
Beliau berjalan menuju arah kami saat kami sedang beres-beres. Aku yang pertama kali melihat. Lalu kutepuk lengan Alanta untuk memberitahunya siapa uang datang. Alanta berbalik badan dan melihatnya dengan ekspresi tak karuan. Antara takut dan malu. Yah, mungkin saja malu karena selama ini selalu menjadi yang terbaik, kini menjadi nomor dua.
Bu Mariana berdiri tepat di hadapan kami. Teman-temanku di SMA Bintang Harapan seketika berhenti beraktifitas. Mereka memandangu sosok perempuan modern di hadapan mereka. Perempuan inilah yang sedari tadi duduk di kursi kehormatan di depan sana. Mereka pasti berpikir untuk apa perempuan terhormat ini datang ke posisi kami.
Pertama Bu Mariana memandang Alanta. Matanya berkaca-kaca. Sejenak aku berpikir mungkin dia merasa diambrukkan oleh putranya sendiri. Dalam lomba ini, putranya melawan sekolah yang ia bina, sama halnya dengan melawan Ibunya.
Lantas kemudian Bu Mariana memandangku. Giliran aku yang gugup. Aku merasa telah merebut putranya darinya. Aku merasa telah mempermalukannya meski dia tetaplah juaranya. Tetapi kemudian beliau memegang lengan Alanta dengan lembut dan mata yang berbinar itu. Barulah aku tahu, dia tak seperti itu. Dia tak berpikiran senegatif itu.
Namun beliau tidak berkata apa-apa. Hanya matanya yang berbicara dengan kalimat uang tak bisa kuterjemahkan. Tetapi aku yakin, dia bangga dengan putranya. Beliau lantas pergi mengikuti tamu-tamu yang lain meninggalkan gedung.
Teman-temanku saling pandang dengan kejadian ini. Mereka mulia curiga kurasa. Mereka curiga jika kami berdua ada hubungannya dengan Bu Mariana. Rasanya tidak mungkin lagi kami menyimpan rahasia terlalu lama. Bahwa Alanta adalah anak dari Bu Mariana, juga fakta bahwa dulu kami juga siswa andalan di sekolah itu.
***
"Bu ini pialanya taruh mana ya" Kataku pada kepala sekolah yang sedang sibuk menulis sesuatu.
Menyadari kehadiranku, kepala sekolah mengalihkan perhatiannya padaku. Beliau kemudian berdiri dan menyambutku dengan sambutan terbaik yang pernah kulihat.
"Aduh taruh mana ya enaknya. Apa di lemari Ibu saja. Tapi nanti gak kelihatan dari luar. Atau di....emmmm perpus? Ah perpus sekarang mana ada yang ngunjungi. Atau di....laboratorium"
"Laboratorium sudah lama tutup kan Bu?" Tebakku.
Dan beliau mengiyakan.
"Ya udah di ruangan Ibu ini saja" Usulku.
"Oh Ibu punya ide...gimana kalau di ruang administrasi. Di sana tempat anak-anak bayar sekolah, juga tempat pendaftaran sekolah. Nah itu kayaknya bagus"
Dan kali ini aku mengiyakan. Menurutku dari sekian ruangan non kelas di sekolah ini memang hanya ruang administrasi yang ramai. Kenapa piala diletakkan di sana? Tentu saja strategi pemasaran, untuk mempromosikan sekolah. Jika wali murid mendaftarkan putranya ke sekolah ini, setelah melihat piala ada di lemari, mereka akan semakin yakin dengan sekolah ini. Begitulah menurutku.
Ada sebuah lemari di ruang administrasi yang memang terlihat jelas dari luar. Tetapi di dalam lemari itu sudah ada 2 piala lainnya. Tentu saja aku penasaran itu piala apa. Kubaca pada tulisan di bawahnya. Juara 1 lomba cipta baca puisi dan Juara 1 siswa berprestasi dan semuanya tingkat propinsi. Artinya, dahulu sekolah ini tak seburuk ini. Mereka pernah meraih juara tingkat propinsi. Piala itu sudah usang. Jadi pasti usianya sudah belasan atau bahkan puluhan tahun.
" Ini piala siapa ya Bu, tingkat propinsi, keren banget Bu" Komentarku.
"Oh itu sudah lama ..mungkin kamu belum lahir. Kata Pak Yogi yang sudah lama ngajar di sini, dulu ada dua anak, cewek cowok yang semangatnya luar biasa untuk belajar. Segala lomba mereka ikuti, beberapa kali kalah juga tapi mereka nggak patah semangat. Sebenarnya pialanya banyak tapi sudah rusak, tersisa dua itu" Jelas Kepala sekolah.
Kuletakkan piala itu dengan hati-hati. Selama sepuluh bahkan belasan tahun terakhir, hanya piala ini yang mengisi lemari ini. Meski masih juara 2, tapi itu sudah luar biasa. Mengingat sekolah ini yang minim prestasi.
"Eh tapi kayaknya mereka itu pacaran deh...sama kayak kamu sama Alanta kan?" Tiba-tiba saja kepala sekolah berkata begitu.
Aku hanya bisa nyengir sambil tersenyum. Darimana kepala sekolah tahu aku pacaran dengan Alanta. Ah, pasti gosip cepat beredar.
Alanta berdiri di depan pintu sambil menunduk memberi hormat. Aku tidak tahu untuk apa Alanta ke sini. Yang jelas, kepala sekolah memang menginginkan bertemu dengannya.
"Ayo..masuk sini..." Kata kepala sekolah.
Alanta menurut dengan perintah kepala sekolah. Kini kami berdekatan karena memang posisi ruang administrasi ini tidak terlalu lebar.
"Ibu bangga dengan usaha kalian....sepanjang ibu menjabat sebagai kepala sekolah ini, belum pernah Ibu lihat ada siswa yang greget untuk meraih prestasi. Jangankan meraih prestasi. Ikut lomba saja ogah ogahan. Makanya Ibu juga ikutan ogah ogahan. Kalau ada lomba, ah palingan anak-anak gak ada yang mau, makanya Ibu tidak pernah mengumumkan adanya lomba-lomba" Jelas kepala sekolah.
Aku dan Alanta hanya bisa mendengar sambil sesekali menunduk. Sekolah seperti ini seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah, meskipun merupakan sekolah swasta, bukan sekolah negeri. Sekolah swasta seringkali dianggap mampu berdiri sendiri dengan manajemen sendiri. Namun kenyataanya, sepanjang yang kutahu, masih First School yang mampu seperti itu. Sekolah swasta lainnya harus mati-matian bekerja keras untuk mampu berdiri tegak.
"Nah, mumpung kalian ada di sini...nih Ibu punya berita bagus"
Kepala sekolah kemudian menuju ruangan yang lebih dalam dan menemui seseorang di sana yang menurutku adalah petugas administrasi. Beberapa saat kami menunggu. Kurasa kepala sekolah ingin memberikan kami beasiswa sebagai bentuk apresiasi.
"Nih, waktunya masih panjang sekitar tiga bulanan" Kata kepala sekolah sambil menunjukkan selebaran kecil.
Aku dan Alanta memeriksa selebaran itu. Olimpiade Sains. Ini berbeda dengan olimpiade yang Alanta ikuti waktu itu. Ini tidak diadakan oleh dinas pendidikan, melainkan diadakan oleh sebuah organisasi pemerhati pemuda di Jakarta.
"Memang tidak ada tindak lanjut hingga Nasional, tapi saya rasa cukup bergengsi di Jakarta" Kata kepala sekolah.
Alanta manggut-manggut sebelum ia menjawab.
"Tapi Bu, saya sidah kelas tiga. Biasanya jika sudah kelas tiga akan ada batasan usia. Bagaimana jika saya tidak lolos?" Kata Alanta kemudian.
"Waduh bagaimana ya?" Kepala sekolah tampak bingung.
"Rosa bisa sendiri Bu. Tentunya ditemani dengan teman-teman sekelasnya" Kata Alanta.
"Hah!! Ya tidak bisa. Saya tahu mereka tidak sepandai kamu. Seperti perang tanpa senjata nantinya" Cegah kepala sekolah.
Alanta tersenyum.
"Ibu jangan meragukan kemampuan cewek di samping saya ini Bu. Dia bisa menyabet semua pertanyaan nanti. Tenang saja" Kata Alanta.
Kucubit pinggangnya karena telah berbicara ngawur.
"Tentu saja saya akan setia di balik layar" Alanta memandangku meyakinkan. Tatapannya lembut dan penuh dukungan. Namun kurasa idenya itu gila. Mana mungkin aku sendirian bekerja dalam tim. Benar kata kepala sekolah, seperti berperang tanpa senjata.
***