
"Rosaa!!!" Dinda memanggilku dari kejauhan.
Kulihat sahabat baruku itu keluar dari sebuah mobil. Dia juga anak orang kaya seperti kebanyakan anak di sekolah ini. Dan aku? Jika bukan karena Papa, aku bukan bagian dari mereka.
"Kamu lagi sibuk gak? Mampir ke rumahku yuk" Kata Dinda.
Ini kali pertama ada anak yang mengajakku main ke rumahnya. Jadi aku benar-benar punya sahabat sekarang. Tapi bagaimana dengan Mama di rumah. Apakah Mama bisa mentoleransi ini? Oh aku hampir lupa. Bukankah sudah ada Bik Sul di rumah. Huft, lega.
"Ke rumah kamu?"
"Mama seneng banget nilai IPA ku bagus, nah Mama pengen kenal lebih dekat sama kamu. Mama mengundang kamu khusus lo" Kata Dinda.
Beberapa saat kemudian seorang ibu-ibu keluar dari mobil yang sama. Dia tersenyum padaku. Persis senyum Nyonya Hamdani tempo hari. Aku memberi salam hormat padanya.
"Rosa mau kan main ke rumah Dinda. Sekedar makan siang saja. Kalo perlu Tante telepon Mama kamu deh minta ijin" Katanya.
"Oh, nggak Tante. Nggah usah. Nanti Rosa ijin sendiri ke Mama" Jawabku.
Begitulah. Kami akhirnya menuju rumah sahabat baruku, Dinda. Sebuah kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Dina sama seperti yang lain, anak orang kaya. Konon, Papanya sekarang sedang merintis bisnis di Singapore, Mamanya memiliki toko furniture. Dia anak tunggal di keluarganya. Itu hanya asumsiku sendiri. Sebab di sepanjang tembok ruang tamu tak kutemukan satupun foto anak lain selain Dinda.
"Nih minumnya, dinikmati jangan sungkan ya" Kata Mamanya
Mamanya sendiri yang membuatkan minum untuk tamu. Luar biasa. Dia begitu baik. Padahal aku baru sekali ini bertamu di sini.
"Dibawa ke kamarku aja gimana?" Kata Dinda.
Aku mengangguk. Kami ke kamarnya dan sekali lagi aku dibuat takjub dengan kamarnya yang luas. Kamarnya bernuansa krem merah muda. Cantik dan elegan. Apakah kamar Rania juga seperti ini? Bahkan mungkin lebih besar dari ini.
"Kadang-kadang aku suka minder sama Mama Papaku" Kata Dinda tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Papaku pengusaha sukses, Ibuku juga. Tapi aku gak punya keahlian apa-apa, nilaiku selalu standar, olahraga juga biasa saja. Cantik juga enggak"
Aku bisa membaca raut wajahnya yang galau. Memang menyedihkan ketika berada di keluarga yang serba ada tetapi tak mampu membuat dirinya lebih dari yang lain.
"Gak mungkin lah Din.... Semua manusia diciptakan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kamu juga pasti punya" Aku mencoba menghibur.
"O ya? Coba sebutkan satu saja kekuranganmu"
Bagaimana aku harus menjawab ini. Apa ya? Aku punya nilai lebih dalam segala mata pelajaran. Wajahku juga lumayan. Pasti orang tua kandungku juga canting dan tampan. Nah, itu kekuranganku. Aku pasti punya kekurangan yang fatal hingga tidak diakui sebuah keluarga. Sampai akhirnya tumbuh di panti asuhan.
"Aku ....gak punya suara merdu. Gak bakat nggambar, gak bisa nari balet...trus..."
"Nggambar apa yang gak bisa?"
"Mmmm....nggambar anime. Bagiku itu sulit banget. Gambar anime, gambar orang, gambar binatang....sulit"
"Coba lihat ini" Dinda kemudian menunjukkan padaku sebuah buku besar dan tebal.
Aku membukanya satu persatu. Banyak sekali gambar kartun di sana. Kebanyakan berupa kartun seorang putri, tokoh pahlawan, tokoh kerajaan.
"Ini....."
"Beneran? Ini bagus banget"
"Aku suka nggambar anime seperti itu. Rasanya setiap goresan pensilku menceritakan banyak kisah. Lihat, aku menggambar seorang perempuan berambut panjang, cantik, cerdas dan baik. Kamu tahu nggak ini siapa?"
Aku menggeleng.
