
"Kerjaan apa?" Tanya Kakek sewaktu makan malam, saat Papa menceritakan perihal tadi pagi.
Kakek sepertinya tidak begitu yakin jika pekerjaan Papa ini menjanjikan. Atau tidak yakin Papa mendapat pekerjaan. Dari nadanya, Kakek tidak serius mendengarkan.
"Industri Pak. Konveksi. Di Jakarta memproduksi kain, tapi di Semarang memproduksi batik. Khusus batik, targetnya ekspor ke Thailand dan Singapore" Papa begitu semangat menceritakan perusahaan baru yang akan menerimanya.
"Perusahaan baru kan? Kok bisa target ekspor? Yakin itu perusahaan beneran? Nggak abal-abal?" Sahut Nenek.
Papa menunduk. Sepertinya percuma Papa antusias menjelaskan. Mereka tetap tidak akan percaya. Tapi aku percaya. Aku sebenarnya juga tidak yakin dengan penjelasan Papa. Tapi aku percaya Papa bisa memajukan perusahaan itu. Paling tidak, berilah kesempatan Papa untuk membuktikan.
"Doakan saja Bu" Mama menyahut.
Sedari tadi Mama terdiam, kini ia berbicara walaupun sedikit. Ucapan itu, sederhana namun mampu mengangkat kepala Papa kembali. Dukungan seorang istri meski secuil, akan mengobarkan semangat di dada suaminya. Inilah yang seharusnya Mama lakukan baik di depan Nenek maupun di belakangnya.
"Rencananya hari ini saya akan mencari kontrakan yang dekat dengan kantor. Secepatnya kami akan segera menempati rumah baru" Lanjut Papa.
"Bagus. Usahamu berhasil" Komentar Kakek.
Papa sumringah mendengar ucapan itu. Akhirnya usahanya dihargai. Aku bersyukur berkali-kali dalam hati. Akhirnya kami akan segera pindah dari rumah ini. Seperti yang dikatakan Bulik Farida, rumah ini memang istana namun begitu panas rasanya sebab aturan-aturan yang terkadang menekan kehidupan kita.
"Kamu saja yang nempati kontrakan itu bareng keponakanmu, Arini biar di sini dengan kami" Kata Nenek tiba-tiba.
Apa maksudnya itu? Baru saja kemarin mereka meminta kami segera pergi setelah satu bulan tinggal, sekarang dia justru menahan Mama di sini. Ada apa? Apakah benar Nenek ingin memisahkan antara Mama dengan Papa. Atau mungkin Nenek menyesal telah meminta kami pergi?
"Siapa yang akan menjamin Arini betah di kontrakan? Siapa yang akan membantunya? Kamu nyewa pembantu? Gajimu cukup?" Nenek mencerca dengan sejumlah pertanyaan.
"Saya akan mencari kontrakan yang bagus Bu, di perumahan, bukan di gang sempit. Insya Allah ada. Teman saya sedang mengusahakan" Jelas Papa.
"Masalah pembantu?"
"Masih belum, tapi saya akan mengusahakannya juga"
"Gajimu cukup?"
"Bu, ini bukan masalah fasilitas yang ada, tapi apakah baik jika suami istri berada di rumah yang terpisah? Bukankah kami bisa berusaha bersama-sama membangun kesejahteraan kami? Bukankah suami istri harus saling melengkapi, saling membantu, saling menerima"
"Saya pikir betul juga. Kita beri kesempatan Hartono untuk menunjukkan tanggung jawabnya. Apa kata orang kalau mereka pisah rumah"
Aku setuju dengan ucapan Kakek. Begitulah seharusnya seorang ayah mertua, memberi dukungan, bukan tendangan. Memberi kesempatan bukan kesempitan. Memberi wejangan bukan umpatan.
Pembicaraan berhenti di sini. Telah disepakati bahwa kami akan pindah setelah rumah kontrakan siap untuk ditempati. Aku tidak sabar menunggu hari itu. Dimana kami akan tinggal dengan bebas seperti dulu di Malang. Kami akan mengatur sendiri rumah kami, membuat peraturan sendiri yang menguntungkan kami.
***
Banyumanik.
