My Name Is Rose

My Name Is Rose
Ujung Tangga



Desiran angin menerpa tubuhku, menggoyangkan ujung rambutku sehingga menyerupai orang menari. Aku berdiri mematung, memandangi mobil putih yang pergi menjauh. Mobil itu meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan menggantung.


"Non ..!!!" Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menuju ke arahku. Ia mempercepat langkahnya begitu aku menoleh karena panggilannya.


"Bik Sul..."


Nafasnya terengah-engah begitu sampai padaku. Di tangan kirinya membawa kantong plastik berisi sayuran. Dia pasti baru belanja ke pasar.


"Syukurlah Non sudah pulang. Ditunggu Ibuk sama Bapak di rumah Non" Katanya.


"Ditunggu? Tumben" Komentarku.


Untuk apa Mama dan Papa menungguku, apakah ada hal serius? Papa memang biasa menunggu kepulanganku untuk berbagai hal. Memberi oleh-oleh misalanya, atau membicarakan masa depanku. Tapi Mama, dia tak pernah peduli apapun tentangku kecuali kesalahanku. Dia sangat tertarik dengan setiap detail kesalahanku yang kemudian dijadikan alasan untuk menyiksaku. Tujuan utamanya jelas, membuatku hengkang dari rumah.


"Tadi ada tamu Non" Kata Bik Sul sambil menggandeng tanganku.


Kami berjalan bersama dengan santai sambil terus mengobrol.


"O ya? Siapa?"


"Istrinya bos nya Bapak"


Istrinya? Berarti Nyonya Hamdani? Alu terperangah. Untuk apa Nyonya Hamdani datang ke rumah? Darimana dia tah alamatku. Apakah dari Papa, apakah artinya Nyonya Hamdani tahu aku anaknya Papa? Jantungku berdegup kencang mendengar berita ini. Berbagai ketakutan muncul di benakku. Dan sekarang Mama sedang menungguku. Tentu dia meminta penjelasan akan kebohonganku pada Nyonya Hamdani. Duh, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi dulu dan pulang lebih sore?


Seperti yang dikatakan Bik Sul, Mama dan Papa tengah menungguku di ruang keluarga. Monica turut hadir di sana menyantap sejumlah makanan ringan di depannya. Melihat kedatanganku, Monica melompat ke arahku dan memelukku seperti yang biasa dia lakukan setiap hari.


"Akhirnya kamu pulang kuga Ros, sini" Kata Papa dengan mengayunkan tangannya.


"Bu Hamdani, istrinya Direktur perusahaan, tadi datang kesini, dia bilang anaknya satu sekolah sama kamu" Kata Papa lagi.


Aku mengangguk. Duh, aku semakin yakin kalau Nyonya Hamdani kesini untuk kroscek.


"Hape kamu itu menang undian ya di pestanya anaknya" Sahut Mama kali ini dengan senyum sumringah. Entah apa yang membuatnya menjadi peramah begitu kepadaku.


"Iya Ma" Jawabku ragu.


"Kamu kenal baik sama anaknya?" Tanya Mama sambil menuangkan jus buah naga untuk kami.


"Oh, nggak Ma, gak terlalu, soalnya kita beda kelas"


"Kenapa? Ya gak papa dong, besok diakrabin itu anaknya, biar makin deket, sekali-kali diajak main kesini, nanti Mama siapin masakan spesial" Kata Mama merayu.


Yang benar saja, mana pernah dia menginjak dapur. Lagipula tumben sekali dia bermanis-manis kepadaku. Aku yakin dia menyimpan satu tujuan demi kepentingannya sendiri.


"Betul itu, itu bisa berpengaruh kepada karir Papa. Papa bisa lebih cepat naik jabatan" Sambung Papa


Benarkah? Naik jabatan atau justru dipecat? Bagaimana jika Nyonya Hamdani tahu siapa aku yang sebenarnya, apakah karir Papa akan baik-baik saja? Atau justru Papa akan kehilangan semua yang sudah dia panjat sampai tinggi ini.


Kulihat di kanan kiri banyak sekali makanan ringan, buah, kue dan beberapa pernak pernik. Semua ini dari Nyonya Hamdani. Untuk apa dia membawa sebanyak ini.


"Sebagian buat adikmu ya" Rayu Mama lagi.


