My Name Is Rose

My Name Is Rose
Api



"Alan....!!! Uhuk....uhuk..." Aku berteriak mencari Alanta sambil terbatuk-batuk oleh asap yang entah dari mana datangnya.


Asap semakin tebal. Sirine mulai berbunyi bersaut sautan. Semua orang panik dan berlarian kesana kemari. Aku mendongak ke atas karena asap sepertinya berasal dari atas. Benar saja, ada sebuah ruangan uang penuh dengan api. Lantai tiga. Dari situlah api berasal. Oh tidak. Jangan-jangan.....


Aku berlari sekencang-kencangnya. Aku tak lagi mencari Alanta. Aku sedang menuju suatu tempat. Ya, lantai tiga. Aku sudah naik ke lantai dua. Saat itu aku melihat teman-teman Clara turun dari lantai dua. Kami berpapasan di tangga yang sama.


"Ngapain lo naik? Di atas ada kebakaran" Kata Hana terburu-buru.


"Kalian beneran gak ngerti apa gimana? Mana Clara?" Tanyaku kesal.


"Nggak tahu"


"Bego. Clara ada di atas!!" Setelah itu aku berlari ke atas mencari keberadaan Rania. Aku berharap dia sudah turun. Tapi aku tidak tenang jika belum menemukan dia.


"What???" Kudengar kata itu tapi aku tak peduli. Sudah kuduga mereka tak akan berani naik ke atas untuk menyelamatkan sahabatnya.


Asap semakin tebal begitu aku sampai di lantai tiga. Yang tadinya terang benderang oleh lampu-lampu, sekarang terang oleh nyala api.


"Aaakh...." Kudengar suara teriakan perempuan. Itukah Rania?


Aku mempercepat langkahku. Ah benar saja. Itu kelasku, tempat aku bertemu dengan Rania beberapa saat lalu. Bagaimana bisa terjadi kebakaran? Jika itu karena konsueting, kenapa acara di bawah tetap berjalan dan semua lampu masih menyala sempurna?


"Rania!!!! Kamu di dalam??? Uhuk...uhuk..." Aku berteriak.


Tidak ada jawaban dari dalam hanya ada suara teriakan dan aku yakin itu pasti suara Rania. Pintu tidak bisa dibuka, entah terkunci atau karena hal lain. Tempat ini menjadi sangat panas saat api sudah berkobar kemana-mana. Bahkan aku sendiri berada di tengah lingkaran api. Aku tidak peduli. Rania ada di dalam. Aku yakin suara teriakan itu suara Rania. Aku tidak bisa membiarkan dia dalam bahaya.


Aku menendang pintu berkali-kali barulah pintu itu terbuka. Dan saat pintu terbuka api menyeruak keluar dengan ganasnya. Hampir saja aku terbakar olehnya. Untung saja aku dapat menghindar dengan cepat. Aku segera masuk ke dalam yang sudah panas seperti dalam tungku.


"Rania!!!!" Teriakku.


"Aaakhhhh!!!! Toloooong...." Suara Rania.


Asap yang tebal menghalangi pandanganku. Aku melihat sekeliling untuk mencari posisi Rania. Ternyata dia ada di pojokan. Aku segera mendekat untuk menolong. Ia tertindih oleh kayu yang terbakar. Api yang semula hanya membakar kayu kini juga membakar sebagian tubuh Rania. Kutendang kayu itu hingga jatuh ke lantai dna tak lagi menindih tubuh Rania. Sayangnya api masih melekat di tubuh Rania sebelah kiri. Aku melepas jaketku dan kupukul-pukulkan pada api itu hingga padam. Meski telah padam, tapi sukses membakar tubuh Rania meski hanya sebelah. Rania lemas, hampir saja dia pingsan jika aku tidak membangunkannya.


"Rania.....bangun....ayo..aku bantu ..kamu kuat .ayo!!" Kataku.


Rania membuka matanya, perlahan dia bangun, tangannya merangkul leherku. Kupegang kuat tangannya karena aku tahu dia masih lemas.


"Aaw..." Rania mengeluhkan sakit pada tubuh yang terkena api.


"Bertahan Rania, kita keluar ya. Kamu kuat. Ayo...bertahan" Aku memberikan semangat.


Meski Rania langsing semampai, tapi tubuhnya cukup berat untuk anak sepertiku. Bahkan aku harus sedikit menyeretnya agar bisa cepat keluar.


