
Aku datang 15 menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku tak ingin mengulangi kesalahan hari kemarin. Meski aku bersama putra mahkota sekolah ini, nyatanya tak cukup kuat untuk melindungiku. Kini aku sadar posisiku. Hanya orang kerdil ditengah para borjuis yang tak memiliki kekuatan apapun untuk melawannya. Aku hanyalah figuran dalam film nyata dunia ini. Sedang meraka adalah tokoh utamanya.
Aku sudah berada di depan gerbang ketika kulihat seseorang yang familiar di kejauhan. Seorang pria berkacamata dan berjenggot tipis sedang menerima telepon di depan sebuah mobil. Untuk apa dia di sini? Aku melihat sekeliling, adakah orang yang juga kukenal berada di sekitar sini.
Dia melihatku. Dadaku kembang kempis karena takut. Dia tersenyum lalu masuk kembali ke dalam mobil. Pria itu yang menemuiku di outlet. Dia secara terang-terangan mengaku selingkuhan Mama dan secara blak-blakan mengaku hany menggunakan Mama sebagai kesenangan saja. Namanya Banu. Begitu ia memperkenalkan diri waktu itu.
"Hoey...kenapa? Bengong aja" Dinda mengejutkanku.
Kamipun masuk ke kelas bersama. Aku masih berpikir, apakah Om Banu memang memata-mataiku. Untuk apa? Dengan tujuan apa? Apa dia ingin memeras keluargaku menggunakan aku? Tidak tahukah dia aku sama sekali tak berharga di mata Mama. Dia salah jika menggunakanku sebagai umpan.
Sementara itu, Pak Guru sudah datang dengan membawa segudang tugas. Ya, Guru yang satu ini memang terkenal dengan hobinya memberikan tugas. Tiap guru memiliki cara masing-masing untuk memberikan ilmunya. Dan guru yang satu ini memberikan ilmu dengan melalui tugas. Menurutnya, semakin sering murid mengerjakan tugas akan semakin encer otaknya.
Tugas Sosiologi kali ini adalah mekanisme pertahanan ego atau dikenal dengan istilah Defense Mechanism. Pak Guru meminta kami menyebutkan sebanyak-banyaknya upaya mekanisme pertahanan diri yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari.
"Pak, ijin ke toilet" Kataku sambil mengacungkan tangan di tengah-tengah mengerjakan tugas.
"Oh ya silahkan" Kata Pak Guru.
Pikiranku sedang tidak stabil karena melihat sosok pria di depan sekolah tadi. Mungkinkah aku sedang dimata-matai? Kubasuh mukaku untuk menenangkan diri. Sekitar sepuluh menit aku di toilet. Syukurlah kepalaku lebih fresh setelah membasuh muka.
Saat aku hendak keluar, mendadak pintu tidak bisa dibuka. Yang benar saja. Bagaimana bisa sekolah sebagus ini pintu toiletnya rusak. Apa mereka tidak rutin memeriksa kondisi bangunan. Atau jangan-jangan...oh tidak.
"Tolong!!!"
Dok ..dok...dok.... Aku menggedor-gedor pintu berulang kali, berharap seseorang lewat dan memberi bantuan.
"Tolong....toloooooong.....tolong buka pintunya...."
Tidak berhenti di situ saja. Tiba-tiba saja lampu mati. Suasana menjadi gelap gulita di toilet. Aku duduk bersandar di dinding. Kupeluk erat kedua kakiku. Aku takut. Sungguh.
"Tolong..." Aku ketakitan. Entah apa yang kutakutkan. Entah hantu atau kematian. Bisa saja aku menghembuskan nafas terakhir di tempat ini. Aku pernah mendengar ada kasus keluarga yang dikurung di kamar mandi sehingga kehabisan oksigen dan meningal di tempat. Apakah aku akan mengalami hal yang sama.
"Tolong...." Sekuat tenaga aku berteriak namun belum juga pintu terbuka. Ini masih jam pelajaran. Pasti tidak ada murid yang berkeliaran.
Hapeku tertinggal di dalam tas. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Tidak Alanta tidak juga Dinda. Waktu terus berjalan. Tubuhku sudah tidak kuat menahan pengap di dalam toilet. Aku hanya bisa duduk di pojokan menanti keajaiban. Nafasku pun sudah terasa sesak. Akankah aku mengalami nasib yang sama dengan berita di televisi waktu itu.
"To...long..." Aku sudah tidak kuat bersuara. Rasanya tubuhku hampir pingsan.
Jreg....Pintu terbuka. Dan bersamaan dengan itu lampu menyala. Syukurlah. Tapi aku sudah tidak kuat berdiri. Aku berusaha membuka mata melihat siapa yang baik hati membukakan pintu untukku. Mungkin ini sudah waktunya istirahat. Sehingga ada yang mendengar teriakanku. Atau minimal curiga karena pintu tiba-tiba tidak bisa dibuka.
"Rosa!!!" Dinda berteriak histeris melihatku.
Sesaat setelah teriakan Dinda, aku merasa tubuhku dibopong oleh seseorang. Aku bahkan tak kuat lagi membuka mata sehingga aku tidak tahu malaikat mana yang bersedia menggendong tubuhku.
Mataku terbuka karena bau menyengat tepat di hidungku. Aku berusaha sekuat tenaga membuka mata. Kulihat sekeliling. Semua masih buram sampai suara itu memangilku.
"Ros....Rosa..." Itu suara Dinda.