Tanpa diminta pun, aku akan menyisihkan sebagian untuknya. Kami tidak sedarah tapi aku menyayanginya. Aku tidak akan membalas pahit yang kuterima selama ini kepada Monica yang tidak bersalah sama sekali. Aku tidak akan menjadi sehina itu. Aku mengangguk. Dan Mama tersenyum dengan gestur yang kuberikan.


***


Aku menaiki anak tangga menuju kamarku. Jalan satu-satunya yang kulalui setiap hari. Kamarku ada di lantai atas. Tidak begitu luas namun cukup untuk merebahkan tubuh serta meletakkan seabrek barang-barangku. Ada jendela di salah satu sisinya. Dari jendela itu aku sering melamun, memikirkan segala sesuatu.


Mataku menyapu ke seluruh ruangan kamarku. Aku menyibak deretan buku-buku di meja belajarku. Tetapi tak kudapati apa yang kumau. Aku ingat betul meletakkannya di deretan buku paling depan, tetapi sekarang tidak ada. Aku menggeledah isi laci dan lemari buku, tetap tidak kutemukan. Dimana?


"Kamu mencari ini?" Tiba-tiba saja Mama berdiri di depan pintu. Sejak kapan dia masuk ke kamarku.


"Mama..."


"Ini sekolah swasta paling bergengsi dengan standar internasional. Kamu mau mendaftar di sana?" Tanya Mama.


"Eh....itu bukan punya saya Ma, itu..."


Aku ingin menjawab namun kuurungkan. Mana mungkin aku mengaku bahwa aku mendapat tawaran untuk membantu seseorang masuk ke sekolah itu, tetapi juga tak mungkin kuakui bahwa aku akan mendaftar di sana. Maju salah mundur salah. Ke kanan salah kiri juga salah. Alu akhirnya hanya memilih diam.


"Aku tidak meragukan kemampuanmu untuk mengikuti tes di sana. Tapi biayanya mahal banget. Kamu mau minta suamiku untuk membiayai sebanyak itu? Setidaknya pikirkan masa depan Monica. Suamiku belum kaya banget Ros"


Aku tahu diri. Kalaupun aku mau sekolah do tempat semahal itu, aku akan masuk dengan biaya sendiri. Entah bagaimana caranya yang jelas tidak dengan uang mereka. Aku menunduk. Hanya mampu mengumpat dalam hati. Sementara kubiarkan Mama memarahiku sampai puas.


"Mama, dari tadi Papa cari lo" Tiba-tiba saja Papa muncul di ujung tangga.


"Ada apa ini Ma?" Tanya Papa begitu sampai pada kami berdua.


"Nih, kali ini Mama tidak setuju. Monica sudah waktunya sekolah. Dia juga berhak mendapat sekolah yang bagus" Mama menepukkan brosur sekolah First ke dada Papa.


Papa membacanya sekilas. Raut wajahnya justru tampak tersenyum. Ayolah Pa. Jangan memancing keadaan menjadi lebih keruh. Jangan mendukungku untuk masuk ke sekolah itu. Aku tidak berminat sejauh itu. Cukup sekolah di SMA Negeri sudah cukup. Tidak perlu sekolah di tempat sebergengsi itu.


"Oh iya, ini memang sekolah baru tapi prestasinya luar biasa nak. Lulusannya bisa dengan mudah diterima di perguruan tinggi. Karena memang sistemnya bagus banget. Guru-gurunya berkompeten, fasilitasnya memadai dan tentunya hanya anak-anak jenius yang bisa masuk ke sana" Jelas Papa menggebu-gebu.


"Mas .... Apa-apaan sih!!" Potong Mama.


"Anak kita ini mampu Ma, Mama denger sendiri kan dari Bu Hamdani anak kita ini cerdas Ma. Dia mendapat nilai sempurna di ujian tengah semester Ma"


"Terserah!!"


Mama meninggalkan kami dengan sejuta rasa bencinya. Aku memaklumi kebencian Mama. Seandainya Mama tahu apa yang ada dalam pikiranku, ia tak akan sebenci ini padaku. Aku tak mengerti jalan pikiran Papa. Kenapa dia begitu ingin membantuku. Dia selalu memutuskan yang terbaik untukku. Dia memberikan segala hal uang terbaik. Apakah dia akan melakukan hal yang sama untuk Monica?


***