Salah satu perumahan elit di Semarang. Inilah tempat tinggal kami sekarang. Namanya saja perumahan elit, tentu fasilitasnya tergolong mewah. Jalan masuk yang besar, keamanan yang terjamin, bangunan yang modern meski minimalis, dan dekat dengan fasilitas umum. Dekat dengan rumah sakit, dekat dengan pusat perbelanjaan, dekat dengan taman.
Alhamdulillah. Papa mengembalikan kejayaan lama keluarga kami. Ini bukanlah rumah kontrakan. Ini milik salah satu petinggi perusahaan yang lama tidak dihuni. Kami menyewa pada beliau. Meski demikian, aku bersyukur karena rumah ini mampu mengembalikan senyum Mama. Artinya, rumah tangga Papa terselamatkan.
Karena masih pertama tinggal di rumah ini, kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Otomatis aku yang merupakan anak perempuan, turut membantu beres-beres rumah yang butuh waktu lebih dari sehari. Kamarku ada di lantai dua, sama seperti dulu di Malang. Dari kamarku, aku bisa melihat pegunungan di sebelah barat. Kata Papa itu adalah gunung Panji Laras.
Panji Laras adalah tokoh dalam sejarah di era Kerajaan Kediri. Tapi kenapa di Sekarang ada gunung dengan nama tersebut? Apakah juga ada hubungannya dengan Kediri? Apakah tokoh Panji Laras pernah singgah di Semarang? Di wilayah perbatasan Kediri dan Tulungagung ada peninggalan Panji Laras, berupa goa kecil tempat beliau bersemedi. Dan di atas goa terdapat relief bertuliskan lafadz Allah. Di Madura juga terdapat makam yang diyakini adalah makam Panji Laras. Lalu di sini pun ada gunung dengan nama itu. Mungkinkah Panji Laras pernah ke sini?
Panji Laras, kisahnya mirip denganku. Terpisah dari orang tua, berkelana mencari keberadaan ayah kandung, dan bertarung demi kebenaran. Dia punya ayam yang bukan sembarang ayam, yang menunjukkan jalan kemana harus mencari sang ayah. Dia adalah seorang pangeran yang terbuang karena sebuah kesalahan. Di akhir kisah, ia bertemu dengan ayahnya dan menyatukan kedua orang tuanya kembali. Lalu aku? Aku siapa? Apakah aku juga seorang putri raja? Ah, aku tidak punya senjata apapun. Tidak punya sosok pelindung seperti ayamnya Panji Laras. Aku bahkan tidak memiliki petunjuk sama sekali.
Ironisnya, sampai hampir lulus SD, aku justru lebih antusias mencari keberadaan Rania, sahabat masa kecil yang sudah kuanggap saudara, ketimbang mencari orang tuaku. Entahlah, mungkin karena terlalu lama sampai aku tak lagi merindukan sosok ayah dan sosok ibu. Aku begitu kehilangan Rania, tapi tidak menginginkan orang tua. Bagiku bunda panti sudah mencukupi semua kasih sayang orang tua.
Meskipun begitu, dalam hati kecilku kadang-kadang aku merindukan mereka. Seperti apa rupa ayahku, juga ibuku. Apakah aku mirip ayah, atau ibu. Tapi pertanyaan terbesar dalam hidupku adalah, kenapa aku dibuang ke panti. Kenapa tidak diasuh oleh keduanya. Masalah apa yang menimpa mereka sampai harus menyingkirkanku.
"Rosa...!!! Angkat barang-barang ini ke dapur!!" Suara Mama dari lantai bawah.
Aku segera turun memenuhi panggilannya. Aku sadar diri, aku harus punya nilai plus di mata Mama sebab aku bukanlah anak kandungnya yang diterima apa adanya. Aku harus mampu mengambil hatinya. Aku harus berguna untuknya.
Beberapa set piring, gelas, panci dan penggorengan kuangkat satu per satu ke dapur. Dapur rumah ini cukup mewah, lebih lebar dan lebih bersih dari rumah di Malang. Di belakang dapur masih ada ruang makan terbuka lengkap dengan taman mini. Jemuran tidak di tempat ini, tapi di lantai atas. Untuk menuju ke sana kami melewati tangga dari luar. Inilah rumah elit, yang Tuhan hadirkan sebagai pengganti kesabaran Papa.
***