My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kedutaan



Sepuluh bulan.


Aku mulai terbiasa dengan kehidupan Jerman yang sama sekali berbeda dengan tanah kelahiranku. Hawa nya pun sudah tidak membuat perutku mual. Memang seharusnya begini. Beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Meski awalnya risih dengan kehidupan yang terlalu bebas. Tapi mau bagaimana lagi. Terlalu kecil untuk mengubah isi dunia.


"Rose, ada surat untukmu" Kata Rebecca sesaat setelah aku masuk ke kamar.


Dari kantor kedutaan. Apakah semua mahasiswa Indonesia menerima seperti ini. Atau hanya aku saja. Tapi kurasa wajar karena mendekati pergantian tahun. Kuteliti isi surat itu. Semacam perpanjangan kurasa.


Hari ini juga aku ke kantor kedutaan. Untuk menuju ke kantor kedutaan harus naik bus kota terlebih dahulu. Sekitar lima belas menit dari rumah jika lancar. Kantor kedutaan berada di sebelah kanan di pinggir jalan. Sama seperti kantor-kantor lainnya. Gedungnya tampak seperti istana Hogwarts. Sangat unik. Jika aku tidak tahu ini adalah kantor kedutaan atau ikon bendera di depannya dihilangkan, mungkin aku menganggap ini adalah tempat rekreasi.


Aku tidak sendiri. Rebecca menemaniku karena dia akan ke gereja sebelah kantor kedutaan. Mungkin sekarang dia sudah berada di dalam gereja. Tidak sulit mencari ruangan staf yang mengurus mahasiswa dari Indonesia. Karena ada lambang garuda di pintunya.


Aku mengetuk pintu dan tak berapa lama seseorang membuka dari dalam. Benar-benar orang Indonesia.


"Jadi, kamu sudah mengurusnya?" Tanya petugas kedutaan.


"Maaf, mengurus apa ya Bu?" Tanyaku yang memang tidak tahu.


"Sebentar, kamu sudah tahu kan masa beasiswa kamu hampir habis?"


"Maaf Bu, bukannya beasiswa saya sampai lulus?"


Tentu saja aku terkejut. Pasti ada kesalahan dalam hal ini. Aku yakin betul bahwa beasiswaku berjalan sampai lulus. Tidak mungkin ada aturan per tahun.


"Di sini tertulis satu tahun. Masih ada dua bulan untuk mengurus beasiswa. Atau mungkin kamu mempersiapkan biaya. Coba hubungi orang tua kamu untuk mempersiapkan biayanya"


"Boleh saya lihat bu?"


Siapa yang bertanggung jawab atas ini? Benar-benar tertulis sampai akhir tahun ini. Mana ada beasiswa hanya satu tahun. Di Indonesia pun kurasa sangat jarang ada beasiswa yang terbatas. Aku tidak percaya ini. Pasti ada kesalahan. Jika itu benar. Bagaimana denganku? Aku akan seperti duyung yang terdampar di negeri orang.


Aku keluar dengan tenang namun memendam panik luar biasa. Aku hanya berlagak tenang.


"Sudah? Kita pulang?" Tanya Rebecca begitu aku keluar.


"Re ... Aku mau ke sebuah tempat. Kamu pulang dulu atau bagaimana?" Tanyaku.


Awalnya dia memilih pulang. Baru beberapa langkah dia kembali seakan dia tahu terjadi sesuatu padaku.


"Aku temani" Katanya.


Sekarang aku sudah di dalam bus kota. Aku akan menuju kantor Miss Gritte. Tempat pertama kali aku mengurus kependudukan di Jerman. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di kantor itu. Sekitar sepuluh samapi lima belas menit. Aku masih ingat betul kali pertama menginjakkan kaki di bumi Jerman. Kami semua menikmati sebuah kebanggaan kami kuliah di liar negeri. Kami mengabadikan momen dengan background gedung-gedung unik dan burung dara. Bangganya kami kala itu. Mungkin hanya akau yang menyimpan rasa duka di baling sebuah kebanggaan itu.


"Im sorry...saya tidak tahu menahu. Tugas saya hanya menerima mahasiswa dari negeri lain, lalu menempatkannya pada rumah yang sudah kami sediakan. Coba konfirmasi ke Miss Rachel" Kata Miss Gritte.