"Dulu aku memimpikan seorang kakak yang sempurna bak putri raja. Cantik, cerdas, penolong. Tapi kemudian aku sadar itu tidka mungkin, karena faktanya aku lahir lebih dulu. Dan sepertinya sulit pula terjadi, sebab kenyataannya sampai sekarang aku tidka punya adik. Baiklah kalau begitu, setidaknya suatu saat nanti aki menginginkan sahabat seperti ini " Katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah gambar.
Aku mengamati apa yang dia tunjuk.
"Dan sekarang orang seperti itu benar-benar ada. Kamu" Dinda melihat ke arahku.
Aku? Aku tersenyum tipis. Pujian yang melambungkan hati setiap orang yang mendengarnya. Ah, dia berlebihan tentang itu. Tapi apapun itu, aku senang. Seseorang sedang memujiku, membutuhkanku, dan tentu akan bersikap baik padaku.
"Kamu orang pertama yang main ke rumahku" Kalimat ini mengejutkanku.
"Kenapa?"
"Aku sulit bergaul dengan teman, lagian teman-teman kita di sekolah kan anak-anak gaul semua. Mana mau berteman sama aku"
Ya sih, anak-anak di SMP Insan Mulia memang di atas rata-rata. Selain mereka anak orang kaya, mereka juga fashionable, cerdas dan gaul. Tapi apakah mereka tidak tahu bahwa Dinda juga anak orang kaya. Setidaknya lebih berkecukupan dari aku.
"Tapi kamu datang, dan entah kenapa kita jadi berteman seperti ini. Apalagi kamu mau ajarin aku sampai nilaiku bertambah drastis"
Dinda begitu senang dengan nilai yang tak seberapa bagiku.
"Din, kamu nyadar nggak, kamu itu punya bakat nggambar, lihat deh, berapa banyak anime yang sudah kamu buat dan semuanya fantastis, bagus banget" Aku memujinya.
"Oya? Apa hebatnya gambaran model begitu" Kilah Dinda.
"Kamu tahu, tidak semua orang bisa menggambar serumit ini. Lihat rambutnya, detail, matanya, satu sama lain berbeda ekspresi. Ini bener-bener seperti nyata. Kamu bisa jadi pelukis terkenal kalau bakat kamu dikembangkan" Aku berusaha memberi pemahaman.
"Apa yang bisa dijual dengan gambaran seperti itu. Siapa yang mau beli lukisanku? Dunia sekarang ini butuh orang pintar. Yang nilainya bagus, yang matematikanya sempurna, dengan begitu akan mudah kerja di kantor"
"Hey, jangan salah Din. Kamu berbakat, orang tuamu mendukung dari segi materi, kamu bisa membuka galeri, mengadakan pameran, membuka pelatihan lukis, dan masih banyak lagi yang bisa kamu lakukan. Kamu lihat rumah-rumah modern, gedung-gedung masa kini, mereka membutuhkan sentuhan tangan seniman untuk membuat ruangannya menjadi indah .Mereka membutuhkan orang-orang seperti kamu. Lukisanmu akan dipajang dengan harga tinggi"
Sungguh lucu. Aku begitu bersemangat seolah akulah si Dinda yang tangannya piawai melukis anime.
"Ah masak. Aku tidak pernah lihat ada ruangan dengan lukisan anime, hahaha"
"Eh masih gak percaya, ya mungkin saat ini kami bisa nggambar anime saja. Bisa jadi suatu saat kamu akan menggambar yang lain"
Dengan kalimat terakhir ini Dinda mulai berpikir. Dia mulai tertarik dengan ucapanku. Aku tidak sedang mengelabuhi dia. Menurutku dia memang berbakat di bidang seni rupa. Dan dia tak harus mengejar nilainya dengan jatuh bangun. Dia hanya perlu nilai matematikanya memenuhi standar ketuntasan. Semoga orang tuanya mengerti tentang ini. Semoga mereka tidak terlalu menuntut nilai sempurna di setiap mata pelajaran, karena itu akan menyulitkan anaknya sendiri. Seandainya mereka tahu, bahwa anaknya istimewa. Dia memiliki apa yang tak kumiliki.
.
Apapun itu, aku terpuji oleh sebuah gambar anime buatannya. Cantik dan cerdas. Dia menggambarkan tentang diriku. Dia mengagumiku jauh sebelum mengenalku. Terima kasih Tuhan, di setiap tanah aku berpijak, meski ada mata jahat yang bersanding di sisiku, selalu Kau imbangi dengan malaikat-malaikat dunia yang menguatkanku.
***