
"Silahkan tanda tangan di sini, dan di sini. Ini jadwal orientasi, dan persyaratan lain ya" Kata petugas administrasi.
Sah, aku sudah mendaftar kuliah di First. Karena kampus itu yang memberikanku beasiswa. Jika harus ke kampus lain maka aku harus siap membayar penuh. Jurusan kedokteran, bukan karena kerennya, tapi memang dari awal aku memimpikan menjadi seorang dokter. Aku ingin tahu bagaimana mencari keberadaan ibu kandung melalui medis. Seperti bagaimana bayi yang terbuang dapat diketahui ibu kandungnya. Seperti itulah tujuanku. Aku sudah menemukan Rania. Bagaimanapun kondisinya sudah bukan menjadi prioritas lagi, uang jelas dia baik-baik saja. Kini saatnya aku mencari orang tuaku.
Orientasi masih dua minggu lagi. Selama itu aku harus menyiapkan banyak hal. Setidaknya aku harus menata waktu lebih dulu sebab kuliah kedokteran sambil bekerja tentu melelahkan. Aku harus menata agar tidak tumpang tindih.
Pagi ini selesai mendaftar kuliah, aku dikejutkan oleh suasana yang tidak biasa. Tepatnya di ruanganku. Ada beberapa orang yang sedang mengepaki barang-barang di lemari tua milik Papa. Sebagian barangku juga diangkut. Sementara Pak Agung dan Pak Herman hanya berdiri menyaksikan. Ya aku paham, mereka tidak bisa mencegah jika sudah menjadi perintah direksi.
"Pak maaf, ini ada apa ya?" Tanyaku terkejut seperti tersangka yang rumahnya digeledah polisi.
"Bu Hamdani meminta dibersihkan Bu" Jawab mereka.
Tak perlu menunggu lama, aku segera menuju ruangan Nyonya Hamdani. Beliau sudah kembali bahkan belum ada satu minggu sejak Clara bertolak ke Australia.
"Saya masih ada beberapa hari kan Nyonya sebelum pindah ke Luxurious" Aku protes.
"Ya, saya tidak ingin ada berkas pegawai lama yang masih tersisa. Sekecil apapun, api harus dipadamkan"
"Saya akan bawa barang-barang Papa saya" Kataku tegas, dan itu membuat Nyonya Hamdani berhenti sejenak.
"Itu milik perusahaan. Tidak boleh ada yang mengutak atik. By the way, menyetujui kamu pindah ke Luxurious seperti mendapat angin yang sangat segar. Kaku tahu? Setidaknya kamu tidak di kantor ini lagi. Setiap kali melihat kamu, dadaku rasanya sesak. Jangan sampai aku melakukan hal yang sama lagi" Jelas Nyonya Hamdani sambil berlalu ke luar ruangan entah kemana.
Aku tidak bisa berkutik. Aku segera kembali ke ruanganku untuk menyelamatkan apapun yang bisa diselamatkan. Saat aku kembali, semua sudah bersih. Bahkan lemari tua milik Papa sudah tidak ada.
"Pak Agung...." Aku mencari pembelaan.
Pak Agung menggelengkan kepala. Bagaimanapun hidupnya bergantung pada perusahaan ini. Dia lebih memilih menerima segala keputusan meskipun itu merugikan dirinya ketimbang mengubah keadaan tetapi justru membuatnya kehilangan penghasilan. Aku tidak ingin pria yang sudah kepala lima itu terlibat terlalu jauh. Biarlah dia aman secara finansial.
"Mbak Rosa, saya butuh tanda tangan Mbak" Kata Wenny.
Kubaca isinya, kontrak kerja Luxurious. Kubaca dengan teliti agar tak ada satupun yang merugikanku. Aku khawatir itu adalah jebakan. Setelah benar-benar fix aku membubuhkan tanda tangan di tempat yang tersedia.
Hal yang sama. Hal yang sama apa yang beliau maksud. Jangan sampai melakukan hal yang sama. Apa itu?
***
"Oh jadi kamu administrator yang baru. Emmm masih muda ya" Kata seorang karyawan senior.
"Ya saya baru lulus SMA tahun ini. Beberapa bulan lalu" Jawabku santai.
Kami masih terus berjalan sambil mengobrol.