Ruangan semakin panas oleh api, aku harus cepat membawa Rania keluar. Sirine di luar berbunyi semakin banyak. Aku yakin mereka sudah memanggil petugas damkar. Sambil menunggu itu aku harus membawa Rania keluar sesegera mungkin sebelum api melahap habis lantai tiga.


Aku sudah di pintu. Sayang sekali ada kayu besar yang dilahap api tepat berada di depan pintu. Entah darimana datangnya, saat aku masuk tadi kayu itu belum ada. Aku mengambil jaket yang kugunakan memadamkan api di tubuh Rania tadi. Kupakai untuk memadamkan kayu itu juga. Namun tidak bisa padam seluruhnya.


Kami keluar bersama melangkahi api yang belum padam seluruhnya.


"Aaakkkh" Rania teriak lagi.


Oh tidak. Rupanya ada potongan plafon yang jatuh dan mengenai wajah Rania. Percikannya hingga mengenai baju yang kupakai. Hanya percikan namun sangat panas, apalagi Rania yang tertindih kayu yang terbakar tadi. Cepat-cepat kusingkirkan plafon itu dengan sikutku sebelum membakar wajah Rania.


Lorong yang tadinya hanya asap sekarang penuh dengan api. Tak apa, tak serumit ketika keluar dari kelas. Rania sudah sangat lemas. Kepalanya bahkan terus menerus disandarkan di pundakku. Jika begini terus kami tidak akan keluar tepat waktu. Bisa-bisa kami berdua terbakar bersama di lantai tiga ini.


"Rania, pegangan ya...aku mungkin gak terlalu kuat tapi setidaknya kita coba ya" Kataku.


Rania sudah tidak mampu menjawab. Ia pasrah dengan keadaan. Kuraih kedua tangannya. Aku menggendongnya meski tertatih-tatih. Rania sangat berat tak seperti yang kukira. Lantai tiga yang semakin terbakar membuat langkahku tak bisa cepat. Panas. Seperti inikah api neraka?


Perlahan namun pasti. Aku berjalan melalui api yang berkobar-kobar. Tak jarang kulitku terkena jilatan api namun tak seberapa dibanding tubuh Rania yang terbakar dan aku yakin lukanya cukup parah. Aku sampai pada tangga menuju lantai dua saat segerombol orang berusaha naik ke atas. Mereka berseragam orange, jadi pasti mereka petugas pemadam kebakaran.


"Ros!!" Teriak Alanta yang ikut bersama rombongan mereka.


Melihatku membawa Rania menunjukkan bahwa kami adalah korban. Mereka kemudian mengambil alih Rania fan segera menyerahkan pada petugas medis. Alanta maraihku, ia melepas jaznya dan dipakaikannya padaku. Ia membawaku ke tempat yang lebih aman.


"Ada lagi di atas?" Tanya petugas sebelum aku pergi. Aku menggeleng.


Aku duduk terpaku di depan mobil polisi. Aku bersyukur Rania segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Orang-orang masih membantu memadamkan api bersama petugas damkar.


"Kamu gak papa?" Tanya Alanta khawatir.


Aku menggeleng. Aku masih syok dengan kejadian malam ini. Api hampir saja membunuhku dan Rania.


"Ros, kamu nyadar gak apa yang kamu lakukan tadi? Itu bahaya banget!!! Tadi Stella bilang kamu ke atas buat nyelametin Clara. Itu bahaya Ros!!" Kata Alanta memarahiku.


"Aku gak bisa biarin orang dalam bahaya Alan" Jawabku.


"Kamu mau nyelametin orang tapi kamu lupa kalau itu membahayakan keselamatan diri kamu sendiri!!"


"Gak mungkin aku biarin Clara mati Alan!!" Aku meninggikan suara.


"Rosaa!!!! Sadar dong. Kamu lupa bagaimana dia mendorong kamu ke jurang di Bogor sampai kamu hampir mati, kamu lupa siapa yang membuat kamu kehilangan pekerjaan, siapa yang membuat kamu dikeluarkan dari sekolah, siapa? Bukankah ini bisa jadi hukuman buat dia, kenapa kamu justru mempertaruhkan nyawa kami demi orang seperti itu?" Alanta kesal.


Dia benar. Aku telah mempertaruhkan nyawaku demi orang yang justru ingin menghilangkan nyawaku. Tapi Alanta tidak tahu betapa aku begitu menyayangi orang itu.


"Kenapa Ros??" Ulang Alanta.


"Karena..."


***