"Dinda ... Tolong...buka pintunya ..." Aku tidak sadar mengucapkan itu. Aku tidak tahu kalau aku sudah berada di ranjang UKS.
"Sudah Ros...kamu sudah aman" Jawab Dinda.
Saat itulah aku baru sadar di mana kini aku berada. Aku berusaha duduk tapi Dinda menahan tubuhku agar tetap berbaring. Kini aku bisa melihat sekelilingku dengan jelas. Selain Dinda, ada Pak Guru juga di sekitarku. Aku jadi tidak enak.
"Tadi Bapak curiga, kamu kok ke toilet lama amat, ya sudah Bapak cari kamu" Kata Pak Guru.
"Terima kasih ya Pak" Kataku lemas.
"Sebenarnya yang curiga lebih dulu adalah Dinda. Tapi dia tidak berani ngomong langsung" Lanjut Pak Guru.
Krekk...pintu terbuka, dan Alanta berdiri di sana. Doa tersenyum melihatku audah terbangun.
"Sudah bangun, yuk kita ke kantor" Kata Alanta.
Tanpa minta ijin lebih dulu, Alanta menggendong tubuhku. Entah aku akan dibawa kemana, ke kantor mana. Dinda dan Pak Guru mengikutiku dari belakang. Banyak siswa di kanan kiri yang melihatku digendong Alanta. Sebagian ada yang mencibir, sebagian justru iri. Iya lah, siap yang tak tertarik dengan cowok seganteng dan sekeren Alanta. Aku bisa begini bukan karena dia tertarik padaku, tapi karena ikatan persahabatan kami sejak lama.
Kantor BP.
Di dalam kantor, sudah ada Clara dan teman-temannya. Kenapa mereka juga di sini. Mereka tentu saja memandangku dengan sinis, terutama Clara yang melihatku digendong Alanta.
"Baik..bagaimana keadaan kamu Rosa?" Tanya Guru BP.
"Saya baik Bu"
"Masih pusing?"
"Sudah tidak"
"Baik kamu bisa ceritakan bagaimana kamu bisa terkunci di kamar mandi"
Kuceritakan apa yang kualami. Aku juga tidka mendengar bunyi pintu dikunci dari luar. Semua terjadi begitu cepat. Aku tidak bisa memperkirakan apa-apa.
"Saya yakin mereka pelakunya Bu. Soalnya tadi setelah Rosa keluar, mereka keluar juga satu persatu" Kata Dinda membelaku.
"Benar itu Jessie, Stella?" Tanya Guru BP.
"Jelas itu fitnah Bu. Saya keluar untuk buang sampah" Jawab Stella.
"Bohong Bu, buang sampah kok lama banget" Sahut Dinda.
"Saya tadi ke kantin Bu sumpah" Giliran Hana membela diri.
Aku hanya bisa mendengarkan mereka karena aku memang tidak tahu sama sekali.
"Yang jelas tadi saya lihat Clara dan Hana di kantin. Stella dan Jessie saya tidak tahu" Pak Guru memberikan kesaksian.
"Tapi bukan berarti juga kami yang melakukan itu Bu" Kilah Jessie.
"Stop!! Oke semua Stop!! Gak ada gunanya terus berantem seperti ini" Kata Alanta setengah berteriak.
Baru kali ini aku mendengar suara Alanta dengan nada tinggi.
"Kita lihat cctv saja. Ada kan Bu?" Tanya Alanta.
Mendengar itu, Guru BP tampak panik. Terlihat dari mimik wajahnya yang berubah, dan gerakan tubuhnya yang tidak beraturan.
"Oh iya ..tentu saja...tapi saya tidak yakin karena .. cctv beberapa hari ini tidak normal"
"Apa?? Kenapa Ibu diam saja? Kenapa Ibu tidak melapor? Ini bukan hanya sekedar siapa pelaku dari penguncian ini. Tapi ini lebih kepada keamanan siswa. Saya tidak mau tahu. Sekolah harus memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi"
"Iya iya Alan saya mengerti tapi tolong ini hanya berhenti di sini saja. Jangan diteruskan. Okey" Kata Guru BP.
"Saya akan mengusut tuntas sampai pelaku tidak berani lagi menyentuh Rosa. Siapapun yang berani menyakiti Risa, akan berhadapan dengan saya" Kata Alanta.
Tak kusangka dia berani berkata seperti ini. Kemarin-kemarin dia tidak tahu apapun masalah uang kuhadapi. Dia membelaku. Dinda terlihat tersenyum penuh kemenangan. Siapa yang tak bangga berada di kubu Alanta, idola sekolah ini.
Tok...tok...tok ..pintu diketuk dari luar. Seorang penjaga kebersihan datang.
"Ada apa Pak?" Tanya Guru BP.
"Maaf saya dengar tadi ada yang kekunci di kamar mandi ya? Maaf saya pikir todak ada orang makanya saya kunci" Kata Petugas kebersihan sekolah.
Tidak mungkin. Kenapa dikunci padahal masih jam efektif sekolah. Ini tidak benar. Ini pasti sudah diatur.
"Jadi masalahnya selesai ya Bu" Kata Clara sambil berdiri.
Clara menghampiri Alanta yang kebetulan berdiri di sampingku.
"Udah tahu kan? Ini cuma akal-akalan dia saja biar ngejatuhin aku. Dia cuma iri gak bisa kalahin aku di seleksi olimpiade kelas"
Lalu Clara berlalu diikuti teman-temannya.
***