Dari sini sudah menemui jalan buntu. Pikiranku pun menjadi buntu. Dengan selembar kertas berisi alamat kantor Miss Rachel di Hamburg, aku akan mencari keadilan. Jantungku rasanya sedang ditekan kuat-kuat. Sesak. Jika ini di Bandung, atau Surabaya atau Kalimantan sekalipun aku masih bisa berupaya untuk pulang. Tapi ini di belahan bumi yang lain. Bagaimana aku akan pulang? Atau bagaimana aku akan bertahan hidup. Di negeri orang.


"Kita pulang" Kataku pada Rebecca.


"Kenapa? Ayo mau kemana. Aku temani" Katanya.


Sejujurnya aku juga khawatir jika ini tertunda tunda masalah akan semakin terendap sehingga sulit mengurus kembali. Tapi Rebecca juga punya jadwal yang padat. Hanya demi sebuah solidaritas, aku tidak ingin ia mengorbankan dirinya sendiri sekalipun dia bersedia.


***


Segerombolan burung dara mematuk biji biji yang disebar pengunjung. Jika terdeteksi langkah kaki manusia mereka segera terbang dengan cepat. Sesekali kulihat lehernya manggut-manggut menikmati biji biji yang masuk ke kerongkongannya. Bulunya yang halus terkadang mengkilap karena terkena cahaya matahari. Mereka sederhana namun tetap cantik. Meski bukunya haya satu warna, berbeda dengan merak yang berwarna warni.


Satu di antaranya bertengger di sandaran kursi yang kupakai. Ia melihatku sekaan mengenalku. Tapi aku lupa bahwa di hanyalah binatang. Dia hanya kebetulan bertengger tanpa memilih. Tapi tatapan itu begitu dalam. Begitu menyentuh. Burung, bisakah kau terbang sampai Indonesia? Kalau bisa, bolehkah aku menumpang naik di punggungmu?


"Rose..." Panji sudah berdiri di sisi kiriku.


Melihat kehadirannya serasa ingin mengeluarkan semua air yang membendung di rongga mataku.


"Tumben. Ada apa?" Tanya Panji yang memang belum tahu.


Aku berdiri menatapnya. Seperti anak yang mengadu pada orang tuanya. Aku tidak mampu menjelaskan. Mengeluarkan suara saja rasanya lidahku kelu. Aku hanya menatap dan terdiam. Sampai akhirnya air mata itu menyeruak keluar tanpa satu huruf pun yang menemani.


"Rose ... Kenapa? Ini kenapa nangis gini?" Tentu saja Panji yang belum tahu apa-apa.


Aku tidak mampu menjawab. Kutunjukkan surat dari kedutaan yang mengurus mahasiswa, juga alamat kantor Miss Rachel di Hamburg. Sepertinya Panji pun terkejut dengan isi surat itu. Terlihat dari dahinya yang berkerut dan matanya yang menelisik tajam.


"Kampus asal kamu sudah menipu kamu. Tapi sulit untuk melaporkan mereka karena nyatanya surat ini asli. Dan ada tanda tangan kamu juga" Kata Panji.


"Tapi aku merasa surat sebelumnya nggak kayak gitu Kak. Tanggalnya juga beda. Aku ingat betul tanggalnya 25 bukan 28" Aku berbicara dengan sesenggukan.


Panji tampak berpikir. Aku yakin dia juga mencarikan solusi atas ini. Tapi aku tidak yakin jika solusinya akan ketemu dalam hitungan menit.


"Kak anterin aku ke alamat itu" Kataku yang sudah putus asa.


"Kesini?" Tanya Panji dengan menunjuk ke arah lembaran kertas yang kuberi.


Aku mengangguk.


"Rose ..ini Hamburg. Butuh setidaknya tujuh jam untuk sampai di sana. Coba kirim email atau telepon" Usul Panji


Aku menggeleng kuat.


"Ya kali segera direspon. Bagaimana kalau tidak? Waktuku tinggal dua bulan"


Kembali Panji tampak berpikir keras.


"Oke. Nanti malam kita berangkat. Besok pagi kita sampai di Hamburg" Kata Panji akhirnya.


Mungkin aku keterlaluan meminta Panji mengantarku ke kota yang jauh. Tapi sekali lagi aku bisa apa? Dan dia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang kukenal.


***