My Name Is Rose

My Name Is Rose
Berita



"Es teh satu, baksonya satu ya Buk" Aku memesan menu yang paling disukai anak-anak remaja.


Selesai memesan aku segera mencari tempat duduk yang kosong. Biasanya jam istirahat begini pasti ramai. Untung saja sekolah ini memiliki lebih dari satu kantin, jadi kami tidak khawatir kehabisan tempat duduk. Aku memilih tempat duduk pinggir kaca. Tentu saja karena view nya lebih indah dari tempat duduk lainnya.


Tiga puluh menit waktu yang diberikan untuk istirahat. Umumnya para siswa menggunakan waktu untuk jajan di kantin dan ngobrol di kelas. Sebagian kecil menggunakan jan istirahat untuk menyalin PR. Yah, mereka tidak siap dengan PR hari ini sehingga harus mencontek teman.


Beberapa minggu belakangan ini aku jarang jajan di kantin, karena harus berdiskusi di perpus bersama anak-anak KIR. Biarlah sesekali aku menikmati bakso Bu Endang dengan tenang tanpa terburu-buru.


Tiba-tiba saja seseorang duduk di depanku. Kak Panji. Belakangan ini dia sering menghampiriku. Tentu saja urusan lomba beberapa hari lagi. Aku sudah bisa memperkirakan apa yang akan dia bicarakan.


"Ros...." Sapanya.


"Ya Kak"


"Aku minta maaf soal kemarin"


"Soal yang mana ya?"


"Tidak seharusnya aku meminta bantuanmu berlebihan seperti kemarin. Dan terima kasih sudah membantu kami. Harus kami akui, kamu masih kelas satu tapi kemampuan kamu lebih dari kami" Kata Kak Panji


Aku masih menimbang, apa maksud ucapan Kak Panji. Apakah dia benar-benar berterima kasih atau sedang menyanjungku agar aku mau membantu lebih banyak lagi. Aku terdiam. Tapi bagaimanapun cowok di depanku ini sudah banyak memberiku pengalaman. Aku harus menghargainya.


"Dan....soal lengan kamu. Ada apa sebenarnya? Aku yakin sebelum aku pegang, lengan kamu sudah cedera"


Aku tidak menyangka Kak Panji akan membahas ini lagi. Dia cukup peka menurutku. Dia memperhatikanku. Dia tahu aku menyembunyikan sesuatu. Tapi apakah aku harus membeberkan kondisiku pada orang lain.


"Ehm ... Aku gak papa kok Kak" Jawabku kemudian.


"Yah, aku harap begitu. Tapi rasanya tidak sebaik yang kamu bilang"


Selepas berkata begitu, Kak Panji memegang tanganku. Duh, baru kali ini aku dipegang begini. Stop....Ros jangan mikir aneh-aneh, jangan ge-er.


"Ada yang pukul kamu? Siapa? Kakak kelas? Teman sekelas? Siapa? Jangan takut, bilang dengan jujur, aku dan anak-anak osis lainnya akan menindak dengan bijak" Kata Kak Panji dengan lembut


Ya, sekarang aku mengerti. Sentuhan ini hanyalah rasa prihatin, sekaligus tanggung jawab sebagai ketua osis untuk membasmi kekerasan dan bullying di sekolah ini.


"Kakak ngomong apa sih...nggak ada, nggak ada yang mukulin aku" Kilahku.


"So?"


"Aku terjatuh di tangga di rumahku. Trus memar. Udah gitu aja"


"Bener?"


Aku mengangguk. Dia masih memandangiku dengan curiga. Cepat-cepat kupasang wajah happy agar dia tak curiga. Jujur saja aku senang diperhatikan seperti itu. Entah diperhatikan sebagai teman atau hanyalah bentuk tanggung jawab. Yah, sudah lama aku tidak mendapatkan perhatian. Papa tidak setiap saat ada untuk memberikan perhatian. Dan Rania yang berubah menjadi Clara tidak bisa setiap saat menerima telepon dariku. Cowok di depanku ini, entah kenapa selalu muncul di hadapanku setiap waktu.


