa sepengetahuan teman-teman kamu bahkan Mama kamu. Mau ambil atau tidak terserah" Kuletakkan buku catatan itu di meja dan kutinggalkan dia sendiri.
Aku tidak menoleh ke belakang. Tidak sama sekali. Aku ingin memberinya ruang untuk berpikir. Tentang apakah dia mau mengambil kesempatan ini atau tidak. Aku tak peduli. Aku berharap dengan bantuan yang hanya seklumit itu, dia akan berubah. Dia akan kembali seperti dulu.