"Apa kamu masih saudara dekat Bu Hamdani atau bagaimana? Lulusan SMA jarang yang bisa bekerja dengan posisi ini"
"Tidak, hanya saja, dua bulan sebelumnya aku sudah bekerja di kantor induk"
Pegawai perempuan itu berhenti sejenak karena terkejut. Beberapa detik ia memandangku seakan tak percaya, tetapi kemudian ia tutupi keterkejutannya dengan terus berjalan.
"Kopi?" Dia menawarkan.
"Sebagai apa di kantor induk?" Tanya dia.
"Divisi promosi dan pemasaran"
Pegawai itu tersedak bahkan terbatuk-batuk. Ia kemudian mengambil tisu dan membersihkan area mulutnya. Sekali lagi mungkin dia terkejut dengan jawabanku.
"Dari Kantor induk ke Luxurious yang hanya toko biasa? Mengejutkan ya" Katanya.
"Ini bukan toko, ini pemasaran jitu untuk para wisatawan asing. Ketika mereka hendak membeli oleh-oleh, mereka akan memilih toko yang menjual banyak barang khusus oleh-oleh. Dan di sini semua lengkap. Terutama tye dye nya" Jawabku.
"Oke.....selamat bergabung"
Entah kenapa pegawai itu terdengar sedang malu. Mungkin dia terkejut karena anak kecil lulusan SMA ini ternyata memiliki posisi di atasnya. Dia harus berhati-hati dalam bicara mulai sekarang.
Tempatku ada di lantai dua. Alu tidak melayani pembeli seperti yang lain. Tugasku adalah memeriksa stok, merekap keuangan, dan mendata setiap barang yang datang. Aku tidak sendiri, pegawai yang menyambut kedatanganku juga bertindak sebagai administrator. Tapi dia hanya berhak mendata. Sedang aku bertanggung jawab membesarkan Luxurious dan memastikan tetap stabil secara pemasukan.
Mulai hari ini aku sangat sibuk. Pagi aku kuliah, waktu siang break aku ke Luxurious, lalu kembali lagi ke kampus, kemudian malam aku kembali ke Luxurious. Jam sepuluh malam hingga jam satu malam aku mengerjakan tugas-tugas kuliah. Semua orang tahu, kuliah jurusan dokter tidak bisa main-main. Dua puluh empat jam waktunya adalah untuk belajar. Kuliah dokter sambil bekerja, sebenarnya bukanlah pilihan tepat. Tapi my name is Rose, aku mawar berduri yang bahkan mampu hidup di tempat dingin. Aku tidak akan menyerah begitu saja.
Sebulan berjalan, everything is okay. Semua bisa kuhandle dengan baik. Kuliah dan kerja berjalan dengan seimbang. Di tahun pertama adalah teori. Aku hanya perlu banyak membaca dan mencatat penjelasan dosen. Bahkan ke Luxurious pun aku membawa serta buku-buku kedokteran.
Lantai atas kosong. Rencananya digunakan sebagai gudang. Merinding rasanya berada di ruangan sebesar ini sendirian. Itulah sebabnya aku hendak mengajukan program baru. Online shop yang saat ini sedang ramai. Aku sedang mengajukan proposal untuk itu.
"Lembur?" Pegawai yang pertama kali menyambutku yang belakangan aku tahu namanya Elsa, datang menemuiku.
"Alu mau ngajuin ruangan ini untuk jadi operasional online shop. Bagaimana menurutmu?"
"Sepertinya kurang cocok"
"Kenapa?"
"Setahuku, ruangan ini nantinya mau digunakan putrinya Bu Hamdani setelah lulus study nya"
Putri Bu Hamdani, artinya itu Rania.
"Buat usaha? Usaha apa?"
"Kurang tahu... Dulu pernah mau diajuin dipakek kafe, tapi ditolak dengan alasan itu"
Aku berpikir sejenak. Rasanya proposal yang sudah setengah jadi juga akan mengalami penolakan.
"Lagian kenapa sih repot-repot mikirin tempat ini. Kenaikan omset tidak akan berpengaruh sama gaji kita. Yang untung mereka, yang mikirin kita. Mending kayak gini ajah.... Kerja semampunya, dapat gaji, aman"
Dia benar juga. Buktinya ide-ide yang kemarin tidak mendapatkan apresiasi yang berarti. Terlebih jika jerih payah pemikiranku, ujung ujungnya dinikmati oleh Rania. Tak masalah jika hubungan kami seperti dulu. Masalahnya, ini akan menjadi boomerang untukku nantinya.
***