Masih berlanjut pulang sekolah. Saat aku keluar dari pintu kelas, aku melihat Kak Panji naik ke lantai kelasku, menurutku dia mencariku. Ah aku terlalu kepedean. Bisa jadi dia mencari temannya sesama osis atau mencari guru, atau siapa saja yang bukan aku. Aku menunduk. Aku tidak mau terlihat mengharapkan dia menghampiriku. Aku pura-pura menghadap arah lainnya.


"Ros..." Kak Panji memanggilku.


Duh, dia benar mencariku. Aku menoleh dan berhenti sejenak. Kali ini apa yang akan ia bahas. Masihkah tentang lenganku?


"Ya Kak?" Aku pura-pura baik-baik saja.


"Pulang?"


Kenapa dia bertanya begitu? Apakah mau mengantarku pulang? Uh jangan sampai. Bisa-bisa aku dipanggang sama Mama.


"Iya" Jawabku singkat.


Oh, cuma itu, pikirku.


"Kamu pulang gak papa, tapi aku minta waktu sebentar saja buat ngomong boleh?"


Ngomong? Ngomong apa? Ah semoga saja bukan sesuatu yang mengejutkan. Bukan pula sesuatu yang menakutkan. Apa dia mau nembak aku? Ah mikir apa sih aku ini.


"Duduk yuk" Ajak Kak Panji.


Kami duduk di teras depan kelas. Teras kami memiliki kursi permanen terbuat dari semen. Memang difungsikan untuk duduk para siswa saat istirahat. Kurasa banyak sekolah yang mendesain seperti ini.


Beberapa anak yang lalu lalang memperhatikan kami, lalu berbisik satu sama lain. Sepertinya membicarakan kami. Cewek dan cowok duduk bareng berdua saja, pasti dikira pacaran. Apalagi sampingku ini cowok yang cukup populer di sekolah ini. Siapa yang tak kenal Kak Panji. Ketua osis, anggota KIR, juara kelas, keponakan guru dan tim basket meski bukan kaptennya. Yah, siapa yang tidak mabuk kepayang dengan cowok semacam itu.


"Kamu sudah dengar berita hari ini?" Tanya Kak Panji.


"Berita apa Kak?"


"Loh, tidak diumumkan di kelas?"


"Oh, iya yang kecelakaan itu?"


Tadi di kelas aku memang mendengar berita dari microfon, bahwa ada yang mengalami kecelakaan sewaktu berangkat sekolah, tapi kurang begitu jelas saat diumumkan siapa korbannya. Mungkin karena yang mengumumkan bukan guru, melainkan siswa, maka kurang jelas dalam menyampaikan. Mereka butuh skill public speaking kurasa agar mampu membawa berita dengan intonasi yang tepat dan artikulasi yang jelas.


"Iya betul, itu Rina"


"Rina???oh Kak Rina??"


Kak Rina adalah salah satu tim presentasi lomba KIR. Dia mengalami kecelakaan pagi tadi sesuai berita yang diumumkan di kelas tadi.


"Iya, kakinya patah, sehingga dia dioperasi. Jadi, tidak mungkin dia ikut presentasi lomba besok"


Aku masih mendengarkan. Rasanya tak percaya. Musibah begitu saja terjadi.


"So, kami minta bantuan kamu untuk gantikan Rina" Lanjut Kak Panji.


"Maksudnya Kak"


"Iya jadi nanti yang presentasi aku, Siska dan Kamu, ini bukan keputusanku sendiri, ini keputusan kita bersembilan sebagai tim lomba dan rekomendasi Bu Susi, wali kelas kamu"


Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Menjadi tim utama adalah impianku, tetapi bahagia di atas sakitnya Kak Rina, apakah itu etis?


"Kamu tenang saja. Hari ini dan besok kita tidak latihan karena memang kita menjaga stamina. Sehari sebelum hari H baru kita pematangan. Bagaimana? Kamu mau kan?"


Aku masih belum menjawab sampai akhirnya dia kembali memegang tanganku penuh harap.


"Iya Kak"


"Mau?"


"Iya"


"Okey, sampai ketemu lusa. Selamat istirahat, jaga kesehatan"


Dia berlari seolah mengajar waktu. Tasnya sampai bergoncang ke kanan dan kiri. Langkahnya gagah seperti postur tubuhnya. Dia seperti Alanta. Ah, Alanta dimana dia kini. Apakah aku bisa menemukannya seperti aku menemukan Rania. Atau dia sudah lupa denganku?


***