My Name Is Rose

My Name Is Rose
Malam Tanpa Hiasan



Memasuki ujian akhir semester ganjil tentu menguras tenaga dan pikiranku. Nyaris dua puluh empat jam waktuku habis untuk belajar dan bekerja. Pagi mengikuti ujian, sore bekerja di resto dan malam setelahnya belajar hingga dini hari. Sekitar jam dua dini hari barulah aku bisa meletakkan kepalaku di atas bantal. Tidur pun tak bisa terlalu nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak jika hanya dua jam aku bisa terlelap.


Memang tidak sehat untuk gaya hidup. Waktu istirahat setidak-tidaknya adalah 8 jam sehari. Dan aku tidak ada setengahnya. Tapi aku berusaha keras melewatinya, toh hanya dua minggu selama ujian akhir semester. Aku pernah membaca, bahwa orang-orang sukses seringkali mengorbankan waktu istirahatnya. Dan aku berharap menjadi salah satunya.


Kriiiing.....bunyi Alarm subuh. Bersamaan dengan bunyi panggilan dari Alanta.


"Ya halo!!" Sapaku


"Udah sholat?" Tanya Alanta


"Baru juga bangun" Jawabku.


"Hahaha..."


"Apa kabar Malaysia?"


"Sepi, gak ada yang nyubit pinggangku kalo lagi kesel"


"Hahaha"


"Jaga diri baik-baik"


"Kamu dong yang jaga diri, di negeri orang banyak budak budak comel kan?"


"Hahaha....di indonesia gak ada yang secakep aku kan?"


Indahnya subuh itu. Setiap dia menelepon rasanya seperti menyuntikkan energi yang luar biasa hebatnya. Meski hanya tidur dua jam dalam sehari. Hari ini ujian terakhir. Aku harus lebih semangat, sebab besok akan berbeda dari hari ini. Besok tidak akan tidur dua jam lagi. Rencananya aku akan ambil cuti beberapa hari menikmati liburan. Ups, bukan liburan, lebih tepatnya aku akan mencari pekerjaan sampingan lain. Aku dengar dari beberapa teman, bahwa ada kerja part time bagi pelajar selama liburan. Yah, beberapa hari cukup lah.


Ujian hari terakhir tidak sepusing sebelumnya, sebab hanya muatan lokal. Meski begitu bukan tabiatku meremehkan segala sesuatu. Aku tetap serius mengerjakan. Waktu berakhir lebih dulu dari hari kemarin. Aku bisa segera ke resto lebih cepat.


Sampai di resto semua tampak berjalan normal. Rekan-rekan kerja juga menjalankan kesibukan sebagaimana mestinya. Sampai pada akhirnya Susi, salah satu karyawan yang bertugas sebagai kasir berteriak histeria. Untung saja dia di ruang belakang sehingga teriakannya tidak terdengar oleh pengunjung.


"Tadi dikunci gak?" Tanya salah seorang karyawan.


"Biasanya sih dikunci, tapi tadi aku lupa" Kata Susi dengan terisak.


Kemudian manajer datang dan mengurai keramaian. Kami semua kembali pada pekerjaan masing-masing. Aku meneruskan mengelap meja setelah pengunjung meninggalkan tempat. Beberapa karyawan berbisik-bisik di sebelah kanan.


"Gila, sebanyak itu yang ilang" Kata salah satunya.


"Tuyul kali"


"Jaman sekarang mana ada begituan"


"Ih gak percaya, hal gaib itu gak peduli jaman"


Itulah kalimat yang kudengar. Ada apa sebenarnya. Hari ini suasana resto tak seperti biasanya. Suasananya tegang dan para karyawan lebih banyak diam. Sebagian besar karyawan tersenyum dengan terpaksa. Tentu ada sesuatu yang terjadi. Pukul sepuluh malam resto sudah tutup. Semua karyawan dikumpulkan di belakang. Entah apa yang terjadi, kami hanya bisa menurut pada manajer. Segebok uang ditumpuk di meja. Di sebelahnya beberapa uang receh. Kami berdiri melingkari manajer yang duduk di kursi.


"Jadi tadi ada pencurian uang di loker kasir, jumlahnya tidak main-main, dua belas juta rupiah" Kata Manajer.


"Maka saya dengan beberapa tim terpaksa menggeledah loker kalian dengan kunci serep" Lanjutnya.


Kami menunggu kalimat selanjutnya.


"Pertama, saya nyatakan Susi saya hentikan dari jabatan kasir dan beralih ke bagian pengolahan, karena saya nilai Susi lalai dalam tugas, sebab dia lupa mengunci loker" Kata Manajer.


Susi mengangguk. Masih untung dia tidak dipecat, hanya pindah posisi saja.


"Lalu uang ini, saya temukan di..."


Oh jadi pelakunya adalah sesama karyawan. Kasihan dia pasti butuh uang untuk hal yang sangat penting sampai harus mencuri.


"Di loker Rosa"


Apa? Bagaimana bisa? Siapa yang menaruhnya di sana. Kenapa uang itu ditemukan di sana. Padahal aku bahkan tidak ke area siti hari ini. Sama sekali tidak.


"Kamu mengakui Rosa?" Tanya Manajer.


Aku menggeleng.


"Pak, ini pasti ada yang sedang menjebak saya. Hari ini sama sekali saya nggak ke loker selain ganti baju. Sedangkan kehilangan itu sudah jam sembilan lebih. Saya bersumpah bukan saya yang ambil Pak!" Aku membela diri.


"Lalu bagaimana uang ini bisa ada di lokermu. Maksud kamu uang ini bisa jalan sendiri?" Tanya Manajer dengan nada kesal.


Dua belas juta bukanlah uang yang sedikit. Dalam keadaan sesulit apapun tidak pernah terbersit di otakku untuk mencuri.


"Pak, saya sudah lama kerja di sini, dan saya tidak pernah sekalipun mengambil benda apapun dari resto ini apalagi uang. Jika saya orang seperti itu, pasti sudah saya lakukan dari dulu!!" Aku masih berusaha membela diri.


"Justru karena kamu sudah lama kerja di sini membuat kamu menjadi berani dan paham dengan situasi"


Oh Gusti. Cobaan apa lagi ini. Bagaimana bisa seseorang melakukan ini padaku.


"Mulai malam ini, kamu saya pecat. Gaji bulan ini akan kami terima sesuai dengan hari dimana kamu hadir untuk bekerja. Pesangon tetap kamu terima sebagai penghargaan atas kerja kamu selama ini, namun hanya kami berikan lima puluh persen" Lanjut Manajer.


Aku dipecat kedua kalinya. Ini mengingatkanku pada kejadian di tempat kerja yang lama. Itu adalah ulah Nyonya Hamdani. Apakah kali ini juga sama. Tapi bagaimana caranya? Sepetinya tak masuk akal. Tapi hanya dia yang bisa melakukan ini.


"Pak...saya akan mengundurkan diri dari resto ini. Tapi sekali lagi saya tegaskan, bukan saya pencurinya. Saya menantang anda untuk membuka kamera cctv. Dari sana semua akan jelas. Selamat malam"


Aku pergi meninggalkan resto meninggalkan sejuta tanya dari para karyawan. Biarkan saja mereka berpikir macam-macam. Tuhan toh maha tahu. Aku tidak perlu pengakuan mereka untuk menjadi orang baik. Siapapun yang melakukan itu padaku, tunggu saja bagaimana tangan Tuhan membalasnya.


Terlalu ribet jika aku mencari siapa yang menjebakku. Lebih baik sekarang aku fokus mencari lowongan baru. Marah memang, kecewa, merasa diperlakukan tak adil, tetapi terlalu tak berguna jika sibuk membuktikan diriku tak bersalah.


Aku terpaku sendiri di tengah malam. Di hari terakhir ujian sekolahku justru menjadi awal ujian kehidupan yang nyata. Kupandang langit di atas sana yang tanpa hiasan. Tak ada bintang satu pun yang menyertai. Hanya ada bulan sabit itupun tidak terlalu jelas. Seolah sedang mengintipku. Ada apa langit malam ini. Apakah dia sedang berduka sepertiku? Atau sedang tidur pulas agat tidak menghadapai situasi yang melelahkan sepertiku.


Ibu, aku merindukan pelukan seorang ibu. Pelukan yang belum pernah kurasakan. Hidup seorang diri yang katanya bebas, nyatanya menyulitkan. Di saat kita membutuhkan dukungan, membutuhkan bersandar, membutuhkan mengeluh, kita hanya sendiri tanpa punya semua